
Terkadang hari yang indah yang kita rangkai dalam hati, Kini hanya sebuah angan-angan yang ada hanya senyum ketir dan rasa sakit yang amat sakit, ia rasakan di kepalanya saat ini.
Dokter mengatakan ia beruntung yang di pukul kepala bagian depannya jadi tidak mengalami pendarahan otak. Jika seandainya itu terjadi, ia bisa di pastikan lupa ingatan karena geger otak.
Saat ia bangun, Malam sudah berganti pagi. Itu artinya ia sudah melewatkan makan sahur pertama dengan suaminya dan saat ini puasa pertamanya juga ia lewatkan di ranjang Rumah sakit
Rara mencoba mengjep-ngejapkan matanya, dengan pelan ia menggeser kepalanya mencari keberadaan tubuhnya,
Setelah bola matanya berputar kanan-kiri mencari jawaban dari pertanyaan, akhirnya ia menemukan jawabannya
Oh rumah sakit, ini sudah pagi ternyata itu artinya aku sudah melewatkan sahur dan aku tidak akan puasa di hari pertama bulan Ramadan kata Rara dalam hatinya
Setiap ia menggeser kepalanya, ia merasakan kepalanya amat sakit tempurung kepalanya terasa berdenyut nyeri, ia merasa kulit kepalanya saling bertarikan, karena kepalanya mendapat beberapa jahitan.
Ia meringis memegangi kepalanya. Bastian terbangun karena melihat Rara sudah sadar dan meringis menahan sakit.
“Kamu sudah bagun, Ra,” wajah Bastian terlihat berantakan, bibirnya kering dan matanya sembab, baju yang kemaren yang ia kenakan masih melekat di tubuhnya, lengkap dengan noda darah yang sudah mengering.
Kenapa ia tidak mengganti pakaiannya dulu, gumam Rara dalam hatinya, karena merasa ngeri melihat noda darah yang sudah mengering itu.
Dua orang Dokter lengkap dengan jubah kebesarannya menghampiri Rara memegang senter di tangannya,
mengecek bola mata dan bagian mulutnya,
“Syukurlah, anda sudah bangun Nyonya Bastian, anda tidurnya sangat lama, sampai-sampai suami anda sangat khawatir dan tidak beranjak kemana-mana .” Kata Dokter yang sudah berumur itu,
Bastian hanya menatap dengan tatapan sangat khawatir, bahkan ia tidak menghiraukan gurauan Dokter, matanya hanya melihat pada Rara.
Bahkan ia tidak peduli lagi dengan penampilan sendiri.
“Apa, anda merasa pusing Nyonya?”
Rara hanya mengangguk kecil
“Aku juga merasakan nyeri di kepalaku Dokter” ia menunjuk luka kepalanya
“Baiklah, aku akan memberikan anda obat penghilang rasa sakit, kita akan periksa lagi nanti.” Kata Dokter dengan tatapan ramah,
Kedua dokter itu meninggalkan Bastian dan Rara, ia hanya menatap istrinya dengan tatapan bersalah.
“Syukurlah kamu sudah bangun , Ra, aku sangat takut.”
Wajah Bastian benar-benar sangat khawatir.
Rara tau apa yang ada di pikiran suaminya, ia pasti menghawatirkan ibunya. Biar bagaimanapun kelakuan seorang ibu, ia tetaplah ibu kita seperti juga yang dirasakan Bastian, ia memikul banyak beban berat dalam pikirannya antara ibu dan istri yang ia cintai siapa yang akan pilih siapa yang ia pertahankan dalam hidupnya.
Ia tidak mau menatap langsung ke mata Rara ada rasa bersalah di wajahnya
“Tian, kamu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa Ra, tapi aku tidak tau harus bilang apa Ra, aku bingung.” Tangannya menghempaskan putus asa.
“Tidak apa-apa Tian, tidak perlu merasa bersalah,anggap saja musibah, tidak perlu membenci ibu seperti itu”
“Apa, kamu tidak marah Ibu melakukan itu padamu?”
