
“Ohhh gila, bagaimana ini” Ia mondar- mandir
Jenny terlihat pucat, ia menduga hal yang buruk akan terjadi, kemana ia harus mengadu, siapa yang akan menyelamatkannya.
Tangannya bergetar memikirkan hal itu, ia menatap Daniel, ingin menyalahkannya tapi tidak ini bukan salahnya ini salahku.
“Oh tidak…!”
“Lakukan sesuatu..bodoh!” katanya dengan pelan, ia mematung meremas jemarinya ia akan bersiap akan situasi darurat.
Daniel berlari mencari apotek, ia tidak tau obat apa nantinya yang ia sebutkan dan bagaimana menjelaskannya , tapi setidaknya ia harus mencobanya.
Jenny mulai merasakan hawa panas dalam tubuhnya, ia berlari dengan panik ia berpikir lebih baik ke kamarnya, ia berpikir akan mengunci kamarnya nanti.
Ia merasakan sesuatu mulai menggelitik tubuhnya. Gerakan tubuhnya mulai aneh.
“sieeet jangan sekarang, ini hari yang apes,” kata Rara saat ia ingin naik ke kamarnya, di depan lift Bastian berdiri menunggu lift juga.
Dengan usaha keras ia mencoba menahan gejolak dalam tubuhnya dan mencoba berjalan normal agar Lelaki itu tidak mencurigainya.
“Apa kamu mau naik juga?,” tanya Bastian.
Hanya menatapnya sekilas, karena ia sibuk menatap layar ponselnya berbalas pesan dengan seseorang sepertinya.
Oh tolong…tolong ,aku tidak tahan lagi kata Rara, ia menjepit pangkal kaki bagian atasnya, tangannya mulai tidak terkontrol , tangannya menggerayangi lekuk tubuhnya.
Tit...
Lift terbuka. Bastian masuk, tapi Jenni masih berdiri , nafas mulai memburu keringat mulai membanjiri keningnya.
“Kamu tidak masuk?” Bastian menatapnya dengan mata menyepit, menyadari penampilannya yang mulai acak-adul
Tit...
Lift tertutup, Jenny tidak ikut masuk, ia berlari menuju tangga darurat Hotel, ia berlari menaiki tangga, ia merasa lonjakan jantungnya, ingin meledak, karena ia memaksa berlari berniat mengalihkan efek obatnya.
Dengan nafas ter engah-engah, ia berhenti, tidak tahan lagi, ia meremas tangga besi. Ia meringkuk dengan tubuhnya bergerak tidak terkontrol, ia merasakan panas dari tubuhnya mulai menjalar ke seluruh bagian tubuhnya, bagian intinya berdenyut.
__ADS_1
“Seseorang tolong aku, siapapun.. aku tidak tahan lagi, ini menyiksaku,” kata Jenny. Dengan nafas berat
Tubuhnya semakin tidak terkontrol dan tangannya masuk ke celah bajunya, mencari benda miliknya sendiri dan meremasnya.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Aaaah…aaaaah, tolong aku, aku tidak tahan lagi,” kata jenny memohon pada yang punya suara, agar menjamah tubuhnya, untuk menyelamatkan dari siksaan itu.
Laki-laki asing itu mengulurkan tangannya, Jenny menghamburkan dirinya ke pelukan lelaki itu , merangkul tangganya di leher si pria.
Sebelumnya. Daniel berlari tapi ia tidak menemukan apotek, ia malah menabrak Rain ia juga anak buah Rara, lelaki berbadan besar itu menatap Daniel yang terlihat sangat panik.
“Ada apa, kamu kok buru-buru?”
“Gawat,” katanya dengan pundak naik turun.
“Ada apa?”
“Kak Jenny, ia butuh bantuan kamu, tolong temuin dia."
Rain terlihat bingung ” Ada apa sih, bicara yang jelas?” katanya Rain.
“Ia salah minum obat, ia minum obat perangsang milikku, tolong selamatkan ia sebelum melakukan kesalahan besar,”
kata Daniel jarinya menunjuk kamarnya.
Rain sudah lama menaruh rasa suka sama bosnya, tapi ia tidak berani mengungkapkannya. Ini akan rezeki noplok baginya bisa menikmati tubuh perempuan cantik itu dengan gratis dan ia akan di anggap jadi penyelamatnya, bagi Bosnya nantinya.
