
Otaknya berputar-putar bagai baling-baling kipas.
Aisah paham ada sesuatu yang di sembunyikan kakaknya, hanya ia yang mengetahui perilaku Rara sejak dulu.
“Apa kakak mau tidur bersamaku?,” ia menawarkan diri.
“Apa kamu mau menemaniku?”
“Ayo,” tangannya merangkul tangan kakaknya. Membawanya lagi naik keatas .
“Ok, katakan apa yang menganggu pikiran kakak?
“Apa?” ia terlihat gugup ” Memang ketahuan ,iya?”
“Iya kak, aku ini adikmu, sudah pasti tau kebiasaan kakak, ayo ceritakan semua apa yang membuat kakak dari tadi diam sepanjang jalan,” Aisah duduk di sampingnya.
Apa?” ia terlihat gugup ” Memang ketahuan ,iya?”
“Iya kak, aku ini adikmu, sudah pasti tau kebiasaan-kebiasaan kakak, ayo ceritakan semua apa yang membuat kakak dari tadi diam sepanjang jalan?” Aisah duduk di sampingnya.
“Sah, kalau kita berhubungan badan dengan orang lain, proses hamilnya berapa lama?”
“Apa?” mulut Aisah ternganga, mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut kakaknya.
Pertanyaan seperti bukan hal yang aneh baginya, pekerjaannya sebagai petugas medis tentu sudah tidak lagi di telinganya tentang hubungan badan, rahim. Janin, dan segala yang menyangkut untuk pencetakan anak. Tapi mendengar hal itu, keluar dari mulut kakaknya hal itu yang membuat aneh.
Karena Jenny mereka jaga bagai menjaganya, seperti menjaga anak TK, tapi bagaimana ia bisa seperti itu? kepalanya langsung di penuhi bintang-bintang gemerlap.
“Kakak melakukanya sama siapa?” tanya Aisah langsung ke intinya, semua orang juga akan atau inti dari pertanyaan kakaknya, entah ia karena lupa ingatan apa karena isi memori otaknya semua yang baru. Terkadang jenny bersikap polos layaknya anak SD.
Saat Aisa bertanya seperti itu, Jenny tidak bisa mengelak, matanya berat dan akhirnya airmata itu mengalir deras menyusuri pipinya, ia menatap adiknya dengan tatapan mata sayu dan tatapan sendu di penuh sesal.
Lalu ia menggelengkan kepalanya, melihat hal itu, bagaian belakang kepala Aisa, bagai di pukul dengan palu besar.
Tuiiiiiiing...
Ia merasa pusing, matanya menatap tajam pada kakaknya, katakan ” Katakan kenapa?.” Suara Aisah berbisik.
“Aku bingung mulai dari mana ,ini seperti mimpi juga bagiku.”
__ADS_1
“Katakan, sama siapa?”
“Kejadiannya sangat singkat tadi malam, ini seperti sebuah kecelakaan, ceritanya, aku tidak sengaja masuk ke kamar salah satu pegawaiku, ia kebetulan bersama kekasihnya, di disampingnya ada obat perangsang yang ingin mereka pakai, tanpa tidak sengaja aku meminumnya dan hal buruk itu terjadi. Teru- ah sudahlah ini rahasia kita jangan biarkan emak dan babe mengetahuinya,” kata Jenny tidak sanggup menceritakannya lagi.
“Apa kakak mengetahui siapa orangnya?”
Lagi-lagi Jenny menggeleng. Mata bulat Aisa memutar, tidak percaya.
“Apa ka-“
“Sudahlah.. pulanglah aku sudah menceritakannya aku sudah lega, besok aku ingin kamu membawa obat pencegah kehamilan, aku tidak ingin hamil,” kata Jenny memotong omongannya dan menyuruhnya keluar, padahal banyak yang ingin ia tanyakan.
Wajah Aisah menegang, ia ingin marah dan ia ingin meneriaki kakaknya Bagaimana Bisa? ia dilepas sebentar sudah seperti itu, tidak bisa menjaga dirinya sendiri.
Tapi tidak bisa menyalahkan dirinya juga harus percaya, kalau semuanya yang terjadi hanya kecelakaan , ia tidak sengaja meminum obat .
“Baiklah aku pulang, wajahnya pucat dan lemas, karena memikirkan hal itu.
