
Setelah keluar dari rumah, Bastian menelepon Rara, tetapi nomor itu sudah tidak aktif lagi.
“Rara, jangan seperti ini, aku sangat bahagia sekarang.
Alvin tunggu ayah sayang.”
Bastian tidak sabar lagi ingin bertemu Rara dan putranya, ia terus menelepon semua orang.
Tidak bisa menemukan alamat Rara, Bastian terpaksa menyewa orang untuk mencari rumah Rara
Bastian baru saja mengakhiri panggilan dari orang suruhannya yang ia suruh mencari ke tempat tinggal Rara . Tapi sayang Keramat Pulo itu luas dan penduduknya padat.
Ketika orang-orang suruhannya mencarinya, walau sudah menunjukkan foto, karena mereka mencari bukan di lingkungan tinggal Rara, jadi mereka tidak menemukan Rara.
“Sial, kenapa gak ketemu sih, dasar orang kacangan.” Bastian menggerutu kesal.
Mendengar Kabar kalau Bastian mencari Rara, ia menelepon Bastian dan meminta bertemu di sebuah pemakan.
“Baiklah, mari kita bertemu di TPU Pondok Ranggon”
“Ha, kenapa ke pemakaman Ra, ada yang meninggal?”
Bastian merasa ngeri saat mendengar sebuah pemakaman.
Tetapi walau ia merasa sangat takut, ia tetap menuruti permintaan Rara yang akan bertemu di sebuah pemakaman umum di daerah Jakarta Timur.
Ia melajukan mobilnya ke alamat yang di kirim Rara, setelah berkendara sekitar satu Jam ia tiba di sebuah pemakaman umum TPU Pondok Ranggon.
Bastian mengusap lengannya saat ia keluar dari mobilnya dan berjalan ke blok pemakaman yang diberikan Rara.
“Aduh kenapa dia minta bertemu di sini sih,” ucap Bastian matanya sepintas membaca plang sebuah pemakaman.
‘Korban Tragedi Korban Kerusuhan 98’
Bulu kuduknya semakin bergelidik pemakaman umum itu tempat di mana Yolanda Munaf di makamkan.
“Aku di sini!” Panggil Rara melambaikan tangannya.
Bastian berjalan menuju Rara.
Saat tiba, matanya langsung di sambut sebuah kuburan yang membuatnya terdiam, dalam batu nisan itu tertulis dengan jelas nama wanita yang pernah mengisi hatinya.
Seorang wanita dewasa yang pernah memberinya cinta dan sekaligus memberinya luka. Karena sampai saat ini Bastian berpikiran kalau Yolanda menikah dan hidup bahagia dengan pria pilihannya.
“Ra, apa ini?”
__ADS_1
“Kamu tidak menyapa wanita itu?
Bastian masih terlihat bingung, matanya masih membaca papan nisan melihat tanggal kematiannya ia melihat Rara.
“Dia siapa?”
“Kamu melupakan wanita yang pernah menjadi kekasihmu? Dia Yolanda wanita yang pernah menjadi kekasih dan pernah mengandung anakmu”
Mata Bastian langsung melotot.
“Yolanda sudah meninggal?”
“Apa ibumu tidak memberitahukannya?”
“Apa maksudnya?”
“Apa kamu tahu apa yang dilakukan ibumu yang baik hati pada Yolanda adikku”
“A-a-adik …?”
“IYa. Ibumu memaksanya mengugurkan kandungannya, meminta orang untuk melenyapkannya, ia juga meminta Yolanda berpura-pura selingkuh agar kamu membenci dia”
“Apa ibuku membunuh Yolanda?”
“Bagaimana dengan Alvin bukan dia anakku?”
“Dia bukan anakmu, dia anakku!” Teriak Rara marah. Jangan pernah mengharapkan anakku jadi bagian keluarga jahatmu. Cukup wanita yang terkubur itu yang pernah bagian dari keluargamu dia anakku jangan pernah mengusik kami lagi”
Rara bergegas ingin pergi, wajah Bastian pucat bagai mayat.
“Aku tidak tahu apa-apa Ra”
“Kamu tidak tahu apa-apa? Kamu menghamilinya dan membiarkan dia menanggung penderitaan itu seorang diri. Seharusnya sebelum kamu menjalin hubungannya dengannya kamu sudah memikirkan bagaimana melindunginya dari ibumu”
“Dia yang mengaku padaku kalau dia selingkuh”
“Lalu kamu percaya begitu saja, tidak adakah niatmu mencari tahu kebenarannya saat itu?”
“Tidak, karena saat aku datang ke Keramat Pulo Dalam ia bersama pria”
“Itu semua perbuatan ibu kamu “
Bastian mematung, wajah memerah karena terkejut dengan semua perlakuan ibunya, ia menatap pusara Yolanda wanita yang menjadi cinta pertamanya, saat ia masih muda Yolanda memberinya sebuah cinta, bukan hanya cinta, bahkan bersama gadis ini juga ia merasakan indahnya cinta dalam balutan hasrat.
Tetapi saat ini wanita yang ia benci selama bertahun-tahun terkubur di dalam tanah sebuah pusara, menegaskan kalau adalah Yolanda Munaf wanita cantik yang pernah jadi kekasihnya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi sebenarnya,” ucap Bastian terduduk lemas di pusara Yolanda.
“Saat itu kamu bilang kalau kamu akan menikah dengan lelaki yang kamu cintai, lalu … apa ini”
“Dia tidak pernah menikah dan idak memiliki lelaki lain selain dirimu”
“Lalu lelaki yang bersamanya?” Bastian menatap Rara.
“Ibumu memaksanya melakukan itu agar kamu membenci dan meninggalkannya, ibumu tidak suka dengan gadis ini karena dia miskin, kamu tidak tahu bagaimana dia berjuang matian-matian melahirkan anaknya”
“Aku sungguh tidak tahu , maafkan aku … Maaf ,”
ucap Bastian, akhirnya ia tahu kebenarannya.
Ia selama membenci Yolanda karena berpikir wanita itu selingkuh darinya.
“Bastian, aku dan Alvin tidak ingin datang ke rumahmu, aku tidak akan mau melihat ibumu lagi”
“Ra, Maafkan aku. Tapi aku ingin bertemu Alvin”
“Tidak, kamu dan keluargamu tidak berhak untuk anakku. Sekarang aku mengerti kenapa ayahmu dan omamu sangat baik sama kami, bahkan mendukung pernikahan kita. Ternyata merek sudah tahu kalau Alvin adalah putramu”
“Ra, biarkan aku memperbaiki kesalahanku di masa lalu”
Rara masih marah, ia menolak permintaan Bastian untuk bertemu dengan Alvian, yang terpenting baginya saat ini, Bastian sudah kebenaranya ia berharap Yolanda tenang di alamnya.
‘Aku berharap kamu tenang di alammu, karena Bastian sudah tahu kebenaranya’ ucap Rara dalam hatinya.
Rara meninggalkan Bastian menangis menyesal di makam Yolanda
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolonng tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)
__ADS_1