
Ini pertama kalinya Bastian merasakan kemarahan seperti ini dalam hidupnya, ia sering marah dan kemarahan selama ini dikarenakan Ayahnya karena sering bertengkar dengan ibunya, dikarenakan Perempuan lain.
Tapi semarah-marahnya , ia tidak pernah merasakan seperti yang disebababkan Rara seperti yang ia rasakan saat ini.
'Kepalaku pusing, aku bisa gila kalau tinggal di sini dengan situasi seperti ini, aku harus mencari udara segar dan melupakan wanita kejam itu’ Ia membatin mendengus kesal,
Bastian memilih duduk di balkon, duduk sendiri, sibuk menata hati dan pikirannya saat melihat Rara sedih ia ikut sedih juga.
Sementara Rara memilih menghidar dari Bastian, jika lelaki itu mendekat, maka Rara akan menjauh, Bastian selalu melihat gerak-gerik Rara diam-diam, bahkan saat ia memilih makanan tersaji di atasa meja ia menebak menu kesukaan yang akan ia pilih.
Bastian bahkan menyebut dalam hati makanan yang akan di pilih Rara, semua tebakannya benar. Rara memang suka makanan pedas ia memasukkan ke dalam piring. Bastian sudah sangat hapal kebiasaan Rara.
Seperti biasa Rara akan tampil apa adanya, jika ia lapar, ia akan makan lahap, jika ia tidak suka maka akan bilang tidak suka.
“Terimakasih, karena sudah menyelamatkan aku tadi . Bos,” ucap Rara pada Ken, saat sedang makan.
“Siapa yang menyelamatkanmu, orang lagi pengen makan,” ujar Ken tertawa.
“Ini makan, untuk menghadapi orang-orang seperti mereka, harus makan banyak,” ucap Lelaki itu memasukkan banyak daging ke dalam piring Rara.
“Apa yang kita lakukan, bukankah belum waktunya makan?”
Ken tersenyum menjengkelkan.
“Memang belum, kan, kita lapar”
“Kamu semakin membuatku malu Pak Kenzo, mereka akan berpikir kalau aku ini wanita yang rakus,” ucap Rara berbisik-bisik.
“Memang iya, kan?”
Saat mendengar itu, sikap bar-bar Rara langsung keluar, ia menginjak tumit sepatu Ken, dengan kuat.
“Auh … auh sakit! Baik, baik aku hanya bercanda."Ken, meringis kesakitan.
“Ini kamu yang lapar, kamu harus banyak makan juga untuk menjawab pertanyaan para wartawan atas skandalmu,” ujar Rara menganti piring di tangannya ke tangan Ken.
Setelah mereka makan, Ken, keluar untuk merokok dan Rara berjalan ke balkon, melihat banyak kembang bermekaran menarik perhatiannya.
“Wah indahnya,” ujar Rara menghirup kelopak bunga.
__ADS_1
Ia tidak menyadari, kalau Bastian juga di sudut balkon, hanya diam melihat Rara.
Saat Rara merentangkan tangannya menatap pemandangan kota dari balkon rumah lantai dua. Wajahnya gembira, ternyata di rumah Bam-bam ada banyak tanaman bunga.
”Ini sangat indah, sangat cantik." Rara menyentuh kelopak Bu buang sedang mekar.
“Memang indah, apa kamu mau membelinya?” Bastian tiba-tiba muncul dari pojokan. "Kamu kan, sudah banyak uang"
Rara tidak ingin menanggapinya, ia ingin masuk lagi ke dalam rumah.
“Apakah kamu merasa puas sekarang? Kenapa kamu masih bekerja saat kamu sudah memiliki uang banyak , apa kamu juga ingin mendapatkan uang dari Ken?”
“Iya aku akan mendapatkan uang dari Ken, makanya aku bekerja,” ucap Rara malas berdebat.
“Kenapa kamu tidak liburan dengannya lalu dapatkan uangnya." Bastian menatap sinis.
Rara hanya menoleh sekilas, ia tahu Bastian sangat marah dan kecewa, karena Bastian berpikir ia memiliki banyak uang, sogokan dari ibunya..
"Haaa! Kenapa kamu tidak liburan? " tanya Bastian lagi.
Ia tidak menjawab apa yang dikatakan Bastian, hatinya sakit mendengar kata-kata hinaan itu, Bastian menuduhnya wanita matre.
