
#DINIKAHIBOCAHTENGILL #PART3
“Aida? Aryo mana? Ga makan sekalian?” Mama yang menemani papa di ruang tamu menatap heran.
“Katanya ga lapar, Ma!” Aku menjawab pelan dan ingin segera ke ruang makan.
Mama menahan, perempuan sabar itu mendekat.
“Kamu belum bisa menerima dia, ya?” Mama mencari jawaban di mataku.
Aku tersenyum getir. Lalu mengembuskan napas.
“Da! Kita tidak bisa menolak takdir. Berusahalah menerima ketetapan Allah dengan lapang dada. Banyak kok di luar sana orang menikah tanpa cinta, tapi bisa bertahan sampai maut memisahkan.” Wejangan mama memang benar.
Namun, sampai saat ini, aku masih syock dengan kejadian yang menimpa. Dalam hitungan jam, dari seorang gadis, aku langsung jadi istri seorang remaja yang baru saja lulus SMA.
Padahal aku ingin sekali menikah dengan laki-laki yang lebih dewasa dariku.
“Aku makan dulu, Ma!” Kucoba mengalihkan perhatian mama.
“Seorang istri, harus memperhatikan perut suaminya. Melayaninya, dan tentu saja harus menjadi penguat langkahnya. Mama tahu, kamu tidak mencintai Aryo. Tetapi mama yakin, dia akan menjadi suami yang bisa dibanggakan.”
Keyakinan mama membuatku harus berpikir ulang untuk minta pisah dari Aryo. Mata itu seakan tahu bagaimana sesungguhnya kepribadian menantunya.
“Belajarlah menerima Aryo, Da! Pernikahan kalian halal.” Mama mendekat saat aku sedang mengambil nasi.
“Maksud, Mama? Aida ga paham.”
Mama menuang air ke gelas, lalu meminumnya pelan.
“Aryo sanggup menikahi kamu, dan dia sendiri yang membelikan maharnya untuk kamu. Sebelum kalian kami izinkan menikah tadi. Mama dan papa sudah berbincang dengan mertuamu, dan juga Aryo. Jika dia tidak bisa memenuhi hal di atas, rencananya papa kamu akan menolak. Biarlah malu kita tanggung.” Mama memberi senyum.
Aku semakin bingung dengan kalimat yang dilontarkan mama dengan nada sangat serius.
“Kamu tahu, siapa suamimu? Mungkin karena semalam gelap, jadi kamu tidak melihat jelas wajahnya. Setelah menikah pun, karena merasa dia anak kecil, kamu tidak memperhatikan dia dengan seksama.” Mama tertawa pendek.
Aku yang hendak mengambil lauk dari piring menghentikan tangan, lalu menatap mama dengan penuh tanda tanya.
“Sebelumnya, mama sudah bertanya, kenapa semua bisa terjadi. Aryo menjelaskan dengan rinci, sama seperti penjelasanmu. Satu hal yang membuat mama menyukainya karena dia bertanggung jawab, padahal itu hanya musibah yang tidak kalian harapkan.”
Ya! Itu musibah yang akan selalu kuingat sepanjang hayat.
“Dia ingin menjaga harga dirimu, setelah kejadian itu difoto oleh beberapa orang warga yang datang menggerebek kalian. Kamu tahu apa yang dia ucapkan saat memintamu jadi istrinya. Tolong nikahkan aku dengan putri bapak, karena aku tidak mau namanya menjadi hancur hanya kejadian yang tidak sengaja menimpa kami. Aku akan mengangkat derajatnya dengan pernikahan, percayalah, aku sanggup menafkahi Mba Aida, walaupun baru tamat SMA.” Mata mama berkaca-kaca, sepertinya dia benar-benar terharu.
“Kamu tahu, setelah mengatakan hal itu. Dia memperlihatkan pekerjaannya yang mungkin tidak akan kamu percayai. Tentang janji papa memberi pekerjaan untuknya itu, hanya untuk meyakinkan kamu kalau dia pantas menjadi suami.”
Keningku semakin berkerut, siapa Aryo sebenarnya, apa pekerjaannya?
“Aryo seorang Youtuber, juga penulis di sebuah aplikasi. Penghasilannya sudah lebih dari cukup untuk biaya hidup kalian berdua.” Mama meyakinkan.
