Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Saat Bastian menolak keinginan ibunya


__ADS_3

Itu jalan yang terbaik,” kata Rara tanpa ada raut sedih ataupun menolak membuat Hartati bingung dengan perubahan sikap Rara.


Padahal bulan sebelumnya, ia sempat sampai depresi karena takut kehilangan Bastian, tapi kali ini. Rara terlihat tidak perduli pada Bastian


“ Aku harap Bastian bahagia, bu, kata Rara.


“Apa aku bisa pegang janjimu tidak akan mendekati Bastian,”


“Gini Bu, jika saya sudah bicara seperti itu, berarti saya sudah berjanji, harusnya yang ibu lakukan itu menjaga Bastian, bukan mengawasiku, kerena ia datang padaku bukan aku yang padanya.” Kata Rara, masih dengan sikap tenang, Rara yang dulu kembali.


Hartati diam sebentar dan akhirnya berdiri ingin meninggalkan ruangan Rara.


Tapi sorot mata, menatap tajam ke seluruh ruangan yang ditempati Rara, dalam hati nyonya Hartati pasti ada rasa iri, karena ruangan itu harusnya ruangannya dan harusnya namanya yang tertulis di papan nama di atas meja itu


Harusnya, aku yang duduk di sana gumamnya dalam hati, menatap tajam ke arah Rara sebelum ia berlalu.


Rara dan Rio keluar dari ruangan persembunyian, mereka mendengar apa yang dikatakan wanita penyihir itu.


“Ya, ampun nenek lampir masih saja berani datang, Ibunya Bastian benar-benar, iya! saya berpikir, urat malunya dia sudah putus dan otaknya sudah miring kali, iya, saya baru tau loh ada manusia bebal kayak dia, mungkin kalau ia mati nanti pasti kena azab, mayatnya gosong kali iya, ia tidak punya empati dan tidak punya perasaan ,gitu,” kata Sukma.


Ia jauh lebih kesal dari Rara, mendengar ibunya Bastian, bicara tentang keinginannya menikahkan Bastian padahal Bastian belum memutuskan untuk bercerai, Rara masih istri Bastian, tapi Ibunya, sudah punya rencana ingin menikahkan anaknya.


“Kalau aku jadi pak Bastian, aku memilih istri dari pada ibu seperti itu, karena percuma, kita menyayanginya, tapi tetap saja berbuat berbuat jahat, padahal kita sudah menelantarkan istri, kita juga dosa telah menelantarkan istri, apa lagi ada anak.


Pak Bastian harusnya sadar, dan membuat pilihan tepat, harusnya ia memilihmu Ra,” Mario duduk si sofa di samping Rara.


“Jalanin saja dulu seperti ini, aku hanya ingin fokus padanya, aku harus kuat, kalau ini sudah brojol nanti, mungkin kita akan buat perhitungan pada mereka, atau kita buat lagi perusahaannya sampai benar-benar bangkrut.


Kadang aku berpikir, bagaimana kalau ia jatuh miskin tidak ada harta mungkin ia akan gila kali, iya,” kata Rara, ia kembali ke mejanya dan sibuk dengan berkas di tangannya.


“Iya, benar Ra, ayo kita buat suatu saat wanita penyihir itu kehilangan perusahaanya,” kata Sukma.


“Sebenarnya, aku tidak takut melakukanya sekarang, tapi aku ingin masalahnya, selesai dulu satu persatu.” Kata Rara , tapi matanya terlihat menatap fokus pada lembar kerja yang di pegang, membuat kedua sahabatnya langsung berdiri, merasa tidak enak pada Bos mereka.


“Baiklah, aku juga mau bekerja lagi,” Mario meninggalkan ruangan Direktur.

__ADS_1


“Aku juga sepertinya harus mengikuti jejakmu,” kata sukma “Balik ke ruanganku. Ra” kata Sukma ikut keluar dari ruangan Rara


“Ok.”


Kini, ia duduk sendirian, menutup matanya memikirkan langkah-langkah yang akan ia ambil selanjutnya.


Tangannya mengusap-usap lembut perutnya. Ia yakin Bastian juga pasti bertanya-tanya dengan keadaanya. Bastian tidak tau tentang kehamilannya karena itu dulu hal yang tepat saat ini, walau tidak adil bagi Bastian. Tapi demi kebaikan bersama, ia harus melakukan itu.


