Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Diurut biar cepat hamil


__ADS_3

“Non, saya hanya diminta  Nyonya besar untuk mengurut Non Rara”


“Tapi aku tidak ada masalah Mbok, aku baik-baik saja, aku tidak biasa diurut”


“Hanya sebentar kok Non, tahan sebentar iya”


Mbok  Arin mengurut bagian dada Rara.


“Auuuh ... sakit Mbok!”


“Maaf Non, apa sakit?”


‘Sakitlah, dada gue, kan masih papaya mangkal, masih original’ucap  Rara  dalam hati.


Bastian  hanya jadi penonton, saat wanita paru baya itu mengurut bagian indah dari tubuh Rara.


 “Buka  bajunya semua ya Non biar saya urut,” ujar si  Mbok  menatap Rara.


“Jangan Mbok, aku gak biasa diurut, tidak pernah … suka merasa geli.”


“Tapi ini permintaan Nyonya besar juga Nona. Ia meminta saya mengurut anda dengan minyak ramuan. Tadinya  kita akan melakukan ini di rumah nyonya, tapi karena Non Rara tidak mau datang ke sana,  jadi saya di suruh melakukanya. Tapi nyonya besar bilang  Non sudah hamil, tapi  saya pegang tadi belum ada, apa  kalian  sudah periksa ke dokter?”


Rara memilih diam karena Bastian lah yang memulai berbohong , jadi  ia membiarkan lelaki itu mengurus sendiri kebohongannya.


“Oh, itu Mbok, gagal, tapi jangan bilang sama omah ,iya,” ucap Bastian merayu Mboknya,


“Oh, makanya itu , mari saya urut semua badannya agar tubuh kamu kuat”


“Aku tidak biasa diurut mbok,  aku merasa geli kalau di urut.” Rara menolak,


“Ini demi kesehatan Non sendiri dan   calon bayinya nanti, kalau dada sehat ASI eksklusif nanti banyak, jadi juga akan sehat Non"


'Hadeeeh ... segala urusan susu juga di urusin, bentar lagi bagian kewanitaan ku Juga jangan-jangan ikut di urusin' ucap Rara dalam hati.


“Aduh Mbok masa semuanya dari A sampai Z. Oma harus urusin sih”


“Non, menikah dengan Bastian, berarti menerima semua peraturan yang berlaku di rumahnya, Non”  Wanita  itu menatap Rara dengan penuh kesabaran.


Bastian hanya diam.

__ADS_1


“Tapi kami, mau kerumah Omah sekarang Mbok, mau bertemu keluarga Bastian.”  Rara mencoba segalanya agar tidak di urut.


Tapi wanita paru baya itu ,orang yang kekeh dalam menjalankan perintah majikanya. Ia berusaha dengan keras agar mau di urut.


“Kita gak jadi ke rumahku Ra, Omah, Ibu dan ayah menghadiri pernikahan sepupuku di Bali, jadi kita batal hari ini, barusan Omah telepon.” ucap Bastian lagi, setelah ia selesai menerima panggilan telepon dari Omanya, ia menunjukkan layar ponselnya pada Rara.


“Terus bagaimana?” Rara menarik napas ia tidak punya alasan lagi menolak diurut.


“Mungkin bertemu keluargamu saja hari ini, bagaimana?” Bastian duduk di sisi ranjang.


“Aku sudah bilang sama babe  kita besok datang, aku tidak enak kalau datang lagi hari ini”


“Iya sudah kita tunggu besok, kamu di urut saja,” ujar  Bastian, ia mendukung,  bila itu tentang kesehatan Rara.


Tiba-tiba  si Mbok datang lagi dengan membawa botol mawar di tangannya dan sarung.


“Ini pakailah, biar saya urut,”


Biasanya, Rara paling tidak suka d paksa, tetapi kali ini ia  ingin berubah sikap keras  kelapanya sedikit, ia mau akhirnya diurut.


Ia menanggalkan semua pakaiannya  dan tidur telungkup di matras sesuai yang di perintahkan wanita paruh baya itu.


