Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Menolak bertemu


__ADS_3

Mash dalam hotel.


Kini Bastian tidur-tiduran dengan  dengan malas


Rara merasa tidak enak  karena ponsel Bastian ia sembunyikan. Rara  memutuskan memberikannya kembali . Ia beralasan kalau ponselnya  Bastian mati dan tertinggal di jok mobil.


Rara  berpikiran kalau Bastian mencurigainya, ternyata lelaki itu justru berterimakasih.


"Untung kamu temukan Ra, aku dah capek nyariin, makasih istriku," ucap Bastian mencharger ponsel miliknya.


Disisi lain  Hartati semakin khawatir pada Bastian, karena   dua hari  tidak ada kabar darinya, sejak mengantar Rara.


Wanita itu tidak tahu kalau Bastian sudah menikah dengan musuhnya.


*


“Tian, aku ingin bicara”


“Iya katakan saja”


“Apa kamu senang menikah denganku?”


“Tentu,” ada apa Ra?” Bastian mengalihkan wajahnya , ia menatap Rara dengan tatapan serius.


“Ayo kita menemui keluargaku,” ujar Rara, ia menahan napas menunggu reaksi sang suami.


“Kamu serius? Uda ayo,” ucap Bastian , mendengar hal itu Rara terlihat sangat senang.


“Kebetulan Rumah keluargaku dekat di sini, jadi kita bisa mampir untuk menyapa mereka,” ucap Rara.


“Dimana?”


" Keramat Pulo Dalam, dekat dari hotel ini, di belakang,  jalan juga bisa , kita baiknya jalan kaki karena tidak ada parkiran  mobil disana”


“Tunggu ....Tunggu, kamu bilang dimana Tadi?” Tanya Bastian raut wajahnya itu tiba-tiba berubah.


“Di belakang. Kramat Pulo”


“Apa? Tempat kumuh itu, dekat rel kreta api?” Tanya Bastian.


“Iya, Lalu kenapa?”

__ADS_1


“Aduh Ra, aku tidak mau ketempat kumuh itu, aku punya pengalaman yang sangat buruk di daerah itu, sampai saat ini aku masih trauma. Lagian, tempat itu, sangat kumuh Ra”


“Tapi aku hidup di sana Bastian ... rumah keluargaku, ada di sana juga”


Suaranya terdengar bergetar, karena apa yang ia pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan, berpikir Bastian tidak keberatan.


‘Apakah  ini yang disebut hidup di dunia yang berbeda, Apakah ini yang di sebut beda kasta? bagai bumi dan langit’


“Jangan salah paham Ra, aku tidak menilai semua orang tinggal di sana kumuh. Aku  mau bertemu keluargamu Ra, aku mau tapi jangan di sana iya. Ayo kita cari hotel kalau tidak … Kita undang ke apartemen kita, lagian kamu gak pernah bilang tinggal  di sini”


“Bastian, bagi anak yang menikah wajib mendatangi rumah orang tua mereka, bukan di undang ke tempat lain”


Mungkin karena Rara yang merasa terlalu kecewa pada ucapan Bastian, saat itu juga,  ia merasa   kembali ada jarak di antara mereka.


Padahal baru dua hari ini  ia resmi jadi nyonya Salim.


“Kalau tidak, mari kita undang semua keluargamu ke hotel ini Ra, kan dekat”


“Pak Bastian, kekayaan dan uang yang banyak kamu miliki tidak dapat membeli dan mengubah adat  di keluargaku,” ucap Rara terlihat sangat kecewa.


‘Iya buah yang jatuh, tidak akan jauh dari pohonnya, kalau ibunya saja berpikir dan bertindak  arongan, lalu apa bedanya dengannya’ ucap Rara dalam hati.


Ia merasa dadanya  bagai di pukul dengan palu besar, ini nama luka  yang tidak berdarah.


