Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Aryo membuat dadaku berdegup kencang .


__ADS_3

“Kalau menurut mama, malah musibah membawa keberuntungan. Kapan lagi bisa memiliki menantu orang terkenal.” Mama mengedipkan matanya, kemudian menyuruh kami segera makan malam. Karena sebenarnya memang tidak baik jika perut berisi makanan berat setelah lewat jam lima sore.


**


“Mama hebat, ya, Mba!” Aryo berucap setelah menelan beberapa suap nasi dari piringnya.


“Hebat kenapa?”


“Masakannya lezat. Bukan membandingkan dengan ibu, sih! Soalnya kalau di rumah, memang kami jarang masak masakan ibu.”


“Kok, bisa gitu.”


“Aku yang melarang ibu masak. Kasihan beliau nanti capek. Lagian aku sudah bekerja, ayah juga, jadi biar ibu menikmati hari-harinya dengan santai dan kegiatan positif lainnya. Sekarang beliau sibuk ngurus komunitas sedekahnya. Jadi, jarang masak. Tetapi, kalau lagi pengen banget masak, biasanya mama masak banyak sekali. Lalu dibungkus dan dibagi-bagikan ke tetangga yang membutuhkan.”


Ya, Rabb.


Ternyata mertua yang kemarin kusalami adalah orang baik? Mereka orang berada yang sangat sederhana. Aku jadi malu pada diri sendiri yang terlalu perhitungan untuk sedekah.


“Mba ga makan?” Dia bertanya setelahnya.


“Nanti aja, belum terlalu lapar.”


“Tadi katanya lapar, apa jangan-jangan kenyang karena dipeluk tadi?”


Erornya kambuh! Mulai lagi menggoda secara tidak langsung, tapi ngena banget di ulu hati.


“Ga, lah! Tadi kan udah minum air putih.”


“Air putih itu ga akan membuat kenyang, Mba Aida sayang!”


Uluh! Udah berani saja ini bocah memanggil pakai sayang.


Dia menarik napas, lalu menggeser kursi ke dekatku.


“Salah satu agar rumah tangga itu berkah dan bahagia adalah dengan memanjakan pasangannya, Mba. Jadi izinkan aku menyuapimu makan. Selain itu juga, menyuapi istri itu besar pahalanya. Aku ingin setiap waktu melayani kamu, Mba. Karena membuat kamu tersenyum itu ternyata berat.”


Dasar muka artis.


Di mana saja berusaha merayu. Aku menolak dengan menggeleng.


“Ayolah, Mba! Nanti kamu akan terbiasa. Jika aku tidak makan bareng kamu, pasti merasa ada yang kurang.”


“Kalau ga ada sayur, baru kurang, empat sehatnya.” Aku menjawab datar.


“Iya, sih! Tapi, aku ingin sekali menyuapi kamu, Mba. Selama ini hanya nonton drama di tivi doang! Jadi pengen merasakan yang sebenarnya. Boleh, ya?”


Menolak, sama saja akan terus didesak. Aku akhirnya mengangguk.


Aryo segera menyuapi dengan tatapan sayu. Kemudian menghapus sisa makanan yang neympil di bibir. Dadaku langsung berdebar saat jarinya menyentuh kulit halus tersebut.


“Duh, Mba! Dadaku bagai dihantam badai saat menyentuh bibir kamu. Tapi, nikmat.”


Aku membelalak, dia tertawa lirih.


“Nikmati aja, Mba! Semakin sering berinteraksi, akan semakin cepat rasa itu tumbuh.”


“Itu, sih, maunya kamu!”


“Memang Mba ga mau gitu, jatuh cinta? Kata orang tua, jatuh cinta itu berjuta rasanya lho, Mba! Lebih memabukkan dari alkohol.”


“Duh, Aryo! Pleas, deh! Ga usah lebay!” Aku memberungut.


Dia menatapku tajam.


“Mba, berdua dan bermesraan gini, merupakan terapi jiwa agar selalu bugar dan sehat. Jadi nanti hormon kita meningkat, kemudian kita ibadah dalam hangatnya cinta. Setelah itu, benih yang kutanam tumbuh sempurna di sana. Gitu!”


Aku terbatuk, kikuk ketika mendengar keterangannya yang panjang lebar.


“Mba oke?”


“Aku tak apa, hanya kaget saja mendengar pemaparan tadi.”


