
“Ayo pikirkan,” kata Rara mendesak suaminya
Bastian terlihat cengengesan melihat tingkah dan sikap tidak enak yang di tunjukkan Rara.
“Baiklah” Bastian menyetel lagu dengan volume lumayan keras dan Rara menarik selimut pura-pura tidur.
Saat Rara menarik selimut pura-pura tidur bastian tertawa ngakak melihat tingkah istrinya.
“Sudah sana buka pintunya, bilang saya sudah tidur dari tadi, jangan bilang lagi mencetak anak, awas kamu bilang begitu, saya suruh tidur di sofa nanti kamu” kata Rara dengan mata di buat tegas.
Lagi-lagi Bastian tertawa lucu melihat tingkah Rara.
“Kamu yakin mau tiduran seperti itu saja?” tanya Bastian sekali lagi.
“Iya, sudah sana” pinta Rara dengan suara berbisik.
Bastian membuka pintunya. Ibunya sudah berdiri di sana tatapan matanya curiga, entah berapa lama ia sudah berdiri di sana, tapi yang pasti ia mencurigai Bastian
“Habis ngapain sih kalian, bukannya langsung buka, kok lama bangat?” Ia bertanya. Padahal itu satu pertanyaan yang tidak pantas di tujukan pada pasangan yang sudah menikah, raut wajahnya terlihat tidak senang ia memaksa langsung masuk.
“Oh, Ibu sudah pulang” Bastian memeluk tubuh wanita dengan hangat.
“Iya, mana dia?” ia bertanya tentang Rara.
“Rara sudah tidur, bu dari tadi, kita bicara di ruang tamu saja bu,” kata Bastian mengajak ibunya,
“Kenapa kalau di sini, apa kamu takut juga wanita kampung itu!”
“Ibu, sudahlah ibukan baru pulang jangan menambah pikiran ibu, ayo bicara sama Tian di luar saja” Bujuk Bastian pada Ibunya ,ia terlihat sangat sabar.
Akhirnya wanita itu mau mengobrol di Balkon dengan Bastian,
“Apa ibu baik-baik saja?,” tanya Bastian dengan nada sabar
“Tentu, aku baik –baik saja” ia menjawab dengan nada ketus pada Bastian, masih terlihat marah.
“Aku senang ibu sudah di rumah, aku selalu berharap ibu sehat,” kata Bastian terlihat sangat tulus dan terlihat sangat senang melihat ibunya kembali kerumah. Tidak ada niat Bastian mengungkit hari naas itu kembali, ia mencoba melupakannya , karena Rara sendiri menyuruhnya melupakan masalah itu dan menyuruh Bastian melihat masa depan.
“Dengar, Bastian pikirkan tentang ibumu ini, apa kamu mau ibu malu, semua teman-teman ibu sudah meledek ibu, karena anak pewaris salim group menikahi seorang janda beranak satu, mau taro di mana wajah ibumu ini ,Bastian, tinggalkan wanita kampung itu, kembali pada ibu seperti dulu lagi” Kata Hartati dengan rengekan pada ibunya,
Sebenarnya hati bastian sudah sangat panas mendengar permintaan ibunya, ibunya terlihat egois,
__ADS_1
Akhirnya, sadar kenapa selama ini ayah dan ibunya selalu bertengkar dengan ayahnya, ia baru menyadari betapa egois sifat ibunya .
“Ibu sudahlah, ibu baru pulang kan pasti sangat capek, ayo, ibu tidur saja iya,” bujuk bastian pada ibunya, ia tidak ingin membahas permintaan gila ibunya.
“Kamu dengar ibu gak sih Tian!,” bentaknya pada anaknya “aku bilang aku tidak ingin wanita kampung itu di rumah ini.”
“Ibu sudahlah, jangan membahasnya lagi, nanti orang-orang pada bangun, ini sudah malam,” bujuk Bastian mencoba menahan diri, karena ia tidak ingin jadi anak pembangkang dan anak durhaka.
“Itu dia yang saya bilang, Bastian, teman-teman ibu semuanya meledek Ibu ,Bastian. Mereka mentertawakan dan meledek Ibu, karena kamu menikahi wanita kampungan terus janda, terus umurnya lebih tua dari kamu, ibu yakin kalau kamu pasti di guna-guna sama ia kan?” Katakan pada ibu” nada ucapnya seperti memaksa Bastian,
“Ibu sudahlah, Bastian lelah hari ini,” kata bastian terlihat lemas mendengar ocehan ibunya, padahal di kamar habis olahraga dengan istrinya membuat tenaganya terkuras habis mendengar ocehan dan permintaan gila dari ibunya ,membuatnya semakin tidak bertenaga lagi. Ia merasa kerongkongannya kering,
“Suruh wanita itu pulang, kalau tidak pulangkan saja ke rumah orang tuanya, berikan sejumlah uang, kalau perlu berikan apartemen mu agar mau pergi, nanti aku ganti yang lebih bagus lagi” Katanya dengan sangat angkuh, untung wanita itu adalah ibunya sendiri,
kalau itu wanita lain mungkin ia sudah menjungkalkannya dengan kasar atas penghinaan pada istrinya.
