Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Saat anaknya di tolak,hatinya sakit


__ADS_3

Bawa Ibu menjemputku, agar aku pulang Bastian, aku ingin lihat ibu meminta maaf pada keluargaku, tapi kalau kamu tidak bisa kita akan seperti ini bertemu diam-diam


Aku dan anakku juga ingin mengerjai Ibumu, karena ia pernah mengusir kami berdua kata Rara dalam hatinya.


Walau aku sudah yakin kalau Ibumu akan sulit melakukanya , karena penyakit dari orang kaya itu harga diri dan gengsi. Aku sudah mengenal karakter keras dari wanita penyihir itu.


Apa lagi ia akan meminta maaf pada orang tuaku, besan yang levelnya lebih rendah darinya.


“Ra, apa kita tidak bisa membuatnya lebih mudah?” Bastian menatap Rara dengan tatapan mata memohon. Rara tau ia juga merasa lelah karena kehidupan rumah tangga mereka banyak konflik.


“Kenapa Tian? apa Ibu tidak mau melakukannya?”


Ia diam untuk beberapa saat.


Benarkan yang aku bilang ?biar di kata dia berubah hanya sebagian persen saja, Karena karakter lama dalam hidup manusia tidak bisa hilang seketika.


“Hanya saja aku belum yakin ibu mau melakukannya, kamu sudah tau karakter ibu seperti apa, tapi sayang! bisa kita buat lebih mudah,” kata Bastian wajah itu benar-benar memohon.


“Tapi, Ada yang aku mau bilang sama kamu, Tian,” Kata Rara wajahnya terlihat berat mengungkapnya.


“Apa?”


Ia menatap Rara dengan tatapan tidak sabar lagi.


“Ini tentang Calvin, aku harap kamu tidak marah, aku sudah mengangkat Calvin anak kita berdua,” mulut terdiam, jelas sekali ada rasa tidak suka di hatinya sorot matanya tersurat ada rasa kecewa


“Kok kamu gak bilang pada saya terlebih dulu! Mata Bastian terlihat menatapnya dengan tatapan mata nanar


“Kamu sakit waktu itu Tian, bagaimana aku mau memberitahukannya, aku melakukannya demi keluargaku, aku melakukannya saat baru pulang dari Italia, tepat saat kamu masih berbaring di rumah sakit, aku harus meminta maaf untuk itu,” Rara tidak ingin Bastian salah Paham padanya ia menjelaskannya dengan suara lembut.


“Tetap saja, Ra, saya kepala rumah tangga, bagaimana mungkin adik saya jadi anak saya,” suara Bastian mulai meninggi tangannya terlihat di remas itu artinya lelaki berwajah tampan itu mulai menunjukkan ketidak sukaannya


Jangan begitu Tian, aku mohon jika kamu membenci anakku itu sama saja kamu belum bisa menerimaku sepenuhnya, aku mohon jangan marah terimalah anak malang itu kata Rara dalam hatinya, air matanya hampir tumpah baik mungkin ia meninggalkan anak yang sudah ia perjuangkan selama ini demi keluarga barunya.


“Ia, tidak bersalah Tian, ia hanya anak kecil, yang butuh kasih sayang,” suara Rara terdengar bergetar menahan rasa sedih di hatinya,


“Harusnya ia tidak boleh berada di dalam rumah tangga kita saat seperti ini, Ra,” kata Bastian seolah tidak ada rasa pedulinya pada anak malang itu .


“Terus, apa aku harus membuang anak yang sudah aku besarkan, begitu?” Rara marah.


“Banyak orang yang ingin anak itu nanti,” Bastian juga bersikap keras,


“Iya ampun. Bastian itu terlalu kejam, kamu mengusir anak yang tidak bersalah, ia tidak tau apa-apa, harusnya kamu memarahi ayahmu, bukan anak malang itu!.”


“Bukan hanya Ayah, tapi wanita sialan itu juga perlu di salahkan,” kata Bastian terdengar ketus


Rara merasakan bulu kuduknya bergidik saat Bastin memaki ibunya Calvin, wanita yang sudah yang sudah jadi almarhum. Ia berpikir wanita mendengarnya. “Takutnya ibu tidak mau menerima hubungan kita, karena itu Ra.”


