
Ia memunguti sampah yang berserakan itu sampai bersih, setelah itu, ia mulai tidur di sofa sesuai permintaan Rara.
Rara sengaja melakukanya karena ia tau Bastian tidak suka yang kotoran-kotoran, ia sengaja melakukanya agar Bastian memungutinya dan membersihkannya.
Wanita hamil selalu benar dan harus di turuti
Ia melihat suaminya mulai tidur, Rara sangat jahat malam itu pada Bastian.
“Aduh, aduh, sayang! bangun dong,”
“Ada apa Ra?” Wajahnya panik
“Ada apa, apa yang sakit?” tanya Bastian, duduk mendekat
Mata Bastian, mata itu terlihat belum terbuka sempurna, menahan kantuk, hingga mata itu terlihat mengecil berat di ajak melek.
“Betisku sakit, tolang urutin ,” kata Rara.
“Ha, itu saja Ra, aku kirain apa,” kata Bastian memukul kepalanya di sisi kasur, ia berpikir terjadi sesuatu pada perut Rara.
“Ini sakit,Tiaaan! sakit bangat, aku naik betis,” kata Rara. sedikit lebay.
“Terus, aku harus ngapain?” Tanya Bastian dengan mulut tidak berhenti menguap.
“Urutlah, sayang..ini sakit,” kata Rara bernada manja.
Dengan sabar lelaki berwajah tampan itu mengurut , kaki Rara. Ia tidak tau kalau Rara membalasnya dan mengerjainya .
“Sudah, iya’ aku sangat mengantuk,” matanya sedikit memelas.
Tidak bakalan sayang, siapa suruh kamu marah-marah padaku, apa yang aku alami selama kau tidak di sampingku, akan kau rasakan kata Rara dalam benaknya otak liciknya terus bekerja.
Bastian mengurut-urut kaki kanan dan kiri Hingga kepalanya mengangguk-angguk karena menahan kantuk
“ Ah pinggangku panas, urut juga pinggang,” kata mengarahkan punggungnya.
“Ha lagi, ini sudah jam satu Ra, tidak bisa kita lanjut besok saja.” Mata Bastian sudah benar-benar sangat berat.
“Kamu pikir aku bisa tidur, kalau sudah seperti ini? Pinggangku panas Bastian, dan kulit perut seolah di tarik paksa seperti balon yang di tiup,” kata Rara.
__ADS_1
“Baiklah sayang, aku akan mengurutnya,” katanya, ia benar-benar menuruti apa ya g di katakana Rara
“Ambilkan aku air minum, tapi yang hangat iya,” pinta Rara
Untuk sesaat Bastian bengong, otaknya sepertinya belum merespon.
Ia berdiri lagi menuju dapur, mengambilkan Rara minum.
“Apa seperti ini punya istri sedang hamil? ini luar biasa capeknya serasa aku di kerjain,” kata Bastian berucap sendiri tersenyum kecut.
Tangannya membawa minum, di letakkan di nakas kecil di samping Rara.
Rara masih duduk memegang betis kakinya yang katanya sakit karena naik’
“Sudah iya , Ra, mari kita tidur, aku sudah tidak tahan lagi,” kata bastian dengan menguap beberapa kali.
Selamat datang di dunia orang bunting Bastian! Malam ini, aku pastikan kamu tidak akan tidur dengan nyenyak kata Rara dalam benaknya,
“Belum,Tian, ini kakinya belum sembuh masih sakit aku tidak akan bisa tidur.” kata Rara mulai dengan rengekan manja, ia tidak peduli suaminya sudah mau pingsan karena di kerjain habis-habisan olehnya.
“Baiklah disini kakinya, tapi kamu tidur saja,” kata Bastian di penghujung kesabarannya. Sudah pagi tapi tangannya masih mengurut punggung dan kaki Rara.
Hingga Rara benar-benar ter tidur, ia juga sebenarnya merasa lelah, tapi karena rasa kesal pada Bastian membuatnya bertindak tega seperti itu.
Ia akhirnya melihat apa yang di bilang supirnya melihat orang hamil tidur terlihat kasihan.Ia memberinya bantal di bawah perutnya, ia baru sedikit merasa nyaman tidurnya.
