Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Gara-gara mabuk


__ADS_3

Bastian panik saat bagun keesokan paginya, ia mendapati dirinya tidur satu ranjang dengan Rara tanpa sehelai pakaian di tubuh keduanya.


“Oh gila, lagi-lagi aku melakukannya,’ ucap Bastian, ia memegang  batang lehernya.


Rara masih tidur di bawah selimut, saat Bastian ingin membersihkan diri ke kamar mandi. Rara  juga terbangun, kepanikan terjadi pagi itu.


“Bastian! Kamu kurang ajar … Kamu mengambil kesempatan”


“Ra …Rara dengar, aku juga tidak ingat apa-apa . Please jangan marah”


“Kamu tidak mau menikah denganku, tetapi kamu mau tubuhku. Kamu ku-”


“Baik, Baiklah Ra ayo kita menikah”


Rara tersenyum licik


“Kita harus melakukannya sekarang, aku tidak mau nanti, besok apa lagi lusa,.”


Rara menekan perkataannya pada Bastian bahwa ia benar-benar serius,  Bastian  mengangguk setuju.


“Baiklah mari kita lakukan,” Bastian mengiyakan  semua apa yang dikatakan Rara.


“Baiklah kita langsung ke  KUA sekarang,” kata Rara masih dengan nada tegas


“Apa … sekarang?”


“Iya, bukannya kamus sudah setuju, aku sudah bilang, kalau aku tidak mau menunda  untuk besok, maupun lusa atau minggu depan,”


kata Rara terlihat tegas tidak memberi Bastian waktu untuk mengelak.


“Ra, kamu taukan, aku punya keluarga besar, aku harus bicara dulu dengan  keluarga”


“Justru,  aku bilang, kamu punya keluarga besar, berarti banyak mulut dan hati yang berbeda-beda, apa kamu  pikir mereka langsung mengangguk setuju?”   apa kamu tidak bisa memutuskan sesuatu dalam hidupmu,”jika kamu bertemu dan membahas maka semuanya akan  berbeda dan menunda.”


Suara Rara terdengar tegas


 “Aku hanya ingin sah  di dalam agama, urusan resepsi dan urusan yang lain baru menyusul,”


Rara membuat Bastian tidak bisa berpikir dan tidak bisa membuatnya alasan.


“Aku tau Ra, tapi  alangkah baiknya aku meminta restu pada orang tua,” wajah Bastian terlihat tegang.

__ADS_1


“Persetan denganmu Bastian! Apa tadi malam kamu meminta izin padaku saat melakukannya?”


“Ra, itu karena aku mabuk, lagian kamu kenapa mengajakku minum anggur. Kamu tahu sendiri kalau aku tidak bisa mengendalikan diri saat mabuk. Tolong jangan marah,” Wajah Bastian memelas. Ia berpikir kalau malam itu ia benar-benar melakukan hal yang buruk pada Rara.


Padahal Rara yang merencanakan semua itu, ia sengaja meminta Bastian minum banyak. Ia ingin Bastian tidak bisa mengelak, saat ia mengajak menikah untuk membuat ibu Bastian shock.


“Kamu sadar gak, kalau kamu sudah melakukannya tadi malam padaku. Lalu … Apa masih  perlu aku  mengantarkan mu menyusui dulu ke ibumu?”


“Kok jadi begitu Ra!”


“Percuma ngomong sama bocah kayak kamu,” ucap Rara dengan sangat kesal. Rasa kesal pada ibu Bastian ternyata berimbas pada putra. Ia berdiri.


“Mau kemana?” Bastian melihat kemarahan yang menakutkan dari wajah Rara.


“Mati,” ucap Rara asal


“Haaa?” Bastian melompat.


Saat ia melangkah kearah balkon apartemen.  Bastian menduga kalau ia benar-benar mau melakukan aksi  bunuh diri,  Pada hal Rara  hanya ingin mengambil bajunya di jemuran. Tetapi tidak diduga Bastian memeluknya  dari belakang.


“Baiklah, baiklah Ra , mari kita ke KUA sekarang mari kita menikah jangan melakukan hal-hal gila lagi,” ucap  Bastian masih memeluknya  tubuhnya dari belakang,


“Kamu serius?”


“Tapi aku lapar Ra, sejak tadi malam aku belum makan apa-apa, kita serapan dulu sebelum pergi, bolehkan?”


