
Mario memberi kode, ada teman-teman Bastian yang ikut minum dan sepertinya mabuk berat, tapi ada seorang dari keempat teman itu yang masih segar bugar. Kenzo, sepertinya, ia yang membuat Bastian dan teman-teman yang lain mabuk, sepertinya merencanakan sesuatu.
“Tolong amankan cctv untukku, bisa?”
“Ok “ jawab Mario dengan tegas
Rara masuk ke dalam kamar itu, tetapi di kunci dari dalam, hanya terdengar suara tawa yang terkekeh dari dalam kamar. Dua orang wanita bertubuh seksi menggotong tubuh Bastian ke dalam kamar.
“ Dasar lelaki masih bocah, baru dapat cobaan kecil begitu saja kamu sudah mencari pelarian, bagai mana kamu mau di andalkan jadi kepala rumah tangga dan jadi Imamku kelak.
Ini saja kamu sudah berbagi kenikmatan dengan perempuan lain, Ah kenapa dulu aku memaksanya menikahinya,” ucap Rara kesal.
“Memang menikah hanya untuk menginginkan itu? Tidak bisakah ia bersabar, tunggu masalah yang aku hadapin ini selesai?” awas saja nanti kalau kamu tidak bisa melayaniku sampai berjam- jam, akan kutendang bokongmu, bocah”
Rara menggerutu kesal saat Bastian di dalam kamar bersama dua wanita sekaligus
Rara mendobrak pintu di bantu Mario, ia menyelamatkan suaminya sebelum di gilir dua wanita bertubuh seksi.
Mario membawa ke dalam mobil, di pintu samping. Mobil Sukma yang di bawa Rara tadi ada di pintu samping . Setelah memastikan barang-barang milik Bastian sudah lengkap dan ccvt sudah diurus Mario, barulah mereka meninggalkan clup malam itu.
“Bau sampah Ra.” Mario mengenduskan hidungnya.
“Lelaki seperti ini, pantasnya dibuang ke tempat sampah,”ujar Rara dengan nada kesal.
Mario tertawa terkekeh melihat penampilan dan kekesalan sahabat baiknya tersebut.
“Dia, sepertinya dijebak Ra, dari pertama gue lihat, ada seseorang memasukan sesuatu ke dalam minumannya,” ujar Mario.
“Lo yakin? Siapa yang melakukanya?”
“Gue tidak tahu pastinya, karena tadinya mereka minum lima orang dan belum ada wanita-wanita itu, tapi yang gue lihat, seseorang dari mereka bolak –balik ke kamar mandi dan dan wanita yang bersamanya itu, memasukkan semacam serbuk kedalam minuman ke empat temannya, tapi lelaki yang berjaket hitam itu, tidak ikut minum,” Mario yan kebetulan yang melihat semua yang terjadi menceritakan pada Rara.
“ Kenzo apa dia yang Melakukan… ?” Rara menatap Mario sekilas
“Iya aktor teman Bastian”
“Ah, Ken apa kamu yang melakukannya pada kami. Apa kamu yang melampiaskan pada Bastian?”
“Bawa kemana Ra?” Hotel apa Apartemennya?”
“Pulang ke apartemen aja deh dia mabuk bangat”
*
Mario membantunya membawa Bastian ke apartemennya, Rara terpaksa menyingkirkan selimut yang bau busuk dari tempat sampah itu dan memakaikan bajunya sebelum Mario menopang tubuhnya keatas
Bastian benar-benar mabuk parah, ia sepertinya di berikan serbuk yang membuatnya teler, ia kehilangan kesadaran, walau ia di buang pinggir jalanpun ia tidak akan sadar.
“Makasih Rio, kalau tidak ada kamu, entah bagaimana nasib dia tadi di sono, mungkin kariernya akan tamat.”
‘Iya gak apa-apa Ra,”
“Mau kopi apa teh hangat?”
“Ga usah Ra, gue pulang saja"
“Bawa mobil Sukma saja, sudah malam tidak ada angkutan lagi,”
__ADS_1
“Terus loe besok?” gampang paling ntar mobil die gue bawa, eh tiba-tiba ia sadar kalau mobil Bastian masih ada di club itu
“Oh mobilnya, harusnya tidak boleh ada barang bukti di situ,”
“Oh, tidak apa-apa biar gue amankan, sepertinya temanku yang tadi masih disitu,” Mario menelepon temanya. Tapi benar saja polisi lagi mengeledah tempat itu
Terlambat dua puluh menit saja, mereka akan ikut tertangkap juga di tempat itu. jika mereka terlambat datang Bastian akan menghiasi berita gosip tanah air besok ia ingin dijebak.
Mungkin keluarga Bastian akan merasa di guncang dengan adanya berita panas itu. Bila tadi sempat ia di tangkap, tapi Bastian sepertinya berutang budi pada Mario.
“Wah hampir saja, bagaimana mobil Bastian iya?”
“Jangan khawatir Ra, teman gue yang akan jaga, ia kepala keamanan disitu, sini kuncinya, biar gue yang urus lu istirahat saja.”
“Tapi, lu gak pulang?” tanya Rara menatap Mario .
“Ini sudah pagi, tanggung kalau pulang, besok juga gue masuk pagi juga.”
Mario meninggalkannya dan membawa kunci mobil Bastian.
“Baiklah makasih Rio” Rara mengantarnya sampai ke depan pintu.
Rara beruntung punya teman seperti Mario yang mau tulus membantunya.
Kini ia berpikir, akan mengurus Bastian. Lelaki itu masih terkapar di lantai. Rara sengaja tidak tidak mengangkatnya ketempat tidur karena ia masih mau sampah busuk.
