
“Terserah ibu saja, lakukan apa yang ingin ibu lakukan, aku muak ,” Bastian meninggalkan ibunya yang masih berteriak karena Bastian menolak keinginannya.
“Kalau kamu menolaknya, ibu akan mati,”Ia berteriak.
Bastian menarik nafas, karena lagi-lagi ia mendengar kata-kata itu lagi dari ibunya. Ia selalu menekan Bastian dengan kata-kata itu.
“Terserah ibu.” Ia pergi kekamarnya.
Tapi benar, ibunya orang yang nekat.
Bastian merebahkan tubuhnya di ranjangnya di kamarnya , dadanya naik turun, ia serasa baru habis melakukan lari maraton
Ia bingung harus berbuat apa, ia merasa hidupnya menyedihkan, karena ia tidak bisa membuat keputusan yang tepat. Saat ia memilih ibunya karena rasa sayang dan menghormati Ibunya hatinya malah memikirkan istrinya.
“Ah sial,” ia melemparkan sepatunya dengan asal
Tapi suara ribut di lantai bawah mengusiknya.
“Pak Bastian!” Panggil seorang wanita paruh baya, berdiri di depan kamarnya. Wajahnya terlihat panik
“Kenapa,Bi?.”
“Itu , Ibu berdarah,Ia-“
Bastian langsung berlari sebelum wanita paruh baya itu menuntaskan omongannya.
Dengan nafas memburu, ia menghampiri wanita yang sudah terkapar itu.
Ibunya memotong urat nadi tangannya lagi, ia benar-benar wanita yang menakutkan, ia tidak pernah main-main dengan ancamannya.
Ia selalu merasa akan mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara apapun, baik dengan cara menyakiti sendiri , seperti saat ini, saat Bastian menolak menikah dengan Viona wanita kaya Raya itu.
Wanita kaya Raya kesukaan Ibunya, karena viona selalu memberinya barang-barang mewah, itulah mengapa Hartati selalu menyukainya, karena ia kaya.
Ia tidak menyukai Rara karena wanita itu hanya membawa cinta yang tulus untuk Bastian. Ibunya tidak membutuhkan Cinta yang tulus, Ibunya Bastian butuhnya Emas dan Berlian.
“Bawa Ibu kerumah sakit,” katanya pada supirnya, untuk pertama kalinya untuknya tidak ikut mendampingi ibunya ke rumah sakit.
Padahal setiap kali Ibunya menyakiti dirinya sendiri Bastian selalu panik dan mendampingi ibunya di rumah sakit sampai pulih kembali. Ini sudah kesekian kali Hartati melakukan hal nekat seperti itu sudah tidak terhitung lagi bahkan Bastian dari kecil ibunya sudah sering melakukannya, seolah menyakiti diri sendiri sudah seperti mainan buat ibunya.
Hari ini, Bastian tiba-tiba merasa tidak simpati lagi atas kelakuan ibunya.
“Pak Bastian tidak ikut? .” supir bertubuh kurus itu menatapnya sekilas.
__ADS_1
“Tidak pak, bapak saja dulu yang bawa nanti saya datang,”
“Baik pak Bastian,” langkahnya berlari cepat menggotong tubuh majikanya ke dalam mobil
Darah segar milik ibunya mengotori sepanjang lantai .
Wanita paruh baya itu dengan sigap membersihkan noda berwarna merah itu,
Bukanya aku jahat Bu, bukanya aku tidak perduli tapi ibu perlu mengubah semua perilaku lama ibu, kata Bastian dalam hatinya.
Hatinya sebenarnya sangat sakit melihat Ibunya terluka , anak yang mana yang tidak sedih saat melihat ibu sendiri terluka, begitu dengan seorang Bastian, tapi ia mencoba menahan diri, ia ingin ibunya mengubah sikapnya.
Ia tidak ingin ibunya menyakiti dirinya sendiri lagi, setiap keinginannya tidak turuti, Ibunya bukanlah anak remaja yang bersikap labil
Bastian ingin merubah perilaku ibunya, ingin Ibunya menyadari kalau umurnya sudah tua dan ingin bilang untuk berhenti bersikap labil lagi.
Malam itu ia datang kerumah sakit tempat di mana ibunya di rawat, tapi ia hanya menjenguknya sebentar dan ia duduk diluar rumah sakit. Ibunya hanya di jaga asistennya.
Bastian duduk hanya menatap kosong ke arah jalanan Ibu kota, jalan begitu ramai dan di sekitar rumah sakit juga banyak orang yang berlalu lalang
Tapi entah kenapa hati lelaki itu terasa begitu hampa, matanya menatap jauh kearah jalanan.
Tiba-tiba ingatannya tertuju pada Rara istrinya, otaknya masih di penuhi banyak pertanyaan
Ia tersenyum saat ia membayangkan wanita itu mengandung anaknya, tapi disisi lain hatinya sedih melihat sikap Rara yang mengacuhkannya dan bersikap dinginnya padanya. Ia takut kalau Rara benar-benar meninggalkannya.
