Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Dipaksa pisah


__ADS_3

Duduk  bersama kelurga  di saat seperti ini, membuat rara seperti duduk di ruang pesakitan merasa seperti dalam ruang persidangan. Jadi  Jaksa adalah babehnya sendiri dan emaknya  jadi hakimnya.


Dua kipas angin menyala,  tapi bisa-bisanya Rara mandi keringat d


Tapi  tidak bagi Bastian terlihat sangat tenang, ia menyembunyikan wajah groginya di balik senyum ramah yang ia pamerkan,


“Assalamualaikum” Sapa Ara dari pintu masuk,


“Wallaikumsalam,” sahut  Emaknya Babenya bersamaan,


Duduk  bersama kelurga  di saat seperti ini, membuat rara seperti duduk di ruang pesakitan merasa seperti dalam ruang persidangan. Jadi  Jaksa adalah babehnya sendiri dan emaknya  jadi hakimnya.


Dua kipas angin menyala,  tapi bisa-bisanya Rara mandi keringat d


Tapi  tidak bagi Bastian terlihat sangat tenang, ia menyembunyikan wajah groginya di balik senyum ramah yang ia pamerkan,


Rizki dan Aisah masih menatap tidak percaya dengan  kedatangan Bastian kerumahnya, apalagi menjadi iparnya


Setelah duduk beberapa saat Babenya menatap keluar seolah-olah  ia menunggu seseorang, suasana sangat canggung.


Tidak tahan dengan situasi itu. Rara membuka suara  dan memulai  obrolan


“Be, nyak, ini Bastian Suami Rara”


“Sejak kapan jadi suami kamu?” tanya Babenya dengan tatapan tajam.


“Be, saat-”


“Maafkan, kami Bu, Pak, kami berdua  sudah melakukan kesalahan, karena sudah bertindak tanpa izin bapak sama ibu,” potong Bastian.


Rara kaget dengan  keberanian Bastian, suami tampannya memperlihatkan wajah bersalah selalu menunduk dengan  sopan,  terlihat dewasa lebih dewasa dari istrinya yang notabennya umur Raralah yang lebih tua. Di sini tergambar Umur tidaklah menjadi kedewasaan seseorang.


“Kamu berani datang  sendiri kerumah saya, setelah membawa kabur anak saya, dan beraninya kamu datang sendirian tanpa orang tua, mana tata kramamu ”


Babe Rara menatap tajam pada pada Bastian. “Apa keluargamu masih ada?” Beliau meluapkan kemarahan itu pada Bastian.


 Saat itulah Rara ingin kabur dan tidak   tega melihat suaminya di marahi dan di bentak-bentak seperti itu. Tapi sayangnya yang membentak lelaki yang sangat ia hormati  babehnya sendiri. Ia tahu babenya marah pada ibu Bastian tetapi meluapkannya pada Bastian.


“Ada, Pak ibu dan bapak saya juga masih ada” jawab Bastian kali ia terlihat takut suaranya terlihat bergetar


Mereka semua hanya jadi penonton dan  hanya pendengar saat Bastian Salim di marahin .


“Kamu mengawini anak orang tidak meminta izin dulu sama keluarganya,” ucapnya lagi


 Rara hanya mematung saat Bastian di bentak dan dimarahi babenya, padahal sebenarnya yang salah itu adalah dia ialah yang memaksa Bastian menikahinya,


Sukma sampai tidak tega melihat Bastian di marahin terus-terusan sama babehnya Ara.

__ADS_1


“Rara yang salah, aku yang memaksanya menikahi Rara maaf,  Be”


“Apa maksudnya Ra?” wajah lelaki berpostur tinggi itu menatap putrinya dengan tatapan tidak kalah tajam,


“Ini salah Rara Be, aku memaksa menikahi ku, ia sebenarnya tidak mau menikah dengan cara seperti ini, tetapi karena aku marah pada ibunya, aku memaksa dan menjebaknya,  pada akhirnya dia bertanggung jawab”


Rara  menceritakan semuanya pada keluarganya.


“Apa maksudnya Ra?” tanya babehnya terdengar suaranya lebih meninggi.


“Jangan salahkan  Bastian,  Rara yang memaksanya. Orang tua Bastian juga tidak tau saat kami menikah,” ujar Rara.


Yang di takutkan Rara akhirnya terjadi,  babenya tidak menyetujuinya, ia mau  menerima Bastian sebagai menantu, dengan syarat ia harus membawa keluarganya kerumah dan melakukan adat seperti seharusnya.


“Babeh tidak setuju, pernikahan kalian tidak sah, babe masih hidup,  tapi kamu melangkahi kepala babehmu sendiri”


Babehnya terlihat sangat berbeda saat ini,  wajah kecewa terlukis jelas di wajahnya, itu hal yang wajar, seorang anak menikah tanpa sepengetahuan orang tuanya.


“Bawa orang tuamu , baru saya  setuju pernikahan kalian, saya tunggu dua hari ini, lebih dari situ saya menganggap tidak ada yang terjadi,” pintanya dengan tegas.


