
Naik menggunakan tangga darurat membuat lutut Rara tiba-tiba seperti ingin lepas, kakinya gemetaran dengan napas terengah-engah.
“Aku gak tahan lagi Tian, aku ingin pingsan!” teriak Rara dengan kedua tangan memegang lutut.
“Iya ella Ra, ini baru satu lantai, satu lantai lagi.” Bastian meninggalkan Rara menaiki tangga darurat, berjalan santai dengan Alvian, sementara Rara berjalan dengan seluruh kekuatannya
"Oh, seperti tubuhku sudah tua,
“Om, apa ibu kuat?” tanya Vian dengan wajah sendu, ia merasa kasihan pada ibunya.
“Tenang saja, Ibumu wanita yang paling kuat, ayo kita naik duluan” Bastian membimbing lengan Alvin.
Saat Alvin sudah sampai di dalam apartemen, sementara Rara masih berjuang menaiki tangga demi tangga.
"Aku sudah tua ternyata, badanku terasa encok semua kakiku .... Bastian! Alvin kalian jangan tinggalkan aku sendiri, aduh aku capek” Teriak Rara pada keduanya tidak kuat melanjutkan perjalanan, Rara duduk dia anak tangga, ia ditinggal sendirian.
Bastian menghukumnya atas keisengannya yang mempermalukannya dalam lift, tidak sampai di situ, saat mereka berdua sudah sampai, Bastian sengaja mengunci pintu dan mengajak Alvin mandi berdua di dalam kamar mandi. Pura-pura tidak mendengar bell yang dipencet Rara.
Rara merasa tubuhnya lemas karena kelelahan, ia terduduk di pintu apartemen dengan kepala di sandarkan di pintu, ia terlihat seperti istri yang di usir suami dari rumah.
“Bastian, Alvin kalian pada ngapain sih di dalam aku kehausan,” teriak Rara dengan sisa tenaganya. Ia duduk selonjoran di depan pintu apartemen Bastian.
Di dalam rumah Bastian tampak nyengir kuda karena berhasil memberi pelajaran buat Rara.
Setelah lima belas menit duduk menunggu pintu dibuka, akhirnya lelaki berkulit putih itu keluar, bola mata berwarna coklat cerah itu terlihat bersinar menatap puas, saat ia berhasil memberikan pelajaran kecil pada Rara, setidaknya keberhasilannya kali ini bisa mengobati rasa malu saat di dalam lift tadi.
Setelah membuka pintu, Bastian tersenyum kecil pada Rara.
“Ayo masuk selamat datang kembali”
“Tidak Tian, aku di sini saja ambilkan saja aku air satu gelas dan panggilkan Alvin”
Bastian berpikir kalau Rara hanya bercanda karena ia mengerjainya tadi.
“Sudah ayo …! Alvin sudah selesai mandi bersamaku”
“Tian, aku serius, aku sudah berjanji pada ibumu kalau aku tidak akan menginjakkan kaki lagi di apartemen ini, jika aku melanggarnya, maka ia akan memasukkan ku ke penjara”
“Rara, jangan bercanda , ibuku tidak ada di sini”
“Janji tetaplah janji Tian, kalau kamu sudah berjanji dengan sesuatu hal, maka hargai dan pegang janjimu”
__ADS_1
“Tidak Tian, aku tidak akan mengingkari janji pada Ibumu, tolong panggilkan Alvin”
“Kamu hanya menjadikan penolakan ibu sebagai alasan, sebenarnya bukan itu, kamu hanya ingin pada Kenzo kan?" Bastian marah.
“Jangan menuduh sembarangan, cari gara-gara saja"
“Kamu pikir aku tidak tahu kalau lelaki itu menyukaimu, Ra?" Bastian seperti masih cemburu.
“Apa kita harus berantem Bastian?" Rara menatap lelah ke arah Bastian.
“Iya kamu membuatku marah, kenapa harus dia " Urat leher Bastian mengeras.
“Om sama ibu bertengkar lagi?” Alvian tiba-tiba berdiri di dekat pintu. Mereka tampak seperti sebuah keluarga yang dibumbui pertengkaran kecil, tetapi akur kembali, karena anak memergoki.
Bastian dan Rara saling menatap, lalu ia menarik tangan Rara masuk ke dalam.
