
“Tidak, biarkan saja ia pulang dengan supir, Ayah juga mau langsung ke kantor” Jawab Ayah mertua Rara tidak bersemangat.
Ia merasa tidak tega juga melihat wanita itu, kalau ibu mertuanya pulang sendirian, Tapi Rara takut kalau harus ikut sama mertuanya takutnya ia marah lagi mencekik leher nantinya kalau misalkan, penyakit emosinya kambuh,
“Bawa ia langsung pulang, kalau ia minta kemana-mana jangan mau” Pinta Pak Bardi pada supirnya.
“Baik, Pak” Bapak supirnya langsung mengangguk, mengerti
Tapi saat melihat suaminya datang terlihat Hartati bahagia, tapi sayang. Ayah mertua Rara tidak terlalu respek lagi pada istrinya, ia mau menemui wanita itu karena permintaan Rara, ia mengobrol sebentar , dan menyuruhnya pulang. Baru terlihat Hartati sedikit lebih tenang
Bastian tidak menduga kalau hari itu, ibunya sudah pulang, walau ada rindu ingin menjenguknya, sepertinya Omahnya tidak mengijinkannya pergi menjenguk ibunya.
Mobil Bastian tiba setelah jam 8 malam ia berbuka puasa di rumah mertuanya dan ia sholat juga di sana, ia tidak tau kalau hari itu Ibunya sudah pulang,
“Pulangnya, tidak sama, Ayah?” tanya Rara saat ia menyambut suaminya di kamar, wajah Bastian terlihat bahagia
“Tidak” Jawabnya dengan satu kis di pipi Rara
“Ada apa, lagi dapat apa?”
“Dapat kamu” jawabnya dengan satu pelukan lagi di pinggang istrinya, plus satu kecupan hangat di pundak istrinya,
“Ada apa sih, bahagia kok di nikmati sendiri sih, bagi-bagilah,” kata Rara penasaran dengan wajah Bastian yang terlihat puas dan terlihat lengah.
“Akhirnya” Kata Bastian lagi, ia menjatuhkan tubuhnya tidur terlentang di kasurnya, ia menarik tubuh Rara tidur di sampingnya.
“Kamu dapat apa sih, habis melakukan apa, harusnya aku di beritahu agar aku ikut menikmatinya,” tanya Rara ia terlihat jengkel ketika Bastian terlihat bahagia
Ia tidak tau Bastian baru saja dari rumah mertuanya di perlakukan baik sama keluarga Rara.
Bastian baru pertama kalinya mendapat perlakuan hangat dan dari keluarga, keluarga istrinya, saat ia mendapat perlakuan baik dari mertuanya, justru sebaliknya yang di dapat Rara hari itu, mendapat perlakuan buruk dari mertuanya.
Tapi mereka berdua tidak ada yang memamerkan hal baik yang mereka lakukan.
“Kamu tau Ra, aku sangat beruntung dapat istri seperti kamu, bagiku kamu anugrah yang paling indah yang di berikan Allah bagiku,” kata Bastian ia memeluk tubuh rara dengan satu pelukan hangat lagi
__ADS_1
Matanya menatapnya mata Rara dengan sangat intens, tangannya memegang dagu istrinya satu kecupan hangat mendarat di bibirnya .Rara yang tidak tau suami bahagia karena apa hari ini, matanya masih bertanya-tanya.
“Apa aku hanya pendengar, tanpa tau apa yang membuatmu bergembira hari ini?”
“Hmm, nikmatin saja” kata Bastian masih sibuk ******* bibir mungil istrinya “Apa kamu habis berdandan, kenapa kamu terlihat sangat cantik dan bibir ini semakin mempesona” Kata Bastian menggigit bibir bawah rara dengan gemas, membuat rara memukul lengannya karena sakit.
“Sakit, dodol” Ia mengerutuk di balik ******* suaminya.
“Habisnya, bibir mungil ini, membuatku semakin gemas, apa lagi kalau kamu sudah memakai warna merah seperti ini, itu membuatku tidak tahan” Kata Bastian masih ******* bibir istrinya
Tangan Bastian mulai menyusup ke blues yang di pakai Rara, mencari aset paling indah milik istrinya, karena ia rasa Rara tidak memberinya penolakan, ia membuka pengaitnya dengan cepat tanpa halangan, karena beberapa kali ia susah membuka kancing pengaitnya dulu belum paham dan sekarang, ia sudah paham bagaimana membukanya , tangannya langsung sigap melepaskan benda mirip kaca mata itu.
