
Leher Rara di pasang penyangga leher dan di kepalanya di bungkus untuk menghentikan pendarahan.
Bastian ikut masuk kedalam mobil ambulance untuk mendampinginya.
Bagaimana nasib Rara selanjutnya bagaimana janin yang mereka tunggu dan mereka harapkan itu.
Siapa pelakunya? Siapapun itu pastilah dia manusia berhati iblis, Karena dengan tega melakukannya pada wanita sedang hamil.
Di kediaman Rara sudah berkumpul dua keluarga, keluarga Bastian dan keluarga Rara.
Bastian berhasil membujuk ibunya datang, Hartati bersedia melakukan minta maaf pada keluarga Rara, demi cucu yang di kandung Rara. atas bujukan suaminya, Bu Hartati bersedia datang, tapi apa yang mau di kata.
Nasib buruk telah terlebih dulu menghampiri Rara.
Kata orang hubungan darah itu pasti memiliki ikatan batin yang kuat, apa lagi antara orang tua dan anak, oran tua akan merasakan jika salah satu keluarganya terluka, begitu juga dengan keluarga Rara, Saat mereka berkumpul bersama dalam Suasana hangat.
Ibu mertuanya Rara akhirnya datang juga ke kediaman Rara, Hartati kahirnya meminta maaf untuk keluarga Rara hal yang sudah lama Rara inginkan , tapi sayang , momen yang sudah lama di tunggu itu tidak di lihat olehnya.
Saat keluarga itu terlibat dalam obrolan hangat, Aisah tanpa tidak sengaja memecahkan gelas di dapur.
“Kakak!” teriakannya tanpa sadar.
Ada suara teriakan di dapur pak agus datang menghampiri sebagai seorang ayah yang punya hubungan ikatan batin dengan Rara ia tau, kalau hal buruk telah terjadi.
Tidak lama Sukma menelepon
Dengan suara yang bergetar dan baju di penuhi darah Sukma menghubungi keluarga Rara, yang pertama ia telepon tadinya Aisah, tapi tidak di angkat, maka ia menelepon Pak Agus. Mereka lagi mengobrol di ruang tamu.
Kriiiing..
Kriiiing..
Ponsel pak Agus bergetar ada panggilan masuk, Sukma ada apa? gumamnya dalam hati.
“Iya Mey, ada apa, sudah mau pulang?”
“Encong…!!” suara tangisan pilu terdengar dari ujung telepon Sukma belum bilang apa-apa tapi hanya tangisan yang terdengar dari dari telepon.
Mendengar hal itu orang tua itu merasakan bulu kuduknya bergelidik dan jantung berdetak sangat kuat.
Rara apa yang terjadi teriaknya dalam hati.
__ADS_1
“Mey, ada apa? bicaralah,” kata Pak Agus dengan tenang ia berdiri.
“Encong..! Ra-ra-ra-“ suara Sukma terbata bata.
“Ada apa dengan Rara?,” suara pak Agus mengeras.
Membuat semua dalam rumah itu terdiam hanya menatap kearahnya.
“Ia kecelakaan cong…!” Tangisan Sukma pecah dengan suara tangisan yang semakin keras.
“Apa??” ponselnya jatuh ia memegang dadanya apa yang di takutkan terjadi juga.
Ia terduduk lemas membuat semuanya menegang.
“Ada apa Bang?” Bu ima memungut ponselnya.
“Halo Mey, ada apa?”
“Rara kecelakaan Cing, ia di tabrak mobil.”
“Apa??” Suara histeris keluar dari mulut Bu Soimah.
Orang tua Bastian tidak tinggal diam Bardi salim mengeluarkan ponselnya menghubungi Bastian.
“Ayaaah Rara dan anakku bagaimana ini?,” suara isakan tangisan terdengar dari panggilan itu.
“Tenanglah nak, kamu sekarang di mana? kami akan datang ke sana,” kata pak Bardi salim, Ia mencoba menenangkan Bastian yang terdengar panik..
“Kami dalam ambulance dalam perjalanan ke rumah sakit, Yah,” jawab Bastian.
