
Kecepatan 160KM/Jam melebihi batas maksimum. Bastian sepertinya sudah gelap mata. Belum lagi karena pengaruh alkohol
Hingga tiba di sebuah belokan , ia semakin gila, hingga suara dentuman keras terdengar, dan suara orang-orang berhamburan menghampirinya. Ia menabrak pembatas jalan dengan begitu kuat, hingga terdengar suara dentuman keras. Membuktikan betapa parahnya kecelakaan itu, kaca mobilnya hancurnya.
Mobilnya terbalik dan Bastian terlihat terluka parah dengan posisi kepala berada di bawah, dan tangannya memegang erat gambar berwarna hitam itu, gambar usg calon anak mereka.
Bastian merasa gelap mata dan putus asa, kabar tentang kepergian Rara keluar Negeri membuatnya, kehilangan arah dan gelap mata.
Rasa marah pada ibunya membuatnya seperti itu.
Mata semakin meredup dan tertutup dan noda berwarna merah itu membanjiri wajahnya, kepala terluka.
Untung orang di sekitarnya baik dan melakukan pertolongan dengan cepat. Kebanyakan dari mereka para ojek daring yang sedang menunggu orderan. Mereka bahu membahu mengeluarkan Bastian dari dalam mobil dan menelepon ambulance.
Jam menunjukkan 11:30 WIB telepon Rara berbunyi.
Ia menoleh sebentar melihat nama Bastian tertera dalam layar ponselnya , ia memilih mengabaikannya sesuai komitmennya .
Ia tidak tau yang menelepon bagian rumah sakit yang ingin mengabari pihak keluarga, kalau ada anggotanya yang terluka karena perawat riwayat panggilannya panggilan Bastian kebanyakan di tujukan pada Rara yang di Beri nama Istriku, maka itu bagian rumah sakit ia yang pertama karena istrinya, tapi Rara mematikan teleponnya.
Saat ia bertengkar dengan Bastian dan sudah membuat kesepakatan pada Ibunya Bastian, kalau ia tidak akan berhubungan dengan Bastian.
Ia menempati janjinya,
Ia keluar dari Rumah sakit, saat Nyonya Hartati berjanji tidak akan menggangunya dan keluarganya.
Rara sedikit merasa lengah.
Hari itu setelah pulang dari rumah sakit, Rara memutuskan akan pergi ke Italia, menemani adiknya bermain sepak bola di sana, klub adiknya berkesempatan bertanding di Negara yang terkenal dengan makanan pizzanya dan terkenal dengan bangunan-bangunan bersejarahnya.
Tidak lupa juga ia memboyong semua keluarganya, termasuk Aisah.
Walau babenya awalnya tidak setuju karena mereka juga baru pulang dari luar negeri, tapi saat Calvin jadi sasaran Omahnya Bastian, akhirnya keluarga itu mau juga liburan kedua.
Disana juga teman Babeh Rara semasa kuliah ada yang menetap, jadi mereka rencana akan tinggal disana sementara waktu
Menyelam sambil minum air, menemani Adiknya Rizky bermain bola dan sekalian melupakan kepenatan di kepalanya.
Rara mematikan ponselnya, karena saat itu, mereka dan kelurganya akan masuk ke dalam pesawat. Jadi ia tidak tau kalau Bastian kecelakaan.
Sementara Bastian sudah terbaring lemah dalam penangan Dokter . petugas rumah sakit akhirnya menelepon Bardi Salim, setelah ibu dan Rara tidak bisa di hubungi.
__ADS_1
Rara sudah berada di pesawat akan terbang ke Italia
Di rumah sakit. Bardi salim terlihat sangat sedih saat melihat anaknya terluka parah hatinya sakit sakit.
Ia mengingat, tepat beberapa saat yang lalu, saat Bardi salim menggugat Istrinya Hartati, Bastian datang pada ayahnya Bastian mengungkapkan keinginannya, kalau ia memilih menemani Ibunya
.
“Aku tau, Ibu salah ,yah .aku tidak ingin membelanya, tapi aku akaan mendampinginya agar ibu tetap hidup,’ katanya saat itu.
Bardi mengusap airmatanya, ia baru menyadari kalau ia tidak pernah menjadi ayah yang baik pada anak semata wayangnya, karena istrinya mencuci otak Bastian’
Ia seolah anak hanya milik ibunya dan ayahnya tidak perlu.
.
Bardi Salim duduk sendirian di kursi di ruang tunggu, di mana anaknya berjuang hidup, Ia berada dalam ruang operasi karena serpihan kaca menusuk dada Bastian.
