
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Rara melihat kelakuan suaminya, “Apa aku terlihat seperti badut?” tanya Rara mengusap-usap Perutnya
“Tidak sayang, kamu cantik seperti putri duyung yang terdampar,” kata Bastian, dengan kata –kata bercanda dan tertawa lucu.
Bastian mengecup keningnya, ia bersyukur kalau Rara dan bayinya baik-baik saja.
Apa yang aku harus lakukan selanjutnya? saat ibu menolak menjemput Rara.Tapi Rara inginnya Ibunya yang datang. Bastian terlihat pusing.
“Apa kamu marah padaku Tian, aku tidak bermaksud mengacaukan hari ini, sungguh! aku hanya-“
Suara Rara terbata-bata dan kembali menangis, belakangan ini, ia gampang menangis dan cenderung ingin di manja.
“Jangan menangis lagi sayang , aku tidak marah aku hanya ketakutan tadi, aku takut menyakitimu dan menyakitinya,” kata Bastian. Tangannya dengan lembut mengusap punggung tangan istrinya. “Tapi berjanjilah, kamu jangan berbuat seperti itu lagi Ra, jangan memakai emosi untuk menyelesaikan masalah.
Coba kamu pikir tadi, kalau kamu kenapa-napa sama anak kita, aku bisa gila Ra, aku tidak bisa memaafkan diriku, kamu dan dialah harapan untuk hidup, kenapa aku masih ada sampai saat ini, kamu ingat Ra, saat kamu datang kerumah sakit saat aku koma, kamu membiarkanku menyentuhnya dan mendengarkan detak jantungnya , aku merasa seolah ada malaikat yang menarikku dari tempat gelap dan membawa jiwaku kembali ke ragaku ,” kata Bastian, ia bercerita panjang lebar pada Rara, di mana saat ia koma, ia bilang, ia tidak ingin hidup tapi saat Rara kerumah sakit dan membiarkan ia menyentuh perutnya, seolah di bawa malaikat kembali kea lam kesadarannya, maka itu ia pulih
dan ia yakini itu malaikat yang menjaga buah hati mereka.
Karena katanya janin umur 4 bulan saat itulah nafas kehidupan di tiupkan Tuhan padanya dan ada beberapa malaikat yang menjaganya.
“Aku senang kalau kamu tidak marah padaku Tian,aku tidak tau belakangan ini banyak yang berubah dihidupkan, aku gampang menangis dan aku ingin selalu di manja, aneh kan?” Rara menatap Bastian dengan tatapan mata sendu
“Bukan hanya itu sayang, banyak yang berubah darimu, kamu semakin cuek padaku, tapi kamu juga melirik lelaki lain, itu menyakiti hatiku, Rara!,” Bastian memonyongkan bibirnya pada Rara, tanda ia kesal karena sikap Rara yang pecicilan dan matanya yang jelalatan.
“Aku bukan jelalatan, loh..Tian, sayang! Tapi memang bawaan anakmu yang seperti itu, aku juga tidak tau. aku merasa cara mengidam yang aneh-aneh, aku sangat senang melihat orang tampan, walau kamu tampan tapi bagiku kau biasa , tapi saat kamu tidak ada, aku merindukanmu,” kata Rara.
“Mana ada yang mengidam melirik lelaki lain Ra,”
“Iya itu, keunikanku, mungkin ia akan jadi anak yang sangat tampan seperti Calvin,” kata Rara
__ADS_1
Raut wajah Bastian langsung berubah, ia seolah tidak ingin mendengar nama anak malang itu.
“Apa kamu belum bisa membuat keputusan?”
“Ra, kamu baru memberitahukannya tadi dan karena itu juga kita hampir celaka, aku tidak ingin membahasnya,” kata Bastian benar-benar tidak menginginkannya dan memberikan penolakan pada anaknya.
Ia bisa memaafkan Ayahnya dan ia tidak bisa menerima calvin, padahal anak malang itu hanyalah korban dari cinta yang salah dari kedua orang tuanya. Kata Rara dalam hatinya , ia sangat sedih membayangkan anak berwajah tampan itu bahkan sekilas sangat mirip dengan Bastian.
“Kenapa kamu begitu sangat membencinya, tapi kamu bisa memaafkan ayahmu?” Tanya Rara.