“Ibu sedang mabuk, ia hanya banyak pikiran”
“Tapi Ra- sudahlah jangan membahas ibu dulu, aku hanya ingin kamu pulih.” Kata bastian kemudian tapi terlihat putus asa.
“Baiklah,” Rara kembali menutup matanya.
Tiba-tiba Bastian menggenggam tangan Rara dengan lembut,
__ADS_1
“Maafkan ibuku ya,Ra”
Rara membuka matanya lagi, Bastian sudah duduk di samping ranjang untuk pertama kalinya, Rara merasa ini pertama kalinya untuk Bastian mendapat masalah seberat ini.
“Baiklah, mana ponselku, aku takut emak sama Babeh, menanyaiku.”
Ia mencari ponselnya di nakas kecil di samping ranjangnya.
“Itu dia Ra, tadi keluarga mu meneleponmu tapi aku tidak mengangkatnya, karena aku bingung harus jawab apa, jika aku mengangkatnya, aku takut bilang kamu di rumah sakit, aku takut mereka panik dan membawamu pergi, karena aku sudah janji pada Babeh kalau aku menjagamu, aku takut Ra, mereka membawamu pergi , aku takut keluargamu marah dan membawamu pergi , dan aku tidak bisa melihatmu lagi, makanya aku tidak mengangkatnya telepon itu.”
Ia hampir meneteskan air mata.
“Tidak apa-apa ,sayang, kamu telah melakukan hal yang benar,” kata Rara wajah Bastian langsung berubah.
Ah..Rara memang punya seribu pesona membuat perasaan orang lain berubah-ubah.
“Tadinya, aku pikir kamu akan marah, Ra, terimakasih telah memberi ku kekuatan, aku yakin demi kamu, aku mampu menyelesaikan Puasaku hari ini” Wajahnya yakin
“Kamu melakukannya, walau tampa aku!?” tanya rara dengan senyum bangga sama suaminya
“Hmm,” Ia mengangguk
Dengan tekat yang kuat ia menjalan puasa hari itu, walau katanya hanya sahur dengan seadanya, tapi hari itu Bastian mampu melewati puasa pertama tanpa istrinya untuk pertama kalinya.
Itu juga yang membuat Rara semakin yakin, kalau ia mampu mendapat restu dari Ibunya Bastian .Karena Bastian benar-benar mencintainya
Dengan kepala di bungkus perban luka, Rara terlihat sangat antusias ingin menemani suaminya berbuka puasa walau kamar rumah sakit.
Tidak di duga keluarganya juga datang untuk berbuka bersama di kamar Rumah sakit, untuk menemani Bastian sekalian memberi semangat untuk Bastian.
Untung kamar yang ia pakai Kamar VIP nomor satu , jadi mampu menampung mereka semua tanpa menggangu pasien lain.
Pak Bardi benar-benar marah kali ini, istrinya di biarkan tidur Hotel prodeo, lelaki berbadan tambun itu juga menggugat cerai istrinya di bulan Ramadan.
Tapi terkadang ujian hidup yang berat bisa menempa manusia menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lebih mendekatkan diri lagi pada sang Penciptanya.
Bastian mampu melewati Puasa pertamanya , dengan tekat yang kuat.
Acara bukber hari itu tidak ada yang menyingung tentang kejadian malam itu, karena ayah Bastian ikut juga saat itu.
Bastian terlihat sangat bersemangat, ketika Ayahnya datang memberinya semangat. Hari itu terlewatkan dengan baik.
Keesokan harinya di Rumah sakit.
“Aku ingin pulang, aku bosan disini” Kata Rara menggaruk-garuk rambutnya yang mulai lepek dan kusut.
“Tapi kamu masih terluka, Ra”
“Tidak apa-apa kita pulang saja, aku istirahat di rumah,”
Walau Bastian kurang setuju masih khawatir pada istrinya , tapi rara sudah mulai pulih, ia merasa sudah kuat akhirnya Bastian tidak bisa menolak.
