Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Bastian gelap mata


__ADS_3

Matanya memerah dan akhirnya menangis memeluk benda kecil dan hasil usg di dadanya.


Ia bahagia karena Rara hamil, tapi ia takut karena Rara sudah mengusirnya tadi.


Tidak..tidak, ia anakku, kamu tidak boleh memisahkan aku dan calon anakku Ra. Bersabarlah sayang, jaga dia, aku akan memperbaiki apa yang sudah aku mulai.kata Bastian dalam hatinya.


Ia duduk di lantai di unjung tempat tidurnya, masih memeluk kado yang di akan di berikan Rara padanya, ia menggigit kepalan tangannya dengan airmata yang tidak mau berhenti.


Ia menangis tanpa suara,tangannya memegang kepalanya.


Bahunya terguncang-guncang , ia akhirnya menyesali semua keputusannya ,ia pilih, menyesali dirinya telah meninggalkan Rara. Kini wanita itu menjauhinya karena kedua orang tuanya.


Andaikan ayahku dulu tidak berselingkuh dan punya anak dari wanita lain, hidupku tidak menyedihkan seperti ini kata Bastian dalam hatinya.


Bastian tidak sedikitpun pernah merasa kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya. Ia dan keluarganya bergelimang harta, tapi ia tidak merasa bahagia. Tapi saat Rara datang dalam kehidupannya ia merasakan banyak hal dan mendapat kasih sayang dari Rara dan keluarganya , tapi sepertinya ibunya tidak menginginkannya bahagia .


Jika di suruh melepas harta dan hidup sederhana dengan Rara ia mau, tapi sayangnya ibunya menyeret hidupnya dalam penderitaan, Ibu menjadi manusia yang selalu tidak pernah merasa puas.


Bastian tidak bisa mengacuhkan wanita itu, karena ia ibu yang melahirkannya


Tapi kalau sudah seperti ini apa yang ia harus lakukan ? ia akan kehilangan Istri dan anaknya kerena ibunya.


Ia dituntut menentukan pilihan saat itu, apakah ibunya atau Istri dan anaknya kerena keduanya tidak bisa berdampingan sekaligus


Tidak! Ini tidak boleh terjadi kata Bastian mengambil ponselnya dan menekan nomor Rara.


Ia menelepon Rara tapi wanita itu tidak menjawabnya.


Ia merasa harus bertemu dengan Rara ia ingin menanyakan kenapa Rara berbohong padanya . ia berpikir ia berhak tau karena ia adalah bapak dari janin yang di kandung Rara, dan ia juga masih berhak, karena Ia masih suaminya.


Ia mengambil lagi kunci mobilnya dengan sikap buru-buru, ia harus bicara dengan Rara, ia ingin bilang kalau ia punya bukti tentang kehamilan Rara, ia ingin bertanya kenapa Rara berbohong padanya.


Ini semua karena ibu dan ayah membuatku hidupku tidak berguna seperti ini gerutunya dengan kesal.

__ADS_1


Ini semua karena kelakuan ibu, karena ibulah Rara membenciku dan mengusirku dari kehidupannya, apa kah ibu puas sekarang saat Rara membuangku?


Mungkin ibu senang bila melihatku mati, katanya ia menuju Rumah sakit di tempat dimana Rara di rawat.


Sayang Rara juga sudah meninggalkan Rumah sakit.


Langkah kakinya tergontai-gontai, saat ia berlari ingin menemui Rara, wanita itu sudah pergi, pergi menjauhinya, bahkan ia tidak mengangkat telepon dari Bastian.


Bastian belum mau menyerah ia mencari istrinya.


Matahari bersinar semakin terik, bahkan terasa sangat menyengat kulit, siang itu Bastian mencari Rara, ia ingin bilang kalau ia sudah tau kebenaranya, ia ingin meminta maaf dan membawa Rara kembali ke apartemen . Mencari ke kantor, kerumahnya yang ada di cibubur tetap tidak ada, bahkan rumah Rara ada tulisan di dikontrakkan, ia memutarkan kembali kendaraanya ke Kantor Rara, tapi menurut petugas pos kemanan Rara sudah dua hari tidak masuk kantor.


Ia terlihat lesu tidak bertenaga lagi, hari sudah mulai sore, ia masuk lagi kedalam mobilnya dan meletakkan kepalanya di setir mobilnya.