Melihat Ara sudah tidur mengambil kesempatan ia juga tidur disampingnya memeluknya, meletakkan tangannya di atas perut Rara. ada gerakkan lembut yang menyentuh tangannya membuatnya tersenyum, mengelus perutnya ia tau ada darah dagingnya di dalam perut wanita itu.
Ia memastikan Rara tidur dengan nyaman menyelimutinya dan memberi bantal di bawah perutnya , pada jam tiga pagi akhirnya ikut tertidur memeluk tubuh dari belakang ia menghirup bau tubuh Rara , Bau yang paling ia suka dan pernah bisa ia lupakan.
Layaknya orang hamil Rara tidak akan bisa tidur dengan nyaman dengan posisi tubuh miring ia membalikkannya lagi.
Bastian ada tidur di sampingnya ,Rara menatap wajah tampan lelaki itu, hidungnya tidak terlalu mancung tapi bibir itu sedikit tebal tapi bewarna merah karena Bastian tidak perokok, hanya beberapa kali saja.
Terkadang orang hamil itu manja dan cenderung mudah menangis dan cepat sedih, tapi kalau Rara cepat marah dan mengerjai orang lain.
Rara masih menatap wajah suami tampannya. tidak diduga Bastian juga membuka mata, mata mereka berdua saling beradu. Rara yang merasa kepergok mengejap-ngejapkan matanya.
Ingin membalikkan tubuhnya, tapi tangan Bastian menahan pinggangnya,
__ADS_1
“Tetap seperti ini, aku ingin melihat wajahmu dengan tenang, tanpa ada kemarahan disana,” kata Bastian menatap langsung kedalam matanya
“Apa kamu masih ingin menghukumku?.” Bastian bertanya.
Rara hanya diam menutup matanya , ia membiarkan Bastian bicara sendirian
“Apa kamu mengabaikanku dengan pura-pura tidur?”
Tanya Bastian mengusap pipi Rara dengan lembut.
“Aku lagi tidak suka melihatmu, bisa kamu pergi lagi ke sofa sana ?” Rara menyuruhnya mengungsi lagi.
“Tadi tidak apa –apa Ra, kok sekang malah mengusirku lagi,” kata Bastian wajahnya mengkerut.
“Kami berdua lagi tidak ingin dekat-dekat dengan kamu, aku jadi kebangun gara-gara mencium bau tubuh kamu,” kata Rara ia mengusir suaminya untuk tidur di sofa.
“Baik, baik aku pergi,” Bastian berdiri membawa bantal, wajahnya benar-benar cemberut, ia menghempaskan badannya dengan kesal di atas sofa.
Iya ampun ia megerjaiku dari siang sampai pagi ini, kata Bastian dalam hatinya
Saya sudah bilang kamu akan mendapat balasan dariku Bastian, siapkan hatimu dan lapangkan dadamu, bukan hanya kamu yang kita balas nanti Ibu mertua akan kita kerjain juga: haaaa haaa Rara tertawa licik.
Aku Ratunya sekarang kata Rara.
Hingga pagi pun datang menyapa, mentari pagi sudah datang mengintip dari sela gorden kamar Bastian. Seolah menertawakan Rara, karena matahari lebih dulu bangun dari padanya , Rara menarik gordennya.
Bastian meyedibkan wajahnya, karena terik mentari pagi itu menyilaukannya, ia merasa terganggu
“Ra, boleh kamu tutup lagi gordennya, aku masih mengantuk,” katanya , ia menenggelamkan wajahnya di bawa bantal di atas sofa.
Rara benar-benar, membiarkannya tidur di atas sofa .
“Kami berdua lapar,” kata Rara melapor.
“Ada Bibi di bawah. Sayang, minta bibi saja apa yang kamu mau, aku masih pusing karena kurang tidur kata Bastian sedikit memohon.
“Oh, tidak bisa kita berdua maunya,kamu sayang,” kata Rara mulai merayu
Bersambung....
__ADS_1
Halo kakak up lagi bantu kasih bintang dong
Beri masukannya di komentar ya.