
Rara di rumah sakit, Rumah sakir mawar Rumah sakit sebagian sahamnya milik Omahnya Bastian boleh dibilang ,Jadi dia yang mengurusnya semuanya, mulai surat
–surat yang di perlukan.
Maminya Bastian saat itu seperti kurang Perduli saat Rara kecelakaan, Maminya Bastian hanya sekali juga mampir ke rumah sakit.
Maminya Bastian bahkan tidak menanyakan bagaimana nasib bayi yang di kandung Rara, seakan Hartati sudah yakin kalau bayinya tidak selamat. Ia menggunakan insting dari menggunakan hatinya
Pantas rasanya kalau anak Rara di sembunyikan dari keluarga Bastian.
Hal itu juga yang membuat Pak Agus jadi murka, Bastian masuk penjara dan Ibunya tidak perduli pada menantunya dan cucunya.
Bayi yang awalnya di perkirakan Dokter bayi berjenis kelamin laki-laki, begitu ia keluarkan dari perut ibunya, perkiraan selama USG tidak akurat, apa mungkin waktu di cek umurnya masih muda.
Pada saat itu begitu di keluarkan dari perut ibunya ternyata seorang bayi perempuan cantik.
Flash –on.
“Kamu harus sehat sayang, doakan Bundanya juga sehat,” kata Aisah, tangannya mengelus-elus kepala Tiara.
Bayi cantik itu seperti foto kopi dari Rara, matanya bulat, bibirnya kecil, Maka saat Bastian bertemu dengan Aisah tidak sengaja di Mall bulan lalu, Aisah tau kalau batin Ayah dua anak itu bergejolak, saat itu ia melihat Tiara dengan tatapan yang susah di pahami.
Langit di Jawa Barat mendung, tepatnya di Kota Bekasi, seakan langit pelit hari itu, ia tidak mau memberikan cahaya mentarinya.
Rara yang sudah satu minggu di Indonesia, kejadian malam itu belum bisa ia lupakan, malam yang memalukan itu, karena kecerobohan ia melakukan kesalahan yang fatal. Mengemis pada lelaki lain agar mau menidurinya,
Si*l aku tidak bisa melupakan hari itu, otakku mau pecah rasanya kata Jenny
Aku harus keluar cari udara segar katanya, ia menentang tas kecilnya tidak lupa juga ia membawa kamera dan membawa peta di dalam tasnya untuk berjaga-jaga agar ia tidak tersesat.
Ia terpaksa pergi diam-diam karena emaknya melarangnya untuk keluar.
Mungkin ketempat wisata Ancol menarik, aku akan coba dari sana.
Jenny menyewa Taxi online dari daerah Bekasi sampai ke Ancol. hingga tiba di daerah Jakarta Utara Ancol, Ia mengelilingi semua wahana yang ada di sana. Camera ada di tangannya,ia selalu mengarahkan lensa Kameranya setiap kali ada yang menarik di matanya.
Disisi lain, Bastian sudah lama mengajak Sukma ingin bertemu, sejak kepergian Rara 2 tahun silam, Bastian beberapa kali masih berkomunikasi dengan Sukma, tapi setelah mendapat ancam*n dari keluarga Viona, ia berhenti untuk menyelidiki siapa yang mencelakai Rara.
__ADS_1
Ia juga tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Sukma, tapi setelah pulang dari Beijing China tiba-tiba ia ingin bertemu dengan Sukma, ada hal yang membuatnya harus melakukannya.
Kriiing...
Kring...
"Pak Bastian dimana? saya bisa bertemu ni pak, kebetulan saya ingin bertemu dengan klien, tapi di batalkan," kata Sukma di ujung telepon.
"Ok,Baik Mey, saya otw."
Jenny, saat ia mengelilingi Ancol ada sesuatu yang tidak bisa ia ingat tapi hatinya terasa tersentuh, ia merasa ia pernah ke tempat itu . Ia merasa tidak berdaya saat hatinya bertanya, tapi otaknya tidak mampu menjawab.
Ia merasa seperti seorang Nahkoda kapal yang terombang-ambing karena lupa daratan.
