Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Ngidam bohongan


__ADS_3

“Iya apa,” suaranya tidak berselera lagi ada rasa kekesalan di wajah itu.


“Aku mau Iceream donk..”


“Apa? kamu mau mengerjaiku ,Ra,” matanya menatap Rara.


“Siapa yang ngerjain kamu, ia minta seperti itu, kok,” kata Rara, mulai pura-pura hampir mewek


“Oh, baik.baik.”


“Kamu tidak tau sih bagaiman hamil, kamu tidak tau bagaimana ngidam, kamu tidak pernah ada disisiku saat aku melewati masa sulit itu, kamu malah seenaknya marah-marah padaku,” kata Rara


“Baik, baik aku beli,” Kata Bastian, ia bergegas lagi ke Supermarket terdekat tapi saat ia datang lagi-lagi Rara menolaknya.


“Tidak mau lagi, ia sudah kehilangan selera,”


“Sebenarnya yang mau? ia apa kamu sih ,Ra?” tanya Bastian dengan hati-hati, takut Rara marah lagi.


Rara langsung melempar bantal tepat ke wajah Bastian.


“Permintaan dia, pasti permintaanku, aku tiba-tiba tidak ingin melihatmu, bau tubuhmu membuat perutku mual,” Tidur di tempat lain malam ini,” kata Rara


“Ini serius Ra? Ini bukan karena kamu marah?.”


“Kamu pikir setiap wanita yang ngidam minta yang aneh-aneh, kamu pikir ia karena marah?” katanya menatap suaminya.


“Tapi itu tidak masuk akal, Ra, padahal tadi kita baru saling menyatu dan saling berbagi kasih sayang, tapi kamu bilang tiba-tiba tidak suka.” kata bastian belum mengerti.


“Aku tau, memang kadang seperti itu, iya itulah orang hamil ,” kata Rara, memanfaatkan kehamilannya untuk mengerjai suaminya.


“Terus, aku tidur di mana nanti malam?” Tanya Bastian wajahnya terlihat lelah


“Kamu di sofa di bawah,” kata Rara


“Ha, itu tidak mungkin, Ra, aku tidak bisa tidur di sofa,” kata Bastian, sedikit memohon,


“Baiklah, biar aku yang tidur disana, kalau kamu tidak mau,” kata Rara


“Baiklah, aku mau, tapi bolehkah aku tidur di sofa di kamar di sini saja?” Ia menunjuk sofa dalam kamar itu.


“Baiklah, asal kamu jangan dekat-dekat denganku, aku tidak suka mencium bau badanmu,” kata Rara dengan nada ketus.


Kini sudah sore, matahari itu sudah pergi meninggalkan cakrawala diganti dengan datangnya malam membawa bintang menemaninya malam ini


Rara duduk di tempat tidur matanya menatap layar televisi, ia masih marah pada Bastian.


“Apa kamu marah padaku,Ra?” tanya Bastian melihat Rara diam tidak boleh di dekati olehnya.


“Tidak, aku tidak marah hanya merasa lelah, tiba-tiba aku ingin jajan bisa kamu membawaku jajanan kata Rara.

__ADS_1


“Nanti kamu tidak mau makan lagi, kalau aku,” beli kata Bastian


“Mau, beli saja, saya ingin makan rujak juga,” kata Rara wajahnya tanpa ekspresi,


Harusnya aku yang marah, kenapa jadi Rara yang marah sih kata Bastian dalam benaknya.


“Baiklah,” aku akan mencarinya,” kata Bastian


Bergegas keluar.


Pergilah! cari kemana saja, kamu tidak akan menemukan rujak malam-malam kecuali siang, kamu mencarinya ujung ke ujung kamu tidak akan menemukanya ,kata Rara tertawa licik,


Benar saja Bastian dan supirnya tidak menemukan penjual rujak di manapun malam-malam ia sudah berputar-putar sekitar dua jam bahkan masuk kearah kampung-kampung karena kata supirnya


Biasanya ada, tapi tidak ada lagi karena sudah malam.


“Rara sepertinya ngerjain nih, mana rujak malam-malam ,” Kata Bastian, wajahnya di tekuk kesal.


“Orang hamil memang begitu ,pak” supir itu ikut menimpalinya.


“Tapi, dari tadi, ia minta ini minta itu pak, sampai capek beli nya tidak di makan,saya pikir ia mengerjai ,” kata Bastian.


Ia curhat pada supirnya yang kebetulan istrinya juga lagi hamil.


