
“Terima kasih, Ganbala!” Aku memberinya senyum, lalu mencubit hidungnya yang mancung.
Berbunga, berwarna, semuanya terlihat indah. Cobalah nikmati setiap rasa ketika bersama pasangan. Agar cinta semakin terasa. Tatap lama wajahnya, akan kau temukan satu hal yang membuat darah berdesir. Begitu kata pujangga, bukan kata Aida lho, ya!
Mobil melaju pelan. Seperti permintaan Aryo, aku lebih banyak diam dan memandang lurus ke jalanan. Tetapi, aku kaget, ketika dia meremas jemari hangat.
“Katanya ga boleh disentuh?”
“Ga, papa kalau ini, mah! Kemarin malah lebih.”
Jemari bertaut, asa membubung tinggi. Debaran dalam dada bagai ombak memecah pantai. Wajah merona disela helaan napas yang terasa sangat berat untuk ditarik melalui rongga pernapasan. Atau jangan-jangan, oksigen diambil alih Aryo dari tubuhku ketika bersentuhan?
Sampai di kantor Papa, Aryo menghentikan mobil di depan gerbang, katanya tidak usah diantar sampai ke pintu masuk. Tidak enak.
Dia meraih pundakku, lalu mencium pelan kening.
“Mba, aku ridho padamu. Pergilah, semoga Allah melindungi kehormatan dan menjagamu dari mara bahaya. Love you, Ai!”
Aku tergagap, syahdu sekali saat ini.
“Hanya kening doang?”
“Kalau bibir, aku ga mau nanti lipstiknya nempel.” Dia tertawa, keki akutu! Kucubit lengannya, dia meringis.
Ternyata memiliki suami bocah, membuat hidupku berubah sekian derajat. Dia memang luar biasa.
Aku segera turun, setelah Aryo melambaikan tangan di gerbang. Sekarang aku harus menyetir sendiri hingga ke kantor. Mudah-mudahan pernikahanku tidak diketahui teman-teman sejawat. Sebab, aku tidak mau dikatakan, nikah kecelakaan karena tidak mengadakan resepsi seperti sahabatku yang sudah menikah duluan.
**
Seperti biasa, aku menyapa beberapa teman satu ruangan dengan teguran pelan, lalu menebar senyum. Lantas duduk di kursi dan membuka beberapa map yang sudah diletakkan bagian perencanaan untuk ku teliti ulang. Sebagai kepala bagian marketing, aku harus tahu berapa modal dan berapa keuntungan yang akan didapat dari satu pekerjaan.
Angka-angka itu seperti bertaut. Entah kenapa aku tidak konsentrasi begini. Terbayang Aryo di kantor papa bersama bagian marketing yang mungkin sedang berusaha membuat suamiku takhluk. Karena kalau, seseorang sudah pernah jatuh pada lubang dosa, dia akan melakukan hal yang sama. Jika tidak kuat iman dan segera tobat dari kesalahan.
Segera kupencet nomor suami yang semalam kuminta.
“Ada apa, Ai?” tanyanya dengan suara pelan.
“Kamu di mana?”
“Ya, di kantor papa, Sayang!”
“Dekat Mba Inge?”
“Nggak! Ini lagi sama papa.”
“Kok, sama papa?”
“Papa tadi memintaku agar bersama Hasan saja.”
Aku menghembuskan napas lega. Ternyata papa paham apa yang menjadi keberatanku kemarin. Seorang ayah, pasti memiliki naluri. Walau tidak sepeka ibu, tetap saja anak itu berasal dari darah dagingnya juga.
“Ya, udah! Nanti aku jemput ke kantor.”
“Iya, kamu jangan lupa makan siang!”
“Iya, bawel amat, sih!”
“Aku kan ga mau, kamu kurus.”
“Adooh! Abeng!” Aku terkesiap. Seseorang berdiri dengan mata menyelidik di depan meja.
“Nanti aku telepon lagi. Assalammualaikum.”
Aku menghembuskan napas kasar. Lalu bersandar ke kursi. Menatap tajam orang yang ternyata mendengar pembicaraanku barusan.
“bisa, ga, sih, kalau orang sedang menelepon itu tidak nguping?” Pertanyaan bernada sinis keluar.
Orang itu membalas dengan senyum aneh.
