
Cinta bisa datang kapan saja sama siapa saja, termasuk sama Kenzo sejak Aisah merawatnya dulu, saat itu Kenzo sakit ia jatuh cinta pada gadis cantik berkerudung itu
.
“Apa ? Playboy kayak loe gak cocok ama adik gue, ia anak baik-baik,” kata Rara tidak menyetujui
“Hatinya seperti malaikat,” timpal Sukma
“Justru orang jahat seperti aku yang butuh dampingan malaikat,” kata Kenzo.
“Pintar bangat cari alasan,”
Sukma tidak rela juga kalau adiknya Rara berdampingan dengan lelaki Playboy itu.
“Tapi Ra, katanya Bastian sudah keluar dari rumah sakit, dia belum menemuimu?.” Tanya Kenzo.
“Belum, aku terlalu sibuk mengurus masalah tuntutan, hingga melupakan suamiku,”Kata menghabiskan suapan terakhir.
“Mantap, gua bingung perut perempuan itu sebesar apa sih tabungnya, loe sudah makan seperti itu, terus anak loe gak kejepit begitu ,kerena banyak makanan yang masuk?,” tanya Kenzo. Penasaran lihat porsi makan Rara, badan nya tidaklah gemuk tapi porsi makanya banyak.
“Le gak usah bingung wanita itu unik,” kata Sukma.
“Mana, Ra, nomor Aisah! coba lihat telapak tanganmu Ra, kok bersisik, aneh,” kata Kenzo memegang telapak tangan Rara, sekilas melihatnya seperti orang yang bermesraan, padahal, Ken hanya penasaran melihat tangan Rara, terlihat mengelupas kulitnya, jadi kesannya seperti tangan bersisik.,
“Tangan, jadi seperti sejak ia hamil,” kata sukma
“Ih, aneh orang hamil banyak keunikannya,Iya, Tapi mana nomornya? Aku mau pulang.”
“Nanti aku tanya dulu iyah. Boleh gak nomornya aku berikan sama kamu, ia perempuan yang tidak suka di telepon orang kalau tidak penting, kecuali pacar, beda lagi ceritanya,” kata Rara.
“Baiklah,”akhirnya ia mau mengerti
Ken, duduk di depan Rara, ia pamit ingin pulang duluan, tapi baru saja ia ingin berdiri matanya melongo menatap kearah pintu, ia diam.
Rara dan Sukma ikut mengikuti arah pandangan lelaki itu, bukan hanya dia yang terkejut Rara dan Sukma juga terkejut.
Bastian datang menghampiri ,seperti banteng yang sedang marah matanya menatap kearah mereka dengan sangat tajam.
Sepertinya ia sudah lama mengawasi Rara, salah paham melihat Ken yang memegang tangan Rara.
“Wah gawat, sepertinya ada yang sedang marah,” kata Kenzo.
“Bagaimana ia bisa datang ia kesini,” Tanya sukma melirik Rara.
“Bukannya ia juga baru pulang dari rumah sakit, kenapa ia bisa datang kesini?.” Tanya Kenzo terlihat takut
“Hai, Tian apa kabar ,Bro?,” tanya kenzo menyapa
Bukannya balasan yang ia dapat, malah tatapan mata melotot yang ia dapatkan.
__ADS_1
Ia berdiri di sisi meja dengan tatapan mata tajam menatap Rara.
“Hai Tian,” sapa Sukma, ia juga tidak dapat balasan
Rara menatap mata itu, terlihat mata kemarahan mereka bertiga saling melihat karena tidak tau kesalahan apa yang mereka lakukan.
Ken, sepertinya tau, kalau Bastian salah paham padanya
“Tian, kamu salah paham sama kami,” kata Kenzo memegang pundak Bastian.
“Loe diam,Ken! Gue sudah bilang sama loe jangan dekati istriku, tapi loe masih belum berubah,” katanya memberi bogem mentah pada temannya,
Kenzo mendapatkan satu pukulan tepat di wajahnya.
“Ah..Bastian hentikan,” kata Sukma mencoba melerai
Rara hanya jadi penonton, ia tidak mau terusik ataupun panik, ia tidak mau bayinya terluka jadi lebih baik hanya menonton saja.
“Loe, salah paham Bro,” kenzo mencoba membela diri lagi.
Tapi lagi-lagi Bastian ingin menghajarnya, Sukma menahan tangannya . Rasa cemburu sudah menutupi akal pikirannya. Apalagi yang ia cemburu orang yang pernah menaruh rasa suka pada istrinya, hal yang wajar untuk seorang pria untuk cemburu.
“Cemburu tandanya cinta kata orang”
Tapi Bastian, sampai-sampai tidak memperdulikan tatapan orang yang lain di Restauran itu
“Sudah Bastian, kamu di lihatin orang di sini.” Kata Rara dari kursinya.
Tidak mau ada keributan lagi. Rara lebih baik menuruti suami brondongnya, dari pada kenapa-napa pada bayinya, apalagi menakutkan melihat Bastian saat lagi marah besar,
“Baiklah, ayo,” kata Rara berdiri.
