Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Aku hanya ingin nilai bagus dari anakmu


__ADS_3

Rara mendudukkan  Alvin di kursi  meja makan, setelah kesadaran  bocah tampan berkulit putih itu pulih,  Bastian juga  duduk di sana.


“Tunggu di sini,  Ibu buatin susu hangat, iya”


“Iya,” ucapnya  dengan lembut.


Ia meletakkan kepalanya di atas  meja,  diletakkan di lengannya, matanya menatap ibunya yang tampak mondar -mandir di kabinet dapur.


Bastian  sibuk menatap layar ponselnya, sesekali ia menggulir layar ponselnya keatas dan ke bawah.


“Ayamnya jadi gak Ra, ini uda ketemu tokonya yang dekat”


“Iya, pesan saja, minta yang segar, iya”


“Ok”


Lalu ia meletakkan ponsel nya di atas meja dan menatap Alvin,  dengan mata menyelidiki.


“Apa Alvin sudah sekolah?” tanya Bastian membuka pembicaraan .


Alvin mengangkat kepalanya menatap Bastian, “Sudah Om, saya  paud”


“Umurnya sudah berapa tahun?” tanya Bastian,


“Ibu, umur dedek 5 tahun, Iya?”


“iya, mau lima tahun,”jawab Rara tampak tergesa-gesa Mengerjakan pekerjaannya.


“Lima tahun, Om”


“Oh”


Suasana kembali hening dan ia kembali meletakkan kepalanya di lengannya, menatap ibunya, seolah-olah ibunya wanita paling cantik yang harus ia lihat


 menatap Rara dengan tatapan dalam  matanya  mengikuti kemanapun tubuh Rara bergerak.


“Sayang, apa kamu lapar?” tanya Rara berjongkok  menarik kursi, putranya tiba-tiba Alvin mengarahkan bibirnya ke bibir ibunya dan  merangkul leher ibunya kembali.


Bastian yang melihat sikap manis bocah kecil itu, memutar bola matanya, ia kaget dengan sikap Rara di balik sikapnya yang absurd ternyata memiliki sikap sangat penyayang.


‘Apa semanis itu hubungan mereka?’ ucapnya dalam hati masih menatap  keduanya.


“Kenapa Sayang, kangen rumah, kangen kakek?”


Ia menggeleng  kecil dan berkata;


“Aku mau sama ibu, tinggal sama ibu selamanya”


“Baiklah, habiskan susunya, Ibu mau masak, Ok”

__ADS_1


Alvin  mengangguk dengan patuh,  lalu melepaskan tangannya dari leher Rara,  tangan mungilnya meraih gelas, berisi susu coklat hangat.


Apa yang dipikirkan Bastian tentang Alvin semuanya salah, tadinya ia berpikir kalau anak Rara tidak jauh beda dari sikap ibunya, ia berpikir saat ia tiba di apartemen  akan melihat alvin lari-larian dalam apartemen nya, layaknya anak lelaki seumurannya yang sering ia lihat.


Ia berpikir,  Alvin akan bersikap nakal dan tidak mau diam, tetapi kali ini sikapnya sangat manis dan mengemaskan, wajahnya juga sangat tampan.


Ting -Tong ….


Bastian berdiri dan membuka pintu, pesanan belanja  sudah datang.


“Berapa Bang?”


“Seratus lima puluh ribu, Pak”


Bastian mengeluarkan dompetnya dari saku celananya menarik dua lembaran seratus ribuan.


“Tidak usah kembali, ambil saja kembalian nya, buat tip Abang,” ujar Bastian.


“Makasi iya, Pak,” ujarnya dengan sumringah.  Hal yang lumrah, siapapun akan merasa sangat gembira jika diberi tip atau bayaran lebih oleh pelanggan. Lelaki jangkung pengantar barang pesanan Rara merasakan hal yang sama.


Saat Bastian berbalik, ia kaget,  bocah lelaki itu ada di belakangnya  menatapnya dengan tatapan mata menyelidiki, tatapan polos, tetapi tidak ada yang bisa menebak apa yang ia pikirkan.


“Eh, Om kaget,” ucap Bastian memegang  dadanya, “Apa kamu ingin sesuatu Alvin?”


“Tidak om, hanya melihat saja,” ucapnya dengan santun, lalu ia kembali ke meja makan di dapur. Bastian menenteng  kantong belanjaan ke dapur.


Rara menoleh Alvin yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik mereka berdua,


“Iya, matanya menatap kita berdua, tetapi aku tahu,  ia sedang  menyelidiki kita dan mengawasi, selepas itu,  nanti dia akan  memberi penilaian”


“Penilaian apa?” Bastian menaikkan sebelah alis matanya.


