Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Menahan hasrat karena ditolak


__ADS_3

Bukannya hanya Rara yang diurut Bastian juga.


Tetapi lelaki berwajah tampan itu sudah biasa di urut, jadi tidak ada kehebohan seperti yang di lakukan Istrinya tadi, hingga ia juga tertidur


“Pak Tian, Mbok mau kerumah utama, Iya, Tadi di suruh nyoya untuk memberi makan Kitty, kucing oma"


“Baik Mbok hati-hati,” ucap dengan mata berat, tetapi dalam hati ia senang, karena ia dan Rara akan berdua saja dan bebas.


“Mbok sudah memasak tinggal panaskan kalau ingin makan. Oh … lakukan tugasmu dengan baik,” goda si mbok padanya,  dengan mata  melihat Rara yang  masih tertidur,  hanya mengunakan segitiga pengaman berwarna hitam,


“Iya mbok,” ucap Bastian tersenyum kecil mendengar candaan pembantunya.


Tidur  di samping wanita cantik tidak mengenakan pakaian,  siapapun pasti bergejolak.  Bastian sangat mengantuk dan tubuhnya juga terasa lemas karena di urut tadi.


Terapi melihat pemandangan yang  begitu indah, membuat hasratnya,bangun,  mampu mengalahkan rasa mengantuk dan rasa lelahnya.


Ia tidak bisa tidur lagi, ia gelisah belum lagi Juniornya ikut bangun ,seolah-olah berontak ingin dikeluarkan dari sarungnya,  kini  senjata milik  Bastian menegak dengan angkuhnya saat melihat Rara tertidur tanpa berpakaian.


‘Rara istriku tidak ada yang perlu aku takutkan’ Bastian membatin. Mendaratkan  bibirnya di bibir Rara.


Rara tidak bisa melihat penderitaan suaminya  saat ini,  ia merasakan sakit kepala karena menahan hasrat. Bisa saja ia melahap Rara saat itu juga, karena ia sudah jadi istrinya, tetapi ia tidak ingin melakukan hal seperti itu, ia menghargai Rara, ia ingin melakukanya dengan gayung bersambut dari i istrinya.


Tapi saat ia bertahan menahan hasrat. Rara malah tersenyum indah sepertinya ia dalam bermimpi indah  mungkin dalam mimpinya ia bertemu dengan aktor –aktor kesukaannya, itulah mungkin  yang ia impikan, karena bibirnya sesekali tersenyum  sangat manis, kini tubuhnya tidur miring dan sarung yang di tutupkan Bastian di dadanya,  melorot memperlihatkan setengah dari gunung  miliknya, bahkan badannya yang putih mulus, terlihat sangat jelas,


Rara memiliki pinggang yang sangat ramping dan perutnya sangat rata, padahal seperti diketahui Rara  makanya lumayan  banyak, entah kenapa  perutnya bisa Rata seperti itu.


Bastian sampai duduk,  ingin melihat dengan  jelas bagaimana  tubuh indah yang di miliki istrinya,


Karena beberapa kali ia menyentuh Rara, ia tidak mengingat karena semua faktor mabuk.


Tapi  ada satu yamg membuat mata Bastian semakin penasaran ia mendekat. Sebuah luka panjang  di pinggangnya, walau luka itu sudah mulai  memudar  tapi bisa membuat Bastian penasaran dengan mata mendekat  untuk melihat.


“Luka apa itu? Pasti dulu lukanya sangat sakit,” ujar Bastian melihat dari sangat dekat.


Ia mendaratkan bibirnya di atas bekas luka panjang itu dengan penuh cinta,  tapi  tidak diduga tubuh Rara  menggeliat. Rara yang gampang merasa geli walau hanya sentuhan kecil sekalipun.

__ADS_1


Ia menggeliat  karena sentuhan Bastian hal itu membuat bastian  seperti di aliri listrik  tubuhnya bereaksi juga , merasa gayung bersambut ia mendaratkan bibir itu lagi.


Sentuhan bibirnya berjalan sampai pangkal pahanya, ia menyusuri setiap  lekuk tubuh Rara


Semakin Rara menggeliat, semakin Bastian bersemangat hingga akhirnya ia satu kecupan panas mendarat di lehernya, Bastian memberinya sentuhan –sentuhan tangan  dan bibir. Membuat tubuh Rara tidak  terkendali,  tangan Bastian semakin agresif ia merangkul pinggang ramping istrinya.


