
“Tapi walau hati ini sakit, aku mencoba berdamai dengan diri sendiri. Aku memikirkan mu,”
Rara membenarkan posisi duduknya, agar bisa menatap langsung ke dalam mata lelaki tampan itu, aku ingin memperkenalkan mu pada engkongku sebagai suami”
“Benarkah” Bastian merasa sangat senang.
“Kakekku yang sakit disini, bukan aku yang sakit, tapi boleh gak aku membawamu?
“Aku mau lah Ra, aku sangat senang”
Bastian menarik napas panjang, seolah ia meminta kekuatan dan menyusun keberanian.
“Baiklah, aku siap bertemu dengan keluargamu”
Orang tua itu masih tertidur karena pengaruh obat yang di berikan Rara padanya.
Bastian terlihat iba dan ada rasa kasihan terlukis di wajah tampannya, karena untuk bernapas saja engkongnya harus di bantu alat pernapasan
“Sakit apa Ra, kakek kamu ?”
“Kangker paru-paru, mungkin ia hanya menunggu jemputan,” kata Rara tapi terlihat raut kesedihan.
“Ia bilang akan tenang meninggalkan dunia ini, jika aku sudah menikah, memiliki keluarga yang bisa menjagaku, agar ia bisa pergi dengan damai.
Maka itu aku memintamu, karena kita sudah menikah, semoga dengan melihatmu dia bisa merasa tenang"
“Apa tidak ada keluarga yang lain Ra?"
“Ada, tapi engkong ingin hanya aku saja dia ingin aku yang menjaganya tidak mau di jaga ibu sama adik-adikku, ingin aku saja di sampingnya"
Rara pada akhirnya memilih memaafkan dan membawa Bastian ke kamar engkong.
Saat mereka duduk di kamar sang kakek terbangun.
“Ra.” Dengan suara berat kakek bicara.
“Apa Kong? Apa Rara mau panggilkan Dokter?” Rara mendekat
“Tidak sayang, aye hanya mimpi indah , ketemu istri engkong ini Siapa?”matanya yang lemah menatap Bastian.
“Ia Bastian"
“Halo kek,” tidak di duga Bastian dengan sopan dan tidak sungkan mencium tangan orang tua itu,
Padahal ia menduga Bastian akan merasa jijik karena keadaan kakeknya yang seperti itu, belum lagi bau obat yang buat perut mual,
Tapi dugaannya salah, ia sopan tidak menolak, tapi ia bertindak layaknya seorang anak yang bersikap sopan pada orang tua,
“Engkong, ini Bastian suami Rara"
Ia hanya tersenyum lemah, melihat Rara dan Bastian, tidak ada raut wajah senang ataupun raut bahagia, ia berpikir kalau Rara hanya ingin menyenangkan hatinya.
__ADS_1
“Engkong aku tidak bohong,” Rara memperlihatkan Foto pernikahannya dari ponselnya milik Bastian barulah wajah keriput itu tersenyum dan Matanya bahagia.
“Maaf, kalau elu mengalami hari –hari buruk saat itu, engkong tidak bisa berbuat apa-apa karena engkong sudah tua.
Maaf karena tidak menceritakan sejak dari dulu, tentang kebenaranya, aye pikir akan baik-baik saja. Tapi malah menyakitimu lu terluka"
“Tidak apa-apa engkong, engkong selalu lelaki terhebat bagi ara. Rara menggenggam tangan orang tua itu dengan hangat
Hatinya kembali di balut kesedihan, sepertinya bulan- bulan terakhir ini menjadi bulan kesedihan untuknya.
Tapi itulah hidup, tidak selamanya hidup dalam kegembiraan, terkadang ada kalanya terpuruk dan menangis, bahkan di tinggal orang yang dicintai mungkin membuatnya paling sedih, mungkin sebagai orang yang melihat hubungan Ara dan engkongnya hanyalah sebatas hubungan kakek dan cucu.
Tapi faktanya Ia orang yang paling berjasa dalam hidupnya, mungkin kalau orang tua itu tidak menyelamatkannya saat babenya Rara depresi
Apa jadinya ia dan ayahnya saat itu.
Baru saja Rara menyadari betapa baiknya orangtua itu padanya, karena ia bukan cucu kandungnya, ia belum sempat membalas kebaikannya dan ia belum berterimakasih, tapi kesempatan itu tidak ada lagi.
“Titip cucuku Bastian, titip Ara padamu jangan biarkan ia menangis,” ujarnya pada Bastian.
“Engkong, sangat lelah, Aye mau tidur,"ujar engkongnya kemudiaan
Melihat hal itu Rara sudah punya firasat buruk, ia melihat wajah kakeknya seperti bersinar
Mungkin saat itu, malaikat kematian sudah menunggunya yang akan membawanya pada sang Pencipta Untuk mempertanggung jawabkan amal baiknya selama di dunia, karena saat Rara memeluk sang kakek ia tidak bergerak lagi.
