Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Inilah Cinta , Begini rasanyaa


__ADS_3

“Mau diculik Ganbala?” Dia mendelik, aku menggeleng. Anak ini lucu juga, pasti dia pintar.


“Assalammualaikum semuanya!” Ardi menyapa beberapa orang dewasa yang berkumpul di sebuah pondok berbentuk lesehan. Luas dan nyaman. Karena dindingnya terbuka.


Mereka yang sedang mencanting, langsung menghentikan kegiatan.


“Kamu bawa cewek, ya, Di?” tanya seorang ibu setelah menjawab salam.


Bocah kecil yang masih memegang tanganku menggeleng.


“Terus!”


“Pendamping hidup, Bang Aryo! Bidadari yang sudah mencuri hati Ganbala. Dan sekarang aku ajak ke sini.”


Ogh!


Aku paham! Jadi anak-anak ini sudah dicuci otaknya dengan cerita oleh Aryo? Tetapi, kenapa mereka bisa di sini?


Apa yang sudah diperbuat suamiku?


Aku mencari Aryo dengan sudut mata, tetapi lelaki tengil itu tidak kelihatan. Apa memang dia sengaja menculikku seperti kata Ardi?


“Akhirnya! Dia kita semua terkabul. Aryo sudah memilih!” Si ibu langsung berdiri dan bergegas menghampiriku.


Aku bingung, apa maksud perkataannya.


Setelahnya, semua yang berada di sana mendekat. Mata mereka berkaca-kaca menatap kepadaku.


“Aryo orang baik, Nak! Kamu beruntung menikah dengannya.” Ibu tadi memegang pipiku dengan telapak tangannya.


Lalu, dia minta maaf. Ternyata ada sisa cat melekat di pipi. Aku menggeleng, lantas menjawab pelan, tidak apa.


Rasa haru terbingkai di wajah-wajah perempuan yang terlihat lebih tua dari usianya. Mungkin, beratnya beban hidup, membuat mereka seperti ini.


“Tapi, kenapa ibu-ibu semua sampai di tempat ini? Hanya perempuan dan anak-anak saja?” Aku dari awal datang tidak melihat laki-laki dewasa di tempat ini.


Mereka saling pandang. Lalu menunjuk ke arah lereng bukit.


“Mereka sedang bekerja untuk menjadikan tempat ini cantik. Biar banyak yang berkunjung ke sini.”


Aku terkagum-kagum. Ternyata daerah ini akan dijadikan objek wisata edukasi. Siapa yang jadi motornya?


“Keren, ya, Bu!”


“Semua karena Aryo! Dia sangat baik dan pintar. Oh, iya! Siapa namamu, Nak!”


“Aida, Bu!”


“Nama yang bagus,” ucapnya ramah.


Setelah cukup lama berbincang, aku mulai gelisah. Aryo dan anak-anak yang tadi berada di belakangku tidak kelihatan.


Mau keluar sendiri, aku tidak tahu jalan. Wajah gelisah mungkin diperhatikan sang ibu. Lalu dia menyuruh, Ardi mengantarkan ke tempat Aryo mungkin berada.


“Ayo, Kak!”


“Ke mana?”


“Ke persembunyian Ganbala!”


“Memangnya Ganbala itu siapa?”


“Ga boleh banyak tanya!” Dia pura-pura mendengar sesuatu.


Anak ini sangat lucu, aku tertawa. Langkah kami beriringan ke satu tempat yang terletak di belakang tempat membatik tadi.


Jalan menuju ke sana seperti lorong, tapi terbentuk oleh akar berdaun hijau yang tumbuh di bambu yang sengaja dijadikan tempat menjalar batangnya.


“Itu, Ganbala!”


Aku mengangkat alis, lalu merangkul pundaknya ke pinggang.


Aryo sedang duduk di batu besar, di belakangnya ada air terjun. Di sana beberapa orang bocah selain yang tadi berkumpul. Ada yang menari, ada yang melukis, dan ada yang belajar main gitar.


Suamiku menekuk lutut, sambil mengawasi bocah-bocah berpotensi itu.


“Kenapa kamu menyebut, Bang Aryo, Ganbala?”


“Karena dia yang menculik kami semua ke tempat ini. Yang dulunya tinggal di kolong jembatan, ga punya rumah, makan hanya sekali sehari, kadang kala tidak makan. Ganbala datang membawa bala bantuannya. Mengajarkan orang tua kami membatik, berkebun di belakang pondok. Sekarang kami bisa belajar dengan Mbak Ismi!”


