
Bukannya hanya Rara yang diurut Bastian juga.
Tetapi lelaki berwajah tampan itu sudah biasa di urut, jadi tidak ada kehebohan seperti yang di lakukan Istrinya tadi, hingga ia juga tertidur
“Pak Tian, Mbok mau kerumah utama, Iya, Tadi di suruh nyoya untuk memberi makan Kitty, kucing oma"
“Baik Mbok hati-hati,” ucap dengan mata berat, tetapi dalam hati ia senang, karena ia dan Rara akan berdua saja dan bebas.
“Mbok sudah memasak tinggal panaskan kalau ingin makan. Oh … lakukan tugasmu dengan baik,” goda si mbok padanya, dengan mata melihat Rara yang masih tertidur, hanya mengunakan segitiga pengaman berwarna hitam,
“Iya mbok,” ucap Bastian tersenyum kecil mendengar candaan pembantunya.
Tidur di samping wanita cantik tidak mengenakan pakaian, siapapun pasti bergejolak. Bastian sangat mengantuk dan tubuhnya juga terasa lemas karena di urut tadi.
Terapi melihat pemandangan yang begitu indah, membuat hasratnya,bangun, mampu mengalahkan rasa mengantuk dan rasa lelahnya.
Ia tidak bisa tidur lagi, ia gelisah belum lagi Juniornya ikut bangun ,seolah-olah berontak ingin dikeluarkan dari sarungnya, kini senjata milik Bastian menegak dengan angkuhnya saat melihat Rara tertidur tanpa berpakaian.
‘Rara istriku tidak ada yang perlu aku takutkan’ Bastian membatin. Mendaratkan bibirnya di bibir Rara.
Rara tidak bisa melihat penderitaan suaminya saat ini, ia merasakan sakit kepala karena menahan hasrat. Bisa saja ia melahap Rara saat itu juga, karena ia sudah jadi istrinya, tetapi ia tidak ingin melakukan hal seperti itu, ia menghargai Rara, ia ingin melakukanya dengan gayung bersambut dari i istrinya.
Tapi saat ia bertahan menahan hasrat. Rara malah tersenyum indah sepertinya ia dalam bermimpi indah mungkin dalam mimpinya ia bertemu dengan aktor –aktor kesukaannya, itulah mungkin yang ia impikan, karena bibirnya sesekali tersenyum sangat manis, kini tubuhnya tidur miring dan sarung yang di tutupkan Bastian di dadanya, melorot memperlihatkan setengah dari gunung miliknya, bahkan badannya yang putih mulus, terlihat sangat jelas,
Rara memiliki pinggang yang sangat ramping dan perutnya sangat rata, padahal seperti diketahui Rara makanya lumayan banyak, entah kenapa perutnya bisa Rata seperti itu.
Bastian sampai duduk, ingin melihat dengan jelas bagaimana tubuh indah yang di miliki istrinya,
Karena beberapa kali ia menyentuh Rara, ia tidak mengingat karena semua faktor mabuk.
Tapi ada satu yamg membuat mata Bastian semakin penasaran ia mendekat. Sebuah luka panjang di pinggangnya, walau luka itu sudah mulai memudar tapi bisa membuat Bastian penasaran dengan mata mendekat untuk melihat.
“Luka apa itu? Pasti dulu lukanya sangat sakit,” ujar Bastian melihat dari sangat dekat.
Ia mendaratkan bibirnya di atas bekas luka panjang itu dengan penuh cinta, tapi tidak diduga tubuh Rara menggeliat. Rara yang gampang merasa geli walau hanya sentuhan kecil sekalipun.
__ADS_1
Ia menggeliat karena sentuhan Bastian hal itu membuat bastian seperti di aliri listrik tubuhnya bereaksi juga , merasa gayung bersambut ia mendaratkan bibir itu lagi.
Sentuhan bibirnya berjalan sampai pangkal pahanya, ia menyusuri setiap lekuk tubuh Rara
Semakin Rara menggeliat, semakin Bastian bersemangat hingga akhirnya ia satu kecupan panas mendarat di lehernya, Bastian memberinya sentuhan –sentuhan tangan dan bibir. Membuat tubuh Rara tidak terkendali, tangan Bastian semakin agresif ia merangkul pinggang ramping istrinya.