“Baiklah”


“Ok kamu mandi, aku akan buatkan kamu serapan,” kata Rara  ia berkerja dengan cepat sebelum rencana yang ia susun  dengan rapi gagal.


Satu piring mie goreng dengan telur di dadar masakan itu yang  paling cepat,  cocok saat waktu  mepet seperti saat itu.


Ia melirik Bastin masih di  kamar mandi,  ia tahu Bastian selalu lama jika sudah masuk ke kamar mandi. Entah apa yang Bastian lakukan di kamar mandi.


Padahal rara sudah masak serapan dan kali ini,  ia juga masuk ke kamar mandi  membersihkan diri secepat kilat,


Kini keduanya sama-sama memilih pakaian, Rara sudah  rapi siap untuk berangkat, sementara Bastian masih sibuk di kamarnya, ia pusing memilih baju yang di kenakan dalam pernikahan  mendadak itu.


Rara mengirim pesan pada   Sukma.


[Kami  sudah mau menuju kesana dan lu urus semua berkasnya, Mey]

__ADS_1


[Ra .. lu sudah yakin menikah dengan cara seperti ini?]


]Yakin, lu tenang saja , pokoknya urus semuanya]


[Tapi lu yakin gak kasih tahu  keluarga lu Ra]


[Kagak Mey, ini antara gue dan ibu Bastian]


[Masa lu menikah  begini doang Ra]


Kali ini bukan hanya Sukma yang ia libatkan, ia juga menghubungi Mario sekuriti apartemen yang juga sahabat Rara, Rara menceritakan semuanya, awalnya Mario kaget dan menolak datang. Tetapi setelah Rara marah ia baru mau.


[ Lu jadi saksinya gue hari ini, sekarang naik keatas dan bawa berkas milik Bastian, Sukma sudah ada disana[ Rara mengirim pesan pada Mario.


[Ok, gue meluncur]


Tanpa protes Mario melakukan apa yang  minta Rara, tanpa protes , ia mengantarkan berkasnya ke Ke kantor urusan Agama karena Sukma sudah terlebih dulu di sana mengurus segala persiapan , mereka berdua yang jadi saksinya nantinya.


Mario terpaksa meliburkan diri, demi membantu Rara, ia melajukan motor bebeknya dan membawa berkas milik Bastian  kekantor urusan  Agama,


Sukma sudah terlebih dulu tiba dan mengurus semuanya pendaftaran dan tempat akad nikah.


“Aku sangat khawatir, dia selalu membuatku jantungan,”ucap Sukma setelah mengurus semuanya. Ia duduk di samping ibu jualan pecel gendong, yang jualan di halaman depan kantor Urusan agama


Ia dan Mario  duduk serapan, makanan berbahan dasar sayuran  yang di padukan dengan bumbu kacang pedas manis menjadi menu serapan mereka berdua di kala menunggu  kedua calon pengantin.


“Percaya aja Mey, dia  tidak akan melakukan hal yang melukai orang lain,” Mario membela Rara.  ia, juga  salah satu teman masa kecil  sekaligus tetangga Rara sama seperti Sukma.


“Iya sih tapi kadang kalau dia sudah marah,  ya seperti ini , terkadang membuat dada gue  sesak, gue  takut,” ucap Sukma meletakkan piring  bekas makannya.


Sementara di apartemen Bastian


Akhirnya Bastian keluar mengenakan setelan jas berwarna putih,  ia terlihat sangat  tampan ditambah senyuman manis yang di pamerkan.


Rara juga keluar dari kamarnya mengunakan kebaya  model kutu baru , berwarna putih, dengan dandanan sederhana,  rambut model sanggul , bawahannya, ia memakai  sarung berbentuk rok yang simpel. Sederhana tetapi  terlihat sangat cantik


Bastian  tersenyum  manis saat melihat Rara,  melihatnya memakai kebaya untuk  pertama kalinya.  Rara cantik bikin pangling, karena hampir satu  tahun tinggal satu atap dengan Rara baru kali ini melihat Rara pakai kebaya.


‘Apakah pernikahan ini akan berjalan  sesuai rencana?’ Rara bertanya dalam hati, ia menarik napas berat, tentu saja apa yang dilakukan kali ini tindakan yang sangat nekat


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2