Rain langsung berlari mencari Jenny,
Wah.. malam ini, akan jadi keberuntungan besar buatku, tidak perlu melakukan apa-apa, tapi ia berpikir Jennylah yang akan berlari padanya, karena ia memang sangat menginginkannya, kalau tidak, ia akan merasakan sakit yang luar biasa pada tubuhnya kalau ia tidak dapat menuntaskannya.
Itu akan jadi sepertinya siksaan baginya jika tidak dapat pelampiasan saat itu juga. Rain tambah bersemangat membayangkan hal itu.
Dalam ruangan yang penerangannya minim, Jenny ******* bibir lelaki itu dengan sangat agresif, ia menanggalkan semua kain yang menutup bagian tubuhnya, dengan erangan-erangan liar keluar dari bibirnya, dengan sikap buru-buru ia membantu lelaki itu membuka semua penghalang di tubuh lelaki kekar itu, ia tidak sedikitpun membuka matanya, itu tidak penting, siapapun lelaki itu, hal yang penting saat ini ia menyelesaikan siksaan itu.
Hingga semua terlepas, ia merasakan kulit keras dari lelaki itu menyentuh kulitnya. Dadanya sangat bidang otot tangannya sangat kerasa bahkan otot perutnya juga keras hemburuan nafasnya berbau vodka nafas segar menyusuri kulit lehernya.
__ADS_1
Untuk sesaat lelaki itu hanya diam membiarkan Jenny bermain di tubuhnya, tapi saat ini lelaki itu menyambutnya membalas serangan yang membabi buta dari Jenny.
Ia menyusuri leher Jenny, memberi sentuhan sentuhan di area itu. ia menghisap dan mengigit, meninggalkan banyak tanda, sepertinya lelaki itu ingin jenny mengingat malam panas itu, terlihat dari banyak tanda-tanda merah di seluruh tubuhnya.
“Lelaki itu dengan rakus melahap benda sintal miliknya. Jari-jarinya yang kuat dengan keras meremasnya-remasnya Jenny semakin menggeliat dengan erang-erangan panjang dari bibirnya.
Jenny kembali mengerang, meremas ujung seprai, dadanya naik turun.
Hingga keduanya kelelahan dan lemas dalam satu malam itu, entah berapa kali mereka melakukanya, ia tidak menghitungnya reaksi obat dalam tubuhnya membuatnya menjadi wanita level paling rendah, serendahnya malam ini, ia tidak tau bagaimana ia nanti mengatasinya.
Kini ia merasakan bagian bawahnya sakit perih dan seluruh badan sakit meninggalkan tanda- merah di mana-mana. Ia mengerakkan tubuhnya, ia merasakan sakit di bagian pangkal pahanya kebas dan nyeri.
Ia belum menyadari apa yang terjadi malam itu, yang pasti, ia merasa kepalanya pusing dan tubuhnya sangat berat bagai di pukul dengan balok.
“Oh apa yang terjadi, kenapa badanku sakit?”
Ia mengerakkan kakinya, kakinya menyentuh kepala seseorang, ia meraba-raba dengan jempol kakinya.
Ah.. ini kepala siapa?
Ia menoleh ke bagian tubuhnya, ia mulai panik saat menyadari tubuhnya polos tanpa satu benang menempel di tubuhnya
Rasa panik itu semakin bertambah, saat ia menyadari kalau kamar itu bukan kamarnya.
“Oh… iya ampun mati aku,” katanya, berucap pelan.
Ia menoleh kebawah kakinya, seseorang yang masih tidur telungkup memperlihatkan bagian belakangnya, Tubuh lelaki asing pun sama sepertinya polos bak bayi baru lahir.
Jam 05:06 waktu China
Ia mencari pakainya dengan cara berjalan pelan-pelan, ia melirik wajah lelaki itu.
“Ooop” matanya tiba-tiba membulat. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya, ia hampir menangis.
Dengan buru-buru ia memungut pakaiannya tanpa mengeluarkan suara
ia memakai pakaiannya kembali, matanya masih mengawasi lelaki asing itu.
__ADS_1
Dengan kaki berjinjit, ia berjalan pelan, ia meninggalkan kamar itu.
Bantu vote, share, subscribe dan kasih bintang dan bantu review juga, beri komentar dan masukannya iya, baca juga ceritaku yang lain.