
Flashback seminggu sebelumnya.
Sedikit hubungan Bastian dan keluarga Rara baikan. Waktu Rara ingin Ibunya yang menjemputnya , tapi ibunya tidak mau.
Bastian tidak mau kehilangan akal, ia datang membawa Ayahnya saja, tapi melihat niat Bastian yang sangat tulus dan bahkan ia mau meminta maaf dan berlutut di kaki babenya Rara.
Walau hatinya Pak agus sempat kecewa padanya , tapi melihatnya kelakuan Bastian yang rela bersimpuh di kakinya. sampai berlutut meminta maaf kerena tidak berhasil membawa ibunya
Hati lelaki itu luluh , maka dari situlah Rara tinggal bersama Bastian.
Flash –on
Saat ini di meja dapur Rara terlihat masih marah karena keinginannya utuk berfoto belum di setujui.
Rara masih duduk dengan marah dan sikapnya kesal terlihat dari serapannya hanya di aduk-aduk dengan sendok.
Menjadi suami dari istri yang sedang hamil seperti Rara harus mempersiapkan diri, mempersiapkan mental dan paling penting mempersiapkan hati yang sabar , karena wanita hamil seperti Rara terlihat seperti mempunyai kepribadian ganda.
Seperti yang di alami Ara, ia kadang marah tanpa sebab, kadang ia sangat ingin di manja sama Bastian dan kadang ia bilang kalau ia tidak suka dengan bau badan suaminya, tidak suka dengan bau parfum, ia akan menyuruh Bastian tidur di sofa dan kadang tidur ruang tamu.
Rara winarti termasuk orang yang beruntung di muka bumi ini, karena ia memilki suami yang sabar seperti Bastian, yang mau mengerti akan semua kelakuannya dan semua sikap egoisnya selama hamil.
Ia tidak pernah marah, sudah tampan baik, kaya raya, menjadi suami idaman di borong dan di miliki suaminya, tapi Rara akan selalu bersikap semaunya pada suaminya.
Umur boleh muda bukan berarti tidak dewasa, umur boleh tua tapi belum menjamin ia akan dewasa seperti si Rurun alias Rara.
“Kamu bilang aku Ratunya, kalau Ratu kan semua kemauannya harus di turutin,” katanya tiba-tiba, saat ia duduk di kursi itu, bahkan serapan yang di buat tidak juga di habiskan hanya jadi mainan tangannya.
“Iya betul, terus kamu mau apa sayang?” Tanya Bastian dengan lembut.
Bastian menggigit ujung bibir merahnya, ia menunggu kira-kira apa lagi yang minta istrinya kali ini.
“Aku mau melihat salju,”katanya permintaan yang lumayan aneh dan sedikit tidak masuk akal karena di Indonesia sendiri tidak ada salju.
__ADS_1
“Haa!? Bastian menyengitkan alisnya, rambutnya yang jatuh keningnya di di kibaskan ke belakang mirip iklan shampo.
“IYa, aku mau salju, aku ngin melihat salju,” katanya dengan percaya diri, seolah salju itu ada di bawah apartemen mereka dan ia mengajak suaminya bermain salju di sana..
Bastian berpikir keras, ini seperti permintaan jebakan untuknya, kalau ia menolak ia yakin Rara akan marah –marah, karena permintaan Ratu langit seperti dirinya harus di turutin, tidak perduli bagaimana kamu mendapatkannya, ia hanya IYA dan IYA
Tapi kalau ia bilang ok, tapi saljunya di mana? masa ia harus pergi ke kutub utara untuk melihat salju.
Permintaan yang aneh Ra. Tapi baik aku menyetujuinya, aku punya cara untuk melakukanya kata Bastian dalam hatinya.
“Ok, ayo kapan kamu ingin melihatnya?” kata Bastian balik menantangnya.
“Sekarang,” jawabnya dengan gaya seenaknya.
“Baik, ayo,” kata Bastian.
Ia tidak ingin membawa Rara keluar negeri di dimasa kehamilannya saat ini, hanya ingin membawa Rara di dalam Negeri saja.