“Nanti dia akan menjabarkan apa yang ia pikirkan tentang kamu, ia akan menceritakan semua apa yang kita lakukan pada keluargaku,” ujar Rara, tangannya mengangkat kantong belanjaan meletakkannya di dekat wastafel.


“Maksudnya menceritakan tentang aku?”


“Iya, kamu dan aku”


Mendengar hal itu Bastian   menaikkan kedua alis matanya, lalu ia berkata’


“Apa yang bisa aku bantu?”


“EH, untuk apa?” Rara balik bertanya.


“Biar nilai ku bagus nanti, saat anak kamu memberi penilaian,” ujar Bastian dengan wajah serius.


'Eh ...  ini orang untuk apa ingin penilaian bagus dari anak gue, emangnya ini pemilihan calon suami?' ujar Rara membatin


“Tidak usah seperti itu juga, bersikap normal saja, aku sudah bilang kalau kamu temanku,” ujar Rara tangannya mulai memotong daging ayam.

__ADS_1


“Iya, tetap saja Ra, aku ingin nilai bagus dari anak kamu"


“Ok, kamu bisa potong ayamnya?”


“Tapi ...  aku belum pernah melakukannya, tapi tunggu … aku harus  mencobanya, malu sama anak kamu yang terus menatap ku  seakan-akan menyelidiki dari tadi,” ungkapannya,  ia mulai mengerjakannya, walau  dengan susah paya ia mampu mengerjakannya walau sedikit ada  drama, saat ia memotong daging ayam, dagingnya ter pental jauh,   itu yang pertama drama kedua; tangannya hampir saja dipotong  seperti daging ayam.


"Piuuuh akhirnya selesai," ujar Bastian menyeka keringat di kening nya.


Kehadiran Rara di rumahnya mengubah banyak hidup Bastian, sejak Rara ada, sejak saat itulah ia pernah merasakan namanya memasak dan mencuci piring dan mengerjakan pekerjaan rumah.


Kali ini, kehadiran Alvin di rumahnya membuat rumahnya tampak seperti keluarga kecil, saling membagi tugas dalam  hal memasak.


“Ibu sama Om mau masak apa?” tanya Alvin , kali ini dengan pose kedua telapak tangannya menopang dagunya, gayanya sangat mengemaskan.


“Ibu, mau masak ayam goreng kesukaan adek”


“Alvin di masakin ayam kecap seperti masakan nenek saja Bu, Boleh?”


“Eh, Ibu sudah mengulek bumbunya,” ujar Rara menoleh Bastian seolah-olah meminta pendapatnya.


“Oh, ga pa-pa deh itu juga boleh,” ujarnya  kurang bersemangat.


“Jangan khawatir Vin, biar Om yang masak,” ujar Bastian tiba-tiba.


“Memang kamu bisa, aku tidak bisa …. “Rara membulatkan matanya menatap Bastian.


“Oh, gampang tinggal kita lihat di google gampang kan,” ucapnya bersemangat.


Maka kali ini mata mereka berdua menatap layar ponsel Bastian.


"Bagaimana dengan cara ini Ra, lebih simpel"


"Masalahnya rasanya tidak sama," ujar Rara ia memotong wortel untuk masak soup ayam,  tetapi kali ini tangannya mengupas dua potong wortel panjang setengah telapak tangan, mencuci,  lalu memberikan pada Bastian. Bastian suka memakan wortel mentah, Rara tahu kebiasaan Bastian sejak ia bekerja di apartemen itu,  bahkan ia meminta Rara menanam bibit wortel di balkon rumahnya.


"Makasi Ra," ujar Bastian mulai menggigit wortel mentah, yang diberikan Rara.


"Ini Vin!" ujar Rara menyodorkan wortel mentah juga pada Alvin,


"Ha ...? anakmu juga suka  wortel mentah seperti aku Ra?"


Alvin berlari kecil mengambil potongan wortel mentah dari tangan Rara.


"Sangat suka, bahkan terkadang dijadikan seperti camilan,  saat ia menonton, ajaibnya ia tidak pernah merasa sakit perut, kalian  berdua manusia yang unik, aku malah tidak suka sama sekali, unik iya kalian berdua," ujar Rara.


Bastian mengangguk kecil,  dengan mata menatap  serius pada Bocah tampan berkulit putih itu.


Bersambung ...


Bantu like dan vote iya Kakak. Kasih hadiah juga biar tambah naik viewersnya.

__ADS_1


__ADS_2