
Rara merasa sangat senang saat ia dan adik-adiknya bisa mempersatukan, terharu saat babehnya memeluk emaknya dan saling memaafkan dan berbaikan kembali.
Saat keluarga Rara akhirnya berbaikan dan akur kembali itulah cara yang di lakukan Rara untuk membuat ayah ibunya bersatu.
“lo hebat Ra, gue salut deh am loe, selalu membuat orang terkejut dalam setiap tindakan lu”
Sukma mengekor dari belakang. Rara duduk di lantai atap seperti biasa , memandang langit penuh bintang indah dan mampu membuatnya otak sedikit tenang
“Gak, juga mey, gue sudah memikirkan semua ini dari kemarin-marin, hal yang paling penting bagi gue saat ini mereka bersatu kembali”
Ia meletakkan gelas dan mulai mencari posisi duduk cantik untuk menatap langit melihat bintang ciptaan Tuhan yang indah.
“Masa mereka harus berpisah saat tua Mey, mereka harusnya menikmati masa-masa tua, saling mendukung dan tetap bersama menunggu cucu dan mendukung anak-anaknya, itu yang harusnya mereka lakukan, maka gue berusaha mewujudkannya”
Ara kini sudah melihat satu bintang cerah, bibirnya mungilnya tersenyum indah, seolah langit tersenyum padannya, karena ia bisa mempersatukan kedua orang tuanya.
Ia berharap ada hari yang lebih indah yang menantinya di depannya nanti,
Sukma tiba-tiba terlihat murung,
“Ada apa Mey? mukanya kayak begitu dah” Ara menatap wajahnya sahabatnya yang tiba-tiba mendung seperti akan turun hujan.
“Gue, bagaimana Ra ? rumah tangga gue di ujung tanduk, hancur gara-gara pelakor. Apa yang harus gue lakukan?”
Rara bangun dan menatap wajah sahabatnya, memegang kedua pipinya, ia mengusap air mata Sukma, sekilas terlihat seperti kekasih yang menenangkan kekasihnya, Tapi itulah pesona yang di miliki Rara yang selalu bisa tempat menampung curhatan sahabatnya.
“Bertahanlah, dan berjuang demi ke empat anak-anakmu” kata Rara mengusap pipi sahabat baiknya, Rara tidak tega bila melihat orang-orang sekitarnya bersedih dan menangis.
“Caranya?”
“Jangan biarkan pelakor itu mendapatkan Yugo dengan mudah, ia hanya artis pendatang baru yang butuh tumpangan, dan suami yang memberinya tumpangan itu, percayalah, jika ia sudah sampai tujuannya, ia juga akan meninggalkan suamimu dan mencari tempat yang lebih aman”
“Itu artinya gue jangan bercerai dulu?”
“Iye, bertahanlah sedikit lagi, gue yakin suami loe hanya salah jalan, ia akan kembali nanti, kamu tau caranya agar ia bisa cepat kembali, loe lebih baik, lebih cantik, dan mandiri, jangan pikirkan ia sementara waktu, anggap ia lagi liburan panjang. Gue akan mendukungmu sayang” kata Rara, memeluk sahabatnya.
Berbincang-bincang sebentar pada akhirnya sukma pamit pulang.
Ia terlihat lebih tenang setelah Rara mendukungnya, Ia selalu ada untuk setiap masalah Rara, begitu juga Rara selalu ada untuknya, mereka berdua sahabat yang tidak bisa terpisahkan, mulai dari kecil hingga sudah dewasa dan punya keluarga. Persahabatan mereka tidak termakan waktu, dan masa saling membantu satu sama lain.
Kini Rara yang duduk sendiri, ia mengecek kembali pesannya yang kirim Bastian, ia tadi membalasnya dengan buru-buru karena terlibat pembahasan serius dengan keluarganya.
Sudah larut malam tapi Bastian tidak bisa memejamkan matanya, ia masih saja menatap ponselnya menunggu istrinya memberi kabar lagi.
Kriiiing …
__ADS_1
Kriiing …
Nada panggilan masuk ponsel Bastian baru juga nada pertama ia sudah langsung menyambarnya.
“Halo sayang!”
“Sudah sempat tidur, tadi?” tanya Rara di ujung telepon
“Belum, bagaimana mau tidur, kamu mengabaikan ku dari tadi”
Bastian mencoba menenangkan jantungnya, ia selalu merasa seperti itu setiap kali Rara meneleponnya.
“Apa, keluargamu sudah pulang?”
“Belum, kata omah besok”
Bastian mencoba bersikap tenang, walau bunyi jantungnya kalau saja di speaker mungkin nada jantungnya sudah seperti gendang Betawi.