Aku mengernyitkan alis kembali, Ismi? Siapa lagi orang itu?


“Guru sekolah kami di sini. Orangnya cantik, baik dan soleha.”


“Pacar, Bang Aryo?”


“Nggak tau! Aku kan masih kecil, mana boleh pacaran!”


Ada sesak menahan haru dalam dada. Ternyata Aryo memang laki-laki luar biasa. Kenapa aku tidak bisa menerima anugerah ini dengan ikhlas?


Padahal dia sangat bisa dibanggakan. Dia bermanfaat untuk orang lain. Bahkan mungkin pernikahan ini terjadi karena didoakan oleh ibu-ibu yang kutemui tadi.


“Seberapa kenal kamu dengan Bang Aryo?” Aku membungkuk.


“Bang Aryo itu, laksana matahari, menyinari bumi tanpa minta balasan. Dia laksana pohon berdaun rindang, walau kadang kami lempar dengan batu, dia tetap melindungi dari panasnya udara. Bang Aryo kakak terbaik,” jelasnya dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


Ya, Tuhan!


Kenapa aku tidak bisa merasakan kebaikannya? Kenapa aku selalu curiga pada lelaki yang mungkin sengaja dikirim untuk memperbaiki akhlakku.


Aku benar-benar tertampar dengan semua ini. Aku yang angkuh, aku yang tidak peka pada mereka yang papah. Aku yang mengutamakan karier dari segalanya.


Dadaku terasa sesak, air mataku tumpah. Apalagi melihat Aryo yang begitu perhatian pada bocah-bocah yang mengelilingi tempatnya duduk.


Tepuk tangan dan ungkapan penyemangat mengalir dari mulutnya yang tak henti tersenyum dan tertawa.


Melihat tubuhnya terguncang saat tertawa lepas, dadaku bergemuruh. Ada rasa yang tiba-tiba menyergap. Jantungku berdentum keras. Aku, aku ingin selalu memilikinya.


Inikah cinta itu?


Atau hanya kekaguman semata? Tetapi Kenapa tiba-tiba debaran itu terasa kuat ketika melihat wajahnya?


“Kakak ke tempat Bang Aryo dulu, ya!”


Tanpa menunggu jawaban, aku berlari ke arah Aryo. Mataku mulai berair, rasa haru dan entah apa namanya. Membuat tangisku tumpah.


“Beng!” Aku memanggil dari bawah batu besar.


Anak-anak itu sepertinya paham. Mereka menjauh, lalu hilang satu persatu. Seperti masuk ke lubang dalam yang menyedot mereka hingga tak berbekas.


Aryo melompat turun dengan gagah. Dia memandang dengan wajah heran. Kenapa aku datang dengan tangis yang membuat wajah basah.


“Ada apa, Mba? Kok, kamu nangis?”


“Aku, aku!”


“Aku apa?” lirih pertanyaan itu membuatku semakin terisak. Suara air terjun di belakang kami terdengar bagai sorakan agar aku segera meminta maaf.


“Aku.”


“Iya, kenapa dengan aku?” Dia menghapus air mataku dengan jarinya.


Aku segera melompat ke pelukannya. Aryo, terlihat bingung.


“Kamu kenapa, Ai? Kamu sedih?”


Aku menganggukkan kepala di dadanya. Kurasakan tangannya membelai kepala, lalu membalas pelukanku.


“Aku minta maaf, Bang! Aku minta maaf sudah membuat kamu kecewa malam itu! Aku istri durhaka yang tidak bersyukur dengan karunia Allah.”


“Kok, bicara seperti itu? Kamu ga salah, Ai! Kamu ga salah! Aku yang salah menikahi kamu sebelum aku benar-benar bisa memiliki hatimu.”


Dia berbisik, dadaku bergemuruh.


“Sekarang, sekarang,” ucapku terputus. Aryo mengecup keningku lembut.


“Aku takut, Beng! Aku takut!”


“Takut apa? Takut dicelakai lagi?”


“Aku takut kehilangan kamu, sejak anak-anak itu mengatakan betapa kamu memiliki cinta yang besar untuk mereka.”


“Ai! Cemburumu di tempat yang salah. Aku mencintaimu, sejak kamu menjatuhkan ini di dekat jembatan tempo hari.”


Aryo merogoh kantongnya, lalu mengeluarkan kalung dan liontinku yang jatuh saat menolong seorang anak kecil yang ditabrak lari pengendara bermotor.


