
Saat Rara batal menelepon keluarganya, Sukma menatap Rara dengan kedua alis menyengit. Lalu ia meminta sang sahabat mengabari Bastian.
“Udah?”
“Tidak diangkat.” Rara membuat alasan.
“Telepon terus dong Ra, lu gak mikirin perasaan Bastian? Ia suami lu saat ini Ra dan gue saksi pernikahan lu”
“Tidak ada waktu memikirkan orang lain Mey. Gue hanya memikirkan bokap gue saat ini, tidak ada yang lain,
“Tapi dia suami Ruruuun …! lupakan masa lalu, lupakan dendam lu ama keluarga itu. Lihat masa depan ama anak lu”
“Ah, udahlah, gue belum begitu yakin dia suami gue apa bukan, bisa saja ia sudah dinikahkan Ibunya dengan Viona , jadi biarkan sajalah , mungkin tidak seharusnya gue melakukan pernikahan dadakan itu, ini mungkin hukuman Tuhan buat gue”
“Belum tentu Bastian meninggalkan lu Ruruuun.”
Sukma mempelesetkan nama Rara kalau ia merasa kesal
“Lupakan dulu tentang si brondong saat ini, bekas suami banyak tapi tidak ada bekas bapak Mey, gue ingin anak berbakti dulu, kalau babe masih seperti ini gue harus membawanya lagi ke rumah sakit yang lebih bagus Mey. Di pikiran gue hanya bokap gue seorang, tidak ada yang lain.”,
“Terus Bastian lu anggurin? Kalian pengantin baru,Ra.”
“Elaah sudahlah, dia juga belum tentu ingat gue, JIka kamu benar-benar mencintai seseorang kamu harus rela berkorban untuk orang yang kamu cintai bukan ? atau memberikan yang terbaik untuk pasanganmu atau jangan memberikan segalanya dulu deh … setidaknya mengerti tentang pasanganmu.”
“Tapi sepertinya Bastian orang tulus deh Ra, gue melihatnya waktu lu nikah , kayak bahagia gitu orangnya, tidak ada beban kalau dia menikahi wanita yang lebih dewasa darinya, soalnya waktu menikah dia banyak tertawa, melihatmu penuh cinta, seriusan gue ngomong, Mario juga ngomong gitu.”
Sukma mencoba menyakinkan Rara
“Gue gak mau terlalu berharap,Mey, gue berpikir logika sajalah, dia kaya raya dan gua gembel. Mana ada lelaki kaya yang benar-benar tulus sama wanita yang miskin seperti gue. Gue gak mau berharap jadi Cinderella, itu sama saja seperti Yolanda.”
Wajah Rara terlihat sedih.
“Bersikap realistis sajalah, terlalu berharap pada sesuatu hal kalau tidak mungkin kesampaian rasanya tidak enak …. Jadi kalau jodoh tidak akan kemana-mana, bukannya kecewa hanya, berpikir logika saja,”
“ Tapi saat ini lu wanita yang paling berharga Ra, karena lu ibu dari anaknya. Lu kecewa iya? Waktu ia menolak menemui keluargamu?’
__ADS_1
“Mungkin hari itu aku terlalu percaya padanya dan aku terlalu berharap, gue pikir Hotel Acacia dengan rumah kita, kan, dekat bangat gue pikir sekalian mampir kerumah gitu, Tapi saat mendengar alasannya dan pendapatnya, terus terang saat itu gue merasa sangat berbeda dengannya, seperti ada penghalang, gue berpikir lagi, kejadian yang menimpaku mungkin karena kesalahan gue karena memanfaatkan seseorang, di tambah Fakta kalau dia mantan kekasih Yolanda, makin patah hati gue”
“Gue rasa ada kesalahpahaman Ra, dia orang baik deh, gue pikir hanya ibunya saja yang jadi penjahat dan penghalang,” ujar Sukma membela Bastian.
“Sudahlah lupakan, mari kita ajak babeh pulang, ini sore.” Rara dan Sukma menghampiri kedua lelaki yang masih asyik main pasir itu
Tapi saat mereka mengajak babe pulang sesuatu hal terjadi, babe Rara tidak mau pulang, ia bertingkah seperti anak kecil seumuran Calvin. Mereka terus sama dengan semangatnya membuat istana pasir yang begitu besar,
“Be kita pulang iya,” bujuk Rara tapi babenya terlihat terkekeh bahagia membangun istana megah dengan Calvin, babe jago membuat kreasi-kreasi seperti ukir-ukiran dan menggambar.