“Ibu kamu tidak mau menerima kami memang sudah dasarnya dari dulu Bastian, jangan buat Calvin jadi kambing hitam, ia menolak aku sebelum ia tahu calvin bagian keluarga kalian.”


“Tapi tetap satu kesalahan. Ra, kalau ia ada diantara kita,”


“Itu artinya kamu tidak bisa menerimanya , berarti, aku juga tidak bisa datang padamu,”

__ADS_1


“Ra ,itu tidak bisa kamu istriku dan kamu mengandung anakku,”


Bastian mengotot tidak bisa menerima Calvin , itu sangat menyedihkan buat Rara, anak yang ia sayangi tapi tidak bisa di terima suaminya, bagaimana ia menjalani rumah tangga kalau suaminya tidak bisa menerima anak yang ia bawa


Kini hatinya semakin melemah , ia tidak ingin kehilangan Calvin


“Baiklah berarti kita akan begini selamanya bertemunya harus curi-curi waktu,” kata Rara


Bastian diam wajahnya terlihat sedih, ia tidak ingin hal, ini tapi ia juga tidak bis memaksa ibunya menerima Rara dan anaknya.


“Aku mau pulang, aku naik Taksi saja,” kata Rara masih dalam kemarahannya.


“Baiklah, biarkan aku mengantarkan kamu pulang,” ia berdiri dan membantu Rara berdiri


Karena duduk di lesehan, ia kesusahan untuk berdiri


.


Bastian melihatnya, ada rasa kasihan melihat Rara berdiri seperti itu, dengan baiknya ia juga menentang tangan Rara dan menggenggam lengannya dengan lembut.


Perhatian yang di berikan Bastian pada istrinya mengundang perhatian anak-anak muda yang nongkrong, ia juga menenteng tas tangan Rara dan menggenggam tangannya dengan lembut, mereka tidak tau kalau kedua pasangan suami istri ini, terlibat perang dalam hati.


Bastian membuka pintu mobilnya, menuntun istrinya samapi duduk. Terlihat pasangan suami yang sempurna, tidak ada yang menduga hubungan rumah tangga mereka berdua bagai berpijak di atas kaca.


“Aku ingin selalu bersamamu Ra, aku ingin membantu seperti ini, saat kamu kesusahan berdiri, aku akan memegang tanganmu, saat kamu ingin makan apa yang kamu inginkan, aku ingin bersamamu dan melewati masa- masa kehamilan bersamaku aku, aku ingin suatu saat menceritakan padanya


Bahwa kamu seperti ini saat di rahim ibumu, aku ingin bercerita padanya bagaimana ia dulu saat dalam rahimmu, aku ingin jadi saksi dari semua ini, Ra, bisakah? Maukah kah kamu menerimaku lagi?


Mendengar itu wajah Bastian tiba-tiba rahangnya mengeras lagi.


Dalam perjalanan pulang kerumah. Bastian tiba-tiba membelokkan kendaraanya.


“Eh.. Tian, kita mau kemana?.”


“Aku sudah muak menghadapi masalah yang tidak berujung ini, aku memutuskan keluar dari rumah orang tuaku, kamu juga harus melakukanya,” katanya menekan kata-katanya.


“Eeh, kok jadi begitu?” Protes Rara


Tapi Bastian tidak menghiraukannya, ia melajukan kendaraan, menghiraukan apa yang di katakana Rara.


“ Ra, aku ingin melakukan apa yang ada dalam pikiranku saja, Kamu bilang harus ibu, Ibu bilang belum siap melakukannya. Terus kamu pikir aku harus diam begitu? aku berpikir, aku terlalu baik pada kalian berdua selama ini, hingga kalian dengan suka-suka bersikap,” kata Bastian.


“Iyalah, kamu yang selama ini berpihak pada Ibumu sendiri,” kata Rara.


Tapi Bastian sepertinya tidak terima dengan pernyataan Rara. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


“Ra, kalau aku mengikuti kata ibuku selama ini aku tidak menikah denganmu dan aku tidak akan bersamamu saat ini,” kata Bastian suaranya meninggi


Membuat Rara kaget mendengar suara keras dari suaminya.


“Kok, kamu marah padaku sih? suaramu membuatku kupingku sakit,” kata Rara memukulkan Tas tangannya tepat di wajah Bastian, tidak disangka mengenai hidung dan sesuatu benda yang berbahan tajam mengenai wajahnya.


