Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Kesedihan orang tua Rara


__ADS_3

“Mey, gue yakin Bastian pasti sangat bahagia, ia pernah bilang kalau ia punya anak, ia pasti akan sangat bahagia dan ingin punya anak banyak, tidak seperti yang tidak memiliki saudara Kata Rara


“ Ini buah cinta kami Mey, gue bahagia bangat dan tidak sabar bagaimana perutku nanti melendung seperti balon,” kata Rara mengarahkan perutnya kearah kaca mempraktekkannya seperti orang hamil


“Iya, gue yakin Bastian juga pasti bahagia juga Ra, semua suami pasti bahagia jika istrinya hamil,” kata Sukma ikut senang melihat Rara yang terlihat bahagia karena kehamilannya.


Pulanglah Bastian. Rara ingin memberi kejutan untukmu, gue yakin loe pasti bahagia sama sepertinya saat ini, kata Sukma dalam hatinya


Menatap Rara yang masih berdiri di depan kaca


“Mey, walau gue sudah hamil anak Bastian, apa menurut loe, Ibu mertua gue tetap tidak bisa menerima gue?” Tanya Rara mengalihkan matanya dari kaca, menatap sahabatnya.


“Jangan berharap banyak, Ra, wanita penyihir seperti dia, susah berubah, ia sudah mendewakan uang dan harta .Ra, gue malah khawatir loe di suruh mengugurkan anakmu, agar tidak ada alasan Bastian dekat ama loe.” Kata sukma mencoba berpikir jauh.


“Iya, loe benar Mey, nasib gue memang malang, dapat mertua seperti itu,” kata Rara, wajahnya sedih


Hingga seminggu sudah berlalu, tapi Bastian tidak juga menampakkan batang hidungnya. Rara kembali bekerja, dengan harapan Bastian datang mencarinya, ia tetap tabah dan mencoba bersabar.


Mario dan Sukma dengan setia mendampinginya menjalani masa-masa sulitnya, Rara mengandalkan kedua sahabatnya saat ini, karena hanya merekalah keluarga yang ia miliki saat ini.


Kabar heboh yang di buat Rara, sampai juga ke telinga orang tuanya yang berada di London Inggris.


Paman Rara yang tak lain sepupu emaknya, yang tinggal di London, seorang Dosen di sana, wajar kalau ia tau kabar yang menggemparkan itu, apa lagi ada gambar Rara terpampang besar di depan surat kabarnya.


Menantu Salim Group menjadi Direktur Presiden yang baru, menggantikan Bardi Salim. Kira-kira seperti itu penerjemahan beritanya.


Membuat kedua orang tuanya shock dan panik, mereka tidak senang, justru babenya khawatir pada Rara.


Akhirnya Aisah menceritakan semuanya apa yang dialami Rara dan apa yang di kerjakan sebelum mereka.


Harusnya keluarganya di jadwalkan pulang ke Indonesia tiga hari lagi, tapi karena berita itu, besoknya langsung pulang ke Jakarta.


Rara masih di kantor saat Aisah meneleponnya


“Kak, kita sudah pulang, Kakak di suruh pulang ke rumah ,” kata Aisah.


“Apa , emak tau?.” Tanya Rara mulai khawatir, ia yakin orang tuanya akan marah.


“Iya kak, Babeh sama emak sudah tau, paman yang memberitahukan,” kata Aisah merasa bersalah karena gagal menyembunyikan rahasia mereka


“ Maaf iya kak, Aisah tidak bisa menyembunyikannya ,” kata Aisah dengan suara lembut merasa bersalah.


“Tidak apa-apa Sah, nanti aku datang, pulang dari kantor,” kata Rara menutup teleponnya.


Ia sengaja pulang cepat dari kantor , Sukma ikut juga. Ia beberapa kali menarik nafas panjang, terlalu banyak masalah padanya belakangan ini, sampai-sampai ia tidak tau yang mana terlebih dulu, ingin ia selesaikan, belum lagi ancaman dari sana-sini.


Sejak ia menjabat sebagai Direktur di perusaan itu, banyak teror yang ia terima, di perkirakan dari mantan karyawan yang ia pecat.


Tapi untungnya beberapa hari ini, bisa ia atasi dan polisi bisa meringkusnya para penebar teror, dan dalangnya Viona dan ibu mertuanya di balik semua teror yang ia terima.

__ADS_1


“Loe, takut,Ra?.” Tanya Sukma, melirik Rara di sampingnya


Sukma yang memegang kemudi mobilnya.


“Iya, gue takut telah mengecewakan Babeh sama emak ,Mey, padahal mereka sangat bahagia belakangan ini, karena Bastian baik pada mereka. Ia menantu yang mereka banggakan.”


“Takdir siapa yang tau Ra, kita hanya bisa menjelaskan, apa yang terjadi sebenarnya sama babeh dan emak, nanti gue bantu jelasin iya,” kata Sukma


“Terimakasih, Mey, tapi kalau emak marah , lebih baik loe diam saja nanti iya, biar gak ikut di marahin,” kata Rara mengingatkan


Sudah gelap , Rara baru sampai di rumah emaknya, rumah berlantai dua itu, kini sudah lebih mewah dan lebih bagus, karena sebulan sebelumnya. Bastian menyuruh tukang untuk merenovasinya , terlihat baru, mewah dan tambah luas.


Kebaikan Bastian pada keluarganya membuat Rara selalu ingin membalas, ingin mencoba berhubungan baik, sama Ibu mertuanya , tapi sayang ia selalu gagal bahkan dapat pemukulan dan penghinaan.


Bukan Rara yang tidak mau berusaha, tapi karena usahanya yang selalu gagal dan mental mendapatkan perhatian ibu mertuanya.


