
“Tenang saja, menikahi wanita itu bukan karena aku mencintainya, tapi ini untuk balas dendam untuk Rara,” kata Bastian terlihat urat lehernya menegang.
Kabar Bastian akan menikahi Viona sampai ke keluarga Rara, tentu saja orang tua Rara merasa sedih, karena kabar meninggalnya Rara baru juga hitungan bulan. Bardi Salim juga menentang pernikahan mereka.
Mereka tau apa tujuan Bastian menikahi Viona. Walau keluarganya menyuruh untuk melupakan masa lalu, tapi tidak bagi Bastian, bagaimana ia melupakan orang yang ia cintai meninggalkannya dengan cara yang tragis, bahkan ia tidak bisa bersama dengan anaknya.
“Tian, jangan merusak hidupmu dengan dendam masa lalu,” kata pak Bardi.
“Mungkin bagi Ayah ini mudah, tapi tidak bagiku, hidupku sudah lama hancur saat Rara kecelakaan. Tian, pikirkan sekali lagi, tidak semua kejahatan dan sakit hati dibalas dengan dengan hal yang sama, coba kamu pikirkan Viona juga sudah tidak bisa jalan lagi itu semua karena kamu, bukan? Lupakan sakit di masa lalu hiduplah lebih baik setidaknya berusaha agar kita bisa bertemu dengan anakmu,Tian,” kata pak Bardi
“Maafkan aku, Yah, aku tidak bisa,” kata Bastian
“Ketahuilah Bastian, sakit hati dibalas dengan dendam, kamu dan mereka tidak ada bedanya,” kata Bardi,
“Jika kamu bilang keluarga Viona ikut terlibat, aku khawatir mereka sudah tau rencanamu malah menjebak mu, sekelas omah kamu saja bisa mereka taklukkan apa lagi kamu,Tian, Ayah mohon kita tidak ada apa-apanya saat ini, ayah juga tidak bisa berbuat apa-apa nanti.”
Bardi Salim tau aksi kemarahan dan sakit hati yang di alami putranya, tapi ia tidak ingin Bastian terlibat dalam keluarga Viona, apalagi ia masuk kedalam keluarga itu, untuk membalaskan sakit hatinya.
Bardi salim sampai memohon pada Bastian agar tidak meneruskan pernikahannya dengan Viona.
Tapi Bastian orang yang keras kepala, ia tetap akan menikahi demi ambisi balas dendamnya.
“Bastian, keluarga itu bukan tandinganmu Nak, Ibu sudah mengenal mereka puluhan tahun, tolong jangan kesana ibu mohon padamu, Jimmi sudah tau kalau kamu menikahi putrinya karena sakit hati, percayalah sama ibu nak, mereka pasti sudah menyiapkan jebakan buat kamu ” kata Ibunya, ia juga memohon agar tidak meneruskan pernikahannya dengan Viona.
“Kenapa Ibu melarang ku sekarang, bukannya ibu menyuruhku dari dulu?” Tanya Bastian menatapnya.
Ibu Bastian dan Ayahnya tidak tidak ingin Bastian terlihat masalah dengan keluarga Viona mereka membuat rencana.Saat pernikahan besar telah di siapkan untuk pernikahan Viona dan Bastian.
Orang tua Bastian terpaksa menyuruh orang membawa Bastin pergi dan menyembunyikannya, kedua orang tua itu tidak ingin anaknya terlibat masalah besar lagi, Jimmi bukan tandingan Bastian.
“Aku akan menanggung konsekuensi atas semua ini, kamu pergilah temani Bastian,” kata Bardi salim pada Hartati.
Bardi salim pasang badan untuk anaknya, , ia tidak ingin berdiam diri, ia siap menanggung resiko atas pembatalan sepihak pernikahan Bastian dan Viona.
Sebuah pesta pernikahan yang meriah akan berlangsung di salah satu di gedung mewah di daerah Kelapa gading Jakarta Utara.
__ADS_1
Viona sangat cantik dengan balutan gaun panjang berwarna cream, dengan riasan sangat cerah ia bak seorang Putri di Negeri dongeng dengan bibir berwarna merah menyala dan pipi merona juga. Ini hari yang sudah lama-lama di tunggu-tunggu Viona.
Ia mengarahkan kamera ponselnya ke wajahnya.
Creeek
Creeeek
TO: Bastian
Ini lihat Tian aku sangat cantik, kamu jangan lama-lama datangnya iya, aku tidak sabar lagi.
Isi pesan Viona pada Bastian.
Bastian :Iya,
Viona :Iya apa?
Bastian : Iya cantik
Viona: Kamu dimana sih?