“Bagaimana pendapatmu, apa kamu bisa mengajak keluargamu?”
“Apa kamu mau mendukung Ra, tolong jangan menyerah, apapun kesulitan yang di berikan keluargamu padamu, ayo kita tetap bersama” kata Bastian berpikir kalau keluarga Rara telah menyulitkannya
“Aku mencintaimu bastian, sangat mencintaimu” Kata Rara membuat jantung Bastian semakin berdetak dengan sangat kencang.
“A-apa Ra, ulangin sekali lagi, aku tidak mendengarnya” ia gagap berpikir kalau ia salah mendengar.
“Benarkah.Ra, Aku tidak salah mendengar,kan!?.”
Ia sampai melompat dari tempat tidurnya.
“Iya ampun, aku bahagia sekali malam ini. Aku Mencintai mu juga Rara winarti , aku sangat mencintaimu!”
Teriak Bastian kegirangan , serasa dapat jacpot
Wajah lemas seperti orang cacingan dan tidak bersemangat dari tadi, kini sudah pulih tertawa puas bercampur bahagia
“Ada apa, sayang? apa ada hal baik? apa orang tuamu mendukung kita?” pertanyaan bertubi-tubi ia lontarkan pada istrinya.
“Iya, mereka tidak marah lagi dan menerima kita” Bicara Rara terlihat tenang tapi mempesona
Tapi justru sebaliknya. Bastian terlihat yang kegagapan dan terdengar heboh.
“Baiklah, aku akan memaksa keluargaku datang membawamu pulang bersamaku, percayalah padaku tunggu aku Ra” Kata bastian bagai dapat suntikan semangat dari istrinya.
“Aku merindukan pelukanmu, aku rindu kehangatan tubuhmu” Kata Rara membuat Bastian bagai cacing kepanasan
__ADS_1
Rara tidak tau lewat nada bicara saja lelaki bisa membangunkan hasratnya.
“Apa kamu serius Ra, kamu tidak tau kan, aku sebentar lagi mau masuk kamar mandi karena kamu.
“Oke, selamat malam sayang mimpi indah” ucap Rara dari ujung telepon
Hanya lewat kata saja Bastian begitu bersemangat , kini ia baru sadar ia lapar kembali, karena Rara tadi mengacuhkan teleponnya. Ia hanya memakan sedikit
Ia baru keluar dari kamar mandi, gara-gara istrinya tadi menggombalnya dengan kata-kata manis kata rayuan penuh ******* nakal dari istrinya, ia harus menahan Hasratnya dan Rara mengerjai suaminya dengan mengingatkannya tentang malam panas merek berdua. selesai mengobrol dengan istrinya akhirnya ia masuk kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang gerah karena Rara.
I merasa semakin lapar, padahal sudah larut. Bastian tidak ingin menggangu para pelayan di rumahnya,
Walau ada empat asisten rumahtangga di rumahnya, ia tidak ingin membangunkan mereka , Ia berpikir kasihan membangunkan orang sudah tidur. Karena sudah biasa memasak sendiri sejak Ara istrinya datang kerumahnya,
Maka kali ini pun demikian, walau hanya memanaskan masakan yang di masak koki di rumah itu. Tapi tetap intinya ia memasak.
Dengan mata yang sembab ke empat pelayan Rumahnya terbangun dan kaget melihat majikan muda, lagi memasak sendiri. JIka nyonya besar melihat hal itu, maka habislah mereka.
“Biar bibi saja ya, Tuan” kata salah seorang asistennya yang terlihat sudah berumur tua juga dengan nada memelas, terlihat takut di marahin .
Mereka semua lebih takut pada nyonya kedua. Ibunya Bastian karena lebih galak dan lebih sering marah-marah, apalagi kalau sempat ia melihat Bastian memegang kompor seperti saat ini, bisa-bisa mereka semua potong gaji.
“Ga papa Bi, tidur saja , biar aku yang melakukannya” Bastian menyuruh mereka untuk tidur kembali.
Tapi mereka ber empat berdiri menemani Bastian menuntaskan masakannya. Mereka hanya menonton dalam diam merasa bersalah, mereka berpikir Bastian mungkin sudah membangunkan tapi mereka tidak mendengar.
“ Saya, sudah biasa melakukan ini di apartemen di ajarin istri saya” Kata bastian dengan ramah membuat asisten rumah tangga yang lebih mudah terpesona dengan ketampanan majikanya. “ Nanti kalau istri saya sudah di sini bantu, kalau ia kesulitan iya” kata Bastian
“Baik ,Den” jawab mereka kompak
“Jangan biarkan Ibuku memberi ia kesulitan,iya”
“Iya, baik Den” jawab mereka lagi.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)