“Kamu milikku Ra, aku berhak atas semua yang kamu miliki,” ucapnya menyakinkan dirinya.


Rara hany tersenyum kecil mata masih tertutup hingga sarung itu benar-benar lepas


Bastian melihat pemandangan itu, ia semakin bersemangat  menyentuh bagian lembut dari  dada Rara, mencengkeram nya dan kini bibir Rara yang lahap olehnya. Bastian semakin menggebu  merasa tidak ada hambatan ia menindih tubuh Rara.


Menggigit bibir mungil itu, tubuh Rara merespon, ia menggeliat membuatnya semakin bersemangat, bibirnya turun lagi dari leher, dada,  perut,  ia  memberi sentuhan di atas perutnya dan mengigit dan meninggalkan jejak kepemilikan di setiap tempat.


Tangannya Bastian tidak berhenti,  mengusap  setiap lengkungan tubuh istrinya


Keringat sudah membanjiri tubuh mereka berdua berbaur dengan minyak urut yang di balurkan si mbok tadi.


Napas kedua insan  yang lagi di mabuk asmara itu, saling beradu  dan suara dari  bibir Rara membuat semangat keperkasaan Bastian semakin terpacu.


Tiba-tiba Rara  membuka mata dan terbangun, ia seperti tersadar dari mimpinya, ia duduk dan menutup bagian dadanya.


“Ada apa sayang, apa kamu takut ?” Bastian berhenti sekaligus bingung.


“Tidak ak- belum siap,” ujar Rara  wajahnya tiba-tiba panik.


“Loh kok belum siap bagaimana?  Ini kan, bukan yang pertama kali untuk kita bukan?”  dengan sabar ia mengusap punggung Rara mencoba mengecupnya  kembali karena sudah sangat tanggung,


Tapi sikap Rara yang mendadak seperti orang yang yang ketakutan, menolak sentuhan Bastian.


“Kenapa Ra, apa aku membuat kesalahan?” Bastian mulai protes,


“Tidak maafkan aku, hanya a-ku.” Rara sangat gugup dan terlihat seperti orang melakukan dosa.


Bastian bingung dengan sikap Rara, ia berpikir ini  bukan pertama kali mereka melakukannya, bahkan sebelum menikah Bastian  berpikir ia sudah melakukanya dengan Rara, walau ia  tidak mengingatnya karena ia mabuk. Ia tidak tahu kalau Rara  membohonginya padahal kenyataannya Rara masih perawan belum pernah melakukannya dengan Bastian bahkan belum pernah dengan siapapun.

__ADS_1


“Ada apa?” Bastian  akhirnya marah karena penolakan yang di lakukan istrinya, “ Kenapa kamu menolakku?” Tanya Bastian.


“Aku hanya-aku.” Tangan Rara bergetar ketakutan bahkan wajahnya tiba-tiba pucat.


“Ada apa Ra, kenapa … berikan aku alasannya,  biar aku tau  di mana letak kesalahanku”


“Maaf”


Hanya itu yang terucap dari mulut Rara,  dan kembali ia menunduk seperti menyembunyikan sesuatu yang besar.


Bastian benar-benar  sakit hati dengan penolakan yang di berikan Istrinya, pundaknya naik turun, ia  keluar dan membanting pintu dengan sangat kuat,


Siapapun akan marah di perlakukan seperti itu, di tolak tanpa ada penjelasan.


Sebagai seorang suami dan seorang laki-laki harga dirinya terluka


Ia pergi ke dapur dan meneguk segelas air putih  hingga ludes berharap meredakan hatinya.


 “Aku akan mengerti jika dia memberi alasan, kenapa dia  menolakku, aku berhak padanya aku berhak untuk tahu apa yang terjadi. Apa dia mempermainkan ku?” ucap Bastian ia uring-uringan di dapur.


Mulai merasa sakit kepala karena hasratnya sudah  sampai di ubun-ubun tetapi tiba-tiba Rara  menolaknya tanpa memberi penjelasan membuat Bastian salah paham.


”Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2