Kali ini, menciptakan istana yang paling besar di antara anak-anak yang lain Sukma terkagum dibuatnya.
“Babe tidak mau pulang dulu Ra, babe mau di sini sampai besok,” ujarnya bersikap ceria.
“Tapi be Calvin nanti masuk angin, kita cari saja Hotel terdekat di sini kita tidur di Hotel saja itu ambil dompet babe.”
Ia bertingkah bukan seperti biasanya.
“Wah ada apa dengan babe gue Mey, dia tidak kenapa-kenapa, kan?” Wajah Rara terlihat khawatir.
“Gila lu, Jangan buat gue makin takut,Meng-meng.” Sukma hanya terkekeh melihat Rara kesa
“Babe mau menginap di Hotel itu,” ujar babenya Rara menunjuk sebuah Hotel mewah, persis berada di tengah Ancol.
“Lah buset, itu hotel mewah Ra.” Mata Sukma menatap tajam
Ini bukan soal harganya, beruntung Bastian meninggalkan kartunya untuk ia pakai untuk membiayai keinginan babe Rara, tidak masalah saat ini, tapi yang buat Rara khawatir perilaku lelaki paruh baya itu, bukan seperti biasanya tidak neko-neko dan irit bicara.
Permintaannya yang kali ini tidak akan di tolak oleh Rara walau ia harus menjual ginjalnya sekalipun untuk lelaki yang selalu memberinya kedamaian.
Setelah berbelanja pakaian, karena menginapnya semua dadakan, babe Rara memilih kamarnya yang paling tinggi, wajah terlihat ceria ia tertawa lepas dengan Calvin, terlihat sangat bahagia.
Baru kali ini ia melihat babenya seperti itu, ia membuang beban hidup dan menikmati hidup. Ia bersemangat melihat dengan takjub pemandangan yang yang luar biasa dari atas hotel berbintang itu
Justru melihat ayahnya tertawa lepas dan bahagia seperti itu membuat Rara merasa sedih, kenapa baru sekarang bisa melihat keceriaan babenya setelah hatinya terluka.
__ADS_1
“Apa dia dulu menahan diri demi menjaga Rara di depan istrinya, Bisa jadi, babe mungkin selalu bersikap baik untuk emak demi diriku, aku semakin nakal untuk mencari perhatian ibu, aku bersikap berontak karena ia selalu menyalahkan ku
Mungkin semakin aku nakal mungkin di situlah babe tersiksa melihatku di omelin ibu, dIa menyimpan semuanya dalam hatinya dan di bungkus dengan sikap diam selama ini ….
Mungkin jika saat itu aku tau dia bukan ibuku, aku mungkin tidak akan tidak akan nakal gue mungkin akan tau diri demi babe” gumam Rara merasa sedih.
Makan, bermain semua mereka lakukan hingga jam berputar cepat jam 10 malam.
Kedua kakek dan cucunya terkapar karena kelelahan. Rara yang melihat kedua lelaki terlihat sedih.
Bendungan air di mata Rara tumpah membanjiri wajah cantiknya, Rara mencium kaki babenya.
Sebagi wujud terimakasihnya yang tak pernah ia ungkapan lewat kata-kata maupun perbuatan, ia sadar selama ini sudah membuat ayah tertekan Batin di depan emaknya.
“Maafkan gue be, Rara tidak tau.”
Rara menangis di kaki orang tua itu, tidak di sangka babenya bangun ikut memeluk Rara kembali dalam tangisan pilu diantara bapak dan anak, Rara berharap babenya berumur panjang dan bisa melihatnya bahagia kelak.
“Tidur, tidurlah Nak, percayalah hari esok akan lebih baik,” ujar babe Rara, ia tidur kembali
Pada saat masuk ke kamarnya Sukma sudah mendengkur , padahal ia ingin curhat pada sahabat baiknya itu.
Tinggal Rara yang sendirian dalam kehampaan
”Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)