
Mendengar nama hotel Rara langsung merasa panas dingin.
“Kenapa wajahmu merah?”Tanya Bastian tertawa.
“Gak, hanya merasa gerah saja, panas, baju kebayanya tidak menyerap keringat, aku mulai gerah, gak nyaman , gatal.” Rara mencari alasan dan menjadikan kebaya pernikahannya sebagai alasan.
Padahal dalam otak cantiknya ,ia lebih baik mereka berdua pulang ke apartemennya dan mungkin, ia akan mengunci diri dikamarnya dan tidur sendiri malam ini, melupakan malam pertama. Jadi untuk sesaat ia mencoba bersikap manis pada Bastian.
“Masa pulang ini hari bahagia kita Ra, kita ke Hotel dulu baru besok aku akan membawamu ke rumah mami”
“ Gue kan gak punya baju Bastian, masa kita ke Hotel tanpa membawa baju salinan,”
Mendengar kata Gue lagi, dari Rara sepertinya Bastian akan mengajari Rara, memberinya pelajaran dan tata krama yang benar, agar keluarganya bisa mudah menerimanya nanti
Ia tiba-tiba menghentikan Mobilnya di pinggir jalan Tol.
“Ada apa?” tanya Rara bingung, ia berpikir kalau kalau Bastian kebelet pipis.
“Aku sudah bilang,kan berapa kali, untuk jangan pakai bahasa lo-gue samaku Ra, kita harus mempertegas lagi kali ini, wajah Bastian terlihat tegas, ia ingin Rara mengubah gaya bahasa yang terkadang asal nyeletuk.
Ingat Ra …. Kamu sekarang sudah jadi istriku, jadi berhentilah bicara dengan gaya seperti itu padaku, kamu harus berubah demi aku, aku suami sekarang.” Bastian menatap dalam mata Rara.
“Baiklah, aku mengerti, aku akan berusaha,” ucap Rara berjanji walau ia sadar entah berapa kali wanita itu berjanji padanya,
“Baiklah Ra, aku percaya padamu. Ayo kita makan aku lapar.” Bastian memegang perutnya benar saja Rara melirik jam kecil yang melingkar di tangannya Jarum jamnya, sudah bertengger di angka dua Itu artinya Bastian sudah melewatkan makan siangnya, karena dari pagi ia hanya memberinya sepiring mie goreng.
Ia bahkan belum sadar kalau ia juga belum makan apa –apa. untuk mengisi perutnya ia hanya meminum segelas teh manis hangat pagi itu.
“Ha. Sudah sore, aku baru menyadarinya, aku juga sangat lapar, aku malah belum makan apa-apa sejak pagi,” Rara ikut-ikutan menepuk-nepuk perutnya.
__ADS_1
“ Ha,bukanya tadi pagi kamu masak mie goreng?” Bastian kasihan saat Rara kelaparan juga.
“Iya aku masak dua tapi kamu menghabiskan dua-duanya,”
Bastian meminggirkan mobilnya lagi. “Jadi kamu belum makan dari tadi pagi?”
“Belum,” jawab Rara santai, tidak ada sikap manja walau ia bisa melakukannya ini karena ia sudah jadi istri
“Kenapa gak ngomong si Ra, Iya ampun, kamu baru jadi istriku saja sudah menderita,” ucap Bastian terlihat seperti suami romantis “Aku mana ngerti, kalau kamu tidak bicara, ada dalam satu piring iya sudah aku habiskan, pantesan aku merasa kekenyangan.” Bastian tertawa kecil
“Aku pikir kamu lapar bangat, makanya aku membiarkan kamu menghabiskannya”
“ Aku jadi merasa bersalah ni, aku jadi cowok kok gak peka sih, kamu jadi kelaparan karena aku, kedepannya aku tidak mau hal seperti ini Ra, aku ingin ada keterbukaan di antara kita berdua, jika kamu sakit katakana sakit, jika kamu terluka katakana apa adanya, aku juga seperti itu,” kata Bastian . Ia menegaskan hal itu bukan tanpa alasan, tapi karena iya tahu sifat keras kepala Rara
“Baiklah aku akan Lakukan,” ucap Rara, tetapi antara mulut dan hati seolah tidak sama.