Tiba di kediaman bastian Rara di sambut bak Putri, di perlakukan istimewa oleh Omahnya Bastian.
Tapi ia tidak ingin di perlakukan seperti itu, duka suaminya dukanya juga, apa lagi sampai saat ini Ibunya masih berada di lembaga permasyarakatan bagaimana ia merasa tenang.
Bastian terlihat baik-baik saja di luar, tapi hanya Rara yang tau betapa ia sangat rindu dan kasihan pada ibunya , malam itu Rara melihat Bastian bangun tengah malam masuk kamar ibunya, tak sengaja ia melihat Bastian menangis di sudut kamar Ibunya.
Rara merasakan apa yang di rasakan Bastian semua anak juga akan seperti itu
,
Aku harus melakukan sesuatu, tidak baik seperti ini , apa lagi ini bulan Ramadan kata Ara dalam hatinya.
__ADS_1
Akhirnya pagi itu, ia menemui Ayah mertuanya berada dalam ruang kerjanya di lantai atas.
Tok.tok
“Masuk” sahut Pak bardi ia kaget melihat Rara mendatanginya.
“Ada apa Ra?”
Matanya mencari kebelakang Rara, ia berpikir kalau bersama Bastian
“Ayah sibuk?” Tanya Rara dengan sopan masih dengan sikap berdiri
“Tidak, ayo duduk”
ia menunjuk kursi di mejanya, barulah Rara duduk,
“Maaf Ayah, bukannya saya sok ikut campur, bisa Ayah melepaskan Ibu dari penjara?”
Mata lelaki itu langsung bingung, menatap Rara.
“Tapi,Ra, ia sudah menyakitimu Nak.” Kata lelaki berbadan tambun itu dengan tatapan mata terlihat serius.
“Karena itulah Ayah, karena akulah yang di pukul aku sudah memaafkan Ibu, tentang semua yang terjadi, sama waktu yang terjadi dengan keluargaku juga , aku sudah memaafkanya.Kata Rara.
Ia ingin mertuanya di lepaskan dari penjara , ia melakukan demi Bastian.
“Tapi Nak Rara Ibu mertuamu itu tidak akan menerimamu walau kamu lepaskan dan tolong dia”
Kata pak Bardi menjelaskan panjang lebar watak keras Istrinya.
“Aku tau Ayah, ini aku lakukan demi Bastian, bagaimana ia bisa mencintaiku dengan tulus, kalau gara-gara aku, ibu yang ia cintai di penjara.
“Tapi nak Rara, bagaimana kalau ia menyakiti mu lagi” Tanya Pak Bardi dengan khawatir.
“Aku sudah siap Ayah, mungkin aku memakai jurus menangkis, atau jurus menghindar” Kata Rara dengan senyuman bercanda pada mertuanya.
“Aku sebenarnya sangat ragu untuk melakukanya, dan aku sudah mulai tidak kuat dengan kelakuan buruknya selama ini”
“Ayah, memaafkan seseorang di Bulan Ramadan itu besar Pahalanya, kalau ayah memasukkan ibu ke penjara, apa kata orang ? kegagalan Istri itu kegagalan suami juga Ayah” Kata Rara ia memberi nasehat pada Ayah mertuanya dengan penuturan yang berbeda, akhirnya ia menerima dan mendengar nasehat dari Rara.
Padahal selama ini Bardi Salim terkenal dengan otaknya yang keras dan tidak pernah mau mendengar nasehat orang lain.Tapi Rara Winarti menantunya dapat menasehatinya dengan baik dengan cara yang unik bukan dengan sikap menekan dan memaksakan ke hendak.
“Baiklah nak Rara, Besok ayah akan melakukanya,”
“Aku akan menemani ayah, tapi tidak usah ajak Bastian kita berdua saja” Kata Rara yakin
“Lah, kenapa!?” Wajah Ayah mertuanya makin bingung dengan permintaan Rara.
“Aku tidak ingin Bastian merasa berhutang pada saya, Ayah, ia akan merasa di kasihanin nanti.” Kata Rara
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)