Baru saja tangan wanita itu  bergerak mengurutnya, ia sudah teriak-teriak seperti orang yang hendak dipukuli.


“Diam dong Ra kapan diurutnya kalau kamu menolak seperti itu.”


Bastian merasa gendang telinganya ingin pecah karena teriakan Rara.


“Sumpah! rasanya  geli bangat, Tian, aku kelelahan karena geli aku tidak tahan lagi Bi”


“Geli apaan sih, buruan  biar kita pergi  jalan, kita makan di luar, kamu boleh minta apa saja yang penting kamu mau diurut,” ucap Bastian membujuk Rara.


Wanita paruh baya itu dengan sabarnya melayani dan sabar melihat tingkah konyol  Rara  tertawa terpingkal- pingkal dan kadang Rara spontan menyingkirkan tangannya.


Bastian hilang kesabaran, ia memegang tangan Rara dan menahan kakinya , di urut secara paksa. Pada akhirnya ia tertidur pulas .


  “Dasar … geli, geli tapi ketiduran juga.” Bastian melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang paksa tangan Rara.


“Dia orang yang gampang merasa geli dan sensitif,  makanya jika Pak Tian, mau ajak dia hubungan suami istri, harus dengan kesabaran bukan?”

__ADS_1


Mbok Arin bertanya bercanda, pada majikannya.


 Lelaki yang ia rawat dari kecil dan sekarang Bastian sudah menikah.


 “Sepertinya dia bukan orang yang gampang percaya pada orang lain dan ia juga keras ,” ujar wanita itu lagi, menatap Rara


Bastian hanya  mengangguk . Apa yang dikatakan si Mboknya benar adanya, ia orang yang tidak mudah percaya pada orang lain.


“Biarkan saja tidur ga usah di bangunin Mbok, tadi malam dia kecapean kata Bastian,  mengingatkannya kembali malam itu, ia membayangkan Rara mengendong tubuhnya masuk kekamar mandi  dan dan mengangkat tubuhnya keluar  dari kamar mandi lagi.


“Aku ingin mengurut bagian depannya, Tian,  tolong balikkan” Pinta Mbok dengan hati-hati ia membalikkan tubuh Rara,  berhasil,  dadaa montok Rara terbuka. Bastian dengan buru-buru  menutupnya pakai sarung, ia takut dedek juniornya bangun,   pada waktu yang salah.


Bastian harus mencari waktu yang pas dan tepat untuk melakukanya.


Ia masih duduk di samping tubuh  Rara yang sedang diurut, menguap beberapa kali dan akhirnya tertidur dengan sangat pulas , mungkin rasa pegal yang ia keluhkan tadi pagi sepertinya dapat di urut, makanya ia tertidur dengan lelap.


Si mbok,  masih melakukan urut-urutan terakhir pada dada, perut, dan pinggul dan tidak luput juga pangkal pahanya.


Sepertinya wanita itu bisa mengurut dan punya kemampuan menerawang atau punya penglihatan juga.


“Dia mengalami banyak hal menyedihkan dalam hidupnya, tapi ia simpan sendiri dan tidak mau berbagi kesusahan dengan orang lain,” ujar wanita itu menatap wajah Rara yang tertidur pulas seperti bayi.


Bastian membuka mata,  dengan wajah lemah, ia menanggapi ucapan si Mbok


“Iya Mbok,  dia orang yang sangat keras, tapi apa adanya, ia baik  berbeda dengan wanita-wanita yang biasa aku kenal”  Bastian memuji sang istri.


“Buka bajunya pak Tian, biar Mbok urut juga, nanti malam biar kalian mendapat stamina baru. Agar  cepat hamil sesuai keinginan oma. Agar nyonya muda bisa akur dengan  tuan jika Pak Tian  punya anak.


Bastian menurut, ia dan wanita itu dekat, Mbok Atin sudah seperti ibu kedua baginya yang selalu mengerti keadaanya.


”Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Bintang Kecil untuk Faila


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


__ADS_2