
Ken menggendongnya dengan nyanyian Nino bobo-nina bobo, dengan gerakan maju mundur-maju mundur, hingga akhirnya bayi perempuan berwajah cantik itu tertidur juga di pundaknya. Ia menidurkan di bok bayi.
“Piuuuuh” ia mengusap keringat di keningnya.
Dengan langkah pelan berjinjit-jinjit ,mereka berdua meninggal kamar Baby Tiara dan sekarang waktu untuk mereka berdua.
Hari kedua setelah tiba di Jakarta, Aisah menatap jauh kearah Ibu kota, dalam hatinya ada rasa yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata, tapi mata itu terlihat jelas, ada rasa sedih yang menyentuh seluruh jiwanya, hatinya terasa sakit mengenang masa lalu.
Ingatannya kembali pada tiga yang tahun lalu, di mana kakaknya Rara berjuang hidup di rumah sakit.
Rara saat itu Rara mendapat kecelakaan tragis, ia hampir merenggut nyawanya. Satu tahun mendapat perawatan di Jerman, setelah itu operasi kedua, kali ini di lakukan di Korea selatan, operasi penyembuhan luka di kepala, sekaligus operasi wajah baru untuk kakaknya.
Keluarganya dilema, di satu sisi merindukan Rara yang dulu, di satu sisi lain mereka tidak ingin Rara kembali ke rumah keluarga Salim lagi.
“ada apa dengan wajah seperti itu pagi-pagi,” kata Ken memeluk tubuh istrinya dari belakang.
“Aku rindu kakak Rara dan Sukma, mereka biasanya makan nasi bebek di ujung jalan sana kalau sore-sore,” kata Aisah. Menatap jauh ke arah jalan tempat favoritnya sang kakak.
“Itulah hidup sayang, tidak ada yang tau hari esok, tidak ada yang tau hidup akan seperti apa nantinya.”
Bagaimana nanti selanjutnya, mata mereka berdua bersamaan menatap baby Tiara yang sedang tidur terlelap.
“Bagaimana keadaan Bastian saat ini, jujur, aku belum siap untuk bertemu dengannya.”
“Banyak yang terjadi pada keluarga merek belakangan ini, Omanya sudah meninggal dunia,” kata Ken, mata Aisah tidak merespon sedikitpun, hanya diam mematung. “Keluarga itu juga bangkrut karena sebelum Omanya Bastian meninggal, ia terlebih dulu sakit-sakitan hartanya ludes, untuk biaya pengobatannya Bastian juga, ia katanya depresi saat tau Rara sudah meninggal,” kata Ken, Aisah menoleh suaminya.
“Aku kasihan pada Bastian.”
“Aku juga, keluarganya benar-benar terpuruk saat ini ,aku dengar –dengar orang tuanya terlilit hutang yang sangat banyak,” kata Ken.
Dalam hatinya semua ini tidak adil buat Bastian, tapi mau bagaimana lagi, ini semua demi kebaikan Rara. Aisah mengusap-usap baby Tiara dengan penuh sayang.
Ken banyak berubah saat mengenal Aisah, ia jadi lelaki penyabar dan suami yang sangat bertanggung jawab, sama seperti Bastian saat mengenal Rara, ia juga masuk ke dalam keluarga Rara waktu itu, membuatnya banyak berubah.
Kata orang bijak, pengalaman dan penderitaan guru terbaik dalam kehidupan.
__ADS_1
Sejak mengenal Aisah hal-hal buruk yang ia miliki dulu ia buang semuanya. Saat ini ia membuatkan susu sebelum bayi cantik itu bangun.
“Disini saja sayang, biar aku yang buatkan,” katanya ia bergegas membuat susu untuk Baby Tiara sebelum bangun.
Maminya hanya bisa tersenyum manis melihat Ken yang banyak berubah, ia dulu tidak pernah membuat kopi sendiri dan tapi saat ini ia bahkan membuat susu untuk baby Tiara, dulu. jangankan membuat kopi sendiri, mungkin pergi ke dapur juga mungkin tidak pernah.
Tapi kali ini ia menjelma menjadi seorang lelaki dan suami yang pengertian, pembawaannya saat ini lebih tenang dan dewasa.
Hanya Aisah yang bisa membuatnya berubah kata Ibu mertuanya, dalam benaknya.
Ia membawanya kedalam kamar di mana Aisah dan baby Tiara. Saat ia membuka kamar, Aisah menangis lagi di sisi ranjang baby Tiara. Ini sudah kedua kalinya sejak mereka tiba di Jakarta.