“Aku hanya ingin melupakan masalah lalu Ra, aku hanya ingin hubungan ayah dan ibumu baik di masa tua mereka, kalau kita bawa anak itu bersama kita , bagaimana perasaan ibu,” kata Bastian. Selalu membela ibunya.
Ibu…!Ibu….! terus.
Egoiiiiiiis keluargamu..! teriak Rara dalam hatinya, ia meremas ujung selimut yang ada di sampingnya.
Yolanda, lihat apa yang kamu lakukan dulu, kamu juga brengsek maki Rara pada almarhum sahabatnya.
Menerima penolakan anaknya. Rara juga berpikir tidak bisa kembali pada Bastian dan keluarganya.
“Baik hanya numpang nama Ayah saja tidak bisa juga, Tian? Ia tidak mengganggumu, baiklah aku tidak ingin membawanya bersamaku dan tidak memanggilmu Ayah juga. Hanya numpang nama ayah saja di Kartu keluarga , agar ia punya keluarga, agar ia tidak menjadi anak haram,” Kata Rara memohon.
“Memang ia anak haram, kan?” Bastian benar-benar menunjukkan rasa ketidak suakaannya.
“Banyak orang yang menginginkan anak itu, Ra, kenapa kalian tidak kasih saja ke orang lain atau ke Panti asuhan,” kata Bastian
Saat itu juga air mata Rara tumpah tidak terbendung lagi, ia tidak pernah berpikir akan mengusir anaknya kesayangannya apa lagi memberikannya ke Panti asuhan, tapi saat ini, ia sudah menikah, ia tidak pernah menduga kalau suaminya akan menolaknya. Dulu ia mau sama Bastian karena pertimbangan juga, Ia melihat Bastian suka sama anaknya dan hal itu membuatnya sangat bahagia, sangat beruntung Tapi saat ini, penolakanlah yang ia dengar.
Ia berdiri dari tempat tidur, dengan susah payah, tangannya masih memegang perut buncitnya.
__ADS_1
“Mau kemana ?” tanya Bastian dengan tatapan mata bingung.
“Kalau kamu tidak bisa menerima anakku, aku juga tidak bisa di sini,” kata Rara berusaha turun dari tempat tidur dengan susah payah karena membawa Drumband membuatnya kesusahan saat ingin berdiri.
“Jangan-jangan. Jangan seperti itu sayang, jangan lagi.” Kata Bastian memeluknya dari belakang. “Baiklah, ia bisa jadi anakku di Kartu Keluarga, tapi jangan membawanya kerumah kita, baik kerumah orang tuaku,”kata Bastian.
Rara terdiam, tetap saja itu penolakan, padahal bocah tampan itu selalu ingin bertemu dengan Bastian dan ia sangat mengaguminya.
Tapi Rara berpikir lagi, mungkin untuk saat ini itu dulah jalan keluar yang terbaik, itu artinya ia belum bisa memenuhi permintaan anak malang itu. Ia selalu ingin tinggal dengan ibunya, kalau tidak, ia ingin bermain sesekali ke rumah Ibunya,
Maaf sayang, ibu belum bisa memenuhi permintaanmu, mungkin suatu saat kata Rara mengusap bulir –bulir air yang keluar dari matanya.
“Baiklah, kalau begitu, setidaknya itulah jalan yang terbaik,” kata Rara.Bersikap tegar
Penyelesaian masalah untuk anaknya sudah beres.
“Tapi, mau kemana?.”
“Kekamar mandi, mau ikut?” Tanya Rara dengan alis diangkat
“Boleh,” kata Bastian mengekor dari belakang.
“Dasar, gatal,” kata Rara memircikkan air ke wajah Bastian, saat lelaki itu berdiri melihatnya penuh hasrat .
Rara menanggalkan pakaiannya di pancuran shower yang sebelumnya, ia sudah menyetelnya airnya jadi air hangat.
“Aku hanya ingin menggosok punggungmu,” kata Bastian tapi bibirnya menyusuri pundak dan seluruh tubuh istrinya, ia membiarkan tubuhnya ikut basah.
“Sini kita mandi berdua kata Rara membuka baju Bastian satu persatu
__ADS_1
Sambungannya mandi berduaan bab selanjutnya iya..
Bersambung