Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Cincin Berlian


__ADS_3

Jadi Bastian berhenti dan ia menutup mata memikirkan cara untuk melepaskan cincin di tangan Rara, belum juga ia menemukan cara untuk melepaskan cincin, terdengar sebuah pemberitahuan kalau pesawat sudah tiba di bandara Soekarno Hatta.


“Aduh mati aku,” ucap Bastian panik.


“Ada apa?” tanya Rara ikut terbangun.


“Tidak apa-apa, kita sudah sampai," ucap Bastian dengan panik.


“Lalu tadi kenapa kamu panik?” tanya Rara menutup mulutnya yang menguap mengunakan telapak tangan kiri memperlihatkan cincin berlian yang ia pakai kan tadi.


Mata Bastian melotot panik. Rara belum menyadari kalau ada sebuah cincin bermata berlian berwarna putih mendarat tanpa izin di jari manisnya.


”Tidak aku hanya lapar,” ujar Bastian memegang jantungnya yang berdetak cepat.


“Aku juga lapar sebenarnya, tapi, kami turun dan pulang duluan saja iya, kita berpisah di sini saja”


Tiba-tiba Bastian bersikap panik dan gelisah dengan wajah gugup, lalu ia berkata;


“Jangan Ra …”


”Lah kok jangan.” Kening Rara berkerut tanda bingung.


“Kita pulang sama-sama saja Ra,” ucapnya memohon.


“Bastian, aku sudah bila-”


“Aku akan mengendong Alvin turun, kamu cari taxi,” ujar Bastian, ia berdiri tergesa-gesa seperti melihat seorang musuh dan ia mengendong Alvin.


“Kenapa? Apa ada wartawan?” tanya Rara ikut-ikutan berjalan buru-buru, belum juga Bastian menjawab apa-apa. Namun, Rara mengambil kesimpulan sendiri ia berpikir ada wartawan mengikuti mereka.


“Ra, sana kamu pergi cari taxi aku akan mengikuti jauh di belakang,” ucap Bastian . Ia berjalan dengan santai mengendong Alvin yang tidur di pundaknya dan satu tangan menenteng tas kulit jinjing miliknya.

__ADS_1


"Baiklah," ujar Rara ia berjalan buru-buru seperti di kejar soang.


Bastian berjalan dengan santai keluar dari bandara sementara Rara tampak berjalan tergesa-gesa dengan segala aksesoris yang terlihat ribet di tubuhnya untuk menyamarkan penampilanya' mulai dari topi, kaca mata, masker, selendang banyak benda yang ia gunakan untuk menutupi dirinya.Rara berpikir agar wartawan yang mengikuti mereka tidak mengenalinya dan tidak mendapatkan foto dirinya.


*


Akhirnya Rara berhasil menghentikan Taxi dengan sikap buru-buru masuk ke dalam taxi, sekilas terlihat seperti seorang selebritis yang menghindari jepretan kamera wartawan, caranya masuk ke dalam taxi mengalahkan Bastian seorang aktor yang sedang naik daun.


Saat mereka sudah masuk, perlahan Taxi berlambang burung itu meninggalkan bandara Soekarno Hatta melalui terminal B, saat sudah menjauh dari Bandara barulah Rara bisa bernapas, sejak tadi ia seolah-olah lupa untuk bernapas.


“Aduh Rara, kamu itu sudah melebihi penyamaran buronan,” ujar Bastian di dalam taxi.


“Biarkan saja, bagaimana? apa wartawan itu sudah pergi tidak mengikuti kita, kan?” tanya Rara masih menunduk.


“Lah, siapa yang bilang ada wartawan ,” ucap Bastian santai.


“Haaa … Loe bohong!” teriak Rara dengan mulut menganga.


Rara mengetok jidat Bastian sampai merah, ia merasa kesal


“Aduh." Bastian meringis mengusap-usap jidat.


"Dari tadi aku bertingkah seperti orang gila karena berpikir ada wartawan, kenapa tidak bilang tidak ada wartawan, Bastian …!” Teriak Rara menarik topi rajutnya dengan kesal.


“Lah, bagaimana aku mau jelasin Ra, kamu jalan kayak satpam kejar maling”


“Ah, alasan”


Rara mendesis kesal, sementara Bastian merasa menang, ia tersenyum licik, sampai-sampai melupakan cincin yang masih melekat indah di jari Rara.


Sementara Alvin masih tertidur nyenyak di pangkuan Bastian dan kakinya di letakkan kearah pintu, agar ia tidur nyaman, jadi, kali ini juga, Bastian duduk di tengah, tepat disamping Rara.

__ADS_1


Jadi Alvin tidak tahu apa terjadi antara Bastian dan ibunya, selama dalam taxi.


Tetapi saat Rara menggosok hidungnya dengan jari kirinya . lagi Bastian di buat hampir pingsan karena panik, ia akhirnya, bertingkah konyol.


Matanya melotot melihat cincin itu, tiba-tiba ia mengunakan jurus yang membuat Rara kebingungan.


“Aduh Ra, jangan marah,” ucap Bastian merebut punggung tangan kiri Rara, lalu menggenggam dengan erat, membawa tangan Rara ke samping tubuhnya dan menutupi cincin itu dengan genggaman tangannya.


“Bastian apa yang kamu lakukan?” tanya Rara kaget, karena Bastian tidak pernah bertingkah seperti itu sebelumnya.


“Rara jangan marah, kalau aku menyadarkan kepalaku di bahumu, kita gantian, tiba-tiba aku merasa sangat pusing,” ujar Bastian pura-pura.


“Bastian, sudah deh, jangan pura-pura lalu kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan," ujar Rara masih terlihat kesal.


“Aku beneran Ra, kepala terasa sangat pusing terasa seperti masih dalam pesawat, biarkan aku memegang tanganmu sampai di rumah, nanti bangunkan aku kalau sampai”


“Beneran?” tanya Rara memegang dahi Bastian. Rara percaya karena Bastian tampak pucat dan dahi berkeringat, padahal ia pucat karena ia takut Rara melihat cincin lamaran ada di jari manisnya.


Bastian berpikir Rara akan marah besar, ia takut Rara berpikir ia memaksakan diri.


“Oh, benar, kamu berkeringat,” ujar Rara meminta pak supir menyalakan pendingin mobil.


“Iya Ra, tapi kalau kamu keberatan aku tidur di pundak mu, setidaknya biarkan aku memegang tanganmu sampai kerumah,” ujar Bastian terdengar seperti sebuah rayuan gombal.


Sang supir tersenyum kecil, ia berpikir Bastian suami yang keren, karena masih mau membuat rayuan gombal untuk istrinya.


Bastian melirik kaca depan melihat sang supir tersenyum kecil membuat Bastian menggerutu menyalahkan diri sendiri karena keisengannya memakaikan cincin untuk Rara.


'Aduh, alasan apa yang aku gunakan nanti, apa Rara marah nanti?' tanya Bastian dalam hati, ia pura-pura menutup mata, berharap mereka cepat sampai, agar ia bisa menjelaskan pada Rara .


Bersambung

__ADS_1


bantu like dan vote iya Kakak


__ADS_2