Tersenyum dan tertawa pelan. Sepertinya memang karakter dia sangat humoris dan luwes. Jadi apa pun yang dihadapi selalu dibawa bercanda, walau sebenarnya sangat serius.


“Salah satu tujuan menikah, adalah punya keturunan, Mba! Selain untuk menangkan diri dan merasakan kenyamanan. Rumah tangga itu laksana surga dunia, Mba! Tapi tergantung pada istrinya, kalau istrinya marah-marah terus, surga itu bakal berubah jadi neraka. Sebab perempuan itu dikatakan ibu rumah tangga, ya, untuk membuat keluarganya merasa tenang jika berada di dekatnya.”


Aku mendehem. Lalu menghembuskan napas berat.


“Sebelum tamat SMA, kamu sekolah di mana, sih? Sudah kek ustadz saja ketika bicara.”


“Belajar dari orang tua, Mba! Ayah selalu memuliakan ibu, dan ibu pun sangat menghormati ayah. Setiap hari selalu mesra, bahkan ibu tidak akan makan jika tidak disuapi ayah. Begitu!”


Berarti dia tumbuh dari keharmonisan orang tuanya. Sehingga dia ingin sekali memanjakan dan meniru kehidupan keluarganya yang mungkin sangat bahagia. Benar-benar tidak menyangka, aku menikah dengan lelaki belia yang berpengetahuan luar biasa. Seharusnya ku bersyukur, bukan malah menolak takdir.


“Kalau Mba mau tidur duluan ga apa!” Aryo menyuruh ketika kami sudah kembali ke kamar.


Aku tertegun.


“Baiklah, makasih, ya!”


“Makasih untuk apa? Belum juga dicoba, Mba!” Kembali seloroh garing mengalir dari bibirnya yang tipis.


Lelaki belia berhidung bangir itu mengalihkan wajah, ketika mataku membesar seperti biji semangka. Eh, itu mah sipit, kan, yak? Berarti biji nangka aja, deh!


“Makasih, sudah pengertian! Bukan kenapa-napa sebenarnya. Aku memang belum siap aja. Semua ini berasa mimpi.” Aku mengembuskan napas, lalu duduk di ranjang pengantin yang tidak ada hiasan apa pun.


Namanya juga nikah dadakan. Jadi, ya, serba lama. Tapi, tadi seprainya sudah diganti sama mama. Karena aku sudah siap-siap untuk segera nikah.

__ADS_1


Debar di dada belum reda. Setiap kali Aryo bergerak, aku seakan berada di ujung geladak kapal. Oleng.


“Aku mau izin membuka HP dulu, ya, Mba! Mau kirim konten ke kanal you tube!”


Minta izin?


Aduh, semuanya seakan butuh persetujuan dariku. Maka bertambahlah wewenangku di kamar ini.


“Asal jangan tentang hubungan kita!”


“Seharusnya memang tentang kita, Mba! Biar nanti tidak ada lagi yang menggodaku, karena sudah beristri. Tetapi, jika Mba Aida keberatan, tak apa. Aku mah lebih senang, sudah beristri, tapi status masih bujangan.”


What?


Semena-mena pula dia berkata! Tapi, ada benarnya juga. Jika nanti ada yang mengganggu dia gimana? Apa aku mulai merasa kalau dia milikku?


“Aku ga ngerti!” Pura-pura bodoh, cara yang tepat untuk membuang gelisah.


“Mba, aku publik figure. Kalau ga percaya, buka aja you tube dan Instagram aku. Nanti Mba akan liat siapa sebenarnya suami Mba ini!”


Mulai sombong, nih, bocah!


Aku mana kenal yang namanya Instagram dan youtube. Orang setiap hari hanya makai FB, itu pun sekedar melihat-lihat postingan teman. Aku sendiri jarang posting.


Hati kecilku seharusnya senang, ternyata Aryo masih menghargaiku sebagai seorang istri.


“Ga jadi tidur?” Dia bertanya setelah sekian lama aku duduk berjuntai di tempat tidur. Bingung juga mau ngapain.


“Ini juga mau tidur!”


Aku segera berbaring dan tidur di bagian dekat dinding. Menutup tubuh dengan selimut. Sayangnya, mata enggan terlelap. Masih bingung dengan perasaan sendiri. Banyak hal yang memenuhi ruang kepala saat ini.


#DinikahiBocahTengill #Part4 #DBT4


Entah sudah jam berapa saat Aryo naik ke tempat tidur. Aku merasakan kalau dia sudah berada di belakangku. Tetapi tidak berbaring.


