
Mendengar ada orang yang menyelidiki putranya, Rara marah, apa lagi orang yang melakukannya pengacara dari keluarga Bastian orang yang sangat membenci nya.
Motor metik yang ia pinjam melaju kencang membela jalanan, tidak berapa lama kemudian ia tiba di rumah besar berlantai tiga.
Sebuah rumah besar bergaya eropa dengan halaman luas dan taman depan rumah, tampak sangat asri karena ditumbuhi beraneka ragam kembang hias dan tanaman obat-obatan, suasana yang asri terpancar dari di sekeliling rumah besar milik keluarga Bastian Salim.
Setelah memastikan rumah itu, rumah keluarga Bastian Salim, Rara menekan bel, ia dihampiri seorang sekuriti.
“Ada Bu? Cari siapa?”
“Apa benar ini rumah Hartati Salim?”
“Iya benar, mbak siapa?”
“Oh, saya Rara teman Bastian Salim, boleh saya bertemu Ibu Hartati?”
“Sebentar iya, Mbak”
Lelaki berkulit gelap berseragam putih biru menekan tombol telepon dan mengangkat gagang teleponnya. Tidak lama kemudian Rara dipersilahkan masuk.
Rara yang masih di penuhi rasa amarah ia masuk , dalam rumah kebetulan Ardi Salim ayah Bastian dan Marisa Oma Bastian sedang duduk santai di ruang tamu.
“Masuklah Ra,” ujar oma Bastian.
Ayah Bastian menatap Rara dengan tatapan menyelidiki , tatapan seperti mengingat sesuatu.
“Maaf Oma saya ingin bicara dengan Ibu Hartati”
“Duduklah Ra, mari kita bicara, sebenarnya Oma sudah tahu kamu akan datang, bahkan Oma sudah menunggu hari ini,” ujar wanita yang selalu terlihat tampil cantik itu.
Rara terlihat bingung. Namun, ia memilih menurut, duduk sesuai permintaan Oma Bastian, wanita itu tidak pernah ada masala dengannya selama ini, bahkan hubungan mereka boleh dikatakan baik. Karena memiliki hobby yang sama.
“Ada apa Nyonya?”
“Ra, aku sudah bilang berapa kali jangan panggil aku sebutan Nyonya, panggil saja aku Oma sama seperti Bastian,” ujar Marisa lagi, masih bersikap rama dan baik.
__ADS_1
Namun, Rara orang yang berpikir kritis, ia akan bersikap waspada, jika ada seseorang yang mendadak baik padanya, apa lagi orang yang berada dari barisan ada embel-embel ada kata 'KAYA’ entah apa yang membuat Rara selalu bersikap kritis dan tidak suka, jika berhadapan dengan orang-orang yang memiliki harta yang banyak di beri label 'orang kata' Rara dari dulu tidak pernah suka dengan Orang kaya.
‘Ada apa ini ada? Ada udang di balik bakwan, kah?’ ucap Rara dalam hati.
“Maaf Oma , saya tidak ingin lama-lama, saya hanya ingin bertemu dengan Ibu Hartati”
Tetapi saat Rara duduk, Bastian datang dengan ibunya dan ikut juga Olivia wanita itu seperti ekor, karena selalu mengikuti Bastian kemanapun pergi.
Atas bujukan ibunya Bastian mau pulang ke rumahnya hari ini, entah kebetulan atau sudah suratan takdir, Rara ke rumahnya dengan tujuan, bertanya kepada ibu Bastian apa tujuannya menyelidiki putranya.
“Ra, kamu ke sini?” Wajah Bastian gembira bagai bunga tulip yang sedang mekar di pagi hari.
“Iya aku datang, ingin ibu bertemu dengan keluargamu dan ingin membicarakan hal yang penting”
“Katakan saja,” ucap Bastian dengan wajah masih memperlihatkan kegembiraan, ia langsung duduk di samping Rara.
Olivia menatap sinis pada Rara, saat semuanya duduk termasuk si manusia kardus Olivia,
“Mau ngapain lu ke sini?" tanya Olivia, bersikap seolah-olah ia anggota keluarga Bastian.
