
Akhirnya ia menyesali sikapnya yang mengusir Rara dari kehidupan anaknya.
Tapi selalu ada hikmah di balik masalah, Bardi salim yang selalu melihatnya seperti setan, sekarang saat Bastian sakit, ia memperlakukan Istrinya dengan sangat baik, bahkan di berikan kasih sayang dan perhatian layaknya suami yang baik. Mereka berdua sama-sama menangis dan saling menguatkan satu sama lain.
Saat masalah besar itu datang. Bardi tidak bisa berbuat apa-apa, hatinya terpuruk, karena Bastian sudah hampir satu tak kunjung bangun bahkan kata Dokter jika ia tidak bangun beberapa hari lagi, ia akan mengalami lumpuh
Orang tua mana yang sanggup menerima itu, Hartati benar-benar mendapat teguran atas kesombongannya. Kini nasi sudah menjadi bubur, ia bahkan rela menyuruh orang mencari Rara ke Italia, ia ingin membawanya, barang kali setelah mendengar suaranya. Bastian bangun. Tapi Rara tidak berhasil di temukan.
Terkadang saat kita terpuruk baru kita mengingat sang pencipta.
Bardi salim mengambil air wudhu dan ia ingin melakukan sholat,
“Ayo Bu,” katanya, ia mengajak istrinya. Hartati terlihat terdiam dan tangannya gemetaran.
“Aku-aku-aku-“
Ia terlihat gelagapan karena tidak menduga suaminya mengajaknya sholat. Ia bahkan lupa kapan terakhir melakukanya, baginya uanglah Tuhannya. Tapi saat Bastian tidak bisa sembuh sebanyak apapun ia mengeluarkan uangnya, ia baru sedikit sadar. Ia bahkan mengingat kata-kata Rara kalau uang tidak bisa membeli hidup seseorang dan tidak bisa membeli kebahagian.
Dalam satu minggu saja ia sudah menjual rumah mewahnya demi pengobatan anaknya, tapi tidak ada perubahan,
Apakah ia masih menganggap, uang segalanya?
“Ayolah, bu,” kita harus memohon pertolongan pada Allah, agar Bastian bisa bangun, ini aku memintanya dari perawat,,’ katanya memberinya mukena berwarna pink pada istrinya.
Mata Hartati terlihat berkaca-kaca, tangannya gemetaran, ia merasa malu melakukanya, ia merasa malu paha Tuhan karena telah banyak kejahatan yang ia lakukan dan pada saat senang tidak sekalipun ia mengigat Tuhan, tapi saat ada masalah besar seperti ini , ia baru mengingat sang Pencipta
“Ibu, malu, Yah,” kata Hartati menunduk
“Jangan malu ,Bu, Allah maha pemaaf.” Tangannya menuntun suaminya
Bardi Salim jadi Imamnya. Hartati tidak bisa menolaknya, ia terlihat khusuk dalam doanya dan menetaskan air mata, minta ampun demi kesembuhan Putranya.
Aku berharap setelah ini ibu jadi orang yang lebih kata Bardi dalam hatinya.Ia bersedia menerima istrinya jika ia berubah sikapnya. Saat ini, mereka berdua melupakan persoalan masa lalu dan fokus pada kesembuhan Bastian.
“Aku ingin Rara di sini, aku yakin Bastian bisa bangun,” kata Hartati.
__ADS_1
Sekarang ia baru menyadari kalau Rara berharga.
“Apa Ayah tidak bisa mencarinya?.” Tanya Nyonya Hartati, saat ini ia rela melakukan apapun demi putranya ,akhirnya ia menyesali perbuatan dan memikirkan kebahagian Bastian.
Setelah beberapa lama kabar kecelakaan Bastian sampai juga telinga Rara. Ini hari ke 8 sejak Bastian masuk rumah sakit.
“Mey, aku butuh bantuanmu, aku akan pulang melihat Bastian, tapi aku tidak ingin orang tau kalau aku pulang,” kata Rara di ujung telepon.
“Apa yang aku harus lakukan, Bantu aku masuk keruangan Bastian tanpa di ketahui ibunya,” kata Rara.
“Kamu yakin, kamu kuat .Ra? Aku takut, kamu kecapean, karena perjalan Italia- Indonesia butuh waktu berjam-jam.” Kata sukma, ia berharap Rara tidak datang. Ia khawatir.
“Kuat, aku dan ia sama-sama kuat, aku juga sudah konsultasi sama Dokter di sini.”
“Baiklah Ra, tapi aku berharap kamu tidak memikirkan, soal Perusahaan kami bisa mengatasinya, aku hanya berharap kamu memikirkan kesehatan bayimu,” kata sukma
“Aku juga harus menanda tanganin berkas-berkas itu,kan, kandungannya sudah 17 minggu ia sudah kuat kata Dokter, asal aku hati-hati,” Rara meyakinkan sukma.
Menempuh perjalan Italia-Indonesia hampir 11jam lebih. Rara dan calon bayinya, orang yang kuat dan tangguh. Ia berpikir tidak ada suami yang akan mendampinginya dan sudah terbiasa hidup mandiri dari kecil, membuatnya harus membuat keputusan sendiri.
