
Saat Rara terlihat emosi dan terluka, Bastian bisa menempatkan dirinya sebagai suami yang bisa di ajak berbagi kesedihan, ia tidak menekan Rara, tapi yang ia lakukan memeluk Rara dan memberinya semangat.
Benar, Rara sepertinya menyimpan luka pada mantan tunangannya ia menumpahkan semuanya di dada suaminya, bendungan di matanya benar-benar tumpah membasahi pipi cantiknya.
Ia menangis sesenggukan, ia menumpahkan kekesalannya. Walau Bastian merasa dadanya terasa terbakar, saat istrinya menangisi pria lain di hadapannya. Ia harusnya marah, tapi ia tidak melakukanya, ia menahan goncangan di dadanya memilih mengerti , ia berdiri di posisi dari pihak istrinya.
“Ia berdiri berjanji pada almarhum engkong kalau ia akan selalu menjagaku, tapi nyatanya ia meninggalkanku sepihak, ia tidak memberiku jawaban dan tidak memberikan penjelasan. Aku sangat membencinya.” Rara mengeluarkan unek-uneknya di dada suaminya.
Bahkan ia tidak menyadari jas kerja yang di pakai suaminya, kini sudah basah karena airmatanya.
Bastian tidak bilang apa-apa tapi, ia hanya memberi dukungan dengan sentuhan tangannya. Ia mengusap-usap rambut Rara membiarkan istrinya berceloteh mengeluarkan semua masalah dalam hatinya.
Hatinya memang sakit, ia ingin menonjok Paman saat itu juga, tapi ia berpikir itu hanya masa lalu, ia berpikir untung pamannya meninggalkan Rara saat itu, biar jadi miliknya, kalau saja pamannya menikahinya dulu, saat ini Rara tidak akan jadi miliknya, bastian memilih mengambil sisi positifnya.
Saat ini. Rara hanya butuh waktu untuk menyelesaikan pikirannya.
“Apa kamu pulang saja?”
Rara menatapnya wajahnya , mata bulatnya terlihat sendu dan sembab karena habis menangis.
“Apa kamu tidak marah?” Wajah Rara terlihat seperti anak kucing, dengan mata bulatnya berwarna coklat mata itu begitu teduh, di tambah bibir mungilnya yang manyun karena menangis. Ia terlihat seperti boneka hidup. Bastian paling tidak bisa dan tidak tahan melihat air mata Rara. Ia mengusap mata itu dengan ibu jarinya mengecup keningnya dengan hangat.
“Tidak, kalau kamu merasa pusing, aku akan mengantarmu pulang .” Bastian terlihat sangat perhatian pada Rara serta memberinya kekuatan
Umur seseorang tidak menjamin ia bisa lebih dewasa, terkadang Bastian lah yang bersikap jauh lebih dewasa dari Ara.
“Aku hanya butuh tiduran sebentar,” kata Rara ia melepaskan pelukan suaminya dan mengusap matanya dan merapikan rambutnya.
Bastian memilih diam menunggu Rara memilih keputusan.
“Apa, kita ke ruanganku? ada sofa di sana, kamu bisa memenangkan diri di sana.”
Rara merasa malu pada Bastian karena sangat pengertian pada dirinya.ia menarik nafas panjang.
“Aku siap bertemu,” katanya kemudian, ia menatap Bastian dengan senyuman yang dipaksakan.
“Baiklah, semangat sayang, aku mendukungmu,” kata Bastian dengan tangan di buat seperti gaya cahyoo.
Ia akhirnya keluar dari ruangan itu . Hanya Bastian yang bisa membuatnya merasa tenang, Bastian mengedipkan mata kearahnya, saat ia berjalan arah lain.
“Semangat sayang.” Kata Bastian yang dibalas senyum kecil olehnya.
Untuk situasi ini hal yang pertama yang ia lakukan melapor pada sahabatnya Sukma.
Ia mengeluarkan ponselnya dari sakunya.
__ADS_1
Mencari nomor Sukma menekan tombol panggil
“Halo” Jawab sukma dari ujung telepon.
“Aku pusing, mey.” Kata Rara mengadu pada emak keduanya, bagi dia. Sukma sudah seperti emak kedua baginya, segala sesuatu pasti sukmalah teman buat curhat.
“Loe hamil? Wah kereeen topcer dong, wah selamat ,ya.”
Ia menyambar seperti api di sulut bensin, ia berkoar duluan
“Eh, dodol! Bukan itu, gue belum hamil, lagi proses,”
Kata Rara merasa jengkel, karena sahabatnya selalu menanyakan dengan pertanyaan itu-itu lagi.
“Terus apa dong yanga buat loe pusing? kirain loe bunting gitu.” Kata Sukma nada suara terdengar sewot.
“Ridho di sini.”
“Apa!? lelaki sialan itu, lelaki bangs*t, ngapain ia di situ?”