“Aku mau bilang, Ibu berhenti menyelidiki anakku, berhenti mengusik keluargaku, aku berjanji tidak akan mendekati Bastian. Tapi tolong apapun yang aku lakukan, tidak ada hubungannya dengan anakku. Jadi jangan mengusik hidup keluargaku lagi, satu hal lagi. Ini bukan cincin lamaran Bastian hanya-”
“Itu cincin Lamaran Ra, aku melamar mu!” ujar Bastian, ia bertindak nekat, walau di hadapan keluarga besarnya. Bahkan di hadapan ayahnya.
“Bastian .... tapi kamu saat itu bilang ... Ah sudahlah, aku tidak menerimanya dan entah bagaiman kamu memakaikan cincin ini ke jariku tanpa izin dulu padaku”
“Itu karena kamu menolak lamaran ku, Ra,” balas Bastian
Pertengkaran antara majikan dan pembantu pun terjadi di hadapan keluarga besar Salim, keluarganya hanya jadi penonton, tidak ada yang berani buka mulut saat melihat wajah Bastian yang memerah karena menahan amarah.
Namun, lawannya seolah-olah tidak mau kalah, bahkan ayah Bastian hanya bisa diam, melihat putra semata wayangnya terlihat sangat emosional, wajah tampan memerah menahan marah.
“Iya aku sudah menolaknya lalu bagaimana kamu memakainya dan kapan?” tanya Rara dengan berusaha membuka cincin . Namun, susah di lepas karena dari sejak tadi malam ia memaksa melepaskan membuat jari-jarinya semakin membengkak dan semakin susah melepaskannya
.
__ADS_1
“Aku menyuntik dengan obat bius malam itu saat kita di hotel dan aku memakaikan nya itu akibatnya jika kamu menolakku,” ujar Bastian membuat semua orang yang mendengarnya jadi shock .
Mereka berpikir kalau Bastian melakukan hal yang tidak pantas pada Rara.
“Apaaa …” Suara mereka semua serempak.
“A-a-apa yang kamu lakukan padaku tanpa se pengetahuanku, GILA?” tanya Rara dengan panik, ia juga berpikir kalau malam itu Bastian memasuki kamarnya saat di hotel.
“Kamu yang akan rugi sendiri jika kamu tidak mau menikah denganku,” ucap Bastian, lalu ia berdiri dan meninggalkan mereka semua dalam kepanikan. Keluarganya berpikir Bastian meniduri Rara dengan cara membuatnya tertidur.
“Itu artinya kamu melakukan hal ko-kotor Tian?" tanya Rara tergagap dengan wajah pucat bagai kapas.
Bastian tertawa licik melihat wajah Rara yang pucat, ia semakin mengerjainya.
“Bodo amat, itu akibatnya jika kamu selalu menolakku, menyebutku bocah dan kamu selalu mengalahkanku”
“Tian …! aku akan membunuhmu jika kamu beneran melakukan itu padaku!” Teriak Rara marah, bahkan ia tidak mempedulikan Hartati yang sudah memegang batang lehernya karena mendengar perkataan anak semata wayangnya. Rara berniat mengejar Bastian. Namun ….
“Ayo ke atas ke kamarku .... Aku akan mengurung mu di sana, lalu, aku akan memanggil penghulu untuk menikahkan kita. Gampang’ kan,” ujar Bastian dari tangga.
Kaki Rara mendadak berhenti, seperti mobil yang di rem mendadak. Tubuhnya langsung berhenti mengejar dan kakinya perlahan mundur, ia bahkan tidak bisa berkata sepatah katapun, saat itu, ia hanya diam beberapa detik, setelah menarik napas panjang dan mengumpulkan kekuatannya. Ia pamit pulang tetapi, wajah itu pucat karena malu.
"Rara, gak usah pulang, biar kita jelaskan nanti bersama pada keluargamu," ucap Bastian.
" Bastian aku akan mematahkan kakimu nanti jika kamu bertindak aneh-aneh lagi," ujar Rara menahan emosi, matanya menatap tajam pada Bastian.
Bastian yang berdiri di tangga, melihat wajah pucat itu, ia semakin menggoda Rara.
"Ra, kalau ada apa-apa, telepon aku segera. Aku akan langsung berlari datang padamu." Bastian, mengedipkan mata.
Rara mendesis kesal pada Bastian, setelah pamit, Rara pulang, ia perlu memikirkan tentang pengakuan Bastian barusan.
Bersambung
Bantu like dan vote iya Kakak
__ADS_1