Kemarahan Bastian belum reda, ia menggenggam tangan Rara berjalan buru-buru, tangan kokoh miliknya seakan menyeret tangan Rara hingga berjalan keluar dari Restauran, mata semua orang yang ada dalam Restauran, menatap Rara dan Bastian dengan tatapan bingung
“Kamu pelan-pelan, kamu ingin menyakiti kami berdua,”
Ia terkejut dan berhenti, menatap kearah gundukan perut Rara matanya berputar kaget melihat perut istrinya yang mulai melendung.
Walau matanya terkejut, tapi mulutnya seolah terkunci tidak bicara sedikit pun. Ia memperlambat langkah kakinya, membawa Rara kedalam mobil.
“Kita mau kemana?.” Tanya Rara melihat Bastian dengan sikapnya yang buru-buru.
“Ikut saja, Ra, terserah aku, mau bawa kemana, aku masih suami dan kamu masih milikku,” Katanya ketus, Rara terkejut mendengarnya tapi mencoba bersikap tenang.
“Apa kamu sudah sembuh?” tanya Rara setelah mobil itu sudah mulai berjalan meninggalkan restauran, mata Rara terlihat tulus, ia juga merasa senang saat Bastian sudah sehat.
Ia bersikap acuh, membiarkan pertanyaan Rara menguap begitu saja, dengan tatapan mata terfokus melihat jalanan tangannya memegang kemudinya dengan wajah serius, Ia diam tanpa menjawabnya.
Rara menyadari Bastian masih marah padanya, karena ia jarang kerumah sakit dan belum pernah melihatnya langsung, Rara datang saat ia sudah tidur dan saat ibunya pergi.
__ADS_1
“Kamu marah Padaku? Maaf aku tidak datang karena aku sibu-“
Tiiiiiiit…..Tiiiiiiiiiiiit
Ia seolah membungkam mulut Rara dengan mengkalakson dengan kesal, karena ada motor yang ingin menyelinap. Rara tau itu ungkapan kekesalan padanya. Tapi sepertinya Bastian tidak ingin mendengar apapun dari mulut Rara.
Hatinya di penuhi amarah dan rasa cemburu menutupi akalnya.
“Tian ak-“
Lagi-lagi ia mengkalakson dengan dengan kesal lagi, sampai-sampai motor yang didepan mereka terkejut terlihat marah memaki kearah Rara dan Bastian dan sepasang muda-mudi itu menunjukkan jari tengah pada mereka.
Rara menatapnya sekilas. Bastian terlihat berbeda dari biasanya.
Ia sepertinya sangat marah pada Rara tapi tidak bisa mengungkapkannya kemarahannya secara langsung. Terlihat dari matanya yang menatap tajam ke depan dan otot rahangnya mengeras menahan rasa di dada amarahnya.
Apa karena kecelakaan itu membuat otaknya jadi miring, ia tidak pernah menakutkan seperti ini kalau marah, kata Rara dalam hatinya, karena melihat kemarahan yang tidak biasa di wajah Bastian membuatnya merasa takut.
Lebih baik diam membiarkan ia melakukan apa yang ia lakukan. Rara memakai baju kaos pas mody di padukan dengan cardingan.
karena marah Bastian sampai tidak menyalakan pendingin mobilnya, jalanan ibu kota seperti biasanya, akan selalu macet.
Rara mulai merasa gerah, tapi tidak berani menyentuh dan bicara pada Bastian. Karena lelaki itu menakutkan bila sudah marah besar.
Rara mulai merasa ngantuk, ia lebih baik membuka cardingannya karena ia takut menyuruh Bastian menyalahkan pendingin mobilnya . lebih baik menahan diri.
Perut buncitnya terlihat sangat jelas saat cardigannya itu di buka, apa lagi di lihat dari samping.
Lebih baik tidur dari mata melihat wajahnya yang menakutkan itu kata Rara dalam hatinya dan mulai menutup matanya.
Ia begadang mempelajari berkas perkara yang mereka hadapi di Pengadilan membuatnya merasa sangat mengantuk. Ia mulai menutup matanya, makan banyak membuatnya semakin ngantuk, hingga benar-benar tidur.
Bastian masih terfokus memegang kemudi dan matanya menatap jalan.
Matanya sekilas melihat kaca spion di samping Rara dan mata itu menemukan pemandangan yang membuat urat kemarahannya berangsur hilang.
Rahangnya yang mengeras itu berangsur pudar tak kalah melihat perut Rara yang melendung seperti orang cacingan.
Ia sampai meminggirkan mobilnya dan berhenti sebentar, karena ingin menatap Rara lebih lama, Ia menatap perut Rara yang yang membuncit dengan penuh sayang ia mengelus perut itu dengan lembut dan menempelkan bibirnya.
Ia menatap wajah Rara yang tertidur pulas, keringat membasahi keningnya, mulutnya sedikit terbuka dan dengkuran halus terdengar dari bibir Rara.
Ia mengambil ponselnya ia ingin mengabadikan pemandangan indah. Mulut Rara menganggap perutnya melendung tangan menggantung bebas di samping terlihat seperti orang mabuk,
Akhirnya senyum terukir di bibir Bastian, ia menyalakan pendingin mobilnya dan menyelimuti tubuh istrinya dengan jaket dan menurunkan sandaran jok membuatnya posisi nyaman dan kembali menghidupkan mesin mobilnya
Bersambung...
BANTU VOTE YA KAKAK BERI BINTANG YANG BANYAK KASIH HADIAH JUGA BILA SUKA CERITANYA
__ADS_1
TERIMAKASIH