“Oh, tidak, ibumu orang suka ngeyel,” ujar Bastian menepuk-nepuk pundak Rara.
Rara yang tidak ingin anaknya curiga ikut berakting.
“Iya, om Tian orangnya suka memaksa,” ucap Rara membalas memukul-mukul bagian bokong Bastian. Lalu ia mendesis kesal dan berbisik ke kuping Bastian.
”Kalau ibumu sampai melihatku di sini, aku akan mengigit kupingmu sampai putus,” ujar Rara mengertakkan giginya mirip seekor doggy.
Rara akhirnya mau duduk di rumah yang pernah memberinya kenyamanan dan rumah yang memberinya ancaman.
Bastian memberinya segelas air dingin saat meneguk habis, matanya melotot kaget karena tiba-tiba ada sebuah cincin indah tersemat di jari manisnya.
“Oh .... Apa ini?” Mata menatap jari manisnya.
“Oh, itu Rara … dengar dulu tadi itu -”
“Kamu memakaikannya ke jariku, kapan?”
Mata Rara melotot”
Apa saat aku tidur?” tanya Rara panik, ia mencerca Bastian berbagai pertanyaan, tanpa memberikan lelaki itu waktu menjelaskan.
“Bu-bukan Ra, sini aku buka” Bastian memegang tangan Rara dan ia berjongkok di lantai kepala menunduk minta maaf pada Rara.
" Begini Ra aku sebenarnya-"
__ADS_1
Ia berjongkok dengan maksud melepaskan cincin dan minta maaf, tetapi yang terjadi ... Tiba-tiba ada suara yang mengejutkan Rara dan Bastian
“Apa yang kamu lakukan?”
Mereka menoleh ke pintu. Hartati dan Olivia menatap kaget.
“Kamu melamarnya Tian!?” Suara Viona menggema di ruangan.
Ibu Bastian salah paham, ia berpikir kalau saat itu anaknya sudah melamar Rara terlihat sebuah cincin indah terpasang di jari manis sang wanita.
“Apa yang aku takutkan benar terjadi ,kan?” ujar Rara dengan raut marah, matanya menatap tajam pada Bastian.
“Ibu duduk dulu nanti aku jelaskan”
Rara berdiri dan membawa tas, lalu ia berdiri mengajak Alvin.
“Jelaskan sendiri pada orang tuamu, aku malas berurusan sama orang tuamu.”
Rara berdiri dan ia menarik Alvian. Namun, saat melihat Alvian mata hartati terpanah dengan sosok putranya yang tampan, ini baru pertama baginya melihat anak Rara secara langsung, dan sedekat itu Selama ini ia hanya melihatnya dalam berita bersama Bastian dan di restaurant sekali tetapi ia tidak melihat dengan jelas, Tetapi , saat sedekat itu, ia bisa menatap mata bocah tampan. Hartati tiba-tiba jadi terdiam, seperti ada sesuatu yang menyihirnya matanya.
“Ibu tunggu,” ucap Alvian menghentikan langkah Rara. Lalu bocah itu berlari ke arah Bastian dan memeluk Bastian.
“Terimakasih iya Om, Alvin pamit pulang, Assalamualaikum”
“Walaikumsalam” jawab Bastian, ada rasa sedih setiap kali anak ini pamit pulang padanya.
Mata ibunya masih menatap dalam ke arah putra Rara, lalu bergantian menatap Bastian. Tiba-tiba ibunya merasa aneh karena wajah keduanya memang sangat mirip.
Bahkan ia tidak membahas tujuan utamanya datang ke apartemen Bastian.
“Tante tidak apa-apa?” tanya Olivia bingung melihat sikap wanita itu yang tiba-tiba berubah.
“Ibu tidak apa-apa? Untuk apa kalian datang ke sini?” Bastian kesal.
“Tian … siapa nama anaknya Rara?”
“Kenapa ibu bertanya, sudah bu, jangan mengusik keluarga mereka lagi. Aku capek melihat kelakuan Ibu”
Bastian marah, lalu pergi meninggalkan apartemen, meninggalkan Hartati dan Olivia, ia berpikir ibunya marah dan ingin mengusik keluarga Rara. Ia tidak tahu kalau ibunya terpesona pada pandangan pertama pada mata anak lelaki berwajah tampan itu.
Bersambung
__ADS_1
Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga agar viewersnya naik.