Hidungnya mengeluarkan cairan berwarna merah segar, mengotori lengan bajunya

__ADS_1


Rara panik dan menangis, menutup matanya dengan telapak tangannya, ia tidak bermaksud ingin bersikap kasar padanya.


“Bastian aku tidak sengaja, a-aku minta maaf,”


“Tidak apa-apa sayang, tidak apa-apa, hanya mimisan saja,” kata Bastian, terlihat jauh lebih dewasa dari istri buntingnya. Justru Raralah yang terlihat labil saat ini.


Ia membuka telapak tangannya. Rara menutup matanya, Bastian mengusapnya punggung, tapi Rara tetap saja menangis, karena ia tidak tahan melihat hidung dan wajah Bastian yang terluka.


Lututnya bergetar menahan ketakutan


.


“Ra, aku bilang, tidak apa-apa sayang, sini buka matamu,” kata Bastian mencoba menenangkannya,


“AKu minta maaf ,Tian, aku tidak bermaksud memukulmu , aku hanya spontan karena kaget.”


Kata Rara, ia menangis lagi, saat hidung Bastian ia lihat disumpal pakai tissue.


“Haa..haa, tidak apa-apa sayang, tidak sakit,” kata Bastian memeluk Rara di dadanya.


“Kamu yakin tidak sakit? Iya ampun Tian, aku kok jadi kasar bangat sih,” kata Rara memegang pipi suaminya.


Tangannya dengan lembut mengusap wajah lelaki itu


“Tidak apa- apa sayang, itu tidak sakit yang sakit di sini,” kata Bastian menarik tangan Rara ke dadanya. Matanya menatap ke dalam manik mata wanita itu, berharap masalah rumah tangga menemukan titik terang.


“Aku yang salah tadi Ra, tidak seharusnya aku membentak tadi, jangan merasa bersalah seperti itu.” Bastin mengecup kening Rara.


Ia menghidupkan mesin mobilnya lagi menghiraukan wajahnya yang terluka, goresan panjang di pipinya, goresan yang di sebabkan Rara.


Karena hal itu. Rara tiba-tiba jadi diam, ia merasa sangat bersalah, karena ia baru pertama kalinya melakukan itu pada Bastian. Itu mengingatkannya jaman –jaman kuliah dulu, di mana dia di kenal preman wanita, karena kelakuannya yang sering bersikap kasar pada lawan jenisnya, bahkan tidak ada yang berani mendekatinya dulu karena sikap kasarnya


Hanya Ridho lelaki bisa bertahan lama degannya hingga bertunangan. Bahkan Ridho, pernah hampir remuk tulang karenanya, akhirnya saat itu juga, ia berjanji akan mengubah perilaku kasar itu, tapi kali ini, ia sepertinya memukul Bastian dengan kuat menyebabkan lelaki berwajah tampan itu terluka di bagian wajahnya.


Ia menatap suaminya sekilas, Bastian juga terfokus pada kemudi mobilnya.


Apa itu sangat sakit, apa ia masi kesal padaku kata Rara dalam hatinya


Bastian juga diam, tapi sikap diamnya bukan karena marah, tapi lebih tepatnya, ia ingin memberi waktu untuk Rara menenangkan diri.


Aku tidak apa- apa kamu pukul Ra, kalau itu bisa membuatmu tenang kata Bastian dalam hatinya


Saat ia menarik tissue yang menyumpal hidungnya lagi lagi-lagi hidungnya mimisan.


“Tian, Tian itu hidungmu berd*rah lagi, pinggirkan mobilmu, kata Rara panik.


Bastian meminggirkan mobilnya, Rara dengan sigap menekan hidung Bastian, menekan hidungnya, menghentikannya aliran hidungnya agar tidak mengucur lagi.


Bastian menyadarkan kepalanya di jok mobilnya, menutup matanya, ia membuka matanya saat ada butiran air terjatuh ke lengan tangannya, ia melihat Rara menangis, Ia tidak pernah melihat wanita itu menangis seberat apapun masalahnya.


Apa karena kata-kataku membuatnya menangis kata Bastin dalam hatinya. Ia menutup matanya lagi, ia juga tidak tahan melihat Rara menangis.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2