
“Kok begitu, tadi kamu diam saja, kenapa sekarang jadi ingin menghajarnya lagi?” Kata Bastian dengan satu alis mata menyengit
“Sudah berbuka soalnya, jadi puasaku hari ini insya Allah gak gagal. Tapi hatiku panas aku juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kesabaran ku juga ada batasnya ,Tian,” rutuk rara menahan dadanya yang naik turun
Bastian hanya bisa tertawa melihat kemarahan Istrinya.
“Kan, kamu yang bilang Ra, jika kita puasa banyak ujian datang mencobai, dan menguji kesabaran kita, anggap saja hari ini salah satu ujian yang kita hadapi dan kita lolos,” kata Bastian menenangkan istrinya.
Rara terlihat seperti makan cabe rawit satu kilo karena wajah Rara seperti kepedasan, wajahnya merah.
“Iya, tapi aku juga bisa marah Bastian, ia tadi mempermalukan ku di depan orang, aku menahan diri tadi.” Kata Rara terlihat masih marah
“Ra, kan, kamu yang selalu mengajariku untuk bersikap bertawakal, aku yakin apapun yang kita hadapi nanti, jika kita satu hati insyaAllah kita bisa hadapi bersama baik restu dari ibu.” Kata bastian menggenggam tangan Rara dengan lembut dengan tatapan mata sendu.
Rara tiba-tiba mewek melihat sikat sabar suaminya, Ia baru sadar, benar kata Viona, Bastian banyak berubah saat ini, bahkan wajahnya dulu yang terlihat seperti anak remaja, kini ia terlihat dewasa dari segi pemikiran dan dan dilihat dari penampilan.
Benar kata orang bijak cinta bisa mengubah seseorang, apalagi cinta yang tulus dan cinta seseorang yang bisa membawa lebih dekat pada penciptanya
“Baiklah, aku minta maaf aku hanya terbawa emosi.” Kata Rara terlihat tenang saat Bastian menasehatinya.
“Kamu tau, masih banyak lagi rintangan di depan yang kita hadapi, aku yakin ibu tidak akan menerimamu dengan mudah, aku yakin ia akan memberi kesulitan di depan nantinya, baik dari kamu baik buat aku sendiri, aku sudah tau bagaimana karakter ibu sesungguhnya, tapi aku mau bilang padamu Ra, jika saling percaya satu sama lain, aku yakin kita bisa menjalaninya, yang penting terbuka satu sama lain.” Kata Bastian, wajah tampannya masih menatap istrinya.
Kamu menggemaskan bangat sih .Bastian, untung ini di tempat umum kalau ini di rumah kita aku sudah memelukmu dan mendekap dengan erat kata Rara dalam hatinya.
“Baiklah, aku mau jujur juga hari ini, Ibu menyuruhku kerja lagi di kantormu, tapi di posisiku yang lama.” kata Rara menceritakan tentang telepon yang menyuruhnya kembali masuk kerja kembali.
Wajah bastian terlihat langsung murung, saat Rara menceritakan pemanggilan dirinya kerja kembali
“Apa ada yang salah?” Tanya Rara menatap suaminya yang terlihat mendung seketika.
“Ini salah satunya Ra, ini pasti kerjaan ibu untuk mempersulit kamu. Bidang penyiaran di kantor adalah kekuasan Ibu, aku tau ia ingin mempersulit kamu, aku tidak ingin menakut-nakuti kamu, tapi kamu harus hati-hati. Tapi percayalah aku ada di sana untuk menjagamu,” kata Bastian memberi dukungan buat istrinya.
“Aku akan tenang jika kamu sudah bilang begitu.” Kata Rara seolah ia tidak gentar menghadapi mertuanya dan menghadapi Viona,
__ADS_1
“Kamu tidak takut Ra?” Tanya Bastian melihat raut wajah Rara.
“Tidak, untuk apa takut, aku tidak salah, aku sudah kebal menghadapi masalah-masalah seperti ini dan ancaman seperti ini.”
Rara menyeruput lagi the manis hangatnya.