“Kamu milikku Ra, aku berhak atas semua yang kamu miliki,” ucapnya menyakinkan dirinya.
Rara hany tersenyum kecil mata masih tertutup hingga sarung itu benar-benar lepas
Bastian melihat pemandangan itu, ia semakin bersemangat menyentuh bagian lembut dari dada Rara, mencengkeram nya dan kini bibir Rara yang lahap olehnya. Bastian semakin menggebu merasa tidak ada hambatan ia menindih tubuh Rara.
Menggigit bibir mungil itu, tubuh Rara merespon, ia menggeliat membuatnya semakin bersemangat, bibirnya turun lagi dari leher, dada, perut, ia memberi sentuhan di atas perutnya dan mengigit dan meninggalkan jejak kepemilikan di setiap tempat.
Tangannya Bastian tidak berhenti, mengusap setiap lengkungan tubuh istrinya
Keringat sudah membanjiri tubuh mereka berdua berbaur dengan minyak urut yang di balurkan si mbok tadi.
Napas kedua insan yang lagi di mabuk asmara itu, saling beradu dan suara dari bibir Rara membuat semangat keperkasaan Bastian semakin terpacu.
Tiba-tiba Rara membuka mata dan terbangun, ia seperti tersadar dari mimpinya, ia duduk dan menutup bagian dadanya.
“Ada apa sayang, apa kamu takut ?” Bastian berhenti sekaligus bingung.
“Tidak ak- belum siap,” ujar Rara wajahnya tiba-tiba panik.
“Loh kok belum siap bagaimana? Ini kan, bukan yang pertama kali untuk kita bukan?” dengan sabar ia mengusap punggung Rara mencoba mengecupnya kembali karena sudah sangat tanggung,
Tapi sikap Rara yang mendadak seperti orang yang yang ketakutan, menolak sentuhan Bastian.
“Kenapa Ra, apa aku membuat kesalahan?” Bastian mulai protes,
“Tidak maafkan aku, hanya a-ku.” Rara sangat gugup dan terlihat seperti orang melakukan dosa.
Bastian bingung dengan sikap Rara, ia berpikir ini bukan pertama kali mereka melakukannya, bahkan sebelum menikah Bastian berpikir ia sudah melakukanya dengan Rara, walau ia tidak mengingatnya karena ia mabuk. Ia tidak tahu kalau Rara membohonginya padahal kenyataannya Rara masih perawan belum pernah melakukannya dengan Bastian bahkan belum pernah dengan siapapun.
__ADS_1
“Ada apa?” Bastian akhirnya marah karena penolakan yang di lakukan istrinya, “ Kenapa kamu menolakku?” Tanya Bastian.
“Aku hanya-aku.” Tangan Rara bergetar ketakutan bahkan wajahnya tiba-tiba pucat.
“Ada apa Ra, kenapa … berikan aku alasannya, biar aku tau di mana letak kesalahanku”
“Maaf”
Hanya itu yang terucap dari mulut Rara, dan kembali ia menunduk seperti menyembunyikan sesuatu yang besar.
Bastian benar-benar sakit hati dengan penolakan yang di berikan Istrinya, pundaknya naik turun, ia keluar dan membanting pintu dengan sangat kuat,
Siapapun akan marah di perlakukan seperti itu, di tolak tanpa ada penjelasan.
Sebagai seorang suami dan seorang laki-laki harga dirinya terluka
Ia pergi ke dapur dan meneguk segelas air putih hingga ludes berharap meredakan hatinya.
“Aku akan mengerti jika dia memberi alasan, kenapa dia menolakku, aku berhak padanya aku berhak untuk tahu apa yang terjadi. Apa dia mempermainkan ku?” ucap Bastian ia uring-uringan di dapur.
Mulai merasa sakit kepala karena hasratnya sudah sampai di ubun-ubun tetapi tiba-tiba Rara menolaknya tanpa memberi penjelasan membuat Bastian salah paham.
”Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1