“Ada foto kamu di dalamnya.”


Aku mengangguk.


“Sejak saat itu aku mencari kamu, Mba. Anak yang kamu selamatkan adalah adikku. Dia meninggal saat di rumah sakit.”


Wajahnya bersedih, matanya berkaca-kaca.


“Walau aku masih belia, dan kamu sudah dewasa. Kebaikan yang kamu lakukan menumbuhkan perasaan aneh dalam dada. Aku akhirnya mengetahui alamat kantor kamu. Ingat, pernah ada pengamen memberimu coklat dan bunga?”


Aku mengangguk lagi. Waktu itu, memang ada pengamen remaja yang bernyanyi, tapi tidak mau diberi uang. Malah dia yang memberi coklat, katanya sebagai ucapan terima kasih.


“Akulah orangnya. Dua tahun aku menunggu sampai tamat SMA, Mba! Terasa sangat lama untuk sekedar memelukmu. Tapi, aku tidak mau melakukan itu, sebelum kita nikah. Makanya malam itu.”


Dia menatap lekat mataku. Lalu meneruskan ucapannya.


“Sebenarnya aku sengaja menguntit kamu yang kebetulan menunggu mobil angkutan umum sepulang bekerja. Aku yang pulang dari sekolahan, langsung mengikuti dari belakang. Dan Allah mengabulkan doaku, akhirnya aku bisa memiliki kamu, walau tidak mencintaiku. Karena perbedaan usia kita.” Dia menghembuskan napas, hangatnya terasa sampai ke wajahku yang masih basah.


Ternyata, Allah memang memiliki cara mempertemukan jodoh. Aku tidak menyangka, ternyata Aryo begitu berharap bisa menikahiku. Walau awalnya hanya karena berhutang budi.


Sekarang bagaimana dengan diriku? Apakah sudah jatuh cinta? Karena ada debaran dalam dada yang sulit dimengerti.


“Maafkan aku, Mba! Sekarang, jika memang Mba tidak bisa menemaniku lagi, aku persilakan memutuskan.” Suaranya disertai getaran.


“Maksud kamu?” Aku menarik kepala dari dadanya.


“Kalau, Mba memang tidak bisa menerimaku sebagai seorang suami karena perbedaan usia. Aku ikhlas, Mba meninggalkanku.”


Dia berusaha tersenyum, tapi aku tahu, dia sedang menekan perasaannya agar tidak terlihat cengeng.


Aku menggeleng, lalu kembali ke pelukannya.


“Aku, aku akan belajar mencintai kamu, Beng! Tolong terima aku apa adanya. Ajari aku untuk memahami rasa yang membuatku takut kehilangan kamu!”


“Masya Allah, benarkah, Mba?”

__ADS_1


Aku mengangguk malu di dadanya. Kugigit bibir menahan gelora yang membuat tubuhku merinding.


Suara tepuk tangan terdengar meriah dari balik pepohonan.


“Cium ... Cium!” teriakan anak-anak itu membuatku salah tingkah.


Aryo mendelik ke arah mereka.


“Kami akan tutup mata!” Merek tertawa lalu menutup wajah dengan telapak tangan.


“Ga, boleh! Kalian masih kecil. Tau dari mana tentang ciuman?” Aryo bersuara keras.


“Maafkan kami, Bang!”


“Sekarang berbalik!”


Mereka patuh dan kembalikan badan. Seketika, bibirku terasa basah dan ditarik lembut, lama. Hingga napasku sulit keluar dari hidung.


“Terima kasih, cinta! Berjalanlah di sampingku, karena kamu teman hidupku.” Matanya menatap sayu, aku malu.


Inilah cinta! Inilah rasa yang katanya anugerah terindah itu.


Ternyata jatuh cinta itu memang berjuta rasanya. Warnanya pun beragam. Wajahku memerah ketika para bocah berbalik dan berteriak. Cie ... Cie!


Sekarang, tugasku harus tetap membuat cinta itu seperti pelangi. Tetapi, apakah aku bisa?


“Kak Aida ga usah pulang! Di sini aja agak seminggu.” Bocah-bocah itu berlari mendekati. Lalu memelukku yang masih sangat rapat dengan suami.


“Tapi, besok Abang kerja!” Aku menatap suami, lalu jongkok agar sama tinggi dengan mereka.