“Sudah, kenapa di tangisi lagi, nanti ia bangun, sayang,” kata Ken meletakkan nampan di nakas.
“Maafkan aku iya mas, jika pernikahan kita seperti ini,” kata Aisah.
Matanya indah itu sembab, ia memeluk tubuh suaminya dengan erat.
“Tidak apa-apa, kita jalanin bersama, kita mampu melewati semua ini,” katanya mengusap-usap kepala istrinya.
“Tapi aku tidak enak sama mami dan Omah,” kata Aisah.
“Maaas..!” suara lembut ******* halus dari bibir Aisah.
“Iya sayang.”
“Ini masih pagi, memang tadi malam belum cukup juga?” kata Aisah mulut menolak tapi hati bilang mau.
“Melihatmu cantik pagi ini, membuatku tidak bisa berhenti,” Ken semakin ******* bibir merah Aisah.
“Tapi nanti Mami masuk, terus Tiara nanti bangun,” kata Aisah dengan suara bisik-bisik.
“Pintu sudah aku kunci, untuk Tiara kita harus” katanya mengendong tubuh Aisah ke kamar mandi dikamar Baby Tiara.
Ia hanya tutup mata dan menutup mata dengan kedua telapak tangannya, ia menahan malu, tubuhnya diangkat seperti mengangkat sekarung kapas terasa ringan.
__ADS_1
Dalam kamar mandi ia melepaskan kerudung itu dengan lembut menanggalkannya satu persatu, di balik balutan baju piyama berlengan panjang, terlihat tubuh yang sangat indah pinggang ramping ukuran dadanya tidak terlalu besar tidak juga kecil, mata Aisah tidak besar seperti milik Rara tapi mata itu lembut dan sendu enak di lihat menggambarkan wanita yang baik dan soleha.
Kakinya panjang lehernya jenjang, ia tidak percaya diri, ia malu-malu saat Ken melepaskan semuanya tanpa satupun yang menempel lagi di tubuhnya ia mengaguminya.
Aisah tidak terlalu suka dengan gaya ranjang Ken yang selalu mencoba banyak gaya, Ken sudah biasa dengan berbagai wanita dengan segala gaya.
Ia ******* bibir mungil itu dan meremas buah ranum yang indah itu.
Ia takut Tiara terbangun maka itu mereka tidak bisa berlama-lama memasukkan barangnya dengan cepat.
Ia membalikkan tubuh istrinya memegang sisi wastafel. Ia terpaksa memasukkannya dengan buru-buru, dengan hentakan itu terpaksa berhenti, ia mencabutnya dan menuntaskannya di luar, karena tiba-tiba baby Tiara menangis dengan suara yang mengkelengar memenuhi seisi ruangan
Aisah terkekeh-kekeh lucu, ia buru-buru membersihkan tubuhnya memungut pakaiannya dan memakainya dengan terbalik. Berlari ke ranjang baby Tiara, tidak sampai disitu saja, kepanikan di pagi itu, pintu dari luar di ketuk-ketuk Maminya Ken, karena suara tangisan bayi cantik itu, sampai kelantai bawah.
“Kalian dua darimana sih? ia nangis sampai sesenggukan begitu,” kata maminya matanya melihat baju Aisah yang terbalik.
Maminya dan omahnya keluar kembali. Turun kebawah, mengendong baby Tiara.
“Aduh malunya, aku malu loh..mas,” kata Aisah.
Aisa malu pada mertuanya karena ulah Ken yang tidak tau waktu dan tempat, ia terpaksa merasa malu karena kepergok ibu mertua.
“Tidak apa-apa, mami pasti maklum,” kata Ken terlihat santai.
“Justru karena mereka maklum, aku jadi malu,”kata Aisah bibirnya, manyun menatap suaminya. Ken tertawa geli melihat sikap ngambek istrinya.
Merasa jenuh di rumah terus. Aisah dan Ken membawa baby Tiara jalan-jalan ke Mall, tanpa tidak sengaja bertemu dengan
Bastian, Bimo, Bam-bam, teman-teman dari Kenzo.
Suasana tiba-tiba terasa kaku.
“Hai, Ken wih.. tanam saham duluan, anaknya sudah gede bro..!” seloroh Bam—bam lelaki berbadan tambun itu mengoceh terus sepanjang mereka duduk di café.
“Hai, sah,” sapa Bastian wajahnya, terlihat sangat sedih menatap Aisah mungkin ia teringat Rara istrinya.
__ADS_1
Tapi matanya terus melirik baby Tiara, anak cantik itu duduk diam di kursi dorongannya.
Bersambung....