Bastian pernah dengar ada wahana salju buatan di daerah jawa barat, tepatnya di Bekasi di satu Mall di bekasi
“Ha, kita kemana?” tanya Rara dengan suara lembut
Mungkin ia berpikir kalau Bastian akan menolaknya dan menolak permintaannya untuk melihat salju, karena ia sendiri juga sebenarnya tidak ingin melihat salju, apalagi naik pesawat, keluar negeri pula, ia tidak ingin ia hanya mencari perhatian Bastian dengan caranya sendiri.
Tujuannya hanya ingin mencari gara-gara pada Bastian. Ia hanya ingin mencoba permintaanya apakah semua di turutin.
“Sudah.. gampang pokoknya permintaan kamu akan saya turutin sayang,” kata Bastian.
Dengan senyuman yang sangat manis, ia ingin memberitahukan pada Rara kalau ia tidak main-main dengan ucapannya.
“Tapi aku tidak punya paspor, belum di urus dan sudah mati,” katanya kemudian, walau Bastian tau ia berbohong, karena baru beberapa bulan kemarin ia dari Italia tidak mungkin langsung kedaluarsa.
Apa istriku sudah pikun apa gimana? jelas-jelas ia baru menunjukkan paspornya pada Bastian kemarin . Ia bilang ingin pergi lagi ke Italia karena liburan di sana enak.
__ADS_1
Ada apa denganmu sih sayang? kata Bastian dalam hatinya.
“Tidak perlu pakai paspor sayang, kita akan tetap pergi, kamu akan bermain salju pokoknya,” kata Bastian terlihat bersemangat.
Tiba-tiba ia diam menyimak, iya seperti bingung pada permintaan sendiri.
“Ah tidak jadi, tiba-tiba ia tidak menyukai,” katanya lagi dedek dalam perutnya di buat alasan.
“Kamu yakin sayang? aku sudah menyiapkan semuanya, tidak apa- apa, aku akan menjagamu agar tidak kedinginan,” kata Bastian
“Tidak, aku tidak mau lagi, tiba-tiba aku merasa pusing,” kata Rara meninggalkan meja serapan bahkan setengah juga belum di habiskan.
Ada apa denganmu Rara? kata Bastian dalam hatinya.
Bastian membuat menu serapan baru lagi untuk Rara ia membuang serapan bekas Rara dan membuat menu serapan kali ini, ia ganti bukan dari potongan buah-buahan lagi ia berpikir Rara tidak memakannya tadi mungkin bosan, tapi kali ini, ia membuat roti gandum bakar di olesin selai coklat yang banyak dan parutan keju yang banyak, serapan itu kesukaan Rara.
“Sayang, ini kamu serapan aku sudah buatin roti kesukaanmu ,” kata Bastian membawanya ke Balkon.
Rara berdiri disana, lagi-lagi kedapatan sedang menangis sedih.
Saat Bastian datang, Rara dengan cepat mengusap airmata. Ia lagi-lagi menangis bersedih sendirian.
“Disini..! duduk di sini,” kata Bastian, ia menuntun Rara duduk di bangku di balkon.
“Ada apa sayang? katakan padaku apa yang ada di otok cantikmu ini.”
Bastian menunjuk kepalanya. "Ada apa di sini, di dalamnya ,” tangan Bastian menunjuk dadanya.
Ia terdiam menatap Bastian, lalu menatap jauh kejalanan, tatapan matanya kosong tidak bermakna ada banyak beban di dalam dadanya
“Katakan, aku juga berhak tau, ada apa denganmu ,kenapa kamu bersedih sendirian ,kenapa kamu mau menangis sendirian?.”
Ia juga perlu tau ada apa dengan istrinya, kesabarannya sangat diuji apa kah wanita hamil di luar sana ada yang seperti Rara? tanya Bastian dalam hatinya.
__ADS_1
Saat ia bertanya ada dengan istrinya. Rara tidak menjawabnya, hanya menatap Bastian dengan tapan mata susah di pahami.
Bersambung...