Balas pak Bardi pada Viona saat ini, ia memegang ponsel Bastian. Ia sengaja membalas pesan Viona seperti kebiasaan Bastian pada Viona.
Walau Bardi salim tau pernikahannya sudah batal, tetapi ia tidak ingin memberitahukan lebih awal, ia ingin tamu berdatangan, itu salah satu hukuman dari pak Bardi salim untuk keluarga Viona.
Hingga undangan sudah memenuhi gedung, karena rencananya selesai akad sekalian resepsi.
Hari sudah mulai siang Bastian tidak kunjung juga datang, keluarga Viona mulai panik, saat nomornya di hubungin mendadak tidak aktif, saat itu juga mereka sadar, kalau Bastian ingin mempermalukan keluarganya di hadapan orang banyak.
Menyadari Bastian tidak datang, Viona menangis sesenggukan, ia tidak yakin Bastian melakukan hal itu padanya, karena baru saja ia berkirim pesan pada Bastian mengirim foto dengan pakaian pengantin, Viona saat ini lebih banyak menggunakan kursi roda dalam kesehariannya, karena kecelakaan malam itu, ia tidak bisa berdiri lama-lama, ia juga sering merasa pusing, itu semua karena ulah Bastian malam itu, ia terjatuh dari lantai satu rumahnya, kepalanya terbentur dan batang tulang leher belakang terluka juga.
Karena itu juga Orang tua Viona ingin Bastian menikahi Viona dan bertanggung jawab, tapi saat itu Bastian lari dari tangung jawab, ia lebih memilih menghabiskan waktunya di penjara dari pada menikahi Viona.
Tapi mendadak Ia datang lagi, ia bersedia menikahi Viona dan siap bertanggung jawab, walau awalnya kedua orang tua Viona khawatir, karena keputusan Bastian yang terkesan buru-buru, tapi karena rengekan dari Viona yang cinta mati pada Bastian, akhirnya orang tuanya memberi restu, bahkan semua biaya semua keluarga yang menanggung yang penting kehadiran Bastian dan keluarganya dalam pesta pernikahan.
__ADS_1
Tapi kali ini setelah hari yang di tunggu tiba, Bastian tidak juga kunjung datang. Keluarga Viona sangat marah dan tentu merasa malu.
Bahkan Viona hampir menyakiti dirinya saat tau Bastian tidak datang di pernikahan mereka.
Itu pelajaran dari saya gumam Bardi, ia kekantor polisi untuk melaporkan diri dan ia pulang kembali kerumahnya, ia sudah siap dengan semua yang akan terjadi.
Benar saja, ia menunggu di rumah, kali ini ia kedatangan tamu, empat orang yang berbadan tegap mencari Bastian.
“Kami mencari Bastian, apa pak Bastian ada di rumah?”
Asisten rumah tangga itu terlihat gemetaran, belum juga di jawab, mereka sudah menerobos masuk.
Bardi salim sudah tau hal ini, ia sudah menyiapkan diri, duduk santai di pinggir kolam ikan di halaman belakang gelas kopi hangat menemaninya.
“Pak, ada ta-tamu,” kata wanita paru baya itu dengan wajah ketakutan,
“Biarkan saja, Bi, suruh mereka masuk, Bi, jika terjadi sesuatu tekan nomor ini ” kata Pak Bardi memberikan ponselnya, belum di persilahkan masuk ke halaman belakang, ke empat preman suruhan keluarga Viona sudah menerobos masuk dan mengeledah seisi rumah, berlagak seperti polisi.
“Kami ingin bertemu dengan Bastian,” kata salah seorang pada Bardi salim, tapi ia diam tidak merasa takut dan masih membelakangi mereka, karena merasa di acuhkan, salah seorang dari mereka emosi.
“Eh kamu…! saya mencari Bastian, apa kamu dengar?”
Ia masih diam seolah mencari masalah.
“Eh… saya bertanya pada kamu, apa kamu mendengar saya?”
“Anda mencari Bastian, saya Bastian pergi kalian semua dari sini.”
Paak
Ia memberi bogem mentah ke salah satu dari mereka, tentu saja itu mencari masalah, ia di pukul seperti yang ia inginkan. Seperti yang di rencanakan polisi akhirnya datang.
“ Angkat tangan,” tiga orang polisi tiba, mengangkut ke empat suruhan Jimmi, beberapa wartawan juga meliput kejadian.
Bardi salim rela menjadikan tubuhnya tumbal agar Bastian tidak terlibat pernikahan dengan Viona. Jauh di dalam hatinya, ia belum yakin Rara telah pergi meninggalkan dunia ini.
__ADS_1
Ia tidak rela kalau Bastian menikahi Viona.
Bersambung...