Aku yang merasa tertipu.
“Mama tau, ga? Mana tahu dia ingin menaikkan popularitasnya dengan menikahi aku. Bisa jadi dia tidak tulus ingin menjadi suamiku, tetapi ini hanya modus.”
Segera kutinggalkan meja makan, dan berlari ke kamar. Aryo harus menjelaskan semuanya padaku. Aku yakin, ini semua sudah dia rencanakan. Dia pasti menjebakku untuk dijadikan konten dan bahan untuk dia meraup keuntungan sendiri.
“Bawakan suamimu makanan!” Mama menahan langkahku.
“Nanti aja, Ma! Aku mau ajak dia makan bareng!”
Alasan sesungguhnya bukan itu, Ma! Tapi aku harus berbohong, semua semakin membuatku seakan tidak berpijak di bumi lagi.
**
“Shadaqallahul Adzim.” Aryo segera meletakkan Alquran di nakas dekat tempat tidur.
Aku yang awalnya dibakar emosi, perlahan padam bagai disiram air seember setelah melihat dia mengaji.
“Ada apa, Mba? Ga jadi makan?” Dia berdiri sambil merapikan kain sarung yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
__ADS_1
Aku mendekat dengan wajah dingin, lalu duduk di kursi rias sambil menatap lurus wajahnya yang terlihat bersinar. Mungkin karena pancaran cahaya lampu aja, bukan karena dia sholeh.
“Kamu menjebak aku?” Tuduhan itu langsung membuat dia terdiam.
Aku mendengar ******* napasnya sebelum duduk di ranjang sambil membalas tatapanku yang semakin tajam.
“Untuk apa?”
“Untuk menaikan nama kamu? Bukankah dengan menikahi perempuan yang usianya lebih tua dari kamu, kanal Youtube milikmu akan semakin melejit.”
Dia menunduk dalam, kemudian memandang kembali padaku yang gemetar.
“Mba! Aku tidak sejahat itu! Sekarang itu, Mba sudah menjadi istriku, aku yang seharusnya menjaga kehormatan, Mba! Bukan menjual Mba untuk mendapatkan uang. Terlalu naif, jika aku melakukan semuanya.” Dia mengusap wajah yang berkeringat.
“Kenapa tidak kamu beri tahu dari awal tentang pekerjaanmu?” Aku menekankan suara.
“Mba! Gimana mau cerita, orang kejadiannya melebihi kecepatan kereta listrik. Rencana, setelah kita bisa saling menerima, aku akan ceritakan semuanya. Tapi, apa daya. Mba selalu marah-marah padaku. Ya, aku kan kehilangan momen untuk berbicara banyak hal.”
Benar, kami memang belum sempat berbicara tentang siapa dan apa yang menjadi kegiatan sebelum menikah. Belum tahu apa yang disukai dan tidak. Belum kenal secara menyeluruh, jadi Aryo memang tidak salah.
“Okey! Tolong jelaskan padaku dengan jujur, kenapa kamu mau menikah dengan perempuan yang usianya jauh lebih dewasa dari kamu? Bukankah kamu memiliki banyak pengikut, banyak yang menyukai konten kamu. Kenapa kamu memilih aku? Apa karena kamu kasihan padaku?” Dadaku terasa sesak bertanya seperti itu dengan suara keras.
Dia tertawa pelan, sepertinya tidak peduli dengan perasaanku yang sedang menahan sesak dalam dada.
“Mba! Kamu harus percaya pada takdir, Allah menciptakan manusia itu berpasang-pasangan. Begitu juga dengan semua yang ada di muka bumi. Aku sudah istiqarah sebelum meminta Mba pada papa dan mama. Ternyata, memang Mba yang ditakdirkan Tuhan melintas dalam kepala setelah berdoa panjang. Kalaupun ingin mengelak, sebenarnya aku bisa melakukan hal tersebut, karena kita tidak melakukan apa-apa waktu itu. Tetapi, ya, sudahlah! Aku akan tetap berusaha jadi suami yang baik. Walau Mba belum bisa menerimaku sebagai seorang suami.”
Tamparan demi tamparan membuatku semakin tidak berdaya menatap matanya. Kenapa dia begitu dewasa? Haruskah aku melakukan apa yang tadi disampaikan mama?