Ia lagi ngapain iya sekarang? Ia bertanya dalam hatinya, matanya jauh menatap langit, langit di ibukota cerah, bulan malam itu memancarkan cahaya yang indah Bastian menatap jauh kearah langit tapi. Bulan di langit seolah menertawakan sikap plin-planya
“Ah sial,” ucapnya pelan mengalihkan pandanganya kearah taman rumah sakit.
Tapi tiba-tiba ia melihat sosok yang ia rindukan lagi duduk sendiri selang infus menempel di lengannya.
“Tidak mungkin, ini mimpi,” kata Bastian ia berlari kecil menghampiri tapi ia menahan diri tidak menyapa, takut Rara makin menghindar lebih baik ia mengawasinya dari belakang, hanya melihat saja ia, sudah merasa rindu di hatinya sedikit terobati.
Ternyata benar, Rara lagi duduk di salah satu kursi di taman itu.
Ia mengawasi lebih dekat tanpa Rara tau.
Ia sendirian? Apa lagi yang terjadi padanya? Kami selalu bertemu di rumah sakit.
“Kakak harus masuk, ini sudah larut malam, tidak bagus angin malam untuk kakak,” Aisah menghampirinya.
“Aku merasa jenuh di kamar, tidak ada teman, tunggu sebentar lagi iya, bentar lagi Mey datang , kamu jaga sampai jam berapa, sah?”
__ADS_1
“Aisah jam kerjanya dua jam lagi kak, tunggu di sini,” terlihat Aisah masih memakai seragam perawat. Ia akhirnya mendapat pekerjaannya kembali di salah satu Rumah sakit swasta ternama di Kota ini.
Rara lagi-lagi harus beristirahat di ranjang rumah sakit, masih dengan kasus yang seperti kemarin. Karena kelelahan dan di haruskan Dokter istirahat total kalau ia ingin bayinya sehat.
Aisah terlihat datang lagi, kali ini datangnya membawa sebuah selimut kecil dan teh hangat untuk kakak tercinta.
“Aisah masuk dulu iya kak, nanti datang lagi, ia meninggalkan Rara sendirian.
Bastian ingin mendekat ingin menyapa, tapi seseorang menghentikan langkahnya.
“Ra,” Panggil Kenzo dari depan,
Mata Bastian melotot tajam dadanya bagai di bakar, tangan itu terkepal kuat.
“Kenzo!? Sejak kapan ia dekat dengan Rara, ada hubungan apa ia dengan istriku? Ia terus menatap tajam
Ponselnya bergetar ada panggilan masuk.
Ia menjauh agar suaranya tidak didengar Bastian , menjawab teleponnya di balik dinding rumah sakit.
Ia menutup teleponnya dan melihat Rara lagi. Tapi sudah tidak ada.
Aku tadi bukan bermimpi kan? Aku beneran melihat Rara tadi,kan? Kemana mereka, kemana si brengsek Kenzo membawa istriku, ia mengambil kesempatan ,Ia mendekati Rara saat ia tau, aku dan Rara sedang ada masalah.
Bastian benar-benar merasa dadanya di bakar api cemburu, ia menonjok dinding melampiaskan kemarahannya. Ia meletakkan kepalanya dinding, tangisannya tertahan di kerongkongannya .
Luka ditangannya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya, pikirannya di penuhi dugaan-dugaan buruk tentang istrinya dan sahabatnya.
Rasa cemburu memang sangat menyiksa dan kadang membuat seseorang gelap mata.
Apa yang kalian lakukan padaku? Kamu masih istriku Ra, kenapa kamu bersama si brengsek Kenzo.
Ia mengusap matanya dengan kasar rasa cemburu sudah mengisi separoh jiwanya.
Ia tidak memperdulikan tatapan orang padanya, ia berjalan masuk kedalam rumah sakit dengan mata sembab. Ia mencari atas nama Rara tapi sayang waktu berkunjung sudah habis dan informasi tentang istrinya juga tidak di kasih tau karena permintaan pasien yang tidak memperbolehkan orang lain menjenguk.
“Saya suaminya sus,”kata Bastian menahan emosi saat ia tidak di perbolehkan masuk, seorang perawat terlihat menelepon diam-diam memberitahukan kalau ada seseorang yang mencari Rara mengaku suaminya.
“Maaf pak, kami tidak sembarangan memberitahukan data pasien demi keselamatan, karena pasien sendiri yang mengingatkan kami.
Bagaimanapun Bastian menjelaskan ia seolah di persulit , ia menduga itu pekerjaan Kenzo.
“Berengs*k kamu Kenzo,awas kamu nanti,” makinya kesal.
__ADS_1
Bersambung...