Aku sangat akrab dengan tempat ini, apa yang terjadi sebenarnya, kenapa Emak seakan tidak suka bila ingatan ku kembali, harusnya mereka membawaku ke tempat-tempat yang biasa aku pernah datangin agar otakku lama-lama bisa mengingatnya, tapi Setiap kali aku minta untuk keluar Babe melarangnya kenapa?.
Ada apa sebenarnya, aku kesepian di tempat ramai ini, masa tidak ada yang mengenalku
Jenny berharap ia keluar dari rumah, ingin ingatannya pulih, ia ingin tau apa yang terjadi sebenarnya, kenapa kedua orangtuanya tidak suka bila ingatannya kembali.
Ia akhirnya menemukannya, suasana sudah mulai ramai, karena biasanya Pantai itu selalu ramai bila sore hari. Ia memilih duduk agak jauh dari keramaian, duduk di atas tumpukan batu, menikmati hembusan angin laut di sore hari.
Kenapa hatiku seolah di panggil ke tempat ini, apakah dulu aku sering ke tempat ini? ia berucap dalam hati.
ia menyadari, bukan hanya Ia yang duduk di sana ternyata ada orang lain yang terlihat jauh lebih sedih darinya
wanita itu menangis sesenggukan sesekali ia menyeka air mata yang mengaliri pipi putihnya.
Apa ia juga kehilangan ingatannya sepertiku, apa ia kehilangan orang yang ia cintai?
Duduk hampir satu jam, melihat wanita itu masih menangis sedih ia, tidak tega meninggalkan sendirian, ia merogoh tisue dari tasnya.
"Ini jangan kelamaan menangis, tidak bagus menangis sendirian, apa lagi di pinggir Pantai," wanita itu hanya menoleh dan mengangguk.
"Terimakasih, Ia sahabatku, dulu kami sering ke tempat ini, hampir setiap Minggu kami ke sini, setiap kali ia ada masalah, Pasti larinya kesini," katanya, lagi-lagi ia mengusap matanya yang menangis.
"Turut bersedih untuk sahabatnya, semoga ia tenang di alamnya."
__ADS_1
"Terimakasih, Oh aku Sukma," ia menyodorkan tangannya.
"Jenny, namaku Jenny aku baru tiba di Jakarta, mohon bantuannya." Kata Jenny menyambut tangan sahabatnya.
Apakah Sukma tidak punya firasat kalau wanita yang bersamanya adalah sahabatnya.
Kriiiing...
Kriiing...
"Iya pak Tian, baiklah saya kesana."
"Senang bertemu dengan kamu, saya harus pergi saya ada janji dengan seseorang ," kata Sukma meninggalkan Jenny.
"Baik, sampai jumpa kembali," Jenny masih tinggal menikmati keindahan Pantai.
Bastian menunggu Sukma di salah satu cafe didekat pantai,ia baru tiba.
" Mau pesan apa, Mey," tanya Bastian baru saja Sukma menjatuhkan panggul di kursi di depan Bastian.
"Apa saja, ada apa minta ketemuan?" Sukma menatap Bastian.
"Saya ingin melanjutkan penyelidikan tentang siapa yang menabrak Rara tiga tahun silam, saya merasa bersalah karena membiarkan kasus itu begitu saja."
"Tapi bapak bilang waktu itu untuk berhenti, apa yang terjadi?"
"Belakangan ini, pikiranku di isi oleh Rara, Ia sering sekali belakangan ini datang dalam pikiranku.
Tapi saat mengobrol matanya menangkap sosok Jenny lagi berjalan melewati cafe. Jenny kebingungan. ia ingin makan sebelum pulang tapi saat ia melihat tempat cafe, antriannya panjang, ia mengurungkan niatnya. Ia meninggalkan.
Jenny, apakah itu dia ? ah..tidak mungkin, ia tinggal di Korea tidak mungkin di sini.
"Ada apa pak Tian? kok melihatnya serius?" Sukma ikut menoleh melihat kearah pandangan mata Bastian.
"Saya melihat teman lama, aku harus pergi melihatnya, tapi jangan lupa untuk menyelidiki kasus itu, aku minta tolong sama kamu, Mey, kabarin aku lagi," kata Bastian sikapnya buru-buru.
Bersambung....
__ADS_1