“Mba, Rasullulllah saja, beda jauh usianya dengan Umi Khadijah. Tetapi beliau bisa saling melengkapi, bahkan menjadi tauladan bagi umat manusia.” Dia mulai memberi wejangan.
“Tapi aku bukan beliau yang baik dan sholeha. Yang bisa menjaga lisan dan perbuatan, yang bisa diteladani. Aku hanya perempuan yang sampai saat ini tidak mengerti kenapa tiba-tiba bersuamikan ….!”
Asataga, kenapa semua mengalir deras tanpa hambatan. Aku menutup wajah, mataku memanas.
“Bersuamikan bocah? Mba meragukan aku? Atau aku yang harus ragu pada Mba? Bisa jadi selama ini Mba menutup diri dari laki-laki karena sudah tidak layak pakai.” Sinis dan menyakitkan.
“Maksud kamu apa bicara seperti itu!”
Suaraku mengalahkan gelegar halilintar di kala hujan.
Dia tersenyum sinis. Lalu meletakkan tangan di kasur.
“Kamu kira aku tidak perawan lagi, begitu? Dengar ya, Aryo! Aku tidak pernah melakukan hal yang akan mengantarkanku ke neraka jahanam. Oleh karena itu aku menutup diri dari laki-laki yang mungkin hanya sekadar untuk mendekati, tetapi tidak mau menikah. Di luar sana, banyak lelaki seperti itu. Dengan dalih cinta, dalih sayang, lalu meminta yang bukan haknya. Lalu, seorang perempuan yang sudah termakan bujuk rayu setan atas dasar kalimat saling mencintai, mau menyerahkan kehormatannya! Kamu salah besar!”
Dadaku naik turun menahan emosi yang sudah menggelegak. Tapi, Aryo tetap tenang, dia seakan membiarkan aku berada dalam pusaran emosi yang menghabiskan tenaga.
“Baguslah, kalau Mba tahu tentang itu! Berarti aku harus bersyukur belum ada yang menyentuh kulit Mba selain papa, dan orang-orang yang muhrim dengan Mba.” Datar dan lirih.
Aku segera berdiri dan mendekat.
“Lalu kenapa kamu mengatakan kalau aku tidak layak pakai?”
Ingin rasanya kutarik baju kaus yang melekat ke tubuhnya, lalu kedorong ke dinding. Biar pecah kepalanya, atau hancur tulang belulangnya.
“Karena, Mba tidak yakin padaku. Aku bisa lebih jahat, jika Mba terus seperti ini!” Dia menatap tajam kepadaku.
Aku mendesah berkali-kali membuang sesak dalam dada. Melihat Aryo setenag air dalam lubuk dalam, aku jadi berpikir panjang. Kenapa emosiku bisa tidak terkendali seperti ini? Padahal usiaku lebih dewasa darinya.
“Tapi, kenapa kamu mau menikahi aku?” ulangku dengan bibir bergetar.
“Karena aku yakin, Mba adalah takdirku yang dipilihkan Tuhan. Itu jawabnya! Aku akan berusaha menjadi suami yang baik, walau usia kita beda jauh. Kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dengan umur, Mba! Buktinya, Mba yang lebih dewasa, malah bersikap seperti anak kecil.”
Kembali dia merendahkanku.
Kesabaranku menipis, bahkan mungkin lebih tipis dari selembar benang.
Segera kudekati tubuhnya dengan tergesa-gesa, kutarik bajunya. Lalu kutatap tajam bola matanya yang hitam pekat.
Alisnya yang tebal terangkat seperti meremehkan, begitu juga dengan mulutnya yang membentuk garis kecil nan sinis.
__ADS_1
“Mba ga akan bisa berbuat kasar padaku, jika Mba ingat status aku apa?” Suaranya tetap tenang.
Segera kupukul dadanya, lalu rasa iba mendera. Aku menangis kencang, dia merangkul pundakku ke dadanya. Dengan lembut, dia menenggelamkan kepalaku ke sana.
“Menangislah, jika memang itu bisa meredakan emosi, Mba! Aku hanya inginkan satu hal, belajarlah mencintaiku, menghormati pasangan, dan menjadikan aku sebagai partner dalam menghadapi langkah ke depan. Karena apa yang Mba lakukan, tentu akan berbalas.”