“Tapi akan seperti ini saja , bagaimana keluarga yang lain apa kakeknya tidak akan berpesan pada keluarga yang lain?"
“Engkong, Rara telepon, emak iya?”
Hubungan Engkongnya dengan kedua anaknya tidak baik, boleh di bilang kedua anaknya hanya menginginkan hartanya saja, termasuk ibunya Rara dan adik laki-lakinya.
Tidak ada yang menanyakan bagaimana kesehatan orang tua itu.
Mereka seolah menunggunya mati agar bisa memperebutkan harta Kakeknya. Hanya Raralah yang selama ini dekat dengan engkongnya.
“Tidak usah, ada kamu disisiku untuk menutup mataku, itu sudah cukup, terimakasih sayang, karena sudah mau jadi cucuku,” ujar egkonganya dan pergi.
Bagai mimpi di siang bolong. Bastian harus melihat kematian seseorang di depan matanya, bahkan ia masih memegang tangan engkongnya, Bastian dengan bulu kuduk berdiri, ia melepaskan tangan orang tua yang sudah tak bernyawa itu
Rara masih menggenggam tangan lelaki tua itu dengan tangisan tanpa suara. Dalam hatinya ia belum rela melepas kepergian engkongnya
Banyak hal yang ingin ia lakukan untuk kakeknya tapi belum berhasil. Tapi siapa yang boleh menolak kematian, ia merelakan orang tua itu pergi,
Bastian terlihat diam membeku, ia tidak menduga kedatangannya kerumah sakit hari ini, malah mendapat kejadian lain, niatnya kerumah sakit karena ia pikir Raralah yang sakit .
Tapi siapa sangka karena kehadirannya mempersingkat hidup seseorang, kakeknya Rara pergi dengan tenang setelah beliau menitipkan hidup cucunya padanya.
Pihak rumah sakit mengambil alih melepaskan alat bantunya dan mengurus surat kematiannya dan yang lainya,
“Pulanglah” sebelum ibuku datang, aku tidak mau, kamu ikut-ikutan dimaki nantinya,” ujar Rara.
__ADS_1
Ia tidak ingin lelaki itu melihat kehebohan yang terjadi di keluarganya nanti.
“Tapi Ra-?’
“Kita cari waktu yang tepat nanti, untuk memperkenalkan mu pada keluarga ku. Tapi tidak saat ini, Bastian, ini kurang tepat," ucap Rara dengan mata sembab.
Belum waktu yang tepat untuk melibatkan Bastian dalam maslah keluarganya.
“Baiklah, aku pulang, nanti aku menghubungi lagi."
Bastian tidak tega meninggalkan Rara menangis sendirian, tetapi memilih menurut.
Jantungnya masih dag-dig-dug, karena masih terbayang wajah kakeknya Rara memegang tangannya, masih bicara dengan jelas menitip Rara padanya , berterimakasih padang karena sudah menikahi cucu kesayangannya. Tapi saat ini lelaki itu sudah menutup matanya untuk selamanya.
“Apa kematian sesingkat itu?" ucap Bastian dalam mobilnya, ia memilih menemui teman-temanya, karena takut pulang sendirian ke apartemennya.
Engkong Rara dimakamkan di pemakaman keluarganya di samping istrinya. Kontrak kakeknya sudah habis di dunia ini.
Cinta bisa dapat dari mana saja tidak harus dari keluarga kandung.
Seperti yang dialami Rara. Karena rasa cinta engkongnya pada Rara ia mewariskan hartanya padanya dan Calvin anaknya.
Tentu saja akan mengundang polemik di keluarga besar mereka dan penolakan besar nantinya yang ia terima. Karena kedua anak-anak engkongnya tidak ada akan semudah itu melepaskan harta Ayahnya padanya, ia hanya cucu angkat.
Tapi Rara menyerahkan semuanya pada orang yang di tunjuk kakeknya mengurus warisannya, sesuai dengan pesan orang tua itu, kalau tanah engkongnya di Wakafkan untuk membangun Mushola dari pada di berikan pada anak-anaknya yang durhaka.
Akhirnya mereka gigit jari.
Orang tua itu memberi pelajaran pada anak laki-lakinya dan ibunya Rara. Mereka tidak dapat bagian sedikitpun harta warisan darinya. Tetapi sebagai gantinya Raralah yang dapat bagian yang lebih banyak dan Calvin
Tetapi Rara yang selalu punya prinsip tidak akan mengambil yang bukan haknya. Ia tau dirinya siapa dirinya.
Rara menyumbangkan harta warisannya pada anak Yatim.
Itu jauh lebih baik dari pada bahan pertengkaran untuk Ibunya dan Pamannya.
Walau ibunya dan Pamannya memarahinya tapi ia sudah melakukan hal yang tepat dan mungkin engkongnya juga setuju dengan keputusan itu.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1