“Jangan katakan pada siapapun, apalagi sama Babe, aku tidak tau bagaimana perasaan Mak dan babe jika tau hal ini.”
“Baiklah,” Aisah turun lagi, ia bersikap tegar , tidak ingin kedua orang tua itu tau hal buruk menimpa Jenny.
Tapi sebelum turun, ia melihat kaca memastikan tidak ada yang mencurigakan dari wajahnya.
Tapi pembahasan tetang pekerjaan Rizki sebagai polisi.
“Mak, be, isah pulang iya, kasihan mami nanti capek jaga Tia.”
“Bagaimana kakakmu, sudah tidur?” pak Agus menatap putri keduanya, tanpa ada perasaan curiga, Beliau yang selalu ingin menjaga kedua putrinya dengan baik semampunya.
“Tadi uda mau tidur, mungkin karena ia tidak minum obatnya,” Aisah mencoba bersikap tenang di didepan kedua orang tuanya.
“Iya , sudahlah ini sudah larut, kasihan mertuamu capek nanti,” Punya emaknya.
“Ayo mas..!”
*****
Jam 10:30
__ADS_1
Sudah larut malam tapi kota seakan tidak pernah tidur, jalanan masih saja macet, Entah kapan jakarta bebas dari macet, rindu Jakarta sesekali bebas macet.
Hanya setiap lebaran pertama saja Jakarta bebas dari macet, masa ia kita harus buat lebaran tiap minggu. agar Jakarta tidak macet.
“Kok diam saja sih sayang ,ada apa?” Ken menoleh sekilas kearah istrinya.
“Hanya capek,” jawab Aisah, idak ingin menceritakan kejadian yang menimpa kakaknya, itu akan jadi rahasia mereka berdua.
“Tidurlah, nanti aku bangunan kalau kita sudah sampai,” Aisah tersenyum manis, suaminya sanga perhatian, selalu memberi pujian padanya. Karena ia juga butuh pujian, yang terpenting jangan setipa saat.
“Makasih sayang, kamu memang suami yang tebaik,” balas Aisa mendaratkan satu kecupan hangat di pipinya.
Menyadarkan kepalanya di jok mobil beharap itu bisa mengurangi rasa pusing di kepalanya,
Perjalanan dari rumah orang tua kali ini berbeda, karena orang tuanya tinggal di daerah Bekasi, saat mereka pulang dari Korea, Ayahnya sudah menjual rumah mewah pemberian Rara, untuk menghindari segala kemungkinan, Pak agus akhirnya pindah kearah Bekasi Jawa Barat, ia berharap Bastian tidak menemukan mereka lagi entah berapa kali mereka berpindah-pindah rumah lagi.
Tapi beliau selalu bilang demi keluarganya ia akan melakukan apapun.
Aisa menarik nafas panjang, bagaimanapun ia menutup matanya, mencoba untuk tidur, semua usaha itu sia-sia, mata itu tidak mau terpejam.
Siapa yang melakukanya? Bagaimana kakak meneruskan hidupnya, jika ia mengalami hal seperti itu.
Tapi bagaimana kalau Bastian tau kalau kak Rara masih hidup dan kami mencoba memisahkan mereka.
Aduh kepalaku sakit, perutnya mual
“Sebentar mas aku pusing, perutku mual.”
“Uaahh,” ia mengeluarkan sebagian isi lambungnya, Ken meminggirkan mobilnya.
“Kami kenapa sayang? Apa kamu salah makan hari ini? tapi tunggu, apa kamu hamil?” tiba-tiba keduanya terdiam, diantara dua kemungkinan, apakah masuk angin, apa ia benar-benar hamil.
“Aku tidak tau, aku datang bulan terahi-“
Ia terdiam, otaknya mencoba mengingat sesuatu. Tunggu-tunggu aku terakhir datang, dua bulan terakhir, apa aku hamil?,”wajah aisah merekah.
Tapi Ken jauh terlihat lebih penasaran, “aku paling bahagia kalau kamu hamil sayang,” kata Ken.
Dalam mobil Ken memeluk istrinya padahal istrinya belum tentu positif hamil.
__ADS_1
“Jangan senang dulu mas belum tentu hamil juga aku,” Aisah memperingatkan suaminya, agar jangan terlalu senang dulu,” wajahnya merah, antara senang bercampur takut.
Bersambung...