
“Ibu, kata guru ngaji Alvin, kita Wajib mengingatkan orang kalau ia salah”
“Tapi, sayang kamu tahu gak lelaki itu siapa?”
“Teman Ibu, Alvin tidak mau Ibu dekat sama orang yang jahat, di hati ibu, harus ada aku, tidak boleh ada lelaki lain”
“Baiklah Sayang, dia orang baik kok, dia pemilik rumah ini, pemilik mobil-mobilan bagus itu, kalau kamu baik, ia juga baik,” ujar Rara menyakinkan putranya.
“Apa ibu tinggal berdua sama om itu?” tanya alvin dengan mengangkat dua jarinya dengan menggerakkannya sebagai tanda kutip
“A-a, iya dia sering kerja di luar kota seperti saat ini jadi ibu disuruh mengawasi rumahnya,” ucap Rara hampir tersedak ludahnya sendiri.
Alvin baru berusia empat tahun lebih enam bulan, tetapi pemikirannya sangat kritis, apa lagi pada ibunya.
“Baiklah kalau seperti itu, alvin percaya sama ibu,’ ucapnya dengan gaya santai, sekilas terlihat seperti orang dewasa dengan tangan di lipat di dada dan mata indah itu kembali terfokus pada layar televisi berlayar lebar itu.
‘Hadeeeh ... jantungku mau copot setiap kali bicara dengan anak kecil ini, sebenarnya usianya berapa tahun sih kenapa bersikap seolah-olah sudah tua’ Rara membatin ia menarik napas panjang.
Ia akan bersikap baik dan anteng dan sangat penurut seperti itu, jika sudah diputar kartun kesukaannya, ia kembali tertawa riang saat menonton film kartun karya negara tetangga dengan dua bocah kembar berkepala botak itu, dengan ciri khas ’Betul, betul itu’ jika sudah menonton itu, maka ia akan meresapinya bahkan tahu dengan logat bahasanya.
Rara berdiri dan ia mengambil ponselnya, Rara merasa ada yang penting yang ingin disampaikan majikannya, Ia menelpon balik
“ Halo”
“Kenapa menelepon ada hal penting?” tanya Ara
“Tidak aku hanya mau bilang tadi, aku batal keluar ota hari ini kita syutingnya di Jakarta aja, kata sutra daranya,” kata Bastian
’Lah tumben ia buat laporan seperti itu, Aneh … ngapain ia lapor, jadi merasa kayak istrinya nya gue’ Rara menyengir kuda.
“Tapi, apa kamu mau pulang sekarang?”
“Iya, aku capek bangat hari ini, aku mau langsung istirahat,” jawab Bastian di ujung telepon.
“Tapi Tian, ah itu, Bisakah kamu tidak pulang malam ini ke apartemen?”
“Ha? Memang kenapa kamu melakukan apa di apartemen?” tanya Bastian ia sudah berpikir yang aneh -aneh saat tiba-tiba Rara melarangnya pulang.
“Bukan, bukan apa-apa”
“Lah … terus ngapain kamu melarang ku pulang ke rumahku sendiri kalau tidak ada apa-apa?”
__ADS_1
“Itu … Alvin”
“Alvin siapa!?” Suara Bastian meninggi, ia tidak ingat kalau yang bernama alvin itu anaknya Rara.
“Iya anak Gue lah”
“Jangan pakai, gue lagi aku bilang,” ucap Bastian ia membenci kata-kata gue yang di ucapkan Rara selama ini, ia mencoba mengarahkan wanita bar-bar itu ke jalan yang benar.
“Iya ralat, anak aku,”ujar Rara, ia sengaja menelepon Bastian dari balkon rumahnya agar anak itu tidak mendengarnya.
“Ha? Terus kalau ada anak kamu, aku tidak bisa datang ke rumahku begitu?’
