Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Aku cemburu


__ADS_3

“Baiklah Bastian tidurlah di sini,” ujar Rara menepuk-nepuk pundaknya. Dengan senang hati Bastian menyandarkan kepalanya di pundak wanita yang saat ini membuat jantungnya berdebar seperti sehabis dipukul pakai palu.


Bastian masih berpura-pura tidur, saat Rara menarik tangannya berpikir Bastian sudah tidur, ternyata Bastian tidak melepaskan tanyanya.


Rara menghembuskan napas kasar dari mulutnya, ia merasa tidak leluasa saat Bastian menggenggam erat tangannya. Tapi saat melihat putra tidur nyaman di pangkuan Bastian seketika hatinya luluh, ia mengarahkan camera ponselnya lalu mengarahkan camera ponselnya ke arah mereka bertiga . Bastian tersenyum kecil, Rara juga melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan dalam pesawat, bedanya Rara tidak melakukan keisengan seperti yang dilakukan Bastian.


Setelah mengambil beberapa foto Rara kembali terfokus ke layar ponsel, membaca beberapa artikel tentang WO Wedding Organizer.


Bastian bisa melihat jelas apa yang lakukan Rara dapat melihat apa yang sedang dibaca apa yang sedang diketik. Bastian masih pura-pura tidur. Namun, matanya mengawasi dan melihat apa yang dilakukan Rara. Rara beberapa kali membaca artikel tentang Wedding Organizer.


‘Apa yang Rara lakukan , kenapa dari tadi dia melihat tentang hal itu, siapa yang mau menikah?’ tanya Bastian dalam hati, ia sedikit merasa risau.


Pada saat otaknya mencari tahu tujuan Rara melihat WO tiba-tiba Kenzo menelepon, Bastian mengatupkan giginya dengan kuat. Ia cemburu saat sahabatnya menelepon wanita yang ia cintai.


“Iya Pak”


“Kamu sudah di mana, Ra?” tanya Kenzo/


“Di Jakarta dalam taxi, ada apa Pak?”


“Sama siapa, Ra?”


“Sama Bastian,” ucap Rara tanpa ragu-ragu.


Mata Bastian membelalak kaget, tadinya  ia berpikir Rara akan berbohong, Bastian tersenyum puas, itu juga yang membuat Bastian suka dengan kepribadian Rara, tegas dan apa adanya.


“Kok bisa sama Bastian?” tanya Ken kaget.


“Aku bertemu Bastian di Bali saat mau pulang”


“Terus, kalian mau kemana?” tanya Ken dengan suara yang tiba-tiba melemah.

__ADS_1


“Aku mau antar Bastian ke apartemennya dulu, dia kurang enak badan, ia tepar sama Avin, dari tadi orang ini dua tidur terus,” ucap Rara.


“Baiklah, aku mau bilang, sepertinya rencana liburan kita ke Korea Selatan sesuai perjanjian kita akan terlaksana”


“Kenapa?”


“Sebuah perusahaan susu meminta ku sebagai bintang iklan untuk produk mereka, tetapi syutingnya di Korea, jadi aku pikir kamu senang”


“Oh, syukurlah, akhirnya ada yang memberi Jobs lagi, baiklah aku mau,” ucap Rara senang. Saat ia senang ada hati yang terasa terbakar karena cemburu. Bastian, merasa sangat kesal.


“Baiklah, kita liburan sambil kerja ajak anak kamu iya Ra,” ucap Ken.


“Boleh?’


“Bolehlah lah dengan senang hati, tapi Ra …”


“Apa?”


“Tapi untuk apa?” tanya Rara terlihat sangat bingung.


“Ibuku hanya ingin mengenal kamu dan Putramu Ra, lebih dekat, tidak ada maksud apa-apa, kemarin saat kamu pulang, ibuku datang menjenguk, aku cerita tentang kamu yang menyelamatkan hidupku. Jadi ibu ingin mengenal”


Seketika Rara terlihat bingung memberi jawaban. Lalu Bastian, menyenggol tubuh Rara, ia menggeleng sebuah kode memberinya tanda tidak. Ia menyuruh Rara memberi jawaban tidak, seolah-olah ia punya hak sepenuhnya pada ibu dan anak itu.


“Maaf Pak Ken, aku tidak ingin melibatkan putraku dalam urusan pekerjaan,” jawab Rara menuruti apa yang dikatakan Bastian.


Lagi-lagi Bastian tersenyum, ia merasa sangat senang saat Rara menolak mengenalkan Alvin pada keluarga Ken. Tetapi seketika wajah Bastian murung, ia tahu Ibu Ken ibu yang baik dan ramah.


Ia berpikir saat pertama melihat Rara pasti akan memintanya menjadi menantunya apa lagi sudah melihat Alvin pasti ia akan mendukung anaknya menikah dengan Rara. Ibu Ken wanita yang berpikiran luas yang tidak pernah menilai seseorang dari penampilan dan harta. Tidak seperti ibu Bastian yang menilai seseorang dari kekayaan yang dimiliki.


“Baiklah Ra, besok aku dan Ibuku akan pulang ke Jakarta, tapi kamu nanti pulang ke apartemenku ,kan?”

__ADS_1


“Tentu pak Ken”


“Baiklah sampai jumpa di Jakarta Ra.” Ken menutup teleponnya.


Rara masih terlihat bingung dengan sikap yang berbeda yang ditunjukkan Kenzo.


“Ada apa dengannya?” tanya Rara bicara pelan.


“Mungkin dia akan melamar mu Ra,” ucap Bastian sinis.


“Tidaklah, itu tidak mungkin,” ujar Rara


Pada saat bersamaan taxi berhenti di depan apartemen Bastian. Melihat tempat itu kembali mengingatkan Rara pada masa di mana Ibu Bastian menghina nya. Ia berpikir tidak usah ikut masuk. Tetapi yang terjadi ... Bastian menggendong Alvin dan berjalan menuju lift .


"Eh, kami tidak usah ikut, aku dan Alvin sampai di sini saja," ujar Rara berjalan ke depan Bastian.


Tetapi lelaki yang sedang terbakar api cemburu itu bertingkah seperti anak kecil yang merajuk, wajahnya terlihat marah, ia berjalan buru-buru melewati tubuh Rara, seakan-akan Alvin adalah anaknya yang tidak pantas di kenalkan pada lelaki lain."Tian, ada apa denganmu?" ujar Rara masih berlari kecil mengimbangi langkah panjang Bastian. Ia masih diam dengan terlihat wajah runyam.


"Tian ...! Kamu kenapa?" tanya Rara memegang lengan Bastian untuk menghentikannya.


"Aku marah, aku cemburu kamu puas ...!"


Rara tertawa ngakak, saat melihat Bastian bersikap seperti anak kecil saat ngambek ,


"Kamu, seperti Alvin saat ngambek, kamu kayak anak kecil tau, gak"


"Bodoh amat," ujarnya dan masuk kedalam Lift meninggalkan Rara yang masih tertawa, lalu Bastian membawa Alvin ke apartemennya saat dalam lift ia baru sadar cincin di jari Rara.


" Oh, gila cincin ...!' Menekan kembali lift , saat turun dan pintu lift terbuka, ia memegang lengan Rara membawa naik keatas.


Bersambung

__ADS_1


Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga.


__ADS_2