“Tapi Rara tidak ingin bertemu Ibu, bisa ayah bantu,” Kata Rara di ujung telepon.
“Baiklah, Ra, datanglah pagi-pagi, biasanya pagi-pagi. Ibunya Bastian akan olahraga sekitar 1 jam”
Rara menempati janjinya pagi-pagi sekali, ia sudah datang kerumah sakit.
“Yah, Rara datang ,” kata Rara, mata Bardi salim memeluk Rara.
“Terimakasih nak Rara, karena kamu datang,”
Setelah mengobrol sebentar dengan Ayah mertuanya.
Ia masuk ke kamar Bastian, sesuai permintaan Rara yang tidak ingin bertatap muka dengan Ibu mertuanya, di tepatinya. Ia mengawasi istrinya yang sedang olahraga dan akan memberikan kabar jika ia Istrinya selesai olah Raga.
“Hai, Bastian, sapa Rara memegang tangannya. “Maaf, kalau aku pergi gak bilang-bilang, aku harus melakukanya demi keluargaku, tapi percayalah dia baik-baik saja, kamu harus bangun agar bisa melihatnya, Kata ayah, kamu menungguku membangunkanmu, Bangunlah.!!.” kata Rara mengajaknya mengobrol hampir dua puluh menit menceritakan semuanya, ia yakin kalau Bastian bisa mendengarnya tapi tidak bisa menanggapi, ia yakin jika suatu waktu Ia bangun apa yang di katakana. Rara pasti akan ada dalam memory otaknya. Rara sudah mengajaknya bicara panjang lebar, tapi sepertinya Bastian tidak mau meresponnya, ia meminta lelaki itu mengerakkan jari-jarinya tidak ada tanggapan juga’
__ADS_1
Hingga 30 menit ia duduk di samping Ranjang Bastian, ia terus saja mengajaknya bicara tapi tidak ada tanggapan dan respon darinya sampai-sampai ia merasa lelah.
Baiklah, ia masih marah mungkin padaku, karena omonganku hari itu baiklah, mudah-mudahan ini bisa berhasil gumam Rara.
Ia menyisihkan bajunya dan menempelkan telapak tangan Bastian di gundukan perutnya
Bayi dalam perut Rara terasa bergerak lembut menggelitik seperti cacing
“Hei, ini dia, apa kamu merasakan gerakkannya, ia mengusapkan tangan Bastian di perut Rara bayi dalam rahimnya semakin bergerak dan denyut jantung memompa sangat cepat.
“Kamu bisa merasakannya .Tian? Ia anakmu kamu, bangunlah, kamu harus melihatnya, kata Dokter ia laki-laki,” kata Rara ia melapor pada suaminya.
Benar saja, jari-jari Bastian bergerak dengan sangat pelan, matanya terlihat menangis,
“Kamu harus menguatkan, gerakkan tanganmu agar, ia merasa sentuhan tanganmu, berusaha lagi , ini dengar jantungnya juga,” kata menempelkan perutnya di kuping Bastian
“Ayo bangun gerakkan tanganmu, jangan lemah dan jadi pengecut seperti itu, bagaimana kamu menjaga kami nanti, kalau kamu lemah!,” kata Rara memberinya semangat .Tangan jari-jari itu benar-benar bergerak menyentuh kulit perutnya, alat itu berbunyi beberapa Dokter berlari kearah kamar Bastian “Aku harus pergi bangunlah buka matamu ,iya!,”
ia meletakkan tangan itu kembali dan keluar sebelum Ibunya Bastian datang. Berpapasan dengan beberapa Dokter Rara memakai penutup kepalanya dan keluar menuju parkiran.
Mendengar Bastian membuka mata, Bardi berlari menuju kamar Bastian. Begitu juga dengan Hartati.
“Ya , ampun Tian, kamu bangun juga ternyata , ibu sangat takut. Nak.” Hartati menangisi tubuh Bastian.
Bardi salim berdiri menatap Bastian menyadari satu hal. Cinta punya kekuatan.
Terimakasih Rara, kata Bardi salim dalam hatinya.mengusap buliran air dari matanya. Ia mengecup kening anaknya. “Terimakasih, Tian karena sudah bangun,” kata Ayahnya.
Mata Bastian terlihat mencari ke setiap sudut ruangan, tidak ada yang menyadari siapa yang di cari mata Bastian. Kecuali Bardi salim, Ia tau mata Bastian mencari Rara istrinya.
Mulutnya, belum bicara, tapi mungkin ia berpikir bermimpi mendengar suara Rara, karena dari tadi, ia tidak ada menemukanya, Rara dalam kamar itu. Hingga terlihat guratan kesedihan di wajahnya.
“Ia baik-baik saja. Tian, kamu tidak mimpi, tadi Rara datang dengan anakmu kesini, makanya bangunlah,” bisik Ayahnya ke kuping Bastian membuat tubuhnya bereaksi.
Bersambung....
__ADS_1