“Bram! Berkali-kali aku ingatkan. Kalau aku sedang menghubungi orang lain, ga usah mendekat ke meja aku.” Aku benar-benar kesal saat ini.
“Makanya nikah itu ngundang-ngundang. Kamu malu, ya, nikah sama bocah yang baru lulus SMA. Tapi, pesona brondong itu memang menarik, sih!” Dia membalas dengan yang jauh lebih menjatuhkan.
Aku bangkit dari duduk.
“Maksud kamu, apa?”
“Aida! Kami semua sudah tahu, kamu menikah dengan anak SMA. Suamimu itu publik figure, ya, pasti banyak netizen yang mengintainya. Apa kamu yakin, dia benar-benar mencintai kamu? Jangan-jangan hanya untuk melambungkan namanya.” Senyum mengejek terlukis di wajahnya yang tirus.
Aku bertumpu dengan kedua tangan di meja. Dengan mata teteap menatap tajam, aku menjawab pelan.
“Kamu tidak akan mengerti. Aku lebih tahu siapa suamiku. Dia lebih dewasa dari kamu!”
“Dewasa? Anak SMA dibilang dewasa. Makanya jangan terlalu banyak aturan, dipegang dikit aja marah. Mendingan sama aku, jelas-jelas sudah berpengalaman. Nikah sama bocah itu berat, Aida! Harus mendidik kuda untuk berlari. Memang kamu siap?” Ujung matanya terlihat meremehkan Aryo.
Aku tidak terima, aku sudah mendengar semua tentang Aryo kemarin. Beberapa hari ini aku bersamanya. Aku bisa menilai, mana laki-laki baik, dan mana yang pecundang.
__ADS_1
“Dengar, Bram! Aku memilih Aryo, karena dia jauh lebih baik dari kamu. Walau usianya muda, belum tentu pikirannya kecil seperti kamu. Untung aku dulu tidak menerima kamu jadi suami. Kamu tidak lebih dari pecundang!” Wajahnya berubah.
Aku tidak peduli, walau dia anak direktur perusahaan ini, aku tetap harus membela suamiku ketika direndahkan seperti itu. Mungkin, dia menyangka aku takut. Tidak, aku bukan perempuan yang mau diinjak, hanya karena menjadi ujung pedang di perusahaan bapaknya. Dia kira, aku takut dilempar atau dibuang dari pekerjaan.
“Kamu pasti akan menyesal.” Dia meremehkan.
Dadaku mulai bergemuruh karena terbakar emosi. Selama ini aku sudah cukup sabar menghadapi tingkah polahnya yang suka merengkuh dayung ke dada. Apa yang kulakukan untuk perusahaan ini, dia katakan kalau dia yang berbuat. Padahal aku yang berada di belakangnya.
“Aku malah menyesal masuk ke kantor ini dan kenal dengan laki-laki bermulut ember seperti kamu, egois!” Aku membalas dengan nada suara ditekan, agar dia paham aku kesal mendengar kalimat-kalimat merendahkan dari mulutnya.
Melihat kami bertengkar, beberapa karyawan yang se ruangan denganku terlihat berbisik-bisik dengan yang lain. Aku segera menarik napas dalam, berusaha menenangkan kobaran emosi yang membuat tubuhku gemetar.
“Karena kamu tidak tahu siapa dia!”
“Tahu apa kamu tentang dia? Aku istrinya, aku lebih tahu siapa Aryo!”
“Alah, Aida! Kebanyakan publik figure yang terkenal di media itu tidak ada yang bener, aku yakin kamu akan dikecewakan.”
Aku pejamkan mata, kenapa Bram sepertinya sangat kenal dengan Aryo? Seenaknya saja dia merendahkan suamiku.
“Sekali lagi, aku tegaskan! Aku kenal siapa suamiku. Aku yang menjalani pernikahan ini, jadi, aku rasa kamu tidak usah ikut campur.”
“Okay! Kalau begitu, kamu lebih memilih bocah ingusan itu dari pada ....”
“Dari pada apa?” Perkataannya langsung kupotong.
“Dari pada bertahan di kantor ini?”
Okay! Itu jauh lebih baik.” Kupukul meja dengan telapak tangan, menandakan aku lebih memilih berhenti dari kantor ini, dari pada suamiku direndahkan seperti tadi.
“Kamu kira gampang mencari kerja saat ini, Ai?” Suaranya melunak. Dia kira aku takut digertak.