“Hampir kehilangan nyawa karena mertua tercinta juga saya alami, bahkan mertua tercinta hampir merobohkan rumah tangga Babeh dan emak juga kita alami, tapi ada hikmah di balik itu semua, mungkin kalau Ibu tidak melakukan itu mungkin aku tidak akan tau kebenaranya kalau, emak bukan ibu yang melahirkan aku,” kata Rara terlihat sedih
Bastian menggenggam tangan Rara, ia tidak pernah ingin melihat kesedihan di wajah Rara. Tapi ia yakin Rara wanita yang kuat, ia mampu menghadapi watak keras Ibunya.
“Aku percaya padamu Ra, kamu tau Ra, bertemu denganmu satu keuntungan besar untukku, di KTP ku boleh tercantum agamaku, tapi apa kamu tau itu hanya simbol semata,
Aku besar dan lama di Jerman tanpa bimbingan kedua orang tua, hidup bebas dan sering kali hanya di temani Paman adik lelaki Ibu
Sedangkan Ayah dan Ibu hanya sibuk bertengkar dalam perebutan harta gono gini. Tapi tahun ini kami bisa berbuka puasa bersama keluarga besar Salim itu sangat luar biasa,Ra, memang tiap tahun aku selalu berpuasa Ra. Tapi itu hanya sekedar ikut-ikutan, tapi saat ini sejak kamu datang dalam keluarga, banyak yang berubah Ra, kau wanita yang bisa membawaku ke jalan Allah aku sangat bersyukur” Kata Bastian.
Rara terlihat tersipu malu saat suaminya menyanjungnya terlalu tinggi.
Hampir satu jam saling berbagi cerita dan saling menguatkan satu sama lain, bagi mereka berdua saling terbuka dan saling percaya itu yang paling penting
“Baiklah sayang, mari kita saling menguatkan dan saling percaya satu sama lain.” Bastian tidak menghiraukan tatapan orang yang melintas dari samping mereka banyak juga mengarahkan kamera ponselnya kearah Ara dan Bastian.
“Mari pulang sebelum Seluruh pengunjung Mall ini nanti mengambil Foto kamu.” Kata Rara menarik tangan Bastian,
Seperti dugaannya Viona tidak pernah menyerah, ia masih mengikuti Rara dan Bastian sampai ke lantai bawah, tapi karena Rara sudah berbuka puasa ia sudah punya tenaga, untuk memberi satu pelajaran kecil.
Saat di pintu keluar Viona meneriakinya dengan sebutan nenek lampir tukang pelet, saat itulah emosinya naik ke permukaan.
Ia menghampiri Viona dengan lantang dengan tatapan mata menyala
`PAAAK~
Satu gamparan keras melayang di wajah cantik artis sensasional itu, semua mata menatapnya
__ADS_1
“Wanita yang mengejar suami orang lain, kalau bukan ****** apa namanya? Kata Rara menatap Viona dengan lantang, mata wanita itu melotot ketakutan baik kedua temanya langsung kabur.
“Wanita seperti kamu, pantas di beri pelajaran, saya paling benci sama pelakor, biar bagaimanapun kamu bilang, ia sudah sah jadi suami saya, di mata agama dan di dalam hukum, apa kamu mengerti.? Jadi enyahlah dari hadapanku, sebelum aku menjambak rambutmu, saya tidak menjawab kamu tadi, karena saya tidak ingin puasa batal karena Iblis seperti kamu.”
Rara dengan berani menantang Viona, saat ia berani bersuara orang-orang yang tadi meneriaki Rara, kini malah menyerang Viona, karena Rara menyebutnya pelakor.
Ia tidak tau sekarang banyak wanita Indonesia kini korban pelakor, maka saat mendengar kata pelakor mereka seperti melihat Viona dengan tatapan kebencian.
Rara melabrak Viona karena ia tau Rara benar, Bastian bahkan tidak membela siapapun, ia hanya diam hanya mengawasi dari dekat pintu keluar.
Saat Rara menyuruhnya enyah, Bastian tertawa kecil melihat kemarahan istrinya.
Viona langsung kabur , karena semua ibu-ibu sudah mulai menghujatnya, dan mulai memakai jurus memaki dan meneriakinya.
“Maaf aku emosi” Kata Rara menghampiri Bastian
“Tidak apa-apa, itu keren, kamu membungkam mulutnya,” Bastian tertawa kecil
“Kamu tidak marah?”
“Tidak karena kamu memang benar kata Bastian dengan kedipan mata pada Rara.
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)