“Assalamualaikum ,” sapa Rara


“Wallaikumsalam,” sahut emaknya, dari dalam rumah


“Mak,kata Rara ia memeluk emaknya, ia terlihat lemah dengan tangisan seperti seorang yang rindu pelukan seorang ibu, ia menangis dalam pelukan emaknya untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga itu, ia menangis di hadapan keluarganya.


Maka dari situ keluarga tau, telah terjadi sesuatu masalah yang begitu berat dan tidak mampu ia pikul sendirian.


Kedua adiknya hanya mematung melihat wanita tangguh itu, tiba-tiba terlihat tidak berdaya


tangannya mengusap kepala putrinya. Ia bukan emak yang melahirkannya, ia juga keras mendidik Rara, tapi Ara sangat menghormatinya sebagai seorang ibu, Rara juga melupakan pemukulan yang pernah ia lakukan.


“Aku merindukan emak,” kata Rara semakin memeluk emaknya untuk pertama kali bagi Rara memeluk emaknya.


“Kita juga, Ra, loe baik-baik saja kan?.”


“Iya Mak,” kata Rara mengangguk


Matanya mencari putranya Calvin, ternyata bocah itu kelelahan, jadi masih tidur.


“Beh,” kata Rara Ia juga memeluk babenya sebentar


Mungkin hubungan darah bicara, babenya bisa melihat Rara dengan segala beban dan kesedihan dai mata putrinya, ia tau putrinya memiliki masalah yang sangat berat.


“Duduklah, kita bicara,” kata emaknya kemudian suasana langsung hening


“ Emak tau kamu masih capek Ra, tapi kita bisa mati karena penasaran jika harus menunggu besok,” katanya mengeluarkan lembar Koran dari dalam tasnya


“ Jelaskan ini, pada kita,” kata Emaknya langsung pada intinya.


“Iya itu benar emak, Rara sekarang Jadi Presiden Direktur di perusaan Bastian,” kata Rara dengan kepala menunduk, ia merasa malu karena isi berita itu.


“Iya ampun, benar ternyata , apa Mak dan Babeh harus senang apa khawatir?,” tanya Maknya dengan tatapan mata memburu Rara.

__ADS_1


“Aku tidak tau Mak,” kata Rara tiba-tiba menangis lagi


Mereka hanya bisa saling menatap sikap Rara yang tiba-tiba gampang menangis. Mereka semua tau seberat apa masalahnya dari dulu, ia tidak pernah meneteskan air mata , tapi kali. Bendungan di matanya seolah bocor, karena sebentar-sebentar ia menangis.


“Apa untungnya Ra ,kalau ujung-ujungnya .Bastian malah meninggalkanmu seperti diberita itu,” Kata babenya.


“Itu salah Beh, Bastian tidak meninggalkanku, ia hanya di sembunyikan Ibunya,” Kata Rara


“Terus apa ia menelepon sejak kamu mendapat perusaan itu?” tanya Babenya menatapnya dengan tatapan dengan tatapan rasa kasihan.


“Tidak, Beh,” jawab Rara


“Itu yang aku maksud Ra, ia menduga kamu hanya mengincar perusahaanya, karena kamu memihak Ayahnya, Kamu tau ia membenci Ayahnya dari dulu.”


“Apa babeh juga berpikir seperti pada Rara?” tanya Rara menatap kedua orang tuanya.


“Babeh, percaya padamu sayang, adikmu sudah menjelaskan semuanya pada kami,” kata Pak Agus. Tapi berita di luar sana menuliskan seperti itu,” katanya kemudian.


“Beh, niat Ara tadinya mewakili Bastian, karena waktu ingin penobatan itu, ia mendadak hilang, Rara tidak ingin nenek lampir itu menang dan semakin menindas Rara, maka itu Rara melawan, tapi saya tidak tau akan seperti ini jadinya, aku mendapatkan kemenangan bahkan Rara juga memiliki saham di perusaan itu beh, tapi ada harga yang harus Rara bayar, ternyata Bastian menghilang beh, sejak hari itu, sejak ia pulang dari Bali,” kata Rara, ia mengusap sungai kecil yang mengaliri pipinya.


Ia menjelaskan semua pada keluarganya ,meluruskan kesimpang siuran berita itu. Ia menjelaskan pada keluarganya berita sebenarnya.


“Beh, apa Rara salah?” tanya Rara kemudian menatap Babenya


“Tidak sayang, Mertuamu lah yang jahat,” kata babenya ia memeluk Putrinya.


“Beh, Rara juga ingin memberitahukan sesuatu,” kata Rara masih dalam pelukan babenya, hati Orang tua mana yang tidak sakit mendengar putrinya dipukul dan di siksa ibu mertuanya, hanya karena ingin mencari suaminya.


Rara dan Sukma tepaksa memberitahukan keluarganya bagaimana ia berjuang mencari suaminya.


“Katakanlah apa?” kata babenya masih mengusap pundak Rara. Babenya Rara sangat sayang padanya, ia tidak kuat bila Rara tersakiti, hatinya jauh lebih sakit


“Rara hamil beh,” kata Rara membuat mulut mereka semua terkejut.


“Apa?” tanya emaknya menangis


“Kakak Hamil?” Tanya Aisah , ia langsung memeluk kakaknya dengan haru.


“Bang, kita akan punya cucu sebentar lagi,” kata emaknya mengusap matanya dengan haru.


“Nambah lagi ponakan gue,” kata adik laki-lakinya


Babenya Rara mengusap matanya , air mata bahagia serta air mata kesedihan.


Sedih saat Rara mengandung buah hati mereka. Suaminya malah hilang tidak tau kemana rimbanya.


Ia berpikir kalau Bastian sengaja menghindarinya, ia memilih memihak pada Ibunya karena Rara memihak pada Ayahnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2