
Bastian menoleh lagi ke belakang, sebelum ia masuk Chek-in, satu kedipan mata dan lambaian tangan, walau ia tidak ingin meninggalkan Rara bareng sehari
Tapi ia ingin membuktikan, ia mampu menjalankan tanggung jawab yang ia sudah diterima.
Rara melambaikan hapenya, mengingatkannya memberi kabar jika sudah sampai.
Bastin mengangguk dan menghilang di balik pintu masuk, di Bandara Soekarno Hatta terminal 2F keberangkatan domestik -menuju Bali.
Setelah suaminya pergi ia kembali di kantor bertemu dengan Ayah mertuanya, menyusun rencana besar rencana terselubung atau rencana rahasia.
Mertuanya mengikuti arahan Rara, ia memilih tidak mempercayai sekretarisnya dan menyuruhnya melakukan pekerjaan lain di luar kota, sesuai permintaan Rara . Karena ternyata setelah semua data diretas tangan ajaib menantunya. Ternyata sekretarisnya mata-mata istrinya, hatinya sakit tapi ia menahan diri.
Terlihat data panggilan teleponnya menghubungi istrinya selalu memberi laporan.
“Aku tidak tau ia seperti itu, ia sudah bekerja pada saya selama puluhan tahun,” kata Pak Bardi tidak terima, saat orang yang ia percayai mengkhianatinya.
Ia ingin memecatnya saat itu juga, tapi jika ia memecatnya istrinya akan mencurigainya dan menyerang mereka .Rara melarangnya, lebih baik membuatnya sibuk, agar rencana mereka tidak bocor menyuruhnya keluar kota mengambil berkas dari rekan kerjanya, dengan begitu perhatiannya ter alihkan.
“Ayah itu terlalu percaya pada orang, Ayah akan terkejut lagi jika aku memberikan data pembelot lagi,” kata Rara. Ia memberikan nama pengacaranya. Pengacara yang sudah mendampinginya sejak ia menjabat sebagi di Direktur ikut mengkhianatinya.
“Apa, ini?"Pak Bardi terduduk lemas di kursinya, memegang dadanya karena terkejut.
“ Jadi selama ini, saya hanya seorang badut dan kacung? ia sudah seperti saudara bagi saya, terus siapa yang bersamaku selama ini?”
Nada suara lemas, wajahnya pucat, penghianatan memang menyakitkan, apa lagi orang yang kita percaya selama ini ternyata berkhianat. Padahal sudah memberikan kepercayaan sepenuhnya dan sudah sangat loyal pada mereka. Tapi masih saja di khianati.
“ Masih ada satu orang yang setia pada Ayah,” kata Rara.
“Siapa?” Tanya pak Bardi, berharap seorang dari perusahaanya membelanya.
“Supir Ayah,”ujar Rara memastikan lelaki itu setia pada majikannya, karena Rara meretas nomor ponsel supirnya terlihat tidak ada panggilan lain selain pada Bosnya. Dan ada beberapa balasan sms menolak ikut memberikan informasi tentang bosnya.
“Apa? supir,” Kata pak Bardi terlihat lemas, padahal hampir setiap hari lelaki paruh baya itu kena marah olehnya, tapi hanya ia yang setia padanya.
“Aku bisa mengerjakan ini semua hanya dalam satu malam dan bisa tuntas sebelum Bastian kembali dari Bali, Ayah, tapi aku butuh rekan satu lagi untuk membantu,” kata Rara
“Siapa katakan saja ,Ra, Pak Bardi terlihat greget.
"Sukma teman saya, ia dulu kerja di sini, keahliannya sama seperti saya, kalau ia kerja totalitas,” kata Rara.
Semua yang di minta Rara diturutin Pak Bardi
__ADS_1
“Mey, lu sibuk gak, Ara menelepon sahabatnya, tapi suara seperti habis menangis “ ada apa lo habis menangis ?” Tapi sukma terdengar hanya suara isakan.
“Gue di rumah Ibu, gue bertengkar dengan Ibu.Ra, gue selalu disalahkan kenapa mas Yugo pergi ke wanita lain.” Kata sukma di sela-sela tangisannya.
“Gini saja, lu mau ngasih pelajaran gak ama suami lo? datanglah kekantor Bastian sekarang,” Kata Rara terlihat bersemangat.
“ Pakai baju rapi dan sopan, bukan baju cantik yang kelihatan auratnya iya tapi baju kantor yang sopan.” Kata Rara memberi peringatan pada Sukma.
Karena sejak suaminya berselingkuh, Sukma memakai pakaian yang terbuka ingin membalas suaminya dengan selingkuh juga, Rara selalu melarangnya dengan tegas.
“Untuk apa? mari kita kerja di sini, aku ingin menawarkan posisi yang bisa memecat suami mu, dengan tanganmu sendiri, buat ia gembel kembali.” Kata Rara
Sukma terlihat diam tidak percaya dengan tawaran yang di berikan sahabatnya. Ia tidak tau kalau Rara salah satu pemegang saham di perusaan itu saat ini.
“Pokoknya lu datang kesini, kita bicara di sini, tapi loe pakai, pakaian yang rapi dan sopan, ingat jangan yang kelihatan belahanmu, gue gak mau,” Kata Rara merasa sangat kasihan sama sahabatnya.
