Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Saat Ayah mengalami depresi


__ADS_3

Alvin masih memeluk tubuh sang ibu, ada ketakutan dan trauma di wajah sang anak, hal itulah yang membuat hati Rara sangat sedih.


Bayangan Bastian sebagai anak biologis sang anak membuat Rara merasa lucu, selama ini ia sudah  curiga, tetapi setiap kali ia ingin menyelidiki selalu ada kendala . Ia baru menyadari, oma Bastian dan ayah Bastian sudah tahu, makanya saat Rara ingin mencari tahu, oma Bastian membayar orang untuk  menggagalkan pencarian oang suruhan Rara.


Seandainya ia tahu dari awal kalau keluarga itulah  keluarga kandung sang anak, ia pasti akan membobol data  keluarga Bastian.


“Ibu ….!” Panggil Alvin membangunkannya dari lamunan.


Rara masih berjongkok,  membiarkan putranya memeluk lehernya, dan merangkul dengan satu tangan, karena tangannya  yang satu  ia sisihkan agar tidak  kena luka jahitannya


“Ibu gak bisa mengendong ya sayang tangan ibu sakit,” ujar Rara  menunjukkan tangannya yang terluka,


“Apa itu sangat sakit bu?” Mata Alvin  berkaca-kaca


“Tidak apa-apa sayang  ada kamu semuanya jadi tidak sakit lagi,” ujar Rara  merangkul tubuh tubuh sang putra dengan erat.


Babenya   Rara tidak ingin pulang kerumah,  ia malah meminta Rara menemaninya  kearah Ciracas


Walau hatinya di penuhi banyak pertanyaan.  


 “Siapa ibu kandungnya, apa ia masih hidup apa sudah meninggal?”


Rara sebenarnya ingin tahu,  bukan hanya Rara bahkan Sukma juga sepertinya demikian. Ia selalu menatap Rara berharap ia bertanya pada babe, sebelum ia mati karena penasaran.


Beruntung Sukma mau menyupiri mereka  dan membawa babehnya Rara kemanapun  pergi sesuai permintaanya,  tetapi ia tidak ingin membebani pikiran orang tua itu, makannya  Sukma menahan dirinya tidak bertanya,


Karena sekilas terlihat babe Rara, terkadang masih terlihat seperti orang masih linglung.


“Be, tadi kata babeh kita mau ke Ciracas,  jadi gak?” Tetapi lelaki itu malah diam dengan tatapan mata kosong


Ia dan sukma hanya bisa saling  menatap, karena  melihat sang ayah   yang kembali diam.


“Tidak jadi, tapi sebagai gantinya bawa aku  ketempat yang nyaman agar aku bisa menceritakan  semua padamu Ra.  Kamu pasti bertanya –tanya siapa Ibumu.”


“Jangan lakukan kalau babe belum siap, aku juga akan menahan diri.”


“Tidak, Babe sudah siap,” tetapi dengan raut wajah yang terlihat sedih, Rara yang melihatnya hanya bisa menarik napas panjang, dan berharap orang tua itu tetap sehat


‘Andai aku bisa mengangkat beban di dalam hatimu, Be, aku sudah membuangnya’ ucap Rara dalam hati, melihat babe sedih ia jauh lebih terluka.


Sukma membawa kendaraannya kearah Jakarta utara, masuk tempat wisata Ancol. Tempat wisata yang  yang disukai banyak kalangan, kalangan berduit maupun kaum recehan, karena banyak  ragam pilihan yang di tawarkan.


Tempat wisata milik pemerintah DKI itu jadi pilihan Rara. Ia berharap Calvin bisa bermain pasir dan ia  bisa memandang laut  Ancol, dan barang kali Rara dan Sukma bisa berteriak disana nantinya, seperti yang biasa mereka lakukan saat kuliah dulu


Menghirup udara pantai Ancol dan duduk di pantai,  rasanya mampu menghilangkan kepenatan , membiarkan Calvin bermain pasir sepuasnya

__ADS_1


Rara , sukma, dan babe duduk di tikar, mereka berdua sudah  jadi pendengar yang baik, mendengarkan cerita yang akan diungkapkan  ayah Rara.


 “Ibu yang melahirkan mu sudah meninggal ,Ra,” ujar Pak agus memulai cerita, kemudian wajah  itu jauh terlihat lebih sedih dari sebelum, ia juga mengusap air di ujung matanya


 “ Ia mengalami kecelakaan, dia meninggal dengan adik lelakimu yang masih di kandungan,  saat itu kita mengalami kecelakaan, dan mereka berdua tidak selamat dan  kita  selamat,.”


Pak Agus terdiam lama, mendengar hal itu harusnya Rara menangis, tetapi ia tidak melakukanya, ia bisa menyingkirkan, dan mengunci air matanya agar tidak  jatuh,  sebagai gantinya malah Sukma yang menangis.


Ia bukannya tidak sedih, jika ia menangis juga, ayahnya akan semakin terpukul itu alasannya untuk tidak menangis , di dalam hatinya ia merasakan pilu yang mendalam membayangkan kesedihan babenya kalah itu, di mana babe dan ia  selamat, sementara istrinya meninggal bersama anak dalam kandungannya. Pantas ia merasa terpukul dan begitu shock saat  Bu Soimah mengungkitnya.