“Bagi kamu mungkin iya, karena tidak memiliki kapasitas apa pun. Tetapi tidak bagiku, aku malah bisa memperkerjakan karyawan kamu jika mereka tidak kuat lagi bekerja bersama orang egois seperti kamu!”
Segera kuraih tas dan melipat laptop. Lalu menatapnya tajam. Kemudian mendorong kursi sebelum melangkah.
“Kalau kalian semua sudah tidak kuat kerja di sini, silakan datang ke kantor aku di PT. Mega Buana.” Aku sengaja mengeraskan ucapan agar Bram tahu siapa aku sebenarnya. Perusahaan ini masih belum apa-apa dibandingkan perusahaan papaku.
Dia kira, semua orang bisa diinjak dengan kekuasaan? Tidak! Karena harga diri jauh lebih utama dari apa pun jua di dunia ini. By, by PT. Mukti Karya. Aku memilih pergi untuk menjaga harga diri suamiku, karena itu kewajiban.
**
Bagilah kesedihanmu pada Tuhan, jangan pada orang yang kau sayangi. Tetapi bagilah kebahagiaan dengan yang dicintai, agar mereka tidak ikut merasakan kesedihan itu.
Ya!
Lelaki yang selalu memberikan tempat untukku bersandar.
Segera kupacu mobil kembali ke kantor papa. Setelah semua berkas kumasukkan ke dalam mobil.
Aku tidak ingin, apa yang menjadi kunci kesuksesan kantor ini yang kubawa dari kantor papa, dimanfaatkan oleh Bram.
Dia tidak berhak atas itu semua.
“Bu Aida!” Mira menyapa ketika aku masuk ke lobi dengan wajah gusar.
“Papa ada?”
“Lagi rapat, Bu!”
“Aryo?”
“Tadi sama Pak Hasan keluar, ga tau pergi ke mana. Mau ke ruangan bapak langsung, atau duduk di sini, Bu? Sudah lama kita tidak ngobrol!”
Duh! Mira! Kamu itu di sini digaji untuk kerja, bukan ngobrol. Ini gara-gara si Bram. Darah tinggiku jadi kumat. Tingkat emosi pun naik sekian kali-lipat.
“Aku ke ruangan papa aja!”
“Eh, Bu! Aryo itu beneran sepupu, Ibu?” Mira tergesa menghampiri.
“Kenapa emangnya?”
“Nggak! Padahal dia tajir lho, Bu! Masak mau kerja jadi asisten Bu Inge.”
“What?”
“Tadi Bu Inge sempat cerita, kalau dia punya asisten brondong. Lumayanlah untuk dipamerkan ke rekan bisnis, gitu katanya.” Laporan Mira membuat darahku kian mendidih. Berarti, papa tadi bohong?
“Kamu jangan bikin berita hoax, Mir!”
“Ya, Ibu! Mana berani aku bohong. Kalo ga percaya, tanya aja sama Aryo. Nih, tadi mereka sempat foto berdua di ruangan Bu Inge!”
Mira segera memperlihatkan foto Aryo dan Inge.
Astaga!
Jadi story medsos dia pula, lalu aku! Dasar laba-laba. Ga bisa apa, dia ga menjerat kening licin. Aku mendesah berat.
__ADS_1
Dadaku seakan sedang menabuh genderang perang, naik turun menahan rasa tidak senang. Kata orang itu cemburu namanya.
“Ya, sudah!”
“Bu Aida, ok?”
“Ya, okelah! Emang kamu lihat gimana?”
Dia menunduk, lalu menggeleng.
“Seperti jealous!”
“Cemburu? Ngapain cemburu?”
Kendatipun dia terlihatnya agak berat untuk melanjutkan kalimat, tetapi namanya Mira. Tidak akan berhenti sebelum tujuannya sampai.
“Bukannya Aryo itu suaminya, Ibu? Aku baru lihat di berita online. Lagi viral.”
“Serius, kamu?”
“Ini buktinya!”
Mira segera menekan layar HPnya.
Apa yang dia sampaikan ternyata benar. Kepalaku nanar saat membaca komentar netizen tentang hubungan kami. Katanya aku yang menjebak Aryo. Bahkan ada yang lebih gawat bahasanya. Aryo menikahi aku karena perusahaan papa.
