
Bastian panik saat bagun keesokan paginya, ia mendapati dirinya tidur satu ranjang dengan Rara tanpa sehelai pakaian di tubuh keduanya.
“Oh gila, lagi-lagi aku melakukannya,’ ucap Bastian, ia memegang batang lehernya.
Rara masih tidur di bawah selimut, saat Bastian ingin membersihkan diri ke kamar mandi. Rara juga terbangun, kepanikan terjadi pagi itu.
“Bastian! Kamu kurang ajar … Kamu mengambil kesempatan”
“Ra …Rara dengar, aku juga tidak ingat apa-apa . Please jangan marah”
“Kamu tidak mau menikah denganku, tetapi kamu mau tubuhku. Kamu ku-”
“Baik, Baiklah Ra ayo kita menikah”
Rara tersenyum licik
“Kita harus melakukannya sekarang, aku tidak mau nanti, besok apa lagi lusa,.”
Rara menekan perkataannya pada Bastian bahwa ia benar-benar serius, Bastian mengangguk setuju.
“Baiklah mari kita lakukan,” Bastian mengiyakan semua apa yang dikatakan Rara.
“Baiklah kita langsung ke KUA sekarang,” kata Rara masih dengan nada tegas
“Apa … sekarang?”
“Iya, bukannya kamus sudah setuju, aku sudah bilang, kalau aku tidak mau menunda untuk besok, maupun lusa atau minggu depan,”
kata Rara terlihat tegas tidak memberi Bastian waktu untuk mengelak.
“Ra, kamu taukan, aku punya keluarga besar, aku harus bicara dulu dengan keluarga”
“Justru, aku bilang, kamu punya keluarga besar, berarti banyak mulut dan hati yang berbeda-beda, apa kamu pikir mereka langsung mengangguk setuju?” apa kamu tidak bisa memutuskan sesuatu dalam hidupmu,”jika kamu bertemu dan membahas maka semuanya akan berbeda dan menunda.”
Suara Rara terdengar tegas
“Aku hanya ingin sah di dalam agama, urusan resepsi dan urusan yang lain baru menyusul,”
Rara membuat Bastian tidak bisa berpikir dan tidak bisa membuatnya alasan.
“Aku tau Ra, tapi alangkah baiknya aku meminta restu pada orang tua,” wajah Bastian terlihat tegang.
__ADS_1
“Persetan denganmu Bastian! Apa tadi malam kamu meminta izin padaku saat melakukannya?”
“Ra, itu karena aku mabuk, lagian kamu kenapa mengajakku minum anggur. Kamu tahu sendiri kalau aku tidak bisa mengendalikan diri saat mabuk. Tolong jangan marah,” Wajah Bastian memelas. Ia berpikir kalau malam itu ia benar-benar melakukan hal yang buruk pada Rara.
Padahal Rara yang merencanakan semua itu, ia sengaja meminta Bastian minum banyak. Ia ingin Bastian tidak bisa mengelak, saat ia mengajak menikah untuk membuat ibu Bastian shock.
“Kamu sadar gak, kalau kamu sudah melakukannya tadi malam padaku. Lalu … Apa masih perlu aku mengantarkan mu menyusui dulu ke ibumu?”
“Kok jadi begitu Ra!”
“Percuma ngomong sama bocah kayak kamu,” ucap Rara dengan sangat kesal. Rasa kesal pada ibu Bastian ternyata berimbas pada putra. Ia berdiri.
“Mau kemana?” Bastian melihat kemarahan yang menakutkan dari wajah Rara.
“Mati,” ucap Rara asal
“Haaa?” Bastian melompat.
Saat ia melangkah kearah balkon apartemen. Bastian menduga kalau ia benar-benar mau melakukan aksi bunuh diri, Pada hal Rara hanya ingin mengambil bajunya di jemuran. Tetapi tidak diduga Bastian memeluknya dari belakang.
“Baiklah, baiklah Ra , mari kita ke KUA sekarang mari kita menikah jangan melakukan hal-hal gila lagi,” ucap Bastian masih memeluknya tubuhnya dari belakang,
“Kamu serius?”
“Tapi aku lapar Ra, sejak tadi malam aku belum makan apa-apa, kita serapan dulu sebelum pergi, bolehkan?”