Memukul setir dengan kesal, matanya sayu, wajahnya pucat karena sejak pagi ia belum memasukkan apapun untuk di giling perutnya hanya sebotol air mineral yang mengisi lambungnya.


“Aku bisa gila kalau begini, kemana sih, kamu Ra?” kata Bastian berucap sendiri dan memegang kepalanya dengan kesal. Ia merasa kepalanya ingin meledak.


Ia menelepon Erik dan Bam-bam untuk menemaninya.


Ia memutar kendaraanya lagi dan masuk ke tempat salah satu hiburan malam, ia tidak mampu memikul masalah sendiri melarikan diri menenggelamkan dirinya dalam minuman yang memabukkan itu, berharap ia mampu melupakan masalah hidupnya.


Seperti kebiasaan para lelaki jika mereka ada masalah tangga, ujung-ujungnya mencari pelarian


Ia sudah tiba disalah satu tempat hiburan.


Entah berapa banyak yang sudah di minum, ia mulai mengoceh memanggil nama Rara, ia meranjau dan berceloleteh dengan banyak hal.


Erik dan Bam-bam hanya bisa mendengarnya dan berusaha menghentikannya


“Kamu sudah mabuk bro, biar aku antar pulang,” temanya yang bernama Erik menawarkan diri


“Tidak, tidak aku bukan lelaki lemah,” katanya dengan mata yang sudah terlihat mulai merah, akibat mabuk

__ADS_1


“Jangan gitu bro, loe gak bakalan bisa nyetir dengan keadaan seperti itu,” Lelaki bertubuh gempal itu juga menasehatinya.


“Loe, juga menganggap gue lemah? Kalian semua berpikir kalau gue lelaki yang tidak punya pendirian!,Ha?.” Ia marah, dan mengoceh banyak hal seperti burung beo.


“Ayo,” kedua temannya berniat mengantarnya, tapi lagi-lagi Bastian marah


“lihat.. lihat.! aku sebentar lagi akan menjadi seorang bapak,” katanya dengan menunjukkan hasil usg itu. Sekarang mereka berdua paham, apa yang membuatnya, berakhir di tempat itu ia tau karena ibunya tidak menyukai istrinya, akhirnya istrinya harus meninggalkannya


“Baiklah, jangan terlalu mabuk ,kamu bahaya kalau sudah mabuk,” kata Erik, mereka sudah mulai khawatir


“Jangan menganggap gue lemah juga, gue tidak apa-apa,” ia menolak di antar kedua temanya, ia mengendari sendiri mobilnya.


Erik dan Bam-bam terlihat sangat khawatir, tapi Bastian menolak tawaran untuk mereka antar pulang.


Bastian memang sangat keras kepala teman-temanya juga tidak ada yang mampu membujuknya, hanya Rara yang bisa membuatnya jinak.


Mobil Bastian melaju membela jalanan malam ibu kota. Malam sudah mulai larut , ia menjalani hari yang melelahkan,


Ia mengejap-ejapkan matanya, dan memukul-mukul pipinya mencoba membuat dirinya tetap tersadar. Ia mencoba merogoh kantongnya mencari obat gosok untuk membantunya tetap terjaga , saat ia merogoh kantung jaketnya, ia tidak menemukan apa yang ia cari.


Tapi tangannya malah menarik gambar USG calon anak mereka, ia menatapnya dengan tatapan sedih


Hatinya sedih, bercampur kecewa , kecewa pada ibunya dan marah pada Rara. Ia ingin melampiaskan kemarahannya malam itu, ia menginjak pedal gas mobil itu dengan kuat hingga mobil itu melaju seperti ingin terbang


Kecepatan 150KM/Jam, melebihi batas maksimum. Bastian sepertinya sudah gelap mata. Belum lagi karena pengaruh alkohol


Hingga tiba di sebuah belokan , ia semakin gila, hingga suara dentuman keras terdengar dan suara orang-orang berhamburan menghampirinya. Ia menabrak pembatas jalan dengan begitu kuat, hingga terdengar suara dentuman keras.


Mobilnya terbalik dan Bastian terlihat terluka parah dengan posisi kepala di bawah dan tangannya memegang erat gambar berwarna hitam itu gambar usg anaknya.


Hingga mata itu tertutup dan noda berwarna merah itu membanjiri wajahnya kepala terluka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2