Bardi terlihat menunduk dengan raut sedih, seburuk buruknya seorang bapak jika melihat anaknya terluka di depannya pasti ia merasa sakit juga.
“Dimana anakku,” tiba-tiba Hartati datang.
“Ia, berada di ruang operasi,” kata Bardi, bersikap acuh pada Ibunya Istrinya
Hubungannya dengan suaminya dari dulu tidak pernah akur, bahkan Bardi terlihat cuek menatap Istrinya, ia melihat sinis melalui ekor matanya
Terlihat seperti dua orang yang tidak saling kenal.
Bardi bersikap tenang, seolah ia berpikir ia tidak melakukan apapun. Sedangkan Istrinya menganggapnya sebagai lelaki bejat.
Ia memilih duduk menjauh dari istrinya, seolah istrinya orang asing yang tidak perlu di pedulikan.
Sedangkan Hartati ia masih terlihat menangis. Hingga ruangan itu terbuka, seorang perawat keluar dengan buru-buru.
“Maaf pak, pasien kekurangan darah kami juga kehabisan stok darah yang golongan darah yang sama seperti pasien, apa kelurga yang punya golongan darah yang sama?, kerena pasien kehilangan banyak darah,”kata perawat.
“Ambil darahku saja Sus, saya juga punya golongan darah yang sama dengannya ,” Bardi Salim, menawarkan dirinya.
“Saya juga sus, golongan darah kami bertiga sama juga ,”Hartati menawarkan dirinya.
“Baik. Itu lebih bagus karena ia butuh banyak darah,” katanya dengan sikap buru-buru, membawa kedua orang tua Bastian kesatu ruangan.
__ADS_1
Terlihat Hartati berbaring ketakutan saat perawat ingin memasukkan jarum kecil itu lengannya
Mungkin kata di setiap masalah ada hikmahnya itu cocok untuk saat ini. Bardi Salim menenangkan istrinya.
“Tidak apa-apa,Bu, hanya sakit sedikit saja, kata Pak Bardi, tangannya dengan sabar mengusap punggung tangan istrinya,mungkin ini juga pertama kali untuk Nyonya Hartati mendapat perlakuan lembut dari suaminya.
Hingga 4 kantong penuh dapat dari kedua orang Bastian, Hartati terlihat sangat pucat, karena ia juga baru dari rumah sakit,,karena aksinya yan membuang darah milik dengan sia-sia, saat ini ia harus membaginya lagi dengan putranya.
Untuk Bardi Salim ia tidak merasa apa-apa karena badannya gemuk.
“Kamu tidak apa-apa? “Tanya suaminya, karena wajah Hartati terlihat pucat pasih.
“Aku Hanya pusing sedikit,”
“Apa ibu perlu kamar juga?,” tanya suaminya terlihat perhatian.
“Tidak, aku ingin memastikan Bastian dulu, aku masih kuat kok tidak apa-apa ,” kata Hartati ia juga terlihat berbeda. kalau biasanya ia selalu bersikap sombong dan angkuh , saat itu ia terlihat tidak berdaya,
Mata Hartati menatap kosong kearah kamar Bastian, air mata tidak mau berhenti, banyak yang ia takutkan , ia takut Bastian tidak selamat, maka ia tidak ada keluarga lagi.
Bastian, maafkan Ibu, kamu harus sehat ada yang ingin ibu ceritakan padamu,nak, gumamnya dalam hati.
Nyoya Hartati duduk di samping suaminya.
“Kalau masih pusing tiduran saja di sini,” Bardi, menawarkan sofa disampingnya. Seperti kucing penurut, Ibunya Bastian menurutinya, apa ini tanda-tanda yang baik ? apa kerena ia lelah?” Bardi menatapnya sekilas.
Menunggu berjam-jam membuat wanita itu tertidur, Bardi salim tetap berjaga.
Hingga Dokter keluar dari ruangan operasi.
“Bagaimana Dokter, bagaimana keadaan anak saya?” Tanya Bardi, wajahnya terlihat khawatir.
Hartati juga ikut berdiri.
“Operasinya sukses, hanya menunggunya sadar, tapi ini kami menemukan ini di genggaman tangannya,”
Dokter memberikan foto hasil USG itu pada Ibunya. Bastian ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya, ia semakin menangis karena merasa bersalah.
“Apa itu?,” tanya Bardi ikut menatap dengan bingung “Apa Rara hamil?.”
Nyonya Hartati kembali menangis menutup mulutnya.Rasa penyesalan selalu datang terlambat.
__ADS_1
Bersambung....