“Bukan. Begini ini sedikit konyol tapi …jangan tertawa iya”
“Iya baiklah, cepat katakan Rara winarti aku sudah sangat mengantuk ini”
“Bisakah kamu bilang kalau kita teman, maksudku jangan bilang ke anakku kalau aku pembantu mu, itu akan menyakiti hatinya, please ….!” Suara Rara tiba-tiba lembut dan memohon hal yang berbeda darinya,
‘Apa semua ibu akan melakukan hal itu pada anak-anak mereka, berbohong dan bahkan berbohong, tapi anak itu bukan anak yang ia lahirkan, kan, haruskah ia setakut itu?’ Bastian membatin ia diam.
“Tian, apa kamu masih di sana?” tanya Rara.
“Apa permintaanku berlebihan?” suara Rara lagi lembut.
“Tidak hanya kaget saja, Rara Winarti gitu, ternyata bisa berbeda hanya kerena anak kecil”
“Bagiku dia bukan anak kecil Bastian tetapi malaikat”
“Ok baiklah, ada lagi?
“Iya, Tian begini …! ak-”
“Rara, cepatlah kakiku pegal ini, aku berdiri keluar dari mobil”
“Kalau ia, bersikap sok dewasa atau mungkin menasehati mu atau mengkoreksinya tolong jangan marah iya …”
“Ha? Apa kamu sebegitu takutnya pada anakmu?” tanya Bastian semakin penasaran dengan anak Rara/
“Aku bukan takut, Bastian kamu tahu, kan, aku tidak pernah taku pada apapun, tetapi anakku, di depannya aku tidak bisa berkutik”
“Ok Baiklah, bisa pulang sekarang, aku lelah bangat Rara”
__ADS_1
“Jangan pulang sekarang, besok saja”
“Rara kamu mau buang aku kemana, kamu tahu sendiri aku tidak bisa tidur di hotel kan, bagiku hanya ada dua tempat yang membuatku bisa tidur Rara dan aku sudah pernah bilang hal itu padamu kan, aku hanya bisa tidur di apartemenku dan di rumah keluargaku dan dari rumah keluarga aku jauh Rara.”
“Tidur di hotel tolonglah,sekali ini saja”
“Rara, aku tidak akan mengganggumu dan anakmu, aku pulang langsung tidur”
“Sama saja Tian, ia akan berpikir ibunya nanti berbohong ; pertama aku sudah bilang kamu kerja di luar kota, tetapi langsung datang, kan aku berbohong.
Kedua; Aku bilang padanya kalau kamu baik dan sopan, terus nanti kamu datang dan nyelonong masuk berarti aku pembohong lagi kan?”
“Lalu …?”
“jadi … malam ini tidak usah pulang iya Bastian”
"Iya ampun Ra, tinggal kamu jelasin ke anak kamu kalau jadwal kerjaku ke luar kota di batalkan, kenapa harus di buat ribet sih"
"Tidak semudah itu Bastian, kamu tidak akan pernah tahu karena kamu belum punya anak"
"Iya aku tidak tahu terus bagaimana nasip ku, masa aku terusir dari rumahku sendiri gara-gara seorang anak kecil"
"Bukan di usir Bastian, tetapi di tunda dulu"
"Rara, bagiku ini alasan yang terlalu dibuat-buat, aku curiga ada sesuatu yang kamu lakukan di sana"
"Tidak ada Tian, masa aku bohong"
"Baiklah terserah kamu dah, baiklah aku akan putar balik lagi aku akan ke rumah keluargaku, aku tidak bisa tidur di hotel, terus besok aku sudah bisa pulang?
"Iya besok Bisa, tapi kamu harus bilang-"
"Uda ah.. aku capek" Bastian mematikan ponsel nya dan meminta supirnya asisten-nya membawanya ke rumah orang tuanya.
"Ibu dan anak sama-sama aneh," ucap Bastian kesal dan masuk ke dalam mobil setelah mematikan ponsel nya.
Bersambung ..
Bantu like dan vote iya Kakak, agar view bisa naik.mudah mudah kakak suka dengan karyaku baca juga karyaku yang lain ya kakak.
Terima kasih
__ADS_1