
Jam berlalu dengan cepat satu hari mereka habiskan hanya membahas hal itu, tapi seolah tak berujung, Rara tidak punya keberanian untuk menceritakan pada Bastian .
Tentang trauma yang ia alami di masa lalu, Rara tidak punya kekuatan menceritakan bagaimana ia hampir jadi korban pemerkosaan saat kecil, luka panjang di pinggangnya sebagai bukti bagaimana ia melewati hari yang sangat menyedihkan saat masih kecil.
Bastian meninggalkan Rara dengan wajah yang terlihat masih gugup.
“Buang-buang waktu saja,” ucap Bastian berdiri dan berjalan menuju kamar.
Wajahnya kesal dan bibir berkerut, ia masuk kedalam kamarnya menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya, bau tubuh Rara masih melekat di seprai kasurnya, membuat hatinya marah, bahkan ia tidak tahu harus bagaimana meluapkan kemarahannya, matanya semakin sinis menatap ke sekeliling kamar.
Tangannya di letakkan di atas kepalanya memperlihatkan bahwa ia lagi pusing dan banyak beban pikiran.
Rara masuk lagi kekamarnya membuka lemari dan memandang lingrei yang di berikan Sukma, ia terlihat seperti orang bodoh yang menertawakan dan meledek pakaian berbahan tipis tersebut, sesekali wajahnya terlihat panik dan menggeleng-geleng saat membayangkan dirinya memakai pakaian seksi tersebut.
Tetapi demi kelangsungan hubungan pernikahan dengan Bastian, ia memutuskan untuk mencoba memakainya, ia menuruti nasihat Sukma.
Rara masuk ke kamar mandi dan mencoba lingerie berwarna hitam itu
Saat ia menjajal ke tubuhnya, ia merasa sangat aneh, Rara menarik napas panjang , ia menatap kain berwarna hitam itu dengan gelengan kepala, demi apapun Rara merasa tidak percaya diri jika diminta memakai pakaian seksi itu.
Lagi-lagi Rara menarik napas panjang, entah kenapa dari dulu ia tidak suka dengan benda-benda seperti itu. Dulu kalau Sukma mengajaknya membeli benda lingerie seperti itu, ia paling benci dan selalu marah, tetapi saat ini, ia harus memakainya.
Ia mencobanya memakainya di kamar mandi, lalu menatap dirinya di pantulan kaca, seorang wanita cantik seksi memantul di depan kaca, hanya Rara tidak percaya diri untuk tampil di depan Bastian dengan pakaian itu
Padahal ia seorang wanita yang sangat cantik dengan tinggi badan 168cm, memilki tubuh yang semampai, perut yang sangat langsing, kulitnya putih langsat dan matanya bulat dan pinggulnya berisi.
Pernah sekali ia berpenampilan feminim ke undangan teman suami Sukma , banyak yang mengira ia saudara kembar Nia ramadani sekilas memang mirip, hanya sekali itu dulu ia mau memakai longdress, itupun hasil pemaksaan Sukma sahabatnya.
Dulu sukma selalu bilang iri dengan tubuhnya, dan ia bilang kalau tubuhnya seperti Rara, ia mau buat semua lelaki pada ngiler termasuk membuat suami Sukma cemburu.
Tapi tidak untuk seseorang Rara, ia selalu membunyikan kecantikannya di balik baju-baju longgar yang ia pakai, dan lebih nyaman berpenampilan seperti laki-laki , dengan begitu tidak ada lelaki yang meliriknya dan menginginkan tubuhnya.
__ADS_1
Walau pada akhirnya ada lelaki yang menyukainya dengan segala bentuk dan penampilannya dan sikap cueknya.
Maka boleh di bilang. Bastian lah lelaki yang pertama yang akan menyentuh dan menjamahnya seutuhnya.
Rara masih memutar-mutar tubuh cantiknya di pantulan kaca lemari di kamar Rara.