Bastian merasa sangat menyesal, tetapi lingkungan Rara telah menorehkan luka dan trauma panjang padanya, itulah sebabnya ia menolak datang ke tempat tinggal Rara.


“Baiklah kalau kamu tidak mau, aku mengerti,” suara  Rara terdengar bergetar, ia ingin berteriak menangis, tapi seorang Rara Winarti  tidak akan menangis di depan orang lain,


 “Aku tidak bisa Ra, bagaimana kalau kita menemui  ibuku saja, baru ingat aku harus menemui ibuku hari ini, mungkin juga nanti akan mendapatkan masalah besar karena ponsel  aku mati selama dua hari, ia pasti sudah panik, jangan- jangan melaporkanku sebagai anak hilang ke kantor polisi.”


‘Emang loe bocah SD apa’ Rara membatin,  melirik Bastian tajam


Saat itulah Rara merasa ia terbang dan melayang di angkasa, lalu  dihempaskan dan kemudian di timpuk pakai batu.


Tapi itu itulah alur kehidupan, tidak semua yang kita harapkan mudah kita dapatkan dan apa kita impikan  tidak semua menjadi kenyataan.


Terkadang, sesuatu yang mudah kita dapatkan membuat kita merasa hebat dan lupa mengucap syukur pada pemilik hidup.


“Baiklah aku saja yang menemui mereka, kamu ketemu Ibumu,  jadi kita menemui keluarga kita masing-masing," ucap Rara merasa sangat kecewa.


Saat Rara mendapat penolakan dari Bastian, sempat membuatnya merasa lemas, tetapi ia bukan wanita yang suka merengek manja.

__ADS_1


“ Maaf iya Ra,  aku harus pergi menemui ibuku, kamu  pergi juga menemu keluarga mu. Mari kita lakukan masing-masin dulu iya, tolong jangan marah dan  jangan jadi membenciku, tapi beri aku waktu nanti kita bertemu di apartemen.”


Wajah bastian terlihat  merasa  bersalah


“Baiklah,” Rara mencoba bersikap tegar, walau hatinya remuk.


Saat ia merasa yakin ingin berubah  hidupnya untuk lebih baik lagi, satu  itu juga syetan dalam dirinya bangun dan menggangunya


“ Pergilah hati-hati,” Rara mencoba tersenyum  walau sangat berat jadi kesannya pipinya bagai ketarik, dan merasa kaku bagai karet ban motor.


Bastian meninggalkan hotel  dan meninggalkan Rara yang masih duduk  di  sofa dalam kamar, menatap card yang diberikan Bastian untuk ia gunakan.


Bastian memberinya kartu kredit, untuk ia gunakan membeli semua keperluannya, dan boleh ia gunakan untuk membeli semua apa yang mau.


Tentu saja ia menerimanya karena sesuai prinsip hidupnya, ia akan memakai duit hasil kerja kerasnya dan duit suaminya.


Karena Bastian saat ini sudah menjadi suami jadi ia boleh menggunakan semua uang Bastian. Tetapi semua ini, bukan  bicara tentang uang, tapi keluarga yang ia rindukan.


Lagi-lagi ia tidak menyangka Bastian menolaknya seperti itu,  ia menerima penolakan karena kemiskinan


“Baiklah  biar aku sendiri saja,” Rara mencoba memberanikan diri.


Ia menyiapkan mental untuk menemui keluarganya. Ia mempersiapkan diri, mungkin ibunya akan memarahinya lagi. Mungkin akan menyiramnya dengan air comberan lagi, karena ia menikah diam-diam.


Saat lagi duduk berpikir, tiba-tiba panggilan masuk ke ponselnya .


“Dari babe ….? Apa be?”


“Pulang dulu ke rumah Ra, ada  hal yang sangat penting yang kita bicarakan,” ujar ayah Rara.


Bunyi jantung Rara semakin berdetak cepat.


“Baik Be”


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya  keempatku, tolong tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-The Cursed King(ongoing)


__ADS_2