Apa yang aku harus lakukan padamu, ia membatin melihat suaminya yang masih terkapar di lantai
“Ini tidak bisa begini , gue harus mandiin di kamar mandi, ia sangat bau”
Ia membopong tubuh lelaki tampan itu kekamar mandi, memandikannya. Bastian masih saja tidak bergerak seperti mayat, padahal ia sudah mengguyurnya dengan air dingin
Ia menggotong kembali ke kamar dan ia menganti semua pakainya, ia dengan napas terengah-engah meletakkannya kembali di tempat tidur,
“Aduh, pinggangku sakit iya ampun pinggangku patah.”
Rara meringis memegang pinggangnya yang gempor karena menggotong tubuh lelaki itu, kekamar mandi dan mengangkatnya kembali ketempat tidur.
Mau diapain saja, ia masih saja tetap tertidur, karena kelelahan di tambah rasa mengantuk yang amat mendalam.
Rara hanya melepaskan celananya yang basah dan bajunya, ia tertidur hanya mengunakan penutup dada yang berbentuk seperti kaca mata kuda itu dan ****** ***** .
Ia merasa tenaga dan pikirannya terserap habis, karena mengurus Bastian.
Dengan mata berat, ia merebahkan tubuhnya di samping suaminya, ia hanya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Bastian tidur dalam satu selimut. Walau ia merasa sedikit asing tapi mereka sudah pasangan yang sudah halal saat ini.
Rara menatap Bastian dengan memiringkan tubuhnya memandang wajah tampan Bastian dengan segala pesonanya.
Rara meletakkan telapak tangannya di hidung Bastian, ia mengusap-usap hidung milik suaminya, hidungnya mancung, karena Bastian tidak merokok ia juga memiliki bibir seksi.
“Ah kamu sangat tampan,” Rara berucap pelan
Hingga mereka berdua tertidur, dalam satu selimut dan tanpa sadar Rara dengan gaya tidurnya miring sedikit meringkuk di samping dada Bastian dan tangannya satu memeluk dada bidang lelaki tampan itu.
Panggilan masuk ke ponsel Bastian membuatnya terbangun, dengan kepala berat dan badan seperti serasa sehabis dipukul pakai palu.
Ia mengerakkan lehernya kekiri -kekanan
__ADS_1
“Aduh apa yang terjadi, badan rasanya remuk,”
seperti biasa, ia akan pikun jika sudah banyak minum saat, ia ingin bangun ia merasakan tangan seseorang menyangkut di atas perutnya dibawah selimut.
Ia tidak berani membukanya tapi jantungnya sudah berdendang ria, belum lagi sepasang baju tergeletak di lantai.
“Kejutan apa lagi yang aku dapatkan kali ini,” ucap Bastian mengusap mulutnya dengan wajah panik
Ia berpikir di bawah selimutnya saat ini wanita yang lain yang sama-sama mabuk dengannya.
Ia mencoba menenangkan jantungnya yang naik turun, ia seperti ingin melihat kuntilanak di bawah selimut itu, dengan sangat hati-hati ia mencoba menyikapnya, dengan satu singkapan.
wajahnya bersinar bagai lampu senter yang baru di charger, wajah itu tersenyum tidak percaya, ia menampar pipinya sendiri memastikan wanita yang tidur bersamanya saat ini adalah Rara istrinya.
Wanita yang hampir membuatnya kehilangan akal dan wanita yang membuatnya hampir gila karena merindukannya,
“Rara” Wajah tampan Bastian terlihat tersenyum bahagia, ketika melihat istrinya tidur tenang.
Ia merosotkan tubuhnya lagi, ikut tidur menjajarkan wajahnya di wajah Rara napas dari hidung Rara menyisir pipinya napas teratur tapi mengeluarkan dengkuran halus
Kini gantian, jika tadi malam Rara yang memandangi wajahnya, maka sekarang Bastian berbuat demikian .
Tangannya mengusap pipi Rara dan membelai rambutnya, menyempilkan rambutnya ke belakang kupingnya.
Ia tidak rela kalau kedamaian seperti saat ini cepat berlalu, ia ingin ikut tidur lagi. Tangannya menarik selimut yang membungkus tubuh istrinya, tapi tangannya menyentuh badan Rara yang hanya mengunakan dalaman.
‘Haaa … Rara kenapa kamu pakaian seperti ini , apa, aku melakukannya lagi, tanpa sadar? ‘ ucap Bastian dalam hatinya.
“Haaa … Apa terjadi?” Bastian memeluk tubuh Rara dan memukul-mukul kepalanya dengan dengan pelan di lengan Rara. Membuat Rara terbangun dengan mata merah dan badan pegal.
“Selamat pagi,”ucap Bastian menyapanya dengan senyuman manis.
“Pagi,” Jawab Rara ketus.
Bastin masih bingung, ia ingin bertanya tapi ia bingung mau mulai menanyakan dari mana.
“Ah, badanku sakit semua gara-gara, kamu” Ia melotot pada Bastian
“Apa yang aku lakukan?” Bastian terlihat gugup dan panik
Ia berpikir kalau ia sudah meniduri istrinya dengan tidak sadarkan diri lagi.
“Siapkan stamina mu, aku akan menuntut mu balik jika kamu tidak mampu memuaskan ku dan bisa bertahan selama empat jam aku menendang bokong sekalian”
“Apa maksudnya?” Bastian masih bingung.
“Pikirkan sendiri,”ujar Rara melenggang ke kamar mandi,
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)