“Baiklah, gue datang,” katanya kemudian
Dalam ruangan kantor ia di sambut pemilik perusaan Bardi salim.
“Selamat datang, mbak Sukma , silahkan duduk sambut Pak Bardi terlihat sangat Ramah.
“Apa!? sekretaris?,” ia menutup mulutnya dengan gugup, seumur hidup ia tidak pernah menduga akan mendapatkan kesempatan menjadi sekretaris, bahkan menjadi sekretaris Direktur utama, ia tidak yakin pada dirinya akan mampu.
“Tidak usah khawatir, Mey, kamu hanya simbol, bukan hanya kamu yang jadi sekretaris yang tidak punya pengalaman, saya juga.”
Kata Rara ia selalu bisa menempatkan diri dimanapun ia berada, kata loe-gue yang biasa di pakai dengan Sukma , di hilangkan dulu, bicara formal di depan bos mertuanya.
Mereka berdua tertawa bersama, Mertuanya hanya terlihat tersenyum melihat kejujuran menantunya.
Setelah di jelaskan semuanya pada Sukma, ia terlihat bersemangat, karena kariernya akan melampaui suaminya yang selama ini menyepelekannya.
Ia tidak sabar melihat reaksi suaminya, jika melihatnya menjadi sekretaris Bos besar, ia punya rencana dengan Rara akan merubah penampilannya akan lebih cantik lagi, layaknya sekretaris Bos besar.
Karena kata Rara, perselingkuhan tidak harus dibalas dengan perselingkuhan. Tapi dengan cara berjuang lebih baik lagi, untuk membuatnya menyesal dan menendangnya balik jika perlu.
“Baiklah Om, kita-“
“Eh!, jangan panggil Om ,Pak dong ,” potong Rara dengan tawa lebar
“Oh, iya maaf,” kata Sukma terlihat kagok
__ADS_1
“Santai saja, nak Sukma, sama seperti Ara, saya butuh bantuan kalian,” kata Pak Bardi.
“Baik pak serahkan pada kami sama Ara, kami pasti menuntaskannya seperti jaman kuliah dulu.” Sukma terlihat bersemangat dan menyikut Rara.
Benar saja data perusaan kembali ke tangan pak Bardi.
Ia mencoret semua orang yang akan di tendang alias penghianat dari perusahaannya , bersih-bersih akan di lakukan serentak nantinya.
Kini Rara dan Sukma bertugas mendekati pemegang saham termasuk Ayah Viona dan ayahnya Kenzo, kedua orang ini yang berperan gelap menguasai perusaan milik Bardi Salim yang memanfaatkan istrinya Hartati pangestu. Dibuat berantakan seperti benang kusut agar tidak bisa menemukan siapa penyokong di balik layar.
Tapi buat dua sahabat hacker terbaik sejagat raya mampu mencarinya melalui jalan tikus sekalipun .
Mereka mengantongi semua datanya dan bukti yang bisa melempar mereka ke penjara.
Rara menangani khusus dua , orang tua Viona dan Kenzo, ia banyak menemukan fakta terselubung di balik peretasannya.
Kata orang, banyak uang banyak dosa juga , mungkin benar apa adanya.
Hampir semua pejabat tinggi Perusahaan dan Pejabat yang mereka retas datanya, memiliki wanita simpanan dan melakukan maksiat.
Rara melibatkan Mario sahabatnya juga dalam pekerjaan di detekktip-ditektipan ini, berkat orang suruhannya yang berhasil mendapatkan video para pejabat penting.
Pekerjaannya sebagai sekuriti di salah satu hiburan malam, setelah ia pindah dari apartemen Bastian.
Menjadi sekuriti di salah satu hiburan malam yang didatangi banyak artis dan para pejabat.
“Ayah, bekerja seperti biasa jangan membuat kecurigaan sebelum semuanya beres,” kata Rara melalui sambungan telepon.
Beliau terpaksa membeli ponsel yang baru, ternyata ponsel yang selama ini ia gunakan sudah di pasang penyadap oleh istrinya.
Tidak terbayangkan selama puluhan tahun hidupnya di bayangin kekuasaan istrinya itu sangat menyakitkan.
“Baik, nak Ara,” kata pak Pardi terlihat sangat lemah mendapat kenyataan penghianatan itu, ia terpaksa di rawat di rumah sakit
“Ayah, jaga kesehatan, ayah harus kuat,” kata Rara memberi semangat pada Ayah mertuanya setelah ia tau mertuanya masuk Rumah Sakit
“Baiklah, nak Ara.” Mulai mempersiapkan diri akan membuat gebrakan besar dalam perusahaanya. Hal yang ia tunggu-tunggu selama puluhan tahun. Tinggal menunggu hari dan menunggu Bastian kembali dari Bali, karena waktu yang di rencanakan hanya butuh dua hari, ternyata ngaret sampai seminggu.
Ia mengusap dadanya, agar sabar, para bajingan itu mengulur-ulur waktu dan membuang-buang duit perusahaanya.Tapi ia sabar hanya menunggu waktu saja.
Bersambung
__ADS_1