Lamat-lamat kudengar dia berbicara sendiri. Eh, ternyata dia berdoa.


“Ya, Allah. Aku ridho pasa istriku. Jadikan dia penyejuk mataku, menjadi tempat aku berlabuh dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku kelak. Ya, Allah. Tolong membuatkan hatinya agar mau menerimaku jadi pendamping hidupnya. Walau aku tahu, usiaku terlalu kecil untuk dipanggil suami.”


Dadaku sesak saat dia mengucapkan doa tersebut. Ada haru, ada ucapan lucu yang menggelitik.


“Maafkan aku, Yo! Maafkan aku,” ucapku dalam hati.


Cukup lama dia duduk dengan bersandar di tempat tidur. Lalu kurasakan tubuhnya merapat. Dan tiba-tiba tangannya melingkar di perut, erat sekali.


Jantungku sudah berdegup kencang. Tapi, tetap kutahan. Takut dia tahu, kalau aku belum tidur.


“Maafkan aku, Mba! Aku hanya ingin jadi selimut bagimu. Kalau nanti kamu terbangun, aku ingin kamu tahu, aku akan selalu ada di sampingmu.”


Aku menggigit bibir agar tidak tertawa mendengar kalimat puitis barusan. Walau geli dan risih aku tetap diam dengan mengempiskan perut. Membiarkan tangan itu melingkari tubuh. Walau sebenarnya semakin membuat mata enggan tidur.


**


“Sudah azan? Masa, sih? Perasaan aku baru tidur.”


Dia tertegun.


“Baru tidur? Bukannya semalam Mba sudah tidur duluan. Ohh, jadi semalam Mba dengar semua doa aku? Trus kenapa ga nolak lagi waktu dipeluk?”


Waduh! Bingung aku, bagaimana cara menjawabnya.


Aku pura-pura ga dengar aja, ah! Lalu melipir ke kamar mandi.


“Ga usah mandi, Mba! Kita kan ga ngapa-ngapain!”


“Ish!” Aku segera meninggalkannya yang sudah siap dengan perlengkapan shalat.


Sebenarnya Subuh ini aku merasa terharu. Aryo memang tidak sekecil usianya. Bacaan ayahnya luar biasa bersih, apalagi saat membaca surah Ar-Rahman.


Nikmat Tuhan manalagi yang harus kudustakan?


Dapat suami brondong, cakep, baik, sholeh, terkenal. Masihkah, aku harus menolak rezeki yang datang di kala hujan? Tidak, dia memang sengaja datang menjemput takdirnya.


Padahal biasanya aku jarang pulang kemalaman, serta menggunakan transportasi umum. Tapi, malam itu semuanya seperti sudah jadi rencana Tuhan. Air mata berlinang saat menyadari semua keegoisan.


“Mba!”


“Hmm!”


“Ga, pengen mencium punggung tangan suami, sehabis sholat?”


Aku segera mengulurkan tangan, dan aku gemetar saat menciumnya.


“Mba!”


“Apalagi, sih? Yo? Eh, Bang?”


“Selesai Shalat itu, ga boleh marah-marah lho, Mba!”


“Iya, ada apa lagi?” Aku sedang menenangkan perasaan, duhai suami beliaku.


“Mba, ga ingin aku doakan? Dia suami itu dahsyat lho, Mba!”


Aku mengangguk.


“Baiklah! Sini ubun-ubunnya!”

__ADS_1


Dia menatap sayu, aku patuh dan menakurkan kepala.


Deg!


Jantungku seakan berhenti berdetak.


“Maaf, ya, Mba! Sebelum didoakan, izinkan aku mencium kedua bola matamu!”


Ya, Rabb.


Apa harus aku dorong lagi suamiku seperti kemarin? Apa dia tidak melihat tubuhku gemetar?


**


“Gimana mau mencium bola mata, Yo? Letaknya di dalam.” Untung ada kalimatnya yang ga tepat. Ingin rasanya tertawa keras saat ini juga.


Namun, debar dalam dada masih membuatku kikuk.


Dia tersenyum, lalu meraih jemariku yang masih tertutup kain shalat.


“Di balik pelupuk matalah, Mba! Ayo, merem!”


Gimana ya?


Ga dituruti dosa, dituruti masih ragu-ragu juga hati sebenernya. Nanti dia malah minta lebih.


Biasanya laki-laki kan begitu. Dikasih hati malah minta jantung.


“Aku ga bakal minta lebih, kok!”