Tapi sayang yang melakukannya saat ini ibunya sendiri apalah mau di kata, selain menahan diri.
“Ibu, sudahlah, aku tidak bisa aku sangat bahagia bersamanya, ia wanita yang aku cintai, aku bahagia bersamanya ,Bu, Apa ibu tidak bisa memahami perasaanku?” Ia terlihat memohon pada ibunya.
“Selama ini ibu selalu memaksa kehendak ibu pada saya , tapi saya turutin semua, itu semua kulakukan agar ibu bahagia” ia menarik nafas panjang “ Tidak bisakah ibu mengalah sekali demi kebahagiaanku?” Tanya bastian berharap ibunya mengerti.
“Ibu maafkan Bastian , tapi permintaan Ibu kali ini aku tidak ingin menurutinya, aku minta maaf sama ibu”
Kata Bastian mencoba memegang tangan ibunya degan lembut ,di satu sisi tidak ingin melihat Ibunya bersedih , itulah salah satu kelemahan Bastian ia tidak pernah bisa melihat ibunya menangis.
“Tidak- tidak ibu tidak terima! kamu harus pilih wanita kampung itu ,apa ibumu sendiri” Katanya membuat pilihan yang sulit pada Bastian, tentu saja itu pilihan yang sulit bagi anaknya sendiri karena menurut Bastian dua-duanya sangat ia sukai,
Ia terlihat bingung ketika ibunya menyuruhnya membuat pilihan yang sulit.
“Bu, besok kita bicarakan , kepalaku pusing .bu” kata Bastian meninggalkan ibunya yang masih memangil namanya.
Ia masuk memegangi kepalanya yang mendadak pusing, tangannya memijat-mijat kepalanya yang berdenyut.
Rara yang mendengar semua obrolan mereka, ia mengerti sakit kepala yang di rasakan suaminya. Tangannya dengan sigap mengoleskan minyak gosok ke kepala Bastian.
“Apa kamu mendengarkan Ra?” tanya Bastian ia menatap wajah istrinya, ia berpikir kalau rara sudah terluka.
“Iya” kata Rara raut wajahnya terlihat tenang, tapi tenang bukan berarti tidak sakit hati.
“Maafkan Ibuku Iya Ra, Kata Bastian mengusap punggung tangan Rara, wajah Bastian terlihat raut bingung serta sedih.
__ADS_1
“Sudah iya, istirahatlah, besok kita kan sahur,” kata Rara mengajak suaminya untuk istirahat.
Hingga besok paginya tiba, ibunya membuat masalah lagi,
Ia tidak ikut sahur, berarti ia tidak ikut puasa,
Saat semua anggota keluarga itu memaksa makan dengan setengah mata terbuka, karena masih ngantuk sebab tidak biasa, tapi sejak ada Rara di rumah keluarga bastian yang mengajak dan membangunkan sahur dan berkat bantuan Omahnya Bastian juga Alhamdulilah semua ikut puasa. Kecuali Ibunya Bastian,
Tapi saat semua ingin pergi kekantor, Ibunya Bastian kembali membuat ulah yang membuat penghuni rumah itu diam , melihatnya bertingkah aneh.
“Bastian katakan, kamu mau pilih saya apa wanita kampung ini?”ia bertanya lagi saat Bastian ingin kekantor.
Ayah Bastian yang mendengarnya langsung menghampirinya.
“Lihatkan,Ra, ia tidak baik padamu walaupun kamu sudah capek membebaskan Ibunya Bastian” kata ayah Bastian terlihat putus asa.
“Apa, Kamu yang membebaskan Ibu ra? Kok kamu gak bilang padaku.
“Tidak apa-apa Ayah” kata Rara
“Baiklah Bu, saya memutuskan memilih keluar dari rumah ini, saya menyayangi ibu, dan juga sayang pada istri saya, Tadinya saya ingin ibu dan Rara sama-sama akur antara menantu dan mertua itu yang aku inginkan. Tapi sepertinya tidak bisa aku,
Aku dan Ara sayang ibu” Kata Bastian memilih Rara meninggalkan rumah itu.
Tapi karena itu tidak bisa melakukanya terpaksa saya harus pergi dari rumah ini Kata Bastian mengajak Rara meninggalkan rumah besar itu,
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1