“Rara, sudah menikah, apa itu tidak cukup, Be?” Tanya Rara dengan suara bergetar.


“Apa kamu pikir karena selama ini babe memintamu menikah, tetapi bukan berarti kamu bisa berbuat seperti ini … Ini bikin keluarga malu “ Babehnya membentak Rara. Bastian juga tidak tega melihat Rara  ikut kena marah.


Rara sampai kaget melihat kemarahan babenya.


Semuanya diam, baik emaknya juga tidak berani bicara, hanya diam jadi pendengar, tidak ada yang  berani membantah.


“Baiklah bawa orang tuamu untuk menjemput Rara, jika kamu anak yang  punya tata krama  dan punya adat, maka tidak seharusnya kamu datang sendiri ke rumah saya,” ujarnya membuat Bastian tidak berkutik.


Rara tidak tahan lagi mendengar kemarahan babenya, ia ingin  berteriak dan menghilang atau pindah ke planet Mars sekalian


‘Bastian tidak pantas menerima kemarahan seperti itu dari keluargaku’ ucap Rara dalam hati.


 Rara berpikir ia bukan siapa-siapa tetapi beruntung bisa menikah dengan Bastian. Padahal Bastian bisa mendapatkan wanita yang tercantik di tanah air, Raralah yang memaksakan kehendaknya hingga bisa bersamanya.


Bastian Salim hanya bisa diam, matanya sendu menatap Rara, ia  tidak menyangka akan mendapat kemarahan seperti itu dari keluarganya.


“Katakan juga pada ibumu. Jangan berbuat sesuka hatinya”


Mata Raralah langsung melemah, ia tahu kenapa kemarahan babehnya,  karena Hartati


Rara hanya bisa diam, tidak ingin membantah, ia berpikir, hubungan mereka mungkin hanya sampai disini saat babehnya tidak menerima Bastian dan memisahkan mereka berdua.


“Pulanglah, bawa orang tuamu jika Rara berharga untuk kamu,” pintanya


‘Aku tidak seharga itu babe, anakmu ini hanya rempeyehan yang bisa cepat hilang, bila di tiup angin ‘ ucap Rara dalam hati

__ADS_1


“Aku menunggu selama dua hari untuk menjemput Ara” ujar babe Rara.


Melihat tatapan  sedih  Bastian  rasanya Rara ingin  berteriak saat itu juga. Sukma  sampai mengusap matanya ia merasa sedih melihatnya.


Tidak ada yang menduga  babeh semarah itu, memang begitulah  sikap  babehnya Ara, pendiam irit bicara  tapi sekalinya bicara dunia terasa gelap langit seolah runtuh.


Tidak ada yang berani membantah  omongan babenya, mereka hanya diam tatapan mata tertuju hanya pada Bastian tidak tega melihatnya,  ia di tekan di dipojokkan seperti itu.


Mungkin ini pertama kali baginya dapat perlakuan  seperti dari orang


“Rara, tidak akan kemana-mana,  jika kamu ingin anak perempuan saya, kamu harus meminta dengan baik-baik karena saya masih hidup.  Saya yang menjaganya dan saya yang membesarkan sejak dari kecil ,enak bangat kamu main ambil begitu saja di mana otak kamu!” ia kembali marah.


“Sudah Be,  kalau babeh ingin marah, marahlah pada Rara, karena aku yang pihak salah disini, dia tidak suka padaku, aku yang memaksanya, agar babeh sama Nyak senang, jika aku sudah menikah, itu salah satu alasanku”


“Tapi  ibunya sudah berapa kali mengancam keluarga ini Rara, apa kamu ingin bertahan dengannya?”


Tangan Rara gemetaran melihat kemarahan ayahnya, ia tidak mampu berkata-kata lagi,


“Pulanglah Tian. Aku tidak ingin kamu  mendengar lebih banyak lagi kemarahan dari  babe”


Ia  pamit pada ayah mertua, walau masih marah  dan emaknya hanya diam.Sepanjang Rara datang ia hanya diam seperti orang lain, ia tidak berani membuka suara sedikitpun


Di luar Bastian terlihat menahan air matanya,  tetapi mencoba bersikap tenang.


“Ra, maafkan ibuku iya” wajahnya terlihat tidak berdaya,


“Tidak apa-apa, pulanglah, tidak usah meminta keluargamu untuk datang”


“Kenapa?” wajah Bastian lebih terkejut mendengar permintaan Rara


“Itu  nanti akan menjadi masalah besar lagi, biarkan saja dulu seperti ini hingga semuanya tenang yang ada nanti kedua keluarga semakin buruk”


“Bagaimana dengan kita, Ra?” Wajah Bastian panik bercampur takut.


“Kita jalanin saja seperti ini sampai semuanya tenang,” ujar Rara.


Bastian dan Rara  dipaksa hidup berjauhan oleh babe Rara,  karena kemarahannya pada Hartati ibu Bastian.


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Bintang Kecil untuk Faila


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


__ADS_2