Bastian pulang kerumah ibunya, sudah hampir larut, tapi tidak diduga Ibunya masih menunggunya,


“Kamu darimana sih Tian, ini sudah malam suaranya lembut, penuh bujuk rayu. Bastian sudah hapal kelakuan ibunya padanya, jika ia ada kemauan pada Bastian, ia akan bersikap lembut dan bertingkah jadi wanita yang anggun.


“Saya dari rumah teman,Bu,” ia berjalan melewati ibunya.


“Tian, duduklah dulu disini sebentar, ibu ingin bicara, ”katanya, menunjuk sofa di sampingnya


Bastian berdiam mematung sebelum membalikkan badannya, ia ragu karena ia sudah tau apa yang ingin ibunya katakana padanya.


“Bu, Bastian merasa lelah, dan aku juga merasa perutku masih sakit.”


“ Maka itu sini duduk sama ibu, ada yang penting yang akan kita bahas.”


Bastian tidak bisa menolaknya, dan selalu seperti itu. tapi kali ini:


“IBu, Bastian tidak bisa,” ia menolaknya, padahal ibunya juga belum bicara.


“Ibu, belum bicara Bastian, tapi kamu sudah menolaknya!”


Suara sedikit meninggi aslinya mulai keluar.


“Ibu, akan menyuruhku menikah dengan Viona,kan?.” Tanya Bastian.


“Kok, kamu tau?,” raut wajah Hartati langsung berubah,


“Iya, kamu harus menikahinya, bentaknya, ia tegas memperlakukan anaknya seperti anak kecil yang harus menuruti kemauan orang tuanya, ia ingin mengatur hidup Bastian sepenuhnya.

__ADS_1


“Maaf bu, tapi sepertinya ibu harus berhenti sampai disini, berhenti mengatur semua kehidupanku, aku sudah dewasa, bukan anak kecil lagi, sepertinya ibu salah mengartikan sikap baik Bastian pada ibu selama ini. Aku merasa ibu memanfaatkan. Aku tidak mau menikahi Viona, Rara masih istriku, aku sudah memikirkan , apapun yang akan terjadi kami akan menghadapi bersama,” kata Bastian


“Mendengar nama Rara di sebut. Ibunya langsung berubah, wanita gila itu lagi?.” Katanya


“ Ia, tidak gila, bu,” bentak Bastian.


“Sepertinya ibu yang harus perlu periksa psikiater,” kata Bastian membuat ibunya tambah gila lagi


“Kamu mau bilang ibumu gila?, ia melempar sebuah vas bunga. Apa wanita kampung itu lebih berharga dari pada Ibu yang melahirkanmu?”


“Ibu penting dan Rara juga penting buat Bastian ,Bu. Maka itu saya menolak permintaan itu, kenapa harus Bastian yang selalu mengikuti kemauan Ibu, kenapa tidak ibu saja yang mengikuti Bastian.”


Bastian akhirnya gerah juga melihat kelakuan ibunya. Bastian berpikir saat ia mengorbankan perasaan cinta dan mengorbankan rumah tangganya, ia berpikir ibunya akan berubah setelah semua yang ia lakukan, tapi nyatanya tidak.


“Sudah saya bilang dari dulu, sampai kapanpun ibu tidak akan menerima wanita kampung itu,” Ibunya tetap saja bersikap angkuh,


“Harusnya, ibu mengubah sikap setelah banyak masalah yang menimpah keluarga kita, harusnya ibu mengubah perilaku buruk ibu saat Ayah menggugat cerai ibu, jangan egois bu, aku sudah melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk ibu, apa aku harus Mati saja biar ibu dan tidak memanfaatkan dan tidak menjualku?.”


“Kamu, mengajari ibu Bastian?.” Ia berteriak lagi dengan suara memenuhi seisi rumahnya,


“Terserah ibu saja, lakukan apa yang ingin ibu lakukan, aku muak ,” Bastian meninggalkan ibunya yang masih berteriak karena Bastian menolak keinginannya.


“Kalau kamu menolaknya ibu akan mati,”Ia berteriak.


Bastian menarik nafas, karena lagi-lagi ia mendengar kata-kata itu lagi dari ibunya. Ia selalu menekan Bastian dengan kata-kata itu.


“Terserah ibu.” Ia pergi ke kamarnya.


Tapi benar, ibunya orang yang nekat.


Bersambung


**Jangan lupa Vote dan tinggalkan bintang yang banyak iya kakak, tetap dukung kasi komentar dan masukkanya juga . Kasih hadiah jika kalian suka ceritanya agar authornya tambah semangat lagi upnya


TERIMAKASIH

__ADS_1


__ADS_2