“Gila, apa Sukma menyuruhku memakai baju sialan ini,” ujar Rara dengan suara kecil. Dengan mata besar semakin melotot.
Di Saat ia sedang menjajal pakaian itu, terdengar pintu kamar Bastian terbuka, sepertinya ingin pergi, Rara takut Bastian pergi dengan keadaan marah dan meninggalkannya. Ia menyambar baju tidur berbentuk piyama, dengan buru-buru ia mengingkatkan talinya.
Ia berlari kecil dari kamarnya, takut Bastian pergi .
Ia mematung di depan pintu kamarnya setelah menyadari Bastian tidak pergi kemana-mana ia hanya menonton Televisi.
Tapi untuk pertama kali baginya melihat Bastian merokok. Ia tau kalau suaminya benar-benar stress. Karena sebagian lelaki menjadikan benda berasap itu sebagai pelarian saat banyak pikiran.Bastian bukanlah seorang perokok tetapi, karena ulah Rara tepaksa ia menghisap benda perusak paru-paru tersebut.
Rara masih berdiri samping Bastian, detak jantungnya saling bersahut-sahutan. Mata besarnya melirik suaminya dengan ragu dan takut-takut. Bastian terlihat cuek seolah ia tidak ada di sana. Matanya fokus menatap layar televisi yang berukuran jumbo itu.
Bastian menonton pertandingan bola klub favoritnya Manchester United Vs Manchester City.
Rara menahan diri, lelah berdiri ia memutuskan ikut menonton pertandingan bola, menemani suaminya walau ia tidak begitu suka menonton pertandingan bola. Tetapi demi berbaikan dengan Bastian ia mengorbankan waktunya sebentar.
“Apa kamu ingin aku buatkan susu sangat, Tian?” Tanya Rara, mencoba mencairkan suasana .
“Tidak usah,” Bastian hanya menoleh sebentar dan kembali berfokus pada layar televisi.
“Apa, buah saja?” Rara mencoba menawarkan pilihan lain, berharap lelaki tampan itu menjawab iya, dan menghadiahinya senyuman manis seperti biasa .
“Tidak usah” Bastian benar-benar marah.
‘Apa aku haru menyerah saja dan tidur dan biarkan semuanya berlalu, dan menerima semua konsekuensinya? apa begitu saja?’ Rara bermonolog sendiri dalam hatinya.
__ADS_1
Tetapi ia pergi ke dapur memotong beberapa buah dan tidak lupa juga dua gelas susu hangat.
Ia meletakkannya di meja di mana Bastian menonton. Tetapi Bastian tidak menyentuhnya mengabaikan Rara. Ia berharap menyerah dan tidur, tapi tidak. Rara kembali ikut duduk menemaninya menonton.
Hingga terlalu lelah menunggu hampir satu jam duduk dan merasa di abaikan. Ia tertidur di samping Bastian kepalanya miring dan terjatuh di pundak Bastian, ia ingin melihat reaksi suaminya .
Bastian diam membiarkan kepala Istrinya bersandar di pundaknya untuk beberapa saat. Bastian juga menyantap buah yang di buat Rara, ia tidak ingin mengecewakan istrinya.
Hingga akhirnya memegang kepala Rara meletakkannya di pangkuannya, dan matanya terfokus kembali ke layar televisi.
Rara tersenyum, ia sempat berpikir kalau Bastian akan mengabaikannya dan mendorong kepalanya tetapi nyata tidak.
‘Aku sayang padamu Bastian’ ucap Rara dalam hatinya dan melirik jangkung Bastian.
Hingga bola selesai Rara masih pura-pura tidur.
“Rara, Ra bangun!” Bastian menepuk-nepuk lembut pipi istrinya.
Ia ingin menggendongnya ke kamar.
“Bastian jangan tinggalkan aku,” ucap Rara tiba-tiba dengan mata sendu.
”Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)