Dia terlalu dewasa, dia terlalu pintar merangkai kata. Sehingga tangisku semakin deras dan membajiri dadanya.
Cukup lama aku berada dalam pelukkannya yang hangat, tanpa getaran apa-apa dalam dada. Yang kurasa hanya kedamaian, walau kuyakin ini bukan cinta.
“Kalau sudah tenang, kita cari makan ke luar, yuk!” Dia menarik pundakku. Lalu menghapus air yang mengalir di wajah dengan telapak tangannya.
“Sebenarnya, aku lebih suka kalau Mba sinis seperti kemarin. Liar-liar merpati, itu yang membuat aku suka.”
“Maksud kamu?” Aku bertanya pelan.
“Karakter perempuan seperti Mba, hanya keras di luar. Tapi di dalamnya sangat rapuh. Biasanya orang seperti itu sangat penyayang dan perhatian. Dan tentu saja sangat melindungi orang-orang terdekatnya. Aku yakin, satu saat Mba akan jatuh cinta padaku.”
Jatuh cinta?
Dia kira gampang kali ya? Tapi, bukankah Allah maha kuasa membolak-balikkan hati manusia. Aku tidak boleh takabur. Bisa jadi nanti apa yang dia katakan benar.
“Sekarang, Mba sudah puas dengan jawabannya. Aku tambahin, aku tidak akan menjual konten tentang pernikahan kita, tetapi jika ada yang mengangkat isunya di dunia maya, Mba harus sabar. Karena pasti setelah ini, apa yang Mba khawatirkan memang akan terjadi. Namun, satu hal yang ingin aku sampaikan, Insya Allah, ini pernikahan pertama dan terakhir bagiku. Percayalah!” Dia mengedipkan mata, aku kaget. Jangan-jangan ini caranya meminta dilayani.
Aku menggeleng cepat, dan mundur beberapa langkah.
“Kalau belum siap sekarang, seminggu atau sebulan lagi, aku akan menunggu, kok, Mba! Sekarang kita nikmati masa pacaran dulu. Selain ibadah, tentu saja pacaran setelah nikah itu tidak berdosa. Bolehkan aku menyatakan, I Love You?”
Asataga!
Ini bocah disangkanya aku anak seumuran dia kali, ya? Pakai acara nembak segala! Kalau begini, aku bakalan muda terus.
“Mba, jawab dong!”
“Jawab apa?”
“Kamu mau ga, jadi pacar aku?”
“Pacar gimana, orang aku sudah jadi istri kamu?” Mataku melebar saat menjawab.
“Kan, belum terealisasi, Mba! Orang Mba ga mau main di ranjang.”
Wajahku memereah, ketika dia dengan polos meminta aku segera menjadi landasan pacunya.
“Aku lapar, tadi mama melarang aku makan sendiri.” Suara itu bergetar menghilangkan gugup yang menguasai jiwa dan raga.
“Kalau begitu, kita makan dulu. Baru santai di pantai.”
“Ke pantai? Malam-malam begini?”
Dia tertawa renyah, lalu menjawab pelan. “ Anggap saja kamar kita ini pantai, Mba. Dan kamu rembulannya, biar aku bisa menatapnya lama-lama!”
Tolong kuatkan jantung ini, Tuhan! Jika setiap hari digombali, aku yakin kepalaku bisa meledak.
**
“Kalian ga jadi makan?” Mama segera menghampiri ketika aku dan Aryo keluar kamar.
“Ini mau makan, Ma!” Aku menjawab, Aryo hanya memberi senyum.
Mama terlihat sangat lega, kemudian memberi tahu, kalau papa sudah makan. Jadi kami hanya makan berdua.
“Makasih ya, Ma! Sudah menerima aku jadi menantu,” ucap Aryo sopan.
Mama yang berdiri di sampingku, segera membelai lenganku pelan.
“Mama dan papa juga berterima kasih, kamu sudah menutupi aib keluarga ini.”
“Aib apa, sih, Ma? Aku dan Aryo ga ngapa-ngapain kemarin malam. Hanya sedang tidak beruntung saja.”
__ADS_1