
Satu jam kemudian kembali kekamar Rara wanita itu sudah tidak ada di kamarnya.
Wajah Bastian lesu ia belum sempat mengetahui apa Rara hamil apa tidak. Tapi ia tau, kalau Rara sengaja menghindarinya dan menutupi sesuatu darinya.
Aku akan menemukanmu Ra, walau kamu lari ke bulan sekalipun kata bastian meninggalkan kamar itu.ia juga keluar dari rumah sakit padahal Dokter belum menginginkannya
Ia bergegas berniat meninggalkan rumah sakit.
“Eh..pak mau kemane?,” tanya asistennya lelaki gemulai
“Gue, ada urusan loe urus semuanya bilang bam-bam gue pulang duluan, batalkan semua jadwal syuting gue, jangan di terima kalau ada tawaran job awas loe terima, gue sunat loe,” kata Bastian pada lelaki gemulai itu.
Dengan jari menari nari di depan bosnya. ia mencoba menghalangi, “Eh mas bos, pak bos, eke harus bilang apa sama nyonya, ibunya pak bos, nanti di tampol sampai menyok muke eke,” katanya dengan gaya manja-manja cucok meong.
“Itu derita loe,” kata Bastian mengambil kunci mobil asistennya, karena ia tidak membawa mobil ,bam-bamlah yang mengantarnya kerumah sakit
“Eh, tolong, eh copet eh maling, mobil gue kembaliin , gue mau pulang pake apa?,” suara melengking manja dan heboh.
“Loe punya kaki, pakai kakilah masa jalan pakai gigi, awas!.” Bastian menyingkirkan tubuh mahluk jadi-jadian itu dari hadapannya.
“Eh, cucok meong, mobil eke,” katanya membiarkan Bastian akhirnya pergi , ia tidak bisa menahannya.
Ia perlu hanya persiapan akan kena semprot dari ibunya Bastian, jika sudah tau Bastian meninggalkan rumah sakit,
Benar saja, wanita berpenampilan modis itu datang dengan viona. Wajahnya langsung menyala saat tau Bastian pergi dari rumah sakit, karena kata Dokter ia masih harus di lakukan pengecekan ulang pada lambungnya , kerena lambungnya masih mengalami pembengkakkan karena aksinya minum terlalu banyak dengan perut kosong di tambah ia juga minum obat penurun panas,
Lambungnya panas dan terluka, bahkan saat ia di temukan petugas Hotel saat itu mulutnya berbusa.
Ibunya sempat berpikir kalau Bastian overdosis, untungnya tidak. Tapi ia harusnya melakukan pengecekan lagi. Tapi orangnya sudah keburu menghilang.
“Bastian kemana?” matanya melotot pada lelaki yang berpenampilan seperti perempuan itu, ia terlihat sangat takut pada
nyonya Hartati.
“Itu anu- anu-“
“Anu-anu !” potong Viona ikut membentaknya “Orang bertanya itu di jawab bukan hanya anu-anu,” ia ikut-ikutan memarahinya banci malang itu.
“Ia pergi bu, tidak bilang eke mau kemana,”
“Dasar Bastian, ia sudah janji, mau kemana lagi dia? jangan-jangan menemui anak kampung itu lagi, menyebalkan!,” katanya, terlihat kesal.
__ADS_1
Hartati bukanlah seorang ibu yang baik. Ia tidak memikirkan bagaimana kebahagian Bastian. Ia hanya ingin Bastian menikah dengan Viona, karena keluarga Vionalah saat ini yang bisa menyokong keluarganya.
Sejak perusahaannya jatuh dan hampir bangkrut, akibat isu yang di buat Rara belum lagi Salim group memutuskan kerja sama mereka.
Maka saat itulah datang keluarga Viona sebagai pahlawan berkuda putih, sebagai penyelamat bagi Perusaan keluarga Pangestu.
Dengan harapan anak manja mereka. Viona asal bisa menikah dengan lelaki yang ia sukai, itu Bastian
Kalau biasanya anak perempuan yang dijual maka ini kebalikannya, Bastian seolah yang di jual oleh ibunya demi harta dan kekuasaan.
Bastian terlalu menyayangi ibunya . Hartati selalu menekan Bastian dengan mengancam akan menyakiti diri sendiri bila menolak keinginan ibunya.
Pertanyaannya : Sampai kapan Bastian akan di peralat ibunya? Apakah ia mau lepas dari genggaman ibunya?
Kelemahannya, ia tidak ingin melihat ibunya terluka, ia terlalu menyayangi Hartati , tapi sayang, Ibunya tidak membalasnya dengan cinta seperti anak dan ibu, tapi Hartati mencintai anaknya dengan cinta harus ada harta dan kekuasaan menemaninya.