“Saya, juga seperti itu pak. Ia manja sangat manja, itu anak pertama kami setelah menunggu hampir 5 tahun,” kata supirnya.


“Kadang mintanya yang aneh-aneh pak, seperti dua bulan lalu, ia ingin memegang kepala botak seseorang, dan ia merengek ingin melakukannya, terpaksa saya membotaki kepala saya seperti yang ia inginkan,” kata supir itu, bibirnya tersenyum bahagia,


“Tidak pak, hamil itu sangat sulit, kadang melihat mereka tidur merasa tidak nyaman jalan juga kesusahan ,melihat itu apapun yang istriku minta selagi aku mampu lakukan pasti, aku lakukan,” kata supirnya,


Bastian walau merasa lelah tapi mendengar supir itu berbagi pengalamannya membuatnya mengerti.


“Gini saja, pak Bastian kita ke super market membeli bahan-bahannya mentahnya, mangga, bengkoang, ubi jalar , nanti biar saya yang meraciknya kata supir,


Jam semakin berputar dan sudah larut malam untungnya ada supermarket yang masih buka


Bastian mengikuti apa yang di katakan supirnya membeli bahan-bahan rujak dan jajanan yang di minta Rara, ia memesannya dalam bentuk daftar tulisan


Gila! ini orang, mau di makan sendiri, apa buat di jualan sih gumam Bastian melihat daftar panjang jajanan yang di pesan istrinya, hampir tiga kantong belanja


Bastian sampai melongo melihatnya


“Lihat pak, ini jajanan istri saya ,” kata Bastian menatap jajanan itu


Supirnya hanya membalasnya dengan tawa kecil.


Rara mendengar mobil Bastian datang dengan senyum yang di gulum ia duduk, pura-pura baca buku.


Bastian menduga Rara sudah tidur makanya ia tidak membuat rujak pesanannya.

__ADS_1


Bastian merasa tubuhnya lelah ,tangannya mengangkat tiga plastik kantong belanjaan milik Rara.


Kreaak


Tangan Bastian membuka pintunya tapi di luar dugaan. Rara belum tidur. Matanya melongo


“Kamu belum tidur Ra?” wajahnya terlihat terkejut.


“Belum, aku nungguin kamu,mana rujaknya?” Tanya Rara.


“Kamu yakin , makan rujak malam-malam, Ra?”


“Kamu gak mengerti orang hamil itu seperti apa Bastian,” kata Rara, mulai ingin berceloteh


“Baik, baik aku akan membuatnya ,” kata Bastian .


Matanya melirik jam. Jarum jam bertengger di angka 11:20 WIB


Ia menarik nafas panjang, meletakkan belanjaannya di dekat Rara dan ia kedapur mengupas mangga dan mengupas bengkoang


“Lah den, mau apa? kenapa gak panggil bibi saja,” kata wanita paruh baya itu


“Rara ingin rujak malam-malam bi, aneh kan?.”


“Tidak, itu tidak aneh, orang hamil memang banyak maunya,” kata wanita menggiling bumbu untuk rujak.


“Tapi bi, malam-malam makan rujak apa tidak, sakit lambungnya,” kata Bastian


“Itu belum seberapa den, dari pada ia tidak suka melihat suaminya selama hamil, atau ingin memukul suaminya saat hamil ,itu semua orang, berbeda-beda,” kata wanita itu dengan tawa kecil.


Bastian setelah mengerjai hampir 40 menit. itu artinya saat itu sudah tengah malam, degan mata mengantuk , mulut menguap, ia membuka kamar dan apa yang terjadi, membuatnya ingin melompat dari lantai satu rumahnya karena kesal.


Rara sudah tidur dan bungkus jajanan berserak di atas kasurnya dan di atas lantai juga.


“Oh, iya ampun,” matanya melongo melihat kelakuan Rara.


Matanya sudah sangat mengantuk dan rasa lelah itu membuatnya tidak bertenaga, Rara benar-benar mengerjainya habis-habisan.


Ia memunguti sampah yang berserakan itu sampai bersih, setelah itu , ia mulai tidur di sofa sesuai permintaan Rara.


Rara sengaja melakukanya karena ia tau Bastian tidak suka yang kotor-kotor, ia sengaja melakukanya agar Bastian memungutinya dan membersihkannya.


Wanita hamil selalu benar dan harus di turuti


Ia melihat suaminya mulai tidur, Rara sangat jahat malam itu pada Bastian.


“Aduh, aduh, Bastian bangun dong,”


“Ada apa Ra? Wajahnya panik “ada apa, apa yang sakit?” tanya Bastian,duduk mendekat.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2