“Kenapa hanya diam Ra?” tanya Bastian, tetapi matanya berkaca-kaca, ia yang menghina Rara, tetapi ia juga yang merasa bersalah, sebenarnya dalam hatinya ia sangat merindukan Rara. Semakin ia membenci Rara semakin ia merindukannya.
‘Aku merindukanmu Ra, tidak perduli kamu menyakiti hati ini’ ucap Bastian dalam hati.
“Ah, aku tidak ingin berdebat denganmu Bastian, tolonglah”
“Aku juga tidak ingin Rara, tetapi kamu yang memulainya!” bentak Bastian
Kriiing …!
Saat berdebat dengan Bastian telepon milik Rara berdering, dengan cepat ia mengangkatnya, awalnya, ia pikir dari Ken yang duduk di bawah. Rara berpikir Ken meneleponnya dan menyelamatkannya lagi dari Bastian.
Namun, saat melihat nomor yang tertera wajahnya langsung berubah.
“Iya Bu,’ jawab Rara dengan wajah menegang, itu adalah guru TK Alvin.
“Maaf Bu saya guru Calvin, tadi Calvin mengalami kecelakaan Bu dia-”
__ADS_1
“Kecelakaan Bu, anak saya di mana?” Wajah Rara langsung panik.
“Ada apa Ra?” Mendengar Avin kecelakaan Bastian ikut panik.
“A-a-alvin dia dia …?”
“Ra, tenanglah katakan ada apa?” Bastian memegang pundak Rara untuk menghentikan tubuhnya yang terus berputar-putar tidak jelas, ia terserang sindrom panik.
“Bastian ... Alvin kecelakaan,” ujarnya dengan wajah yang pucat dan kaki lemas, ia ingin jatuh.
“Tenanglah, ayo aku antar, Bastian membawa tangan Rara menuju mobil miliknya”
Mata semua orang menatap heran,
“Ada apa Ra?” Ken, berlari menghampiri mobil Bastian.
“Alvin Kecelakaan, aku akan mengantarnya,” jawab Bastian dengan sikap buru-buru , ia terpaksa yang menjawab, karena Rara berubah seperti mayat hidup.
Bastian melajukan mobilnya keluar dari perumahan kawasan elite.
"Ra di rumah sakit mana?" tanya Bastian.
Rara masih linglung dan tiba-tiba ia menangis tangannya memegang dadanya yang terasa sakit. Bastian melihat sisi yang berbeda lagi, dari Rara, tidak ada selama ini yang membuatnya menangis dan terlihat sedih.
Tidak ada selama ini yang mampu membuat Rara menangis selain putranya. Bagi Rara, Alvin belahan jiwanya yang sangat berharga.
Tetapi saat ini, Bastian tahu wanita kuat itu, akan, rapuh jika anaknya terluka, ia menangis ketakutan saat Alvin terluka.
Melihat hal itu Bastian, menghentikan mobil sport berwarna merah itu di pinggir jalan, lalu ia menenangkan Rara.
"Rara dengar, tenanglah, dia akan baik-baik saja, percaya padaku," ucap Bastian menggenggam kedua telapak tangan Rara."Katakan dengan jelas dia di mana, kalau tidak telepon lagi gurunya," ujar Bastian, seketika rasa benci dan amarah pada Rara hilang saat itu juga
"Bastian, dia terjatuh dari pelosotan , dia memakan biskuit kacang pemberian temanya, ia pasti kejang tadi sebelum jatuh, iya ampun , pasti dia tidak bisa bernapas," ujar Rara menangis, Bastian memeluknya untuk menenangkannya.
"Tidak apa-apa Ra, dokter pasti tahu hal itu, mereka akan memberi tindakan yang tepat, aku juga beberapa kali mengalaminya, jangan lupa, aku juga alergi kaca sama dengan Alvin, dia tidak apa-apa percaya padaku, sekarang katakan di mana rumah sakitnya, kita akan melihatnya kesana," ujar Bastian masih memeluk Rara. Pelukan hangat itu bisa menenangkan Rara dari sindrom ketakutan yang ia derita.
Bersambung ....
Bantu like dan vote donk Kakak
__ADS_1
Sepi like nih ... kayak hatiku kw kw