Jalanan ibukota seperti biasa sudah macet, kendaraan roda empat itu merayap sepanjang jalan.
Jarak perjalan yang di lalui Bastian terasa makin panjang
Kantor urusan agama Gambir, tempat ia dan Rara mengucapkan janji . Nah pulangnya. Bastian sepertinya membuat pilihan jalan yang salah, ia mengarahkan mobilnya kearah tempat biangnya kemacetan dan kepadatan , jalan arah Senen Jakarta pusat yang selalu padat merayap
“Bisa gila aku, menghadapi kemacetan Kota Jakarta ini, aku mau pindah planet lain saja sekalian,” Gerutu Bastian.
Ia menoleh Rara, ternyata ia sudah tertidur dengan lelap.
“Baiklah kamu bisa tidur dengan perut kelaparan seperti itu,” Bastian merasa kasihan, bukannya ia tidak mau mengajaknya makan di restauran, Tetapi ia takut ada wartawan yang membuntuti mereka,
Bastian menyelimutinya dengan Jas yang ia gantungkan dijok belakang.
__ADS_1
Melihat Rara tertidur pulas, ia ikut menguap merasa sangat mengantuk,
“Aku tidak tahan kalau seperti ini.” Karena jalanan yang akan mereka lewati panjang, Bastian mengarahkan mobilnya kearah hotel di pinggir jalan. Sebuah hotel di daerah Senen. Menjadi pilihan terakhirnya, karena ia benar-benar tidak bisa meneruskan perjalananya. Rasa capek dan rasa ngantuk yang mendera tubuhnya, Hotel akan jadi pilihan terakhir walau nantinya ia akan menerima protes keras dari Rara. Justru ia berpikir kalau di teruskan akan bahaya nantinya.
Karena menurut Omahnya pamali jika pengantin baru berkendara berdua, baiknya ada yang mendampingi.
Bastia berhenti didepan Hotel berbintang itu, Bastian mencoba menenangkan pikirannya, lalu membangunkan Rara sebelum mobilnya di berikan ke petugas Valet Hotel.
Bahkan hanya memarkirkan mobilnya, rasanya ia tidak punya tenaga lagi. Bastian benar-benar lelah saat itu.
“Ra, bangun.” Bastian mengusap pipi Rara.
“Apa kita sudah sampai?” Ia menoleh keluar dari jendela mobil dan.”Kita dimana?”
“Hotel”
“Haaa?” Matanya langsung melotot protes “Kok Hotel, aku kan sudah bilang kita langsung pulang.” menatap suaminya dengan tatapan tidak suka
“Aku tidak bisa meneruskannya Ra, badanku rasanya sangat sakit dan tidak kuat menahan rasa ngantuknya dari pada kita celaka, makanya aku pilih ini”
“Terus bagaimana dengan bajuku?” Rara mulai menatap tajam, tatapan khas jika ia sudah marah.
“Tenanglah, nanti kita urus tapi kita istirahat dulu,” Bastian menenangkan Rara istrinya.
“Baiklah, pengantin baru menginap di Hotel,iya itu bagus,” ucap tertawa kesal
Setelah cek in, Bastian memilih kamar yang terdekat dari lobby, agar ia tidak memakan waktu berjalan suami dari Rara itu benar-benar capek, bahkan saat berjalan menuju kamar ia berjalan tidak stabil.
“Ra, anggap saja ini bulan madu kita, tenang saja aku tidak akan memaksamu , aku juga sangat lelah,” ucap Bastian menjatuhkan tubuhnya di ranjang hotel masih dengan jas pengantin yang ia kenakan lalu ia tertidur pulas.
__ADS_1
Bersambung …