“Baiklah”
“Ok kamu mandi, aku akan buatkan kamu serapan,” kata Rara ia berkerja dengan cepat sebelum rencana yang ia susun dengan rapi gagal.
Satu piring mie goreng dengan telur di dadar masakan itu yang paling cepat, cocok saat waktu mepet seperti saat itu.
Ia melirik Bastin masih di kamar mandi, ia tahu Bastian selalu lama jika sudah masuk ke kamar mandi. Entah apa yang Bastian lakukan di kamar mandi.
Padahal rara sudah masak serapan dan kali ini, ia juga masuk ke kamar mandi membersihkan diri secepat kilat,
Kini keduanya sama-sama memilih pakaian, Rara sudah rapi siap untuk berangkat, sementara Bastian masih sibuk di kamarnya, ia pusing memilih baju yang di kenakan dalam pernikahan mendadak itu.
Rara mengirim pesan pada Sukma.
[Kami sudah mau menuju kesana dan lu urus semua berkasnya, Mey]
__ADS_1
[Ra .. lu sudah yakin menikah dengan cara seperti ini?]
]Yakin, lu tenang saja , pokoknya urus semuanya]
[Tapi lu yakin gak kasih tahu keluarga lu Ra]
[Kagak Mey, ini antara gue dan ibu Bastian]
[Masa lu menikah begini doang Ra]
Kali ini bukan hanya Sukma yang ia libatkan, ia juga menghubungi Mario sekuriti apartemen yang juga sahabat Rara, Rara menceritakan semuanya, awalnya Mario kaget dan menolak datang. Tetapi setelah Rara marah ia baru mau.
[ Lu jadi saksinya gue hari ini, sekarang naik keatas dan bawa berkas milik Bastian, Sukma sudah ada disana[ Rara mengirim pesan pada Mario.
[Ok, gue meluncur]
Tanpa protes Mario melakukan apa yang minta Rara, tanpa protes , ia mengantarkan berkasnya ke Ke kantor urusan Agama karena Sukma sudah terlebih dulu di sana mengurus segala persiapan , mereka berdua yang jadi saksinya nantinya.
Mario terpaksa meliburkan diri, demi membantu Rara, ia melajukan motor bebeknya dan membawa berkas milik Bastian kekantor urusan Agama,
Sukma sudah terlebih dulu tiba dan mengurus semuanya pendaftaran dan tempat akad nikah.
“Aku sangat khawatir, dia selalu membuatku jantungan,”ucap Sukma setelah mengurus semuanya. Ia duduk di samping ibu jualan pecel gendong, yang jualan di halaman depan kantor Urusan agama
Ia dan Mario duduk serapan, makanan berbahan dasar sayuran yang di padukan dengan bumbu kacang pedas manis menjadi menu serapan mereka berdua di kala menunggu kedua calon pengantin.
“Percaya aja Mey, dia tidak akan melakukan hal yang melukai orang lain,” Mario membela Rara. ia, juga salah satu teman masa kecil sekaligus tetangga Rara sama seperti Sukma.
“Iya sih tapi kadang kalau dia sudah marah, ya seperti ini , terkadang membuat dada gue sesak, gue takut,” ucap Sukma meletakkan piring bekas makannya.
Sementara di apartemen Bastian
Akhirnya Bastian keluar mengenakan setelan jas berwarna putih, ia terlihat sangat tampan ditambah senyuman manis yang di pamerkan.
Rara juga keluar dari kamarnya mengunakan kebaya model kutu baru , berwarna putih, dengan dandanan sederhana, rambut model sanggul , bawahannya, ia memakai sarung berbentuk rok yang simpel. Sederhana tetapi terlihat sangat cantik
Bastian tersenyum manis saat melihat Rara, melihatnya memakai kebaya untuk pertama kalinya. Rara cantik bikin pangling, karena hampir satu tahun tinggal satu atap dengan Rara baru kali ini melihat Rara pakai kebaya.
‘Apakah pernikahan ini akan berjalan sesuai rencana?’ Rara bertanya dalam hati, ia menarik napas berat, tentu saja apa yang dilakukan kali ini tindakan yang sangat nekat
Bersambung ….
__ADS_1