Duh! Dia malah mendengar kata hatiku.


Ya, Tuhan.


Tolong redakan gemuruh ini. Jangan sampai Aryo tahu, kalau aku benar-benar gemetar menahan risih.


“Mba pernah dicium atau mencium orang?”


Pertanyaan macam apa lagi ini?


“Pernah, nyium mama, papa, sama anak tante yang masih bayi.”


“Nah, berarti pernah dicium juga sama yang mahram. Tarik napas yang dalam, Mba! Aku udah jinak, ga bakalan kugigit.”


Dalam keadaan seperti ini, dia masih ngaco. Dasar bocah!


Pelan, dia menarik pundakku mendekat.


“Pejamin matamu, Ai!”


“Ai? Kamu manggil aku hanya pake nama?” Aku menarik badan.


“Lha, Mba kan panggil aku juga nama doang!”


“Terus maunya apa?” Aku langsung naik darah. Orang dia emang kecil dari aku.


******* napasnya terdengar sangat pelan.


“Aku bukan manggil Aida, tapi Ayang! Kebetulan aja nama, Mba ada huruf itu.”


Wajahnya terlihat lucu sangat berkata.


“Trus, aku manggil sopo?”


“Jarwo, Mba!”


Selalu ada saja jawabannya untuk membuat suasana mencair.


“Kalau gitu, aku panggil Abeng aja!”


Dia menyetujui dengan cara memberi anggukan pelan.


Di luar sana, suara kokok ayam terdengar seakan memberi semangat agar aku mau dicium suami. Perlahan, kupejamkan mata. Berusaha menguatkan hati. Ini pertama kalinya, lelaki menciumku, selain papa.


Aryo kembali menarik pundak dengan mengucap Bismillah.


Pelupuk mataku dia cium dengan bibirnya yang lembut. Darahku seketika berdesir. Tak lama, dia meletakan kedua telapak tangan di pipi. Lalu kudengar dia berbisik di ubun-ubun cukup lama. Dalam hati, aku hanya mengaminkan. Entah apa yang dia baca, yang jelas saat ini aku meminta dikabulkan.


Lalu, aku mendorong tubuhnya. Karena ada tarikan kecil di bibir.


Astagah! Aku benar-benar gemetar dengan darah berputar arah barangkali menuju jantung. Telapak tanganku langsung berkeringat. Seluruh persendian berdenyut.


“Itu bonus, Mba!” Dia cengengesan.


Ingin kubenturkan kening ini ke bibirnya yang lancang. Tadi katanya Cuma mata doang, lah, sekarang malah memagut lembut bibir ini. Aku kan ... aku ga bisa diceritakan rasanya. Semua membuat perasaan campur aduk.


“Katanya hanya mata doang! Sekarang?” Mukaku berubah masam.


“Mba, apa pun yang ada pada tubuh kamu itu sekarang sudah jadi hak milikku. Ada lho, surat penyerahannya dari papa, Mba! Eh, Ay!”


“Maksud kamu, kamu membeli aku, pakai surat-surat segala?” Mataku mendelik dengan napas memburu. Enak saja dia bilang surat penyerahan. Emang aku tanah atau barang?


Dia menggeleng pelan.


“Tuh, di surat nikah kemarin. Setelah kita sah menjadi suami istri, tanggung jawab papa, Mba! Pindah ke pundak aku. Saat ini, aku yang bertanggung jawab atas diri, Mba. Sekalian dosa-dosa, Mba. Aku tak mau, kelak jika dihisab, Tuhan bertanya. Kenapa kamu tidak bisa membimbing istrimu? Seharusnya masuk syurga, eh, gara-gara istri durhaka. Maksudnya, mana tahu, Mba lupa tentang kewajiban dan hak seorang istri. Aku akhirnya masuk neraka. Please ya, Mba! Jadilah istri solehaku.”


Dapat kuliah tujuh menit lebih kurang, bonus ciuman, plus genggaman di jemari. Apa aku harus teriakin dia lagi, bahwa aku masih kikuk saat disentuh.

__ADS_1


Sabar beberapa waktu lagi, napa?


“Aku dibuatkan kopi, boleh ga, Mba? Pen nyobain buatan bini. Di rumah, ayah sebelum bangun sudah disuguhi kopi sama ibu. Kata beliau, begini lho, Yo! Kalau sudah beristri, ada yang selalu memperhatikan. Aku pengen ngerasain juga diperhatikan istri. Boleh ga, Mba?”


__ADS_2