Wajah mereka berubah. Kekecewaan terlihat jelas di retina bersih itu. Angin seketika bertiup lembut, seakan memaksa agar aku dan Aryo tetap tinggal.


“Tapi, kami mau bersama kakak sampai malam. Ajari kami satu hal!”


Ajari satu hal? Aku ga punya keahlian apa-apa untuk membuat mereka bahagia. Sejak kecil tidak ada hobi khusus yang kutekuni. Baik di bidang seni, olahraga, atau memasak. Hobiku Cuma satu. Yaitu membongkar barang elektronik di rumah, lalu kehilangan baut atau pecah penutupnya.


Jadi, aku tidak memiliki satu hal yang bisa dibanggakan di depan mereka.


“Kakak tidak bisa apa-apa, Dek!”


Aryo membelai pundakku pelan. Lalu ikut berjongkok.


“Kak Aida capek, dia mesti istirahat. Jadi, untuk malam ini kami tidak bisa menginap di sini. Mungkin minggu depan, sekalian membawakan buku.” Aryo memberitahu dengan suara lemah lembut.


Mereka akhirnya paham.


Cukup lama aku dan Aryo menikmati berbagai tempat menarik di pemukiman mereka. Bagai raja dan ratu yang memiliki pengiring banyak, langkahku dan suami mereka iringi.


Hingga akhirnya kami sampai di sebuah rumah panggung di lereng bukit yang menghadap sungai berair jernih dan ada batu-batu besar yang menyembul seperti badan kerbau.


“Adik-adik, makasih, ya, sudah mengantar Ganbala dan Putri Aida ke peraduan. Sebentar lagi, kami berdua harus pergi mencari sesuatu ke negeri tetangga. Dan akan pulang seminggu lagi. Perintah untuk para punggawa, tetap jaga kerajaan kita, rajin belajar, hargai Kak Ismi. Dan jangan lupa ...?”


“Shalat dan mengaji!”


Jawab mereka serempak.


“Karena tidak ada kekuatan paling besar, selain kekuatan ...?”


“Allah!”


“Sekarang Punggawa semua boleh kembali ke istana!”


Mereka segera menyalami Aryo, kemudian juga menyalamiku yang terkesima dengan kedekatan mereka. Aryo memang piawai mendidik anak-anak seusia itu dengan cerita ksatria yang dibumbui pesan moral.


Aku melambaikan tangan saat mereka menuruni lereng bukit.


“Ini rumah kita! Silakan masuk Putri Aida!” Aryo membungkukkan badan dan merentangkan tangan.


“Terima kasih Ganbala. Terima kasih telah mencuri hatiku dengan cemburu.”


Dia mengernyitkan alis.


“Kok, gitu? Cemburu sama siapa lagi?”


“Sama Ismi. Anak-anak itu sangat memuji gadis yang menjadi guru mereka di sini. Apalagi, mereka bercerita banyak tentang kamu yang sangat perhatian.” Aku melengos sambil membuang wajah.


Aryo mendehem, lalu mendekat.


“Jangan terlalu cemburu, nanti malah membuat cinta semakin jauh. Cemburu boleh, tapi sekadarnya saja. Sebagai bumbu gairah dalam rumah tangga.” Dia segera meraih daguku. Kemudian menautkan semua jemarinya ke jari-jariku.


“Cemburu berlebihan, akan membuat kamu kehilangan energi dan pikiran positif. Nanti, malah jadi posesif. Aku tidak mau cemburu buta menutupi rasa sayang dalam dada.”


“Tapi, aku ingin tahu siapa Ismi!”


“Minggu depan aku kenalkan. Sekarang, kamu masuk dulu!”


Aku mengangguk, tanda percaya.


“Lalu, kenapa sampai nyasar ke sini?”


“Paginya, aku dikepung oleh warga di rumah sahabatku itu. Aku yang separuh sadar, langsung kabur dengan motor yang tadi kamu lihat bangkainya di dekat taman air terjun.”


Tadi memang kulihat ada bangkai motor di sana, mungkin bisa dijadikan latar untuk swafoto.


Aryo kembali meraih pundakku. Kali ini dia mencium keningku, lama.

__ADS_1


“Saat kabur, aku tidak tahu mau ke mana. Yang jelas bersembunyi dulu di satu tempat, itu yang ada dalam pikiran. Aku memacu motor ke jalan kecil yang tadi kita lewati, tapi aku tidak tahu, jalan itu ternyata menuju jurang ini.


__ADS_2