Nada suara sukma terdengar tinggi memenuhi kuping Rara sampai-sampai Rara harus menjauhkan ponselnya dari kupingnya, kalau tidak gendang kupingnya bisa-bisa pecah karen teriakan suara marah sukma.
“Bukan hanya itu , Mey, loe sibuk kagak?”
Rara baru saja ingin meninggalkan gedung itu
“Sugar!” Panggil lelaki itu dengan pedennya.
Jantung Rara berdetak lebih cepat, ia tau siapa yang sering memanggil , hanya Ridho lah yang memangilnya seperti. Ia menarik nafas panjang sebelum menoleh.
“Ada apa?”
“Kita belum selesai tadi.” Ia menatap Rara dengan tatapan yang tidak bisa di pahami.
“Soal apa?” Rara menatapnya dengan tegas
“Soal pekerjaan.” Kata Ridho dengan santai
“Saya belum memutuskan apa saya kerja apa tidak.”
Rara berbalik badan meninggalkannya.
Tapi ternyata Bastian melihatnya dari ruangannya dari atas, cemburu marah itu sudah pasti, tapi ia bersikap tenang tidak ingin terbawa emosi.
“Tunggu sugar!”
__ADS_1
Ridho lelaki berpostur tinggi itu menarik tangan Rara. Bastian melihatnya hanya bisa mengepal tangannya dengan reflek. Ia menunggu reaksi Rara selanjutnya.
Tapi tanpa di duga satu tendangan keras melayang ke batang kaki kananya. Lelaki yang berpostur tegap seperti tentara, itu hanya bisa meringis kesakitan,
“Gila loe, tidak berubah masih saja galak.” Katanya dengan tangan mengusap kakinya yang di tendang Rara.
“Maaf tapi itu sikap alami gue jika ada yang mencoba menyentuh gue.” Kata Rara ber alasan
Tapi tidak di duga Sukma nyamperin sampai ke ruangan itu. Matanya menatap Ridho dengan tajam.
“Ngapain loe muncul lagi? Mencoba mengusik rumah tangga Ara. Lagi?”
Kata sukma menatap tajam pada lelaki berbadan tegap itu. Ia terlihat seperti bina ragawan, walau ia saat ini memakai kemeja kerja. Tapi lelaki ber umur 32 tahun itu, masih terlihat tegap dengan tonjolon otot tersembunyi dibalik kemeja yang ia pakai.
“Hai Mey, loe datang juga?”
“Dengar iya, Ara sudah menikah dengan lelaki yang jauh lebih tampan dan jauh lebih baik dari loe jadi berhenti menggangu Ara lagi.” Sukma memberinya peringatan. Tanpa ia tau lelaki itu adalah Pamannya Bastian.
“OH.Tian.” Kata Ridho dengan senyuman manis
“Iya, gue gak tau hubungan loe ama Bastian apa, tapi yang pasti ia adalah suami saya, satu hal lagi berhenti memanggilku Sugar, itu menggelikan.” Kata Rara tiba-tiba merasa berani karena ada sukma yang membelanya.
“Emang apa hubungannya sama Bastian, apa karena ia kerja di sini?.” Tanya Sukma terlihat kepo.
“Iya Paman Bastian.” Jawab rara dengan nada cuek, Ia siap memberinya pelajaran fisik, jika Ridho masih berani menyentuhnya. Ia tidak tau kalau Rara sudah di ajarin kakeknya ilmu bela diri sejak kecil, bahkan ia sudah mendapat sabuk hitam.
“Apa!? paman , ini gila, maksudmu lelaki jahat ini, paman dari Bastian?” mulut Sukma menganga lebar.
“Tapi ibunya Bastian tidak merestui hubungan kalian kan, terus buat apa aku perduli.” Kata Ridho
“Dengar iya !! Ibunya Bastian bukan yang menentukan, mereka sah di mata agama dan hukum jadi berhenti berkoar-koar.”
Bentak sukma terlihat sangar.
Tapi tiba-tiba Bastian tidak mau ketinggalan ia datang seperti pahlawan kesiangan.
“Hai mbak sukma,” sapa Bastian basa-basi “ Oh iya paman ini istriku wanita yang aku ceritain dulu pada Paman .” Kata Bastian memperkenalkannya, ia bersikap seolah tidak tau kalau Rara mantan tunangan pamannya.
“Oh.” Pamannya mengangguk.
“Aku tidak tau apa sebenarnya yang terjadi, tapi aku mau bilang sekali lagi, Ara sudah menikah, jadi saya harap masa lalu biar jadi masa lalu, jangan menggangu lagi satu sama lain.” Sukma selalu mau di depan untuk sahabatnya.
Ia menarik tangan Rara meninggalkan Bastian dan Ridho masih menatap mereka berdua.
Bersambung ..
__ADS_1