
Bab 81
Melihat rumahnya dari kamar hotel. Hati Rara tiba-tiba rindu keluarganya awalnya ia hanya berdiri , menatap lampu jalanan karena cantik di lihat dari ketinggian, tetapi ia melihat ke arah rumah.
“ Apa aku memperkenalkan Bastian pada keluargaku? Mungkin ibu tau aku menikah dengan lelaki hebat dan kaya seperti Bastian, Ibu mungkin memaafkan, Babeh ama engkong mungkin merasa bahagia jika mendengar aku sudah menikah dengan orang kaya dan mereka tidak malu lagi sama tetangga karena aku”
Rara berpikir akan memperkenalkan Bastian pada keluarganya ia ingin ibunya tidak marah lagi padanya dan bisa memaafkannya dan menerimanya kembali.
Tapi masalahnya. “Apa Bastian akan Mau?”
Mengenalkan suaminya pada keluarganya, tetapi Rara berpikir lagi Tetapi bagaimana Ibu Bastian akan lebih marah lagi nanti?
Rara berpikir ibunya pasti akan bangga dan ia tidak malu lagi pada tetangga, “Mungkin emak pasti menerimaku dengan baik jika besok Bastian mau aku ajak kerumah orang tuaku,” sungguh sangat berharap, kalau besok pagi Bastian mau menemui keluarganya dengan begitu, ia bisa berbaikan dengan keluarganya,
Saat Bastian tidur dengan nyenyak, Rara bahkan tidak bisa tidur, gelisah menunggu hingga pagi, ia hanya berputar- putar seperti seorang penjaga tidur, dan penjaga nyamuk untuk suaminya . Ia tidak bisa tidur bukan karena gagal melakukan malam pertama. Tetapi ia bingung memikirkan tanggapan keluarganya saat ia memutuskan menikah diam-diam. Ia juga tidak tenang memikirkan bagaimana reaksi Ibu Bastian, karena ia tahu kalau Hartati wanita yang jahat dan nekat.
Saat Bastian menendang selimutnya, ia kembali menyelimuti, begitu saja sampai pagi,
Kepalanya merasa pusing, karena semalaman tidak bisa tidur
Pukul 06:00WIB
Rara membangunkan Bastian karena, biasanya bangun jam segitu tiap hari.
“Selamat pagi,” sapa Rara dengan senyuman manis, karena ia ada maunya dari sang suami.
Bastian menyengitkan kedua alisnya, saat melihat sikap manis Rara, ia belum yakin dengan apa yang ia dengar dan apa ia lihat. Ia mengejap-ejapkan matanya, mencoba memulihkan kesadaran.
“Rara?” Alis Bastian semakin naik saat melihat Rara yang bertingkah sangat manis pagi ini. Rara terlihat sangat cantik dan manis dengan gaun yang di berikan Asistennya tadi malam.
“Selamat pagi juga sayang, maaf tadi malam aku ketiduran, melewatkan hari yang penting ,” Bastian memamerkan deretan giginya yang putihnya pada Rara “Tetapi, kalau kamu mau … kita bisa kok melakukannya pagi ini,” ucap Bastian ia merayu Rara.
“Kamu sepertinya masih capek, tunggu tenaga kamu pulih dan badan kamu vit baru kita bicara lagi,” Rara terlihat sangat berbeda pagi itu, bibirnya selalu mengobral senyum manis pada Bastian suaminya
“Sana mandi dulu, aku sudah memesan makan sehat untukmu.” Rara berubah jadi wanita yang wanita yang perhatian,
“Apa ada sesuatu yang baik?” tanya lelaki berwajah tampan itu menyelidiki tubuh istrinya. Bastin belum terbiasa dengan sikap manis yang di berikan
__ADS_1
Rara padanya, membuat hatinya bertanya-tanya.
“Temanin aku mandi, ayo,” ucap Bastian, niat hatinya hanya memastikan sikap Rara yang sebenarnya, tetapi siapa sangka wanita cantik itu setuju.