Rara semakin menggeliat mendesah, tentu hal itu menjadi pemacu semangat pada Bastian saat Rara menggeliat mendesah Bastian semakin bersemangat.
“Tunggu-tunggu,” kata Rara mereka berhenti. “ Ini bulan puasa Tian” Matanya menatap Bastian dengan satu kedipan
“Memang kenapa kalau bulan puasa sayang, tidak boleh? Ikut puasa juga hubungan suami istrinya, tentu aku tidak mau Ra” ia merengek pada Rara “apa lagi kita masih pengantin baru dan kita baru beberapa kali melakukanya”
Kata Bastian seolah tidak mau dan tidak rela kalau hubungan ranjang dan istrinya juga harus ikut puasa. “Itu juga ibadah juga kan, memberi nafkah sama suami, apa lagi suami lagi menginginkannya” Rengek Bastian matanya memohon,
Tangannya menyambar remote pintu kamarnya dan ia mengaktifkan kedap suara juga dari kamarnya, apa pun yang mereka lakukan nantinya, keluarga besarnya tidak mendengarnya.
“Aku tau, Sayang,” kata Rara mengusap kepala suaminya, Bastian merasa kepalang tanggung karena Rara menghentikannya. “Maksudku, kamu, gak capek? Kamu kan puasa dan harus bangun pagi-pagi bangat untuk sahur-” belum juga Rara meneruskan penjelasanya Bastian menggelitikkinya.
“Oh, karena aku takut capek, tidak mengapa Ra, tenagaku kuat seperti tenaga kuda jantan,” ungkapnya penuh semangat, dengan tawa menggoda Istrinya
“Aku mau bilang, ini masih terlalu dini Bastian, ini baru jam 9 sembilan,” kata Rara ia takut ibu mertuanya mencari Bastian, karena ia baru pulang dari Hotel prodeo, tentu ia rindu pada anaknya , karena sejak sampai di rumah ia sudah mencari Bastian. Dari tadi,
“Tidak apa-apa, saya sudah pasang pengedap suara dan mengunci pintu, jadi tidak ada yang bisa menggangu kita.”
“Aku harus bekerja keras agar kamu cepat hamil,” kata Bastian. Penuh canda dan tangannya masih meraba perut Rara
“Memang kalau sering melakukanya akan cepat hamil?” Wajah rara merah
“Iya, kemungkinan besar peluangnya semakin besar, aku tidak sabar Ra, ketika kamu hamil, ayah dan Omah pasti senang dan Ibu pasti akan bersikap baik lagi padamu
__ADS_1
“Mudah-mudahan,” kata Rara, tapi tidak begitu yakin kalau Ibu mertuanya akan bersikap baik
Bastian kembali ******* bibir istri dengan semangat, tangannya dengan cepat menanggalkan baju atasan rara dan mel*mat benda kenyal itu dengan lembut.
Tentu ia melakukanya dengan lembut dan hati-hati, karena ia tidak ingin istrinya merasa sakit, sebab ia baru sembuh.
“Tidak apa-apa kita melakukannya saat ini.Tanya Rara tidak ingin membuat puasa suaminya batal karena kelelahan.
“Tidak apa-apa sayang , aku masih muda, masa hanya karena ini membuatku lelah, tidak akan sayang, percayalah,” kata Bastian menyakinkan istrinya.
Bibirnya semakin turun dari perut hingga ke pangkal p*ha, tentu saja Rara terkejut karena belum pernah melakukan itu sebelumnya dengan bastian.
Ia menjambak rambut bastian dengan keras, karena tidak tahan dengan rasa s*nsasi yang di buatnya.
“Bastian itu-,” ia tergagap-gagap menggeliat tangannya meremas ujung seprainya dan tangan satunya menahan kepala Bastian yang semakin leluasa menyusuri bagian sensitifnya dengan mulutnya. Matanya terkesiap dan tubuhnya semakin tidak terkontrol saat mulut menyusurinya dan mengh*sapnya tanpa ampun,
Ia menikmatinya bagai lelehan coklat dengan lidahnya dan bibirnya ia terus menjilat dan membersihkannya dengan nikmat. Bastian memberikan sentuhan dan kenikmatan yang tidak bisa di lupakan Rara, dan mungkin akan membuatnya nanti ketagihan karena sensasi seperti ini,
Rara merasakan tubuhnya kejang, karena merasakan sensasi yang luar biasa yang di berikan lelaki Muda itu padanya matanya merem –melek di buatnya,
Tubuhnya bermandikan keringat dan merasa seluruh tubuhnya bagai di aliri sengatan listrik.
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)