Memang Netizen maha tahu dan sok tahu! Aku geram. Walau sebenarnya pikiranku bercabang dan hati mulai oleng seperti perahu karet yang sedang ikut arung jeram. Tetapi, aku tetap berusaha tenang.
“Ya, udaahlah! Biar Aryo yang menjawab semuanya.”
Mira terlihat kecewa mendengar jawaban barusan. Padahal dia sudah memakai bumbu rendang untuk mengompori.
Tanpa menunggu dia kembali mengeluarkan ajian perusak pikiran. Aku segera menarik langkah.
**
Papa ternyata belum selesai rapat. Aku segera masuk ke ruangan beliau. Melepaskan lelah hati dan raga sehabis bertemu dengan orang-orang yang suka menarik energi positif orang lain.
Perkataan Mira barusan masih bercokol dalam kepala. Segera kuambil HP dalam tas, lalu kubuka berita online. Memang banyak keluar judul tentang Aryo.
Aku menggigit bibir, berusaha meredam rasa yang tak menentu dalam dada. Kenapa mereka begitu tega menyebar fitnah seperti ini? Padahal mereka tidak meminta konfirmasi pada Aryo sebelum menyebarkannya.
Semua menyebalkan!
Bram, Inge, juga Mira!
Kenapa, sih! Di dunia ini banyak banget manusia yang suka mencampuri urusan orang lain? Kenapa tidak mengurus diri sendiri aja?
Pundakku terasa berat saat berita tentang Aryo kubaca di semua aplikasi sosial media. Apalagi membaca komentar sadis para ibu muda yang mungkin tidak menginginkan Aryo menikah.
“KASIHAN ARYO, MASAK MAU MENIKAHI PERAWAN TUA YANG MENJEBAKNYA?”
“BODOH BANGET! PADAHAL DIA TAJIR, GANTENG! KOK, MALAH MILIH GADIS GA LAKU!”
Kalimat-kalimat itu bagai pisau tajam yang menyayat perlahan seluruh bagian tubuh. Tak terasa, air mata akhirnya menetes juga ke pipi.
Aku tidak pernah meminta Aryo menjadi suamiku? Aku tidak pernah berharap kejadian ini menimpa! Semua takdir Tuhan! Aku pun kemarin sudah menolak untuk dinikahi. Tapi, apa daya! Aryo, yang menginginkan aku menjadi istrinya. Alasannya pun sudah dia sampaikan.
Haruskah aku mengalah?
Haruskah aku meninggalkan dia yang ternyata benar-benar mencintaiku
Tangis tanpa suara membuat tenagaku berkurang. Kusandarkan tubuh di sofa tamu ruangan papa. Memejamkan mata sejenak dan terus menyebut nama Allah.
Semoga ini hanya ujian di awal pernikahan. Mungkin Allah sedang jatuh cinta padaku, sehingga diberi ujian seperti ini.
**
“Mba kenapa?” Aryo bergegas masuk dan terlihat sangat khawatir.
Entah dari siapa dia tahu aku berada di sini. Bukankah tadi dia keluar dengan Hasan?
“Aku tadi diberitahu Mira, kalau Mba datang!” Dia segera duduk di sampingku.
“Aku baik-baik aja, kok!”
“Baik apanya? Mba pasti habis nangis.”
Dia meraih pundakku, menenggelamkan ke dadanya. Tangisku pecah, isakku menjadi di sana. Hingga membuat kemeja Aryo basah.
Belaian lembut tangannya cukup memberi energi untuk menahan tangis. Walau masih ada sisa air mata yang kerap jatuh seperti embun.
“Ga usah pikirkan tentang berita itu! Mereka ga tahu apa yang kita rasakan.” Bisikan Aryo membuatku terbayang fotonya dengan Inge.
“Ini bukan hanya tentang berita itu, Beng! Tapi tentang foto kamu dengan Inge juga!” Aku panas, aku cemburu, aku tidak terima suamiku dekat dengan perempuan seperti Inge.
Dia menarik napas pelan. Lalu membelai pipiku, sekaligus menghapus sisa air mata di sana.
__ADS_1
“Ai! Jangankan Inge, gadis cantik di luar sana malah aku tolak. Kenapa? Karena aku mencintai kamu. Percayalah, Ai! Cinta pertama dan terakhirku hanya kamu.” Dia menarik pundakku agar kami bertatapan.