“Sepertinya kita harus mempercepat pernikahan kalian, agar ia bisa melupakan wanita kampung itu,” Kata Hartati pada Viona.
Wajah Viona terlihat kegirangan
“Benarkah,Tante? Aku akan menikah dengan Bastian aku bahagia,” katanya
Rara terpaksa berbohong pada Bastian. Saat lelaki itu datang mencari Kekantor.
Akhirnya menuju rumah keluarga Rara yang di daerah di bubur, tapi disana juga tidak ada,
Ia terduduk lemas, ia tidak bisa menemukan Rara.
kringgg....
Nada panggilan Ponsel bastian dari asisten yang menyebut dirinya Dina alias Dino
“Apa?” tanya Bastian dengan nada kesal bercampur jengkel, ia berpikir asisten bencongnya akan meminta mobilnya kembali nyatanya tidak.
“Bos, ada kabar bagus yang perlu bos dengar, penting, penting dan eksklusif, aku kasih bos tampanku,” katanya dengan gaya bicara yang mendayu-dayu.
Buat lelaki normal yang baru pertama mendengarnya pasti merasa risih atau barang kali kepengen muntah. Tapi bagi Bastian itu sudah hal biasa, menghadapi mahluk jadi-jadian seperti mereka. Karena makeup artis juga banyak seperti mereka bahkan desain bajunya, maka ia sudah biasa ia berprinsip selagi kamu tidak mengusik hidupku maka aku tidak. Bahkan asistennya sudah lama ikut dengannya.
“Jangan ngegosip,” bentak Bastian
“Ini bukan gosip bosQ eke dengar sendiri ibumu bicara,”
__ADS_1
“Bicara apa?” Tanya Bastian penasaran
“Kalau pernikahan pak bos sami si Viona-Viona judes itu, mau di percepat itu yang eke dengar,”
Bastian mendengar kabar itu langsung emosi dan kesal, ia menutup teleponnya .
“Halo, sudah mati? dasar pak bos main matiin saja,” Dino terdengar menggerutu
“Apa-apaan sih ibu ah,” kata Bastian menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kesal
“Aku sudah memilih ibu dan meninggalkan Rara, tapi ibu masih saja seperti ini, aku harus bagaimana sih biar ibu bisa merasa puas! Apa aku harus mati, biar ia puas,” kata Bastian bicara sendiri.
Ia melajukan kendaraanya dengan kecepatan tinggi. Ia menuju rumah ibunya, tapi ibunya tidak ada .
Hartati menelepon Rara meminta bertemu, tadinya Rara tidak ingin mengangkatnya kerena ia masih marah pada wanita, tapi ia berpikir ia akan menghadapi untuk terakhir kalinya.
Tidak merasa malu Hartati datang lagi ke perusaan milik suaminya untuk menemui Rara.
Rara terpaksa menyuruh wanita itu menemuinya di kantor, ia merasa aman bertemu disana, Karena ada Mario dan sukma yang menjaganya.
Hartati memasuki rungan Direktur dimana Rara menjabat sebagai pemimpin tertinggi perusahaan itu.
“Duduk bu, kata Rara terlihat tenang walau ia tetap waspada, ia takut nenek lampir itu menyakitinya lagi.
Sukma dan Mario terpaksa bersembunyi ruangan itu untuk menjaga-jaga mana tau wanita itu ingin menyakiti Rara, agar mereka bisa membantu Rara.
“Aku tidak perlu lama-lama, saya mau bilang, kami sudah memikirkan rencana pernikahan Viona dan Bastian. Jadi kamu berhenti menggangu mereka,” katanya dengan lantang .
Rara yang sudah biasa dapat ancaman seperti itu dari wanita itu, ia tetap tenang.
“Jangan khawatir Bu, Bastian lebih sayang ibu dari aku , kami sudah sepakat berjalan masing –masing
Itu jalan yang terbaik,” kata Rara tanpa ada raut sedih ataupun menolak membuat Hartati bingung dengan perubahan sikap Rara. Karena bulan sebelumnya, ia sempat sampai depresi karena takut kehilangan Bastian, tapi kali ini Rara terlihat tidak perduli pada Bastian “ Aku harap Bastian bahagia kata Rara.
“Apa aku bisa pegang janjimu tidak akan mendekati Bastian,”
“Gini Bu, jika saya sudah bicara seperti berarti saya berjanji, yang ibu lakukan itu menjaga Bastian, bukan mengawasiku, kerena ia datang padaku bukan aku yang padanya.”
Hartati diam sebentar dan akhirnya meninggalkan ruangan Rara.
Bersambung
__ADS_1