“Hanya itu yang bisa aku ceritakan padumu Nak, untuk saat ini,” ujar  Pak Agus dengan tatapan mata terluka seakan-akan ada  banyak rahasia yang ingin ia simpan sendiri.


“Hanya itu Be,  bagaimana ibu, seperti apa dia? Aku ingin  tahu.”


Rara menatap sang ayah,  ingin babenya  menceritakan tentang ibunya seperti apa wanita yang melahirkannya.


“Ibumu sangat cantik sama sepertimu,”


 Wajah Rara merekah, bibirnya tersenyum ingin tahu banyak tentang sang ibu


  “Dia wanita yang penyabar.”


Sehabis itu babe Rara tidak ingin mengungkit tentang ibunya lagi, ia terdiam


Rara berpikir kalau babe belum siap menceritakan  dan tidak bagus untuk memaksanya menceritakannya, luka yang ia alami, babenya tidak ingin membuka  kesedihan itu


Babe Rara sudah menceritakan  bahwa ibunya sudah meninggal, walau ia sedih tapi merasa lega,  setidaknya ia tidak penasaran lagi, ia yakin Ibu yang melahirkannya sudah tenang di dunianya sendiri


 “Jika babe mau memberitahukan kuburan ibu dan adiknya mungkin suatu saat aku akan  ziarah dan membacakan doa untuk mereka berdua,” ujar Rara mengusap punggung tangan babenya.


 Tapi hanya satu yang bisa membantunya dan  bisa menceritakan semua kejadiannya adalah  engkongnya.


“Mungkin nanti kalau pulang dari sini aku  bertanya langsung sama engkong,” gumam Rara


Menghabiskan hari itu di pantai Ancol membiarkan  babehnya menemani Calvin bermain pasir, ia menikmatinya melupakan hari  yang sulit yang mereka lalui , hingga  satu hari terlewatkan lagi


Kini sudah hampir sore,


Di sisi lain,


Bastian mengalami hari sulit, ia belum menemukan tentang keberadaan Rara, hidupnya terlihat berantakan, ia mengabaikan panggilan ibunya,  ia tidak mau mengikuti pertemuan keluarga


Acara pertunangan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari, saat   sebelum pernikahan Rara dan Bastian dan sang ibu menyembunyikan itu pada keluarga Viona.


Tadinya ibu Bastian merasa tidak masalah kalau Bastian sudah menikah dengan Rara , ia berpikir  mudah memisahkan mereka.

__ADS_1


Tetapi  kabar tentang Alvin adalah cucunya , ia jadi bingung sendiri, tetapi tetap melanjutkan rencana yang mereka buat dengan Viona, hari itu Bastian tidak datang ke pertemuan keluarga


Viona sagat marah, tapi kemarahannya bukan di tujukan pada  Bastian melainkan pada Rara.


Semakin tinggi Pohon, Semakin kuat juga  Angin meniupnya,


Mungkin itu cocok untuk Rara, kini tergantung padanya, apakah ia akan bertahan dan tetap berdiri kokoh di tengah terpaan badai, atau ia akan menyerah dan tumbang,


Bastian  anak yang sayang pada ibunya, tetapi bukan berarti ia juga harus menuruti semua keinginan ibunya , karena ketakutan Ibunya pada Rara ia tidak mau Rara masuk ke dalam keluarganya, harus memaksa Bastian  bertunangan dengan Viona artis penuh sensasi


“Bisa hilang harga diriku jika harus menikahinya,” gerutu Bastian saat ibunya memaksanya  untuk  bertunangan hari ini.


Ibunya terlalu yakin kalau Bastian langsung mengiyakan  dan  bertunangan kalau ia merencanakan  hari, ia tidak perduli kalau Bastian sudah menjadi suami seseorang


 “Istriku jauh  lebih baik darinya,”ujar Bastian saat  Hartati mengirim pesan agar Bastian datang membahas acara pertunangan mereka.


Terlalu banyak masalah dalam keluarganya dan terlalu berat beban pikiran yang di pikul Rara, hingga ia lupa  sudah punya suami beberapa hari lalu


Saat Bastian hampir gila memikirkan Istrinya yang menghilang bahkan mencarinya kemana-mana.


Namun Rara  tidak mengingatnya, mungkin karena dendamnya membara pada keluarga Bastin membuatnya kecewa,  hingga lelaki berparas tampan itu tidak masuk dalam daftar rindu lagi dalam hati Rara.


.


“Aku pinjam ponselmu Mey,”


“Untuk menelepon siapa?”Sukma  menatapnya dengan  raut serius … raut wajah keponya bergejolak.


“Engkong, mungkin dia sudah mencari kami karena tidak bisa di hubungi ponselku. “


Rara mengusap layar ponsel menekan  nomor sang kakek.


Melihat babenya yang masih masih terlihat melamun dan wajahnya sangat sedih, ia mengurungkan niatnya mengabari keluarganya, ia ingin menghibur babenya terlebih  dulu.


”Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


__ADS_2