“Baik Nak.” Katakan pelan-pelan, rumah sakitnya di mana agar kami datang kesana?” Kata Bardi dengan sabar dan lembut.
“Aku belum tau, Ayah, aku tidak tau, nanti aku kabarin kalau sudah tiba di sana .” kata Bastian.
Di sepanjang perjalanan dalam ambulance, Bastian hanya menggenggam tangan Rara ia berusaha kuat dan tegar. Walau tidak mudah baginya, ini akan jadi mimpi buruk untuknya seumur hidupnya kelak.
“Kamu harus kuat sayang, aku mohon, kamu harus kuat.” Kata Bastian membisikkan kata-kata penyemangat ke kuping Rara. Tadi Rara masih membuka mata tapi sekarang saat ini mata Rara sudah tertutup ia pingsan.
Petugas kesehatan itu hanya melihat Bastian, mereka juga berusaha memberikan pertolongan untuk Rara.
Semua harus di lakukan dengan sangat hati-hati karena keadaan Rara sedang hamil.
__ADS_1
Perjalanan ke rumah sakit terasa begitu lama padahal baru sepuluh menit rasanya sudah seperti satu abad bagi Bastian.
Hingga tiba di rumah sakit, Rara langsung di bawa ke unit gawat darurat, tidak berapa lama lagi sudah di pindahkan keruangan khusus, dan Bastian tidak di perkenankan untuk masuk.
Bardi tidak sabar hanya menunggu kabar dari Bastian, ia menyuruh asistennya menghubungi rumah sakit yang dekat dengan kantor.
Benar saja, Rara di bawa ke rumah sakit tidak jauh dari kantor Rumah sakit swasta ternama.
“Rara di bawa ke rumah sakit mawar, kita harus ke sana,” kata Pak Bardi langsung bergegas.
“Pak Agus masih terduduk lemas, ia merasakan sakit di dalam dadanya.
Supir Rara membawa keluarganya ke rumah sakit yang di sebutkan sama Pak Bardi.
Bu soimah sepanjang perjalanan hanya bisa menangis, berbeda dengan pak Agus, ia menyimpan kesedihannya dalam diam.
Hingga di tiba di sala satu rumah sakit swasta di daerah Jakarta selatan.
Bastian duduk di ruang tunggu dengan wajah yang pucat dan berantakan. noda darah mengotori seluruh bajunya.
Matanya sembab membuktikan kalau lelaki tampan itu habis menangis.
Sukma duduk selonjoran di lantai, ia di temenin Darma lelaki yang berprofesi sebagai pengacara itu, memiliki hubungan dekat dengan Sukma baik dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan, saat ia dan suaminya berpisah ia menjadi wanita yang bebas.
“Kak Mey, apa yang terjadi?,” tanya Aisah dengan tangisan, lagi-lagi Sukma hanya menangis memegang kedua lututnya.
Ia menyaksikan sendiri Rara di tabrak membuatnya syok dan terpukul
Ia menyalahkan dirinya, ia berpikir ini ada juga karena kesalahannya, coba ia menolak Rara tidak datang kekantor.
Padahal sebelumnya ia juga sudah beberapa kali mencurigai mobil hitam itu mengawasi kantornya, tapi karena Rara cuti jadi tidak maka idak bertemu.
Mobilnya juga pernah di rumah Rara, ia juga pernah mencurigai mobil hitam itu mengawasi rumah Rara , tapi ia tidak pernah ia hiraukan ia berpikir itu hanya kebetulan.
Tapi melihat Rara terluka karena ia celaka, ia akhirnya tau kalau mobil yang berwarna hitam itu sudah lama mengawasi Rara.
Coba aku memberitahumu lebih awal mungkin kejadian ini tidak akan menimpa Rara kata Sukma lagi.
Kini ia menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri
“Ia di tabrak orang, Sah, ada yang sengaja menabraknya, ada yang sengaja mencelakainya.” Kata Sukma dengan tangisan, ia juga ikut berantakan noda darah juga mengotori baju kerjanya.
__ADS_1
“Siapa yang tega melakukan itu sama orang hamil iya Allah? bagaimana nasib mereka berdua di dalam sana?” Aisah juga ikut terisak-isak.
bersambung...