“Tapi, aku hanya menggosok punggung kamu saja iya, karena aku sudah mandi, Rara Bastian tidak percaya dengan sikap manis yang di berikan Istrinya .Ia bahkan mencubit lengannya sendiri
‘Ini bukan mimpi,, ini beneran Rara, apa dia berubah?’
Bastian bersemangat masuk ke kamar mandi, berharap apa yang ia lewatkan tadi malam bisa ia tuntaskan pagi ini.
“Sini gosok punggungku.” Bastian duduk di dalam bak mandi.
Rara menggosok punggung Bastian, tetapi tidak seperti yang di harapkan, ia tidak membuka pakaian.
“Ra, ayo mandi lagi.” Memegang tangan Rara membimbingnya untuk masuk ke dalam bak mandi.
Rara bersikap baik dan menurut , ia tidak ingin membuat Bastian kesal.
Karena ia punya tujuan ia ingin membujuk Bastian menemui keluarganya dulu.
“Kamu harus mandi dulu, aku sangat lapar,” ujar Rara menolak halus keinginan Bastian.
“ Ayo kita lakukan di sini saja,” bujuk Bastian menarik tangan rara lagi.
“Aku lapar bangat Bastian,” ucap Rara.
“Baiklah.” Bastian walau hasratnya sudah sempat ke ubun-ubun.
Keluar dari mandi hanya melilitkan handuk di pinggangnya, lagi-lagi ia berharap Rara memeluknya tetapi Rara hanya tersenyum senyum manis dan kembali dan menatap layar televisi,
Melihat Rara tidak ada niat melanjutkan ronde kedua, ia memakai bajunya dengan dengusan jengkel, terdengar seperti anak kucing yang bersin,
Aku berharap kita akan menghabiskan waktu hari ini di dikamar saja, merebahkan tubuh ,menonton, aku tidak ingin keluar dari kamar ini hari, tidak ingin melakukan apapun selain rebahan dan bermanja-manjaan.”
Mendengar itu Rara mengurungkan niatnya untuk mengajak Bastian bertemu keluarganya.
Sebenarnya ia juga merasa tidak percaya diri mengajak lelaki itu berkunjung kerumahnya,
__ADS_1
Karena lingkungan tinggal Rara termasuk lingkungan tidak layak, padat penduduk, bahkan bisa di kategorikan tempat kumuh dan banyak anak-ank muda yang pengangguran yang berkeliaran.
Tapi di satu sisi, ia merasa Bastian pasti mau karena ia merasa lelaki itu , tidak lagi memandang memandang status sosialnya, karena sudah menjadi istri.
“Ra, sini kenapa kamu ngelamun, sini.”Bastian menepuk sofa , Bastian sudah berpakaian rapi, ia tampak sangat tampan memakai kemeja berlengan panjang berwarna merah.
“Aku hanya ingin melihat pemandangan indah” Rara masih menatap ke arah rumah keluarganya.
“Aku ingin memelukmu”
“Jangan bilang kamu ingin itu …?”
“Iya, aku berhak, kan, karena kamu suamimu”
“Sayang sekali, kita tidak bisa melakukannya saat ini Bastian, karena aku lampu merah.” Rara tertawa.
“Haaa serius … Bohong, kamu pasti menghindar” Rara mengarahkan tangan Bastian pada roti lapis yang ia pakaikan di dalam celananya,
“Sudah percaya, aku sudah pakai roti lapis tiga sekaligus,” ucap Rara dengan mimik wajah serius.
“Ah gagal lagi dong.” Bastian menenggelamkan kepalanya di bantal lalu
memukul –mukul kepalanya ke bantal, ia kecewa karena malam pertama yang ia inginkan tidak akan terlaksana dalam waku dekat, karena Rara lagi halangan.
“Sabar pasti ada waktu yang tepat, aku ingin mengajakmu jalan” ujar Rara , berharap Bastian mau diajak ke rumah orang tuanya.
“Aku tidak bersemangat hari ini, aku tidak ingin kemana-mana aku mau tidur saja di kamar,” ucap Bastian, ia terlihat tidak bersemangat.
Rara hanya diam, melihat Bastian tidak bersemangat, ia